Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 22


__ADS_3

Tak lama kemudian pelangi keluar, dan menyapa Melvin, mereka tidak banyak saling bicara, Melvin hanya memberikan paper bag yang berisi pakaian serba hitam untuk digunakan Pelangi guna mengantarkan jenazah Alexander Jaxton ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Kita Brangkat sekarang?" Melvin memindai penampilan Pelangi dengan dari atas sampai kebawah, abaya hitam dipadukan kerudung berwarna senada yang masih memperlihatkan rambut indahnya membuat Pelangi terlihat sangat anggun.


Alexander Jaxton dimakamkan disalah satu pemakaman mewah yang terkenal dengan harga selangit di Kota Jakarta, dibawah tenda banyak orang orang penting yang datang untuk mengucapkan belasungkawa, beberapa dari mereka adalah orang orang yang biasa Pelangi lihat dilayar kaca.


Termasuk seorang wanita cantik bertubuh semampai yang duduk disamping Paula sambil terus mengusap punggung janda Alexander Jaxton itu.


Sementara Daffin hanya duduk dengan tatapan kosong kearah lubang yang sebentar lagi akan menjadi tempat peristirahatan terakhir sang Ayah.


Cleo sebenarnya sangat ingin mendampingi Daffin, namun pria itu masih menolak untuk disentuh, tadinya Daffin yakin jika dirinya sudah sembuh setelah merasa nyaman saat kulitnya dan kulit Pelangi saling bersentuhan, namun ternyata ia salah, buktinya rasa tidak nyaman itu kembali menggerayangi tubuhnya begitu Cleo memeluknya sambil terisak menunjukkan betapa ia juga kehilangan Seorang Alexander yang ia yakini kelak akan menjadi mertuanya.


"Maaf aku tak bisa mengatur tempat duduk untukmu didepan" Melvin berbisik didekat telinga Pelangi. Gadis itu memang hanya mendapatkan kursi paling belakang didekat peralatan para wartawan yang meliput proses pemakaman salah satu pengusaha hotel dan resort yang tersohor di Indonesia.


"Tidak apa apa Tuan,Pelangi melihat Uncle Alexander untuk terakhir kalinya dari sini saja sudah bagus" Jawab Pelangi tanpa menoleh kearah Melvin, dan hanya fokus melihat proses pemakaman.


Namun yang ditangkap pandangan Melvin berbeda, ia mengira Pelangi tengah memperhatikan Cleo yang nampak akrab dengan Daffin dan Paula.


"Namanya Cleopatra, dia seorang Model sekaligus kekasih Daffin, tapi kau tenang saja Daffin sama sekali tidak pernah menyukainya" Jelas Melvin.


Pelangi menoleh sambil tersenyum pilu, ia tahu arah penjelasan Melvin, pria itu mingkin berfikir ia cemburu padahal tidak sama sekali, ia tidak punya alasan untuk hal itu, Bahkan kini pelangi memiliki rencana sendiri dengan pernikahannya


.


.


Daffin menatap nanar punggung Pelangi yang jalan bersisian bersama Melvin, padahal wanita itu baru saja ia persunting namun ia bahkan tak menunjukkan batang hidungnya di depan jenazah pria yang sudah memperjuangkannya untuk bisa memiliki status sebagai menantu keluarga Jaxton, meski dengan sebuah perjanjian.


Miris? Tapi siapa peduli, Daffin pun tak ingin ambil pusing.

__ADS_1


"Sayang, kamu yang sabar ya" Cleo datang dan langsung menggandeng tangan Daffin namun keburu ditepis oleh pria yang berubah dingin kepada wanita sejak 4 tahun lalu itu.


"Daffin" Sentak Cleo dengan suara tercekat, ia mengedarkan pandangan melihat para pelayat yang sudah pergi dan beberapa awak media yang merapikan peralatannya.


Untungnya tak ada yang melihat Daffin bersikap buruk kepadanya, jika ada habis sudah reputasinya sebagai seorang kekasih Daffin Jaxton.


"Aku sudah bilang jangan menyentuhku jika bukan aku yang memintanya" ucap Daffin dengan sorot mata tajamnya yang sanggup membuat Cleo beringsut mundur.


Sesekali jika ia harus menghadiri acara bisnis yang mengharuskan membawa pasangan Daffin memang selalu mengajak Cleo, dan saat itu pula Daffin harus merasa tersiksa. Ia hanya menggunakan Cleo sebagai perisai agar para gadis berhenti mengejarnya.


