
"Tidak....tidak Cleo, Melvin adalah tangan kanan Daffin, tante tidak bisa mengambil resiko seperti itu, lagi pula Melvin adalah keponakanku, anak dari kakakku meski aku dan ibunya berbeda ayah, tapi tante menyayangi saudari tante" Tolak Paula dengan usul yang baru saja di gaungkan Cleopatra.
"Tante, kali ini kita gak perlu pakai cara licik tan, tidak ada obat perangsang atau obat tidur, asal tante bisa membujuk Melvin untuk membawa Pelangi pergi ia pasti akan melakukannya" Cleo masih menggebu gebu, sementara Paula mulai nampak meragu.
Ia juga bisa lihat kalau Melvin memiliki perasaan yang tidak seharusnya kepada Pelangi. Tapi menjadikan Melvin sebagai alat untuk menyingkirkan Pelangi rasanya tidak mungkin, Paula bukan orang bodoh yang akan mengambil resiko besar, hampir 50 persen pekerjaan Daffin selalu diambil alih oleh Melvin dan semuanya berhasil. Jika Melvin secara terang terangan menabuh genderang perang kepada Daffin maka otomatis Daffin akan mendepak Melvin dari Jaxton Hotel, itu artinya Hotel yang selama ini dibangun secara turun temurun oleh keluarga mendiang suaminya akan mengalami kemunduran, mungkin waktu akan kembali menemukan orang yang kompeten seperti Melvin, tapi siapa yang bisa menjamin?.
"Tidak Cleo!" jawab Paula tegas setelah berkutat dengan isi kepalanya " Jangan libatkan Melvin" lanjutnya lagi.
"Ah....Tante...." Cleo mulai memelas memasang tampang anak kucing yang lucu.
"Ini semua karena ketidakmampuanmu merebut hati Daffin, tante kenal anak tante, kamu tinggal buka selang*angan dia akan luluh, tapi lihat? Kamu yang koar koar masih Virgin sama sekali tidak bisa menaklukan Daffin" ketus Paula, ia tersenyum mencibir kearah Cleo. Wanita yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan Hotel yang merupakan sumber pundi pundinya itu nyatanya tidak mengenal dengan baik sang putra.
Cleo lalu menunduk dalam dengan tampang penuh penyesalan, ia berharap wajah polosnya bisa membuat Paula luluh, dan menghasut Melvin, cleo tahu betul Melvin hanya butuh sedikit hasutan dan kesempatan. Maka jika itu berhasil ia berhasil menyingkirkan Pelangi sekaligus Melvin yang baru saja ia masukkan kedalam daftar manusia yang paling ia benci.
"Huh....."Paula menghela nafas, sepertinya ia terlalu keras terhadap Cleo, ia tak tega melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya itu putus asa.
"Lakukan apa yang menurutmu baik sayang"Tangan Paula terulur untuk mengusap surai selembut sutra milik Cleo.
"Baik tante...."
"Tapi ingat jangan libatkan Melvin!" Paula kembali menekan kata katanya.
.
.
.
Daffin sudah pulang saat langit masih sangat gelap, ia mengendarai mobilnya dengan perasaan gusar.
Bagaimana mungkin rekening hotel membeli panti itu 3 tahun yang lalu?
Siapa pelakunya?
"Apa pria pemilik panti itu terlihat masih muda?" salah satu pertanyaan Daffin pada Dandi kemarin sore di Panti.
Bocah itu tidak mengiyakan, ia justru mengatakan sebaliknya, jika pria yang membeli panti itu terlihat sudah tua.
Padahal Daffin sudah yakin Melvin adalah pelaku dibalik semuanya, namun jika diurut dari kejadian tersebut tidak mungkin Melvin melakukannya, 3 tahun yang lalu Melvin sama sekali belum mengenal Pelangi.
Lalu siapa?.
"Siapa" gumam Daffin.
__ADS_1
Saat tiba di rest Area, Daffin memarkirkan mobilnya namun ia tak keluar, ia mengambil ponsel yang sejak kemarin ia nonaktifkan dan menyalakannya.
Beberapa pesan dari pelayan yang ia abaikan kemarin baru dibacanya.
'Tuan, Nyonya masuk rumah sakit' Bi Ijah
'Tuan, tangan Nyonya terluka' Rena
Dan beberapa panggilan tak terjawab lainnya.
"Pelangi...."lirih Daffin, ia menghela nafas lalu menjatuhkan kepalanya dipermukaan stir yang keras, beberapa kali ia menhantukkan jidatnya disana dan merutuki kebodohannya.
Mengapa disaat Pelangi membutuhkannya ia justru marah dan meninggalkan istrinya itu.
"Suami Bodoh!" Hardiknya pada diri sendiri, dan menghantam stir dengan kepalang tangannya.
Daffin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rasa penasaran mengenai siapa pemilik panti pelangi dibalik nama Hotel miliknya sudah bukan lagi menjadi prioritasnya,kini ia harus segera pulang dan melihat kondisi istrinya secara langsung.
"Pelangi....Pelangi...." Teriak Daffin begitu ia masuk kedalam rumah mewahnya.
Beberapa Pelayan menunduk menyapa dengan gerutuan didalam hati.
Kemana saja suami brengsek ini saat istrinya disakiti oleh kekasihnya. Para pelayan bahkan lebih respect kepada Melvin yang selalu ada disaat Pelangi membutuhkannya.
