
"Antarkan aku pulang" titah Daffin kepada salah seorang pelayan pria yang lengannya baru saja ia cegat.
"Baik Tuan aku akan menghubungi supir anda" Ujar pelayan tersebut, sambil memperbaiki posisi duduk Daffin, Ceo jaxton itu nampak sangat mabuk padahal ia hanya minum segelas wine.
Sementara dari kejauhan Cleo mengamati Daffin dengan sebuah senyum smirk yang terpatri diwajahnya.
"Aku akan mengantarnya" ujar Cleo menyingkirkan tangan supir yang membantu Daffin untuk berjalan tegak.
Kini mereka sudah berada di basement hotel.
"Jangan mendengarnya antarkan aku cepat" Kesal Daffin sambil melonggarkan dasinya, entah mengapa kerongkongannya terasa seperti tercegat dengan hawa panas yang seakan ingin di tuntaskan keluar.
"Biarkan aku mengantarmu Daff" Cleo memelas, sambil mengusap bahu Daffin, namun dengan sisa kesadarannya Daffin berhasil menepis tangan Cleo dengan kasar hingga tubuh semampai wanita itu sedikit terhuyung.
"Daff apa apaan kamu!" Cleo tidak terima matanya sempat melotot tajam, namun ia sesegera mungkin mengubah ekspresinya kembali, bagaimanapun ia harus membujuk Daffin agar mau diantar olehnya sehingga rencananya untuk menjebak Daffin berjalan lancar.
Cleo yakin obat itu sebentar lagi akan bereaksi.
"Kalau begitu biarkan aku ikut" pinta Cleo yang langsung masuk ke kursi penumpang dibelakang, sedangkan Daffin nampak memilih untuk duduk disamping supir ia sudah tidak memiliki kekuatan untuk mencegah wanita keras kepala itu.
Sepanjang perjalanan Daffin terus meracau panas sambil membuka dasi dan semua kancing kemejanya hingga memperlihatkan perut kotal kotaknya yang nampak kokoh.
Sementara Cleo terus saja tersenyum jahat mengamati obat pemberian laila yang mulai bekerja.
"Sebentar lagi Cleo" gumamnya pada diri sendiri
Supir membawa Daffin tepat didepan lobi, namun sebelumnya ia membisik supir tersebut agar menyampaikan pesannya kepada penjaga keamanan disana.
"Anda mau kemana nona?" Tukas security pada Cleo yang berjalan dibelakang Daffin dan supirnya, Cleo menghentikan langkahnya dan menatap nanar pada punggung Daffin dan sang supir yang semakin menjauh dan sebentar lagi akan masuk kedalam lift.
"Aku akan ikut masuk bersama kekasihku Daffin Jaxton, kau tentu tahu orang didepan sana adalah kekasihku" Cleo menunjuk ruang kosong dihadapannya karena tubuh Daffin sudah menghilang.
"Maaf Nona, Tuan Daffin sendiri yang melarang anda untuk ikut masuk"
"Kau gila ya? Jika aku tidak masuk pria itu akan ......setengah mati" Cleo bergumam diakhir kalimatnya, ia tidak mungkin mengatakan jika Daffin sudah terpengaruh obat perangsang dan kini tengah membutuhkan dirinya untuk menuntaskan hasrat. Cleo yakin tidak ada siapapun di apartemen Daffin sekarang, karena Melvin yang tinggal di sampingnya sedang keluar kota. Yah Melvin sendiri yang mengatakan hal itu kepadanya. Untuk itu pria itu menitipkan Daffin padanya sebelum pergi.
"Aku akan masuk!" Cleo tetap memaksa namun security tetap tak mengijinkannya, sehingga terjadi perdebatan yang sengit sampai akhirnya supir yang tadi mengantar Daffin keluar dari lift dan berjalan santai melewati Cleo.
"Dia membutuhkanku sekarang!" Sentak Cleo.
