Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 17


__ADS_3

"Kau tidak menemukannya?" TanyanDaffin, melihat Melvin yang hanya datang seorang diri tanpa membawa Pelangi.


"Dia ingin pulang sendiri" Jawab melvin sembari melajukan mobilnya.


"Kenapa tak memaksanya?"


Melvin menoleh sejenak kearah Daffin, pria itu nampak gusar sambil terus menatap telapak tangannya.


"Aku sudah membujuknya tapi ia tak ingin bertemu denganmu"


"Cih....dia sudah memanipulasi ayahku agar bisa menikah denganku tapi sok jual mahal"


"Dia tidak ingin menikah denganmu!" Tukas Melvin seketika, entah mengapa ia bisa melihat keseriusan dari sorot mata Pelangi saat mengatakan begitu membenci Daffin.


"Dia mengatakannya? Lalu bagaimana dengan sahamku ? Mungkin sejak awal saham memang tujuan utamanya"


"Ia malah lebih tidak menginginkannya"


Hening beberapa detik.


"Kau menyukai gadis itu?" Tatapan Daffin penuh selidik sambil melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


Bagaimana tidak berfikir demikian jika Melvin terdengar begitu antusias membela Pelangi, Selain itu Daffin akui Pelangi memang memiliki kecantikan diatas rata rata wanita Indonesia.


"ck....kau!!" Melvin terlihat geram, namun dengan cepat kembali fokus menjalankan mobilnya, rasanya tak ingin lagi terlibat pembicaraan apapun mengenai Pelangi dengan Daffin.


'Menyukai gadis itu?' Melvin tertawa sendiri didalam benaknya, siapa yang tidak terpesona dengan keluguan dan wajah cantik pelangi, Melvin pun yakin Daffin merasakan hal yang sama, namun rasa bencinya kepada Pelangi dan Ibunya membuat pria itu harus membohongi perasaannya.


.


.


.


"Panggilkan Pelangi" Titah Alexander pada Risman sang asisten.


Bagaimanapun ia harus menemukan wanita yang masih menyimpan lukanya itu.


Alexander berutan segunung maaf pada wanita itu.


ketika berhasil menemukan Dokter Isyana dan putrinya, Alexander merasa kembali menemukan tujuan hidupnya. Ia memutuskan untuk melakukan kemoterapi dan terapi radiasi untuk menyembuhkan penyakitnya.


Namun saat Dokter Isyana meninggal Alexander menghentikan segala macam pengobatan penyakitnya yang sama sekali tidak diketahui paula dan Daffin anaknya. Yah Alexander hanya membagi penyakitnya kepada Risman sang asisten setia.

__ADS_1


Kini kanker paru paru yang diderita Alexander sudah stadium 4,untuk itu ia sangat ingin melihat Pelangi dan Daffin menikah sebagai permintaan terakhirnya.


Dengan cekatan Risman sudah berhasil membawa Pelangi kedepan Alexander , ia bahkan harus memohon dulu agar gadis muda itu mau mengikuti permintaannya.


"Tuan Alexander " Pelangi menatap sendu kearah Alexander yang terkulai lemah, saat melihat pasien di rumah sakit,Pelangi seakan melihat dirinya sendiri.


Gadis bertubuh mungil dengan wajah blasteran itu duduk disebuah kursi disisi ranjang.


"Uncle.... kau sakit?" tanya pelangi Polos.


"Iya anakku, sepertinya uncle akan menyusul Bundamu "


"Jangan berbicara seperti itu Uncle, uncle harus berusaha sembuh, Uncle masih punya keluarga yang menunggu"


'Tidak sepertiku' Batin Pelangi.


"Aku tahu kau sudah bertemu Daffin" sebuah senyuman tersinggung di bibir pucat Alexander , senyuman penuh harapan jika wanita dihadapannya akan segera menjadi menatunya.


Pelangi menunduk dalam, rasanya kosa kata penolakan didalam kamusnya sudah habis digunakan semua.


"Entah mengapa Uncle yakin kau akan membawa kebaikan dalam kehidupan Daffin, firasat seorang ayah tak pernah salah" lanjut Alexander lagi.

__ADS_1


"Uncle, mengapa harus Pelangi? Jika karena pelangi adalah anak dari Dokter Isyana maka uncle harus tahu Pelangi hanya anak angkat" Terang Pelangi dengan wajah sendunya.


"Uncle tahu itu nak, tapi kata hatiku tidak bisa beebohong saat melihatmu, anggap ini permintaan terakhir Uncle hemm"


__ADS_2