
"Aku ingin bicara berdua"
"Apa yang ingin kau tanyakan? Mempertegas jika ia sudah memilihku seutuhnya? Cih..."
"Daffin jangan kekanakan seperti ini, aku masih sepupumu, asistenmu, bagaimanapun aku masih bertanggung jawab atas Pelangi"
Daffin menghela nafas kasar, jika berhubungan dengan Pelangi ia seperti bukan dirinya. Rasanya tidak rela membiarkan Melvin hanya berdua saja dengan istrinya di ruang perpustakaan sekaligus ruang kerja ini, seperti permintaan Melvin.
Daffin menelisik gurat wajah Melvin yang dingin dan serius, tak tampak keculasan disana yang mengatakan jika ia akan hendak merebut sang istri yang kini memenuhi seluruh kepala dan hatinya.
"Aku tidak mengerti vin kenapa harus Pelangi? Jika karena wajahnya, kau bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta karena kecantikan wanita " Kini nada bicara Daffin mulai melemah, sorot matanya nampak menuntut penjelasan.
Melvin menggeleng lalu tertawa bodoh, merutuki dirinya yang konyol karena menyukai wanita yang telah bersuami.
" Sepertinya aku sudah melihatnya sejak pertama bertemu, mata indahnya yang menyimpan segudang keceriaan dan luka, aku jatuh cinta pada pandangan pertama" Tatapan kosong Melvin seakan kembali merangkai peristiwa 4 tahun yang lalu, yah dari ke 4 pria yang berlibur saat itu ia yakin hanya dirinya yang bisa melihat keindahan wajah gadis kecil bernama Pelangi hanya melalui mata indahnya.
" Cukup!!" Sentak Daffin, " Sekali ini saja, selesaikan masalahmu dengan Pelangi, setelah ini jangan lagi terkait dengannya kecuali sebagai istri atasan dan sepupumu"
"Baiklah"
Daffin lalu menekan sebuah angka pada pesawat telepon di meja kerjanya yang langsung terhubung dengan kamar Pelangi.
"Pelangi sepertinya ada yang ingin Melvin bicarakan, bisa ke perpustakaan sekarang" titah Daffin, ia tak menunggu jawaban Pelangi dan langsung mengakhiri panggilannya sepihak.
Tak lama kemudian Cleo masuk dengan dua buah cangkir berisi teh chamomile diatas nampan.
Sebelum menampakkan diri ia sudah terlebih dahulu menguping pembicaraan Daffin Dan Melvin mengenai Pelangi.
Tatapan meremehkan dilayangkan Cleo kearah Melvin yang tak pernah ia sangka akan menyukai istri sepupunyan.
'Dua orang pria bodoh' Rutuk Cleo dalam hari.
"Ini teh chamomile sangat baik untuk tidur mas Daffin" Cleo mulai menebarkan pesona dengan segala kepalsuan yang melekat di wajahnya.
Daffin bergeming ia masih fokus dengan kekesalannya.
"Apa kau kesini hanya untuk menjadi seorang Pelayan?" Cibir Melvin yang dibalas dengan tatapan tajam dari Cleo.
__ADS_1
Belum sempat Cleo membalas ucapan Melvin yang begitu melukai harga dirinya, Pelangi muncul diambang pintu, perutnya mulai terlihat membuncit dari balik kaos putih yang ia kenakan.
"Ada apa?" Tanya Pelangi Polos.
"Aku menunggumu dikamar" Daffin setengah berbisik ditelinga Pelangi sebelum melengos keluar dari ruangan tersebut.
sementara Cleo mengikuti Daffin dari belakang setelah sebelumnya menatap jengah Melvin dan tersenyum palsu kearah pelangi.
"Ada apa kak?"
"Duduklah dulu Pelangi" Melvin menuntun Pelangi untuk duduk disebuah kursi panjang lalu ia duduk dikursi panjang lainnya, mereka saling berhadapan diantarai sebuah meja kayu dimana masih ada beberapa buku mengenai manajemen Perhotelan yang biasa di baca Daffin.
"Kau baik baik saja Pelangi? Daffin tidak memperlakukanmu dengan buruk kan? " cecar Melvin
Pelangi menggeleng seraya tersenyum "Tuan Daffin sangat baik padaku"
"Syukurlah" Melvin berucap syukur dengan nada getir, jauh dilubuk hatinya ia berharap Daffin memperlakukan Pelangi dengan buruk hingga wanita itu ingin pergi dari sisi Daffin, tapi sepertinya harapannya benar benar sudah pupus, Melvin bisa melihat cinta yang begitu besar dari manik mata Daffin tiap kali membicarakan Pelangi meski Daffin belum mengakuinya secara gamblang.
"Ada apa Kak?" Pelangi kembali bertanya, ia ia masih bingung apa sebenarnya maksud Daffin memberikannya waktu berdua bersama Melvin.
"Pelangi...."tangan Melvin terulur untuk menyingkirkan rambut sebahu Pelangi kebelakang yang terlihat menutupi separuh lehernya hingga memperlihatkan sebuah untaian kalung berwarna silver dengan batu mulia biru indah sebagai hiasannya.