"Nona Cleopatra jangan membuat onar di gedung ini, jika anda tidak pergi sekarang saya akan menyerahkan masalah ini kepada pihak kepolisian, dan bisa dipastikan wajah anda akan menjadi trending besok pagi." security itu tentu tahu dengan siapa ia berbicara sekarang, meski cleo bukan model papan atas namun wajahnya cukup sering muncul dilayar tv karena ia adalah brand ambasador salah satu minuman kemasan jes jes.
Mendengar hal itu sontak membuat Cleo meraup udara dihadapannya dengan kedua kepalang tangannya seraya menggemertakkan giginya dengan kuat, ia tidak mungkin menghancurkan karirnya yang tidak mudah ia rintis ini dengan kasus menerobos masuk kedalan Apartemen kekasihnya sendiri.
.
.
Sementara itu Daffin yang memang memiliki akses masuk kedalam apartemennya langsung membuka pintu kulkas dengan gusar dan mengguyur kepalanya dengan sebotol air dingin.
"Cleo sialan!!" Umpatnya kesal, kini ia sadar apa yang terjadi dengan tubuhnya, ia bisa menebak Cleo adalah dalang dibalik kondisinya sekarang.
Bagaimana tidak Saat masih tinggal di Amerika Daffin pernah mencoba meminum obat perangsang dan efeknya sama persis dengan yang ia rasakan sekarang ini.
Jika saja ia tidak mengalami gangguan saat menyentuh wanita tentu ia sudah memakan cleo dari tadi tanpa ampun, bahkan mungkin dari pertama kali ia bertemu dengannya.
__ADS_1
Namun kini?
Arghhhhh Daffin mengerang frustasi, tatapan matanya yang semerah saga terus memindai pintu kamar pelangi.
Sementara Pelangi yang hanya bisa meringkuk diatas dltempat tidur sambil memeluk kedua lututnya ketakutan.
Brak....
Brak....
"Pelangi ku mohon" Akhirnya Daffin memohon sambil memukul kuat daun pintu kamar Pelangi.
Sementara gadis itu, semakin menarik selimutnya dengan tubuh yang bergetar, ia masih teringat dengan percakapannya dengan Dokter Lim tadi sore melalui sambungan telepon.
Yah sebelum pergi Dokter Lim dan Pelangi memang sempat bertukar kontak, psikiater itu sempat bertanya kepada Pelangi apakah ia mengenal secara pribadi Daffin Jaxton? dan Pelangi mengiyakannya ia mengatakan jika Daffin adalah Anak dari sahabat baik Dokter Isyana.
Untuk itu Dokter Lim meminta Pelangi membantu Daffin karena pria itu juga tengah berjuang keras untuk keluar dari belenggu traumanya, tanpa Dokter Lim ketahui jika Yang membuat Daffin trauma adalah tindakan perkosaan yang pernah ia lakukan. Daffin dan Melvin memang berhasil menutup rapat rapat rahasia 4 tahun lalu itu.
"Pelangi......"
"Pelangi Tolong aku.....hanya kau yang bisa menolongku" Daffin terus memohon dengan racauannya selama hampir setengah jam. hingga membuat Pelangi merasa iba, gadis itu memang memiliki hati selembut sutra bahkan mungkin bisa dikatakan bodoh, setelah apa yang dilakukan Daffin padanya ia masih memiliki rasa kasihan. ia takut jika ternyata diluar Daffin terluka dan membutuhkan pertolongan.
Akhirnya dengan langkah gontai Pelangi turun dari ranjang, dan membuka pintu.
Tubuh Daffin langsung jatuh kedalam pelukan Pelangi ketika pintu terbuka, hasrat yang membuncah dan menuntut untuk disalurkan membuatnya seperti ingin mati saja.
"Pelangi" Bisik Daffin ditelinga Pelangi dengan suara serak.
"Tuan, apa yang anda lakukan" Pelangi berusaha mendorong tubuh Daffin Namun raga mungilnya tidak sanggup melawan Daffin yang membuatnya mundur kebelakang hingga duduk di tepi ranjang sedang Daffin bersimpuh dilantai sambil meremat kedua tangan Pelangi.
