
Sejak tiba di bandara Soeta Daffin lebih memilih mengirim semua barangnya pulang kerumah sementara ia memutuskan untuk menepi sejenak dari Pelangi.
Lagi?
Daffin benci dengan dirinya yang selalu melarikan diri bila terjadi masalah dengan istrinya, saat itu iapun menjaga jarak selama 3 bulan dan kini?
Jujur Daffin tak sanggup berada disamping Pelangi dengan perasaan marah dan kalut yang membumbung tinggi didalam dada, ia takut melampiaskannya kepada wanita itu dan Membuat Pelangi membencinya.
Dengan menjaga jarak Daffin berharap bisa melupakan kekesalannya kepada Pelangi dan kembali lagi dengan istrinya itu.
Awal fajar menyambut kedatangan Daffin dikelurahan x, sebuah tempat yang sudah terlalu lama tak ia kunjungi.
Untuk pertama kalinya Daffin melakukan perjalanan dengan taxi online selama 4 jam dari kota Jakarta.
Setelah tiba Daffin membayar 5 juta rupiah ke rekening sang Driver yang tak bisa berhenti mengucapakan terima kasih, tapi Daffin acuh ia melangkah mendekati sebuah gerbang dari kayu jati yang nampak menjulang tinggi.
Pohon nan hijau seakan melambai mengingatkan Daffin betapa dulu ia sangat bahagia saat diajak liburan bersama sang ayah di villa ini, meski harus diwarnai dengan pertengkaran Paula dan Alexander dan berakhir dengan Alex kembali menyinggung mengenai Kehadiran Daffin.
Ah, sepertinya Daffin salah ia memang tak punya memori bahagia bersama keluarganya, mungkin kehidupan Pelangi yang tanpa keluarga jauh lebih indah dari pada dirinya.
Setelah menekan bell Daffin kembali meraih ponsel yang sempat ia nonaktifkan sejak di Thailand dan hanya dinyalakan ketika memesan taxi dan hendak membayar, ia tak begitu memperhatikan beberapa notifikasi yang merupakan jejeran panggilan tak terjawab dari para pelayannya.
Tak ada panggilan dari Melvin karena Pria itu sangat kesal dengan keputusannya membiarkan Cleo menari sesuka hati di sekitar Pelangi.
Dan Pesan yang dikirim pelangi pun tak pernah dibacanya karena Daffin yakin hanya ada permintaan maaf disana.
Ah Sial! Mengapa Pelangi menganggap cinta itu adalah tentang bagaimana meminta maaf. padahal tak ada kata salah dalam hal percintaan. Pikir Daffin,sebuah fikiran dari pria yang tak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Ponsel Daffin kembali mati karena kehabisan daya saat gerbang dihadapannya mulai terbuka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan tubuh gempalnya. Janda satu anak yang sudah mendiami Villa ini sejak berdiri.
"Tuan Muda" Mbok yum merekahkan senyumannya menyambut kedatangan sang majikan. Namun setelahnya ia tersenyum getir.
Mungkinkah ia harus kembali menyiapkan pesta "dalam tanda kutip" lagi? Sejak dewasa Yang Mbok Yum tahu kedatangannya kevilla ini pasti berhungan dengan pesta tak lazim itu.
Namun kali ini Ia hanya melihat Daffin seorang diri tanpa bawaan, atau Melvin dan para teman temannya yang lain.
"Tuan seorang diri?" Tanya Mbok Yum yang memilih berjalan dibelakang Daffin.
"Hemm" Jawab Daffin.
__ADS_1
Mbok Yum maklum, ia memang harus lebih banyak bicara dengan Daffin, Karena sejak kecil pria itu memang Sangat jarang berbicara kepada bawahannya.
"Baju Tuan masih dilemari, mbok mencuci semuanya seminggu sekali, dan terakhir kemarin Mbok mencucinya jadi masih sangat bersih" ucap Mbok Yum memberikan informasi.
"Iya" Jawab Daffin singkat, ia lalumasuk kedalam kamar itu lagi, sebuah kamar khusus untuk dirinya setiap berkunjung ke Villa itu.
Sebenarnya Daffin enggan kesini lagi setelah peristiwa pemerkaosan itu, tapi ada sesuatu yang membuatnya penasaran sehingga ia kembali lagi.
.
.
.
"Kau baik baik saja?" tanya Melvin, gurat khawatir benar benar memenuhi seluruh wajah tampannya.