Melvin membuka pintu mobil depan agar Pelangi duduk disana namun gadis itu lebih memilih membuka pintu belakang sama seperti saat berangkat tadi.


"Pelangi tunggu" Melvin menghentikan Pelangi, "Duduk didepan"Titahnya sambil menunjuk jok depan.


"Tidak Tuan Pelangi duduk dibelakang saja" tolak Pelangi halus.


Melvin menghela nafas panjang dan akhirnya menuruti keinginan Pelangi, setelah duduk dibalik kemudi, pria itu membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangan seperti hendak menjabat.


Saat tangan mereka sudah tidak saling bertaut, Melvin mulai berbicara.


"Pelangi, namaku Melvin dan berhenti memanggilkunTuan, jika diperusahaan kau adalah atasanku karena aku ada Aspri Daffin, namun dalam lingkup keluarga Jaxton, aku adalah Kakak Iparmu karena aku sepupu Daffin dari pihak Aunty Paula."


" Ah...seperti itu?" Pelangi mangut mangut, "Maaf Tuan, tidak maksudku kak, Boleh aku memanggilmu kakak? "


"Tentu saja"


"Mari berhubungan baik selama masa kontrak berjalan" Pelangi tersenyum tipis kearah spion tengah yang juga dibalas Melvin.


Setelah sekian menit mobil Yang dikemudikan Melvin melaju, akhirnya mereka tiba disebuah gedung mewah menjulang tinggi tempat para orang orang kaya biasa tinggal.

__ADS_1


Gedung Apartemen itu adalah salah satu yang termegah dikawasan kota Jakarta, tidak sembarang orang bisa masuk kesana kecuali mereka yang memang memiliki akses.


Melvin memarkirkan mobilnya pada basement dan turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Pelangi yang masih mengernyitkan alisnya bingung.


"Tuan...ah bukan Kak kita ada dimana?"


"Turun dulu nanti aku jelaskan"


Pelangi akhirnya menuruti perkataan Melvin, seperti biasa Pelangi pernah bisa menolak perintah Melvin sejak awal mereka bertemu, ia terus saja mengekor dibelakang tubuh tinggi pria itu.


Didalam Lift Melvin menjelaskan jika selama masih berstatus istri Daffin maka Pelangi harus tinggal di apartemen Daffin yang berseblahan dengan Unit miliknya. Pelangi tidak perlu khawatir karena ini adalah ide Daffin dan untuk sementara Daffin akan tinggal di Rumah utama menemani Paula selama masa berkabungnya.


"Ini adalah kamarmu Pelangi" Daffin membuka lebar pintu kamar tamu sehingga membuat Gadis iti terperanjat karena dua buah kopernya dan beberapa Dus yang memang ia siapkan untuk pindah sudah berada disana.


"Kau sudah menyiapkannya kak?" Tak ada raut bahagia yang terapancar di wajah Pelangi.


"Heem, Dan Ini " Melvin merogoh dua buah kartu dari dalam saku celananya dan memberikannya kepada Pelangi.


"yang berwarna silver itu adalah kartu akses untuk apartemen ini, sedangkan yang satunya Kartu Debit pemberian Daffin ia akan rutin mengirimu uang bulanan selama masa kontrak"


Pelangi hanya mengambil kartu akses, ia tidak bisa menolak tawaran tempat tinggal meski sebenarnya bagi Pelangi unit apartemen ini terlalu mewah untuk gadis pmiskin seperti dirinya.


Tapi kartu debit itu?


"Maaf kak Pelangi tidak bisa menerima itu, 250 juta yang diberikan uncle Alexander sudah lebih dari cukup, Malah sangat berlebih aku bahkan ragu mungkin nyawaku akan habis lebih dahulu ketimbang uang tersebut" Pelangi tersenyum getir.


"Heh, mengapa bercandamu sangat mengerikan?"


Melvin memasukkan kembali kartu Debit tersebut kedalam sakunya, ia yakin memaksa Pelangi menerima kartu itu tidak akan membuahkan Hasil, karena bagi Melvin Pelangi tidak sama dengan gadis gadis lainnya yang sangat mencintai uang.

__ADS_1


"Pelangi, jangan terlalu membenci Daffin, mungkin dia memang bajin*an," Melvin teringat betapa playboynya Daffin dulu bahkan sampai melakukan tindak kriminal " tapi sebenarnya ia pria yang baik" lanjutnya lagi.


"Aku masuk kamar dulu kak" Pamit Pelangi tanpa menggubris ucapan Melvin mengenai Daffin.


__ADS_2