"Ka..k... Jangan begini.." Pelangi merasa tidak nyaman karena Melvin kembali menggenggam erat tangannya yang terulur diatas meja.
"Pelangi bisa aku meminjam kalung mu ?"
"Ini?" Pelangi berhasil menarik kungkungan tangannya dari Melvin dan menyentuh kalung yang melingkar indah dilehernya "untuk apa kak?"
"Ada sesuatu yang harus kupastikan" ujar Melvin.
"Tapi kalung ini...."
"Aku tahu itu adalah satu satunya barang yang ditemukan bersama dirimu di panti, Pak Satria sudah menceritakan semuanya" lanjut Melvin, ia berusaha meyakinkan Pelangi, urusannya kali ini benar benar membutuhkan Kalung dari Pelangi.
Melvin berdiri dari duduknya lalu mengitari meja dan tubuh Pelangi ia menyibak rambut Pelangi dibelakang untuk membuka pengait Kalung Pelangi.
"Aku akan memgembalikannya Pelangi"
__ADS_1
"Biar Pelangi saja Kak" pelangi berusaha membuka sendiri kalungnya namun terlambat karena Melvin sudah berhasil, ia bahkan mengikutkan beberapa helai rambut Pelangi yang tidak disadari wanita hamil itu.
"Sudah..."
"Sudah?"
"Hemm"
Sementara di beranda kamarnya Daffin nampak mengepalkan tangannya kuat menyaksikan interaksi Pelangi dan Melvin yang ia pantau melalui kamera cctv. Ia hendak berdiri dan memberi pelajaran kepada sepupunya itu saat Cleopatra masuk kedalam kamar dan menghampirinya.
Wanita 26 tahun itu nampak memakai lingerie yang sangat tipis dibalik kimono satin yang ia biarkan terbuka dibagian depannya.
"Mas...." Panggil Cleo lirih, tubuhnya begitu gemulai memancarkan aura menggodanya. kali ini Cleo benar benar percaya diri ia yakin Daffin akan merasa bersalah setelah mencicipi tubuhnya yang masih perawan karena operasi selaput dara.
"Beraninya kau masuk kesini Cleo" ucap Daffin Datar. Ia berusaha tak bereaksi meski sulit bagaimanapun dirinya adalah mantan casanova yang baru pulih.
"Maaf mas aku hanya sekedar lewat, kufikir Pelangi sudah kembali dari perpus, aku hanya ingin mengucapkan selamat tidur" Jelas Cleo penuh dusta, padahal ia sudah memastikan Pelangi masih disana dan Daffin seorang diri dikamar.
"Kau ingin memperlihatkan sisi jalan g mu? " Daffin berdecih " keluar sekarang atau aku akan meminta security menyeretmu tanpa busana keluar dari rumah ini" ketus Daffin, berbicara sekasar mungkin membuatnya tetap bisa menjaga kewarasannya dari godaan Cleo dan kemarahannya kepada Melvin atau mungkin juga pada Pelangi.
Cleo bergidik mendengar ancaman Daffin ia kembali merapatkan kimono tidurnya.
"Maaf mas aku tidak menyadarinya" ujar Cleo memberi alasan.
Daffin memutar bola matanya jengah melihat kelakuan murahan Cleo sebelum meninggalkannya seorang diri dikamar, namun saat hendak meraih handle pintu tiba tiba Cleo menghambur dan memeluk Daffin dari belakang.
" Mengapa kau melakukannya padaku daffin? Kau tidur dengan Laila, pelangi, dan para wanita lainnya tapi mengapa kau malah mengacuhkanku selama 4 tahun ini? Hah" Cleo tidak tahan lagi, ia merasa terhina karena Daffin bahkan tak pernah meliriknya. padahal banyak wanita yang sudah tidur dengan Daffin yang tubuh dan wajahnya jauh berada dibawahnya.
"Sebaiknya kau melepaskan ku sebelum aku berbuat kasar padamu Cleo" Daffin masih dengan wajah Datarnya.
"Mengapa Daffin? Padahal aku siap memberikan diriku yang masih suci ini" Cleo mulai terisak lirih.
"Suci?" Daffin menggeleng tak percaya , ia sudah memeriksa latar belakang Cleo sebelum menjadikannya partner selama 4 tahun ini dan menemukan jika wanita itu sama saja dengan wanita lainnya yang pernah menghangatkan ranjangnya. Bebas dan liar.
"Aku tidak bohong aku berkata jujur... Aku benar benar...." Cleo tak melanjutkan perkataannya karena pintu dihadapannya tiba tiba terbuka memperlihatkan Pelangi dengan wajah piasnya, melihat suaminya dipeluk oleh kekasihnya didalam kamar mereka.
"Pelangi" Daffin berhasil melerai Pelukan Cleo dengan kasar, ia begitu terkejut dengan kehadiran sang istri
__ADS_1
"Ma...af..kan aku tu..an" Ucap Pelangi terbata lalu menutup pintu kembali, ia menyesal sudah mengganggu waktu berdua sepasang kekasih itu.