"Ba___" Pelangi yang kini duduk dan bersandar pada kepala ranjang tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Baik kakak bilang? Pelangi itu tidak boleh terkuka, bagaimana kami tim dokter bisa memastikan kesehatannya kalau orang dirumahnya tidak bisa menjamin keselamatannya" marah Ayu,yang kini melipat tangan didepan dada. Ia menatap nyalang kearah Melvin dan dua orang pelayan Pelangi yang menunduk penuh rasa bersalah.
Jika menyangkut pasien yang ditanganinya Ayu memang selalu bersikap profesional.
"Ini bukan salah Cleo maupun Ani dan Rena, ini murni kelalaianku" Pelangi bisa melihat Melvin dalam kondisi tidak stabil, peluh yang tersisa diwajah dan urat yang masih menegang dipelipisnya menandakan ia baru saja menyalurkan amarahnya entah kepada Cleo atau para pelayan.
"Bisa tinggalkan kami!" Titah Melvin, yang masih berusaha mengatur emosinya.
Ayu menelan saliva dengan susah payah, hatinya mencelos rasanya begitu sakit melihat sang pria pujaan benar benar mencurahkan segala perhatiannya, Melvin sama sekali tak memikirkan perasaan Ayu yang sudah menyatakan perasaannya.
Rena dan ani langsung keluar, disusul Ayu yang terus menunduk.
"Maaf" Lirih Melvin saat Ayu hendak melewatinya.
Ayu mengangkat wajah dan menatap Melvin lekat, namun hanya sekejap. ia hanya memejamkan matanya dalam, sebagai tanda menerima permintaan maaf Melvin.
Entah maksud maaf itu untuk apa, yang jelas hal tersebut cukup menjadi pelipur lara bagi hati Ayu yang sedang tidak baik baik saja.
Dan interaksi keduanya yang terlihat tidak normal tak luput dari pemgamatan Pelangi.
Melvin menarik kursi dan duduk di sisi ranjang, ia menatap nanar kearah tangan Pelangi yang diletakkan dipangkuanya. Tangan kecil nan putih itu hampir tak terlihat karena balutan perban, lukanya cukup dalam hingga Pelangi harus mendapatkan 8 jahitan.
__ADS_1
"Kalian bermasalah lagi?" Tanya Melvin, sebenarnya ia tak perlu Jawaban karena ketidakhadiran Daffin sudah menjawab semuanya, padahal para Pelayan sudah berganti gantian menghubungi pria itu.
Pelangi hanya tersenyum.
"Jujur padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Pelangi tak mungkin menceritakan jika ia menangkap basah Daffin dan Cleo berpelukan dikamar mereka.
"Entah, mungkin Pelangi belum dewasa sehingga tidak bisa menjaga perasaan Tuan Daffin"
Melvin terkekeh "Kau bahkan terlalu dewasa diusiamu yang sekarang Pelangi"
Gadis 20 tahun itu dipaksa dewasa bahkan sejak usianya masih 16 tahun, ia mengalami, pelecehan, hamil diluar nikah, Trauma, dan dipaksa sembuh dari trauma. Kurang dewasa apa lagi? ia bahkan bisa menerima dengan lapang dada pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Jangan biarkan orang lain menindasmu lagi, kau istri seorang Daffin Jaxton, pemilik Hotel ternama di Indonesia dan Asean paham"
"Entahlah Kak...Pelangi tidak pernah merasa pantas menyandang gelar itu"
"Apa karena kehadiran Cleo?"
Pelangi menggeleng.
"Dari awal posisi itu bukan untuk Pelangi"
"Lalu kenapa kau memberikan cinta untuk Daffin? Aku malas mengakuinya tapi Daffin benar benar jatuh hati padamu Pelangi"
Pelangi menatap lekat sepupu suaminya itu, ia bisa melihat kecewa, marah, cinta dan pengharapan disana.
"Apa salah jika pelangi berfikir Cleo adalah wanita terbaik, bukan Pelangi?"
"Apa kau mengutarakannya pada Daffin?"
Pelangi mengangguk pelan.
"Heh..." Melvin terkekeh " Itu sama seperti kau sudah memberikan permen kepada anak kecil lalu mengambil dan membuangnya disaat ia sedang menikmatinya, anak kecil itu akan menangis dan marah"
"Tapi....."Pelangi menunduk dan menatap tangannya yang terluka, tak lupa selang infus yang terpasang di punggung tangannya yang lain.
Menyedihkan sekali kondisi seorang istri Daffin Jaxton.
__ADS_1