"Pelangi 4 tahun lalu aku menyakiti seorang gadis kecil di villa milik kekuargaku...hingga membuatku trauma ketika bersentuhan kembali dengan gadis lainnya sampai sekarang, Tuhan menghukumku karena kesalahan yang kuperbuat di masa lalu " Daffin mendongak menatap wajah Pelangi yang tercengang dengan pengakuan Daffin, ia tak menyangka Daffin mengingat semuanya, dan menganggap itu sebagai kesalahan.
"Tapi didekatmu aku baik baik saja, traumaku hilang saat berada didekatmu dan menyentuhmu, tidak seperti gadis lainnya, dan malam ini seseorang memberikan obat perangsang di minumanku maka dari itu aku ingin meminta hak ku sebagai seorang suami malam ini, Aku mohon Pelangi hanya kau yang bisa membantuku, jika tidak aku akan sangat menderita" pinta Daffin kini tatapannya berubah seperti seekor singa lapar.
Pelangi melepaskan tangannya dari genggaman Daffin, dan mencoba untuk berdiri namun Daffin dengan seringai liciknya lekas menindih tubuh mungil wanita itu.
Pelangi kini kembali berada dipuncak ketakutannya sama seperti 4 tahun lalu.
"Tuan jangan melakukannya lagi padaku tuan" Teriak Pelangi ketika melihat Daffin mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan satu persatu.
"Tuan...aku Pelangi, Tuan....jangan lakukan lagi"
"Tuan..."
Daffin seakan menulikan rungunya, racauan yang keluar dari bibir mungil pelangi justru membuatnya semakin bergairah.
"Pelangi berhenti berontak sayang, biarkan aku melakukannya dengan kelembutan" ujar Daffin dan ia membuktikan dengan lumata* lembut di bibir Pelangi.
"Aku suamimu....." kini kecupan itu turun keleher putih pelangi, namun tak bisa membuat Pelangi berhenti berontak, sehingga membuat Daffin menghentikan aksinya dan kini menagkup wajah pelangi yang menatapnya penuh kebencian.
Cup
Daffin mengecup dalam kening Pelangi, lalu kedua matanya, hidung mamcung nya dan bibir mungilnya.
"ijinkan aku beribadah bersamamu" Daffin melanjutkan kecupannya.
__ADS_1
Sementara Pelangi merutuki kebodohannya yang entah mengapa hatinya terasa bergetar mendengar kata kata ibadah itu keluar dari bibir Daffin.
Daffin pun seakan tidak percaya bisa mengucapkan kata kata seperti itu sambil bermain lembut, tapi apapun akan ia lakukan demi menuntaskan hasrat yang kini menyiksanya jiwa dan raganya.
Masih dengan tubuh yang bergetar hebat Pelangi membiarkan Daffin menjamah seluruh tubuhnya.
Takut? Ia sangat takut namun lagi lagi raganya yang lemah tak mengijinkan untuk melawan, ia pasrah saat orang yang kini berstatus suaminya menggagahinya dengan paksa untuk yang kedua kalinya.
"Kau akan menyesal Tuan" lirih Pelangi
Bodoh
Murahan
Entah berapa kali Pelangi merutuki ketidakberdayaannya yang menyedihkan, tapi setidaknya kali ini Daffin melakukannya sebagai suaminya.
Dalam pergulatan panas yang didominasi Daffin itu tiba tiba membuat pria itu tersenyum mencemooh , meski terasa sempit namun Daffin yakin Pelangi bukanlah seorang perawan, dugaannya ternyata benar gadis yang kini berada didalam kungkungannya adalah seorang ******. Meski begitu Daffin tetap akan mempertahankan Pelangi disisinya karena ia sadar hanya pelangi satu satunya wanita yang bisa ia sentuh.
.
.
.