Tadi pagi Pelangi kembali merasa nyeri dan sesak didada secara bersamaan sehingga tim Dokter datang dan memberikannya bantuan oksigen, sebenarnya Pelangi harus ke Rumah sakit hanya saja tubuhnya terlalu lemah untuk kembali kesana.
"Kau kembalilah tidur aku akan keluar setelah kau terlelap" ucap Melvin mengusap pucuk kepala Pelangi.
Ingin sekali Pelangi menepis tangan Melvin, akan tetapi ia terlalu lemah, entah mengapa sejak kepulangannya dari rumah sakit Pelangi semakin drop ditambah lagi ia sama sekali belum menerima berita apapun mengenai suaminya padahal para pelayan bilang Daffin seharusnya sudah di Indonesia, karena salah satu mereka bertanya kepada Jhon.
Ah mungkin ia sibuk. Pikir Pelangi, lagi pula ia merasa tidak sepenting itu dibandingkan Cleo yang bahkan sampai menemaninya hingga ke Thailand.
Pelangi kembali terlelap dalam sapuan hangat Melvin di pucuk kepalanya.
Sementara diluar.
"Nyonya Pelangi dikamarnya Tuan" Bi Ijah memberi tahu dengan wajah datarnya.
Daffin juga tahu hanya saja kepanikan membuatnya meneriakan nama istrinya begitu ia melewati pintu utama.
Daffin berjalan menuju kamar utama yang memang terletak dilantai bawah.
"Apa yang kau lakukan dikamar kami?" tegur Dafgin dengan sorot mata yang menusuk. Namun Melvin nampak Acuh, ia masih sempat membetulkan letak selimut ditubuh Pelangi sebelum akhirnya berdiri dan menatap Daffin dengan dingin.
__ADS_1
Daffin menatap tabung oksigen dan beberapa perkakas rumah sakit lainnya yang dipindahkan dedalam kamarnya, spertinya semua itu baru saja dilepas dari tubuh Pelangi.
Ia lupa kekesalannya kepada Melvin dan langsung menghampiri Pelangi, Melvin sedikit memundurkan tubuhnya dam memberikan ruang dan waktu bagi sepasang suami istri itu.
Daffin melakukan hal yang sama seperti Melvin tadi, mengusap pucuk kepala Pelangi dan membenamkan kecupan sangat lama di permukaan dahinya yang terasa dingin.
"Maaf Pelangi" Lirih Daffin, lagi lagi harus meminta maaf karena kesalahannya.
"Apa yang terjadi dengannya?" kali ini Daffin sedikit melunak seraya memegang tangan Pelangi yang balut perban.
"Kekasihmu yang melukainya" ucap Melvin.
Cleo?
Daffin mengepalkan tangannya kuat, didalam benaknya ia ingin langsung menampar wajah wanita ular itu.
"Dimana Dia sekarang?" Daffin mengetatkan rahangnya.
"Maaf aku mengusir kekasihmu dari rumahmu sendiri" Sarkas Melvin.
"Kekasih? Siapa yang kau sebut kekasih Hah!!!" Daffin berdiri lalu meraih kerah baju Melvin dan mendorongnya hingga tubuh kekar Melvin merapat di dinding. Daffin Percaya Melvin adalah sosok yang paling mengenal dirinya bahkan lebih baik dari pada ibunya sendiri, tapi Kini Daffin merasa Melvin seperti orang lain.
Melvin Sama sekali tak peduli, ia senang karena Daffin terprovokasi.
"Sadar Daffin, semua kehancuran dan penderitaan Pelangi dimulai dari dirimu yang bejat ini" Melvin menunjuk dada Daffin berulang ulang dengan penuh penekanan. " Bahkan wanita ****** yang kau ijinkan tinggal dirumahmu juga ikut melukai Pelangi, lalu kau kemana saat itu terjadi? Hah!! Kalian memang pasangan yang serasi kau dan Cleo maksudku" Sambung Melvin lagi.
Tak terima dengan tuduhan Melvin, Daffin hendak menghadiahkan bogem kepada sepupunya itu namun lenguhan Pelangi mengalihkan atensi keduanya.
Daffin segera menghampiri Pelangi yang mulai mengerjapkan matanya.
"Tuan...kau sudah Pulang" Samar samar Pelangi dapat mengenali sosok yang kini hampir menempel diwajahnya.
"Ia .....aku pulang sayangku...Maaf karena mengabaikanmu"
Sayang? Baru kali ini Pelangi mendengar Daffin menyebutnya seperti itu.
Sementara Melvin yang melihat interaksi keduanya hanya mendengus kesal. Ia memilih keluar dari pada tinggal dan membuat hatinya semakin berdenyut nyeri.
Daffin tak ingin Pelangi banyak bicara dan melakukan pergerakan, ia menyuruh istrinya itu kembali beristirahat dengan ikut berbaring disebelahnya, memeluknya erat hingga wanita itu kembalibterlelap karena pengaruh obat yang disuntak Dokter sebelum pergi.
Daffin Lega Melvin keluar sebelum disuruh.
Sebelah tangan Daffin mengutak atik ponsenya dan mengirimkan bukti screenshoot dari ponsel Dandi tadi kepada Jhon.
__ADS_1
"Cari tahu pengguna akun bank Hotel ini" Titah Daffin didalam Pesannya.