Melvin memeriksa beberapa berkas yang berhubungan dengan gadis malang yang tengah ia cari diatas meja makan, ditemani secangkir kopi buatan mbok yum dan sandwich yang sama sekali belum ia sentuh, sesekali ia terlihat melakukan panggilan dengan orang suruhannya yang berada di kelurahan tersebut agar segera memulai pencarian yang sempat dihentikan dua tahun yang lalu.
"Tuan muda maaf nih, bukannya Tuan muda dulu mencari gadis muda yang pernah menjadi pelayan semalam di villa ini?" Tanya Mbok Yum tiba tiba ia teringat bagaimana dulu Melvin mengintrogasi dirinya dan juga lisna mengenai keberadaan gadis yang ia ingat dengan dengan nama bintang, sementara lisna sama sekali tidak mengingat nama gadis itu karena menganggap pertemuan itu hanya selintas lalu.
Melvin mendongakkkan wajahnya dan menatap Mbok Yum yang kini sudah berdiri disampingnya.
"Oh kebetulan" Mbok Yum berbalik dan mengambil sebuah tas jinjing kecil yang nampak usang dari atas lemari dapur, lalu meletakkannya diatas meja dihapadan Melvin.
"Apa ini Mbok?"
Mbok Yum membuka resleting tas tersebut dan mengeluarkan sebuah ponsel android keluaran lama, dompet kecil dan beberapa papan obat yang tulisannya mulai memudar.
"Ternyata namanya bukan Bintang tuan muda, tapi Pelangi" Yah Mbok Yum baru menemukan tas itu tahun lalu dibawah lemari ketika lemari tua didapur itu hendak di buang dan diganti dengan yang baru, dan sudah lama ingin memberikannya kepada Melvin karena pria itu terlihat begitu penasaran dengan keberadaan pelayan 4 tahun lalu itu, namun Melvin tak pernah muncul lagi di Villa hingga Mbok Yum hanya bisa menyimpan tas tersebut dan tak lupa mengisi daya ponselnya sekali seminggu.
Melvin membuka dompet kecil itu dan menemukan uang pecahan 70 ribu serta sebuah kartu siswa yang fotonya sudah tak bisa dikenali tulisannya pun memudar hanya nama Pelangi yang sangat jelas tertulis disana.
Pelangi...
Pelangi...
Melvin bergumam, entah mengapa hatinya terasa begitu sakit menemukan nama pelangi disana, sebuah nama yang sama yang juga dimiliki oleh Pelangi yang ia kenal kini.
"Tidak jangan katakan" melvin segera mengambil ponsel jadul itu dan menyalakannya, butuh waktu dua menit hingga ponsel itu benar benar siap digunakan. Melvin menunggunya sambil mengetuk ngetuk meja makan dengan jemarinya, ia berharap Ponsel itu bisa memberinya sebuah petunjuk.
"Mbok Yakin tas ini milik gadis pelayan itu? Namanya benar Pelangi? "
"Yakin tuan, mbok ingat namanya begitu membaca kartu siswa itu, yah namanya Pelangi bukan Bintang, dan itu.....dia orangnya" Mbok Yum menunjuk Layar ponsel yang kini memperlihatkan foto seorang gadis belia dengan wanita tua yang diatur sebagai wallpaper ponsel tersebut.
Pandangan Melvin seakan tiba tiba memudar, lututnya gemetar sehingga ia tak bisa merasakan tulang belulangnya, lemas tak berdaya itu yang ia rasakan sekaran, matanya berkabut memandangi layar ponsel tersebut dimana seorang gadis belia berseragam putih abu abu tersenyum bahagia seraya merangkul pundak wanita tua disampingnya.
"Pelangi....."Panggil Melvin Lirih, air matanya jatuh mengingat dirinya bahkan kembali menjebak gadis itu dengan pria yang sudah tega mengambil kesuciannya.
__ADS_1
Terjawab sudah mengapa Pelangi terlihat begitu membenci dan takut kepada Daffin diwaktu yang bersamaan.
"Arghhhhh maafkan aku" Melvin meramas kuat rambut pendeknya, sementara Mbok Yum hanya menatapnya penuh kebingungan.