
"Bagaimana bisa ayah menyembunyikan hal seperti ini kepada kami semua? Apa yang ada dikepela ayah hanya ada wanita itu sehingga keberadaanku dan Ibu tidak penting?" Daffin menyugar rambutnya frustasi sambil berjalan mondar mandir didalam kamar perawatan Alexander, ia begitu kecewa kepada ayahnya yang tega menyembunyukan penyakitnya.
sedangkan Paula masih terisak disamping tubuh suaminya.
Alexander mendesa* pasrah, ia tak peduli dengan kemarahan Daffin dan lebih memilih menatap lekat Paula, wanita yang sebenarnya begitu sulit ia maafkan meski selama ini ia tahu betapa paula mencintainya.
"Sudahlah Paula, jangan menangis, ini sudah takdir aku juga sudah tua, wajar jika tubuhku sakit" Alexander berusaha menenangkan Paula yang terus terisak.
"Daffin benar alex, kau benar benar tidak menganggap kami, bahkan wanita itu dan anaknya sudah lebih dahulu tahu mengenai penyakitmu? Kau anggap apa aku ini?" Paula sudah bertanya kepada Risman mengenai kebenarannya, dan sebelum mereka sampai dirumah sakit ia tahu jika Pelangi sudah datang terlebih dahulu.
"Daffin, waktu ayah sudah tidak banyak lagi, ayah harap kau mau menuruti keinginan ayah"
"Pelangi lagi? tidak aku tidak akan pernah setuju putraku menikahi anak wanita itu! Meski itu permintaan terakhirmu sekalipun" Paula segera menghapus air matanya dan kembali memperlihatkan wajah bengisnya.
"Mam!" Sentak Daffin pada Ibunya.
Padahal sebelum bertemu Ayahnya ia dan Paula sudah berdiskusi terlebih dahulu mengenai pernikahan ini yang memang harus terjadi demi saham 20 persen itu. Pelangi tak akan bisa melepas saham itu secara sukarela, dan walaupun ia melakukannya hal itu tidak akan terjadi tanpa persetujuan Alexander. jika ia tidak menikahi Pelangi maka ia harus rela kehilangan saham tersebut.
"Tapi Daffin Mau kau kemanakan Cleo? Ibunya sudah tahu kau akan menikahinya, toh hanya Cleo wanita yang menemanimu 4 tahun belakangan ini "
"Mam, aku kira semuanya sudah jelas, aku akan menuruti permintaan Ayah titik" Sorot mata Daffin kali ini tidak main main kepada Paula. wanita 55 tahun itu juga sadar akan kemauan putranya yang tidak akan pernah bisa ia bantah.
Alexander tersenyum bahagia mendengar keputusan Daffin, meski ia tahu Daffin memilih menikahi pelangi pasti karena saham itu, namun Alexander yakin seiring berjalannya waktu Pelangi dapat menaklukan hati Daffin yang lebih keras dari batu.
Kini tinggal meyakinkan Pelangi! Pikir Alexander.
.
.
__ADS_1
.
Risman menugaskan Melvin untuk menemui Pelangi, karena ia tak bisa meninggalkan Alexander meski hanya sekejap, kesehatan Alexander yang terus menurun membuatnya harus tetap siaga.
Tok
Tok
ceklek.....Alis Pelangi langsung mengkerut melihat Melvin sudah berdiri didepan rumahnya, ia fikir yang datang adalah orang yang sudah ia bayar untuk membantu kepindahannya.
"Ada apa Tuan?"
Melvin tak menjawab namun mencuri pandang kearah dalam rumah, Ia bisa melihat dua buah koper besar dan beberapa dus coklat yang nampak rapi dengan lakban coklat.
"Kau akan pindah?"
"Benar Tuan, maaf bukannya Pelangi tidak sopan, tapi sebaiknya Tuan....." sebenarnya Pelangi ingin menyuruh Melvin untuk pulang saja karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan, baik itu mengenai Alexander apalagi tentang Daffin Jaxton,Namun Kerana Melvin mendorong tubuhnya dan langsung masuk kedalam rumah, sehingga Pelangi tidak sempat menyelesaikan kata katanya.
"Pelangi" Kali ini Melvin memegang kedua pundak Pelangi dan menatap gadis betubuh mungil dihadapannya lekat. manik mata mereka saling mengunci sehingga berhasil membuat Melvin menelan saliva, dan memuji betapa indah bola mata Pelangi didalam hatinya.
"Maaf Tuan sebaiknya anda keluar" Pelangi memundurkan tubuhnya, hingga ia lepas dari cengkraman Melvin, ia bahkan tak bisa bernafas dengan baik. Setelah kejadian dengan Daffin 4 tahun yang lalu, Pelangi selalu ketakutan jika berdekatan dengan pria asing, meski ia dapat dengan mudah kembali menetralkan perasaannya.
"Maaf membuatmu takut Pelangi, kedatanganku kali ini benar benar penting"
"Jika itu mengenai perjodohan maka Pelangi akan tetap menolaknya tuan, jika mengenai saham 20 persen tuan cukup katakan dimana Pelangi harus tanda tangan untuk melepaskan semuanya" potong pelangi cepat.
Hufht......Melvin menghela nafas dengan kasar.
"Pelangi, ini tidak semudah itu, saham tidak akan kembali tanpa persetujuan tuan Alexander , dan itu tidak akan pernah ia lakukan"
__ADS_1
"Kenapa para orang kaya sangat suka membuat hidup orang miskin ribet?" Tanya pelangi polos.
"Hanya pernikahan sementara Pelangi, aku jamin tidak akan ada yang dirugikan dalam hal ini" Melvin mencoba meyakinkan Pelangi dengan tatapan penuh pengharapan, sebagai orang lain ia sebenarnya tidak tega melihat sorot ketakutan di mata Pelangi. Namun sebagai asisten dan sepupu Daffin ia harus berhasil meyakinkan Pelangi.
"Kenapa Tuan? Kenapa harus Pelangi? Masih banyak gadis lain diluar sana" Mata Pelangi mulai berkaca kaca, keinginannya begitu mudah, ia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang walaupun sudah rusak. Namun orang yang sudah merusak hidupnya dan keluarganya seakan tidak bisa berhenti mengejarnya.
"Karna hanya kamu yang diingiankan Tuan Alexander," Tangan Melvin terulur untuk mengusap pucuk kepala Pelangi, padahal pria itu sama sekali tidak pernah peduli kepada orang lain selain dirinya sendiri dan Daffin yang memang sudah ditekankan kepadanya sejak belia jika kelak sepupu sebayanya itu akan menjadi tanggung jawabnya.
"Jangan Takut Pelangi, selama masa pernikahanmu aku janji akan melindungimu" Ujar Melvin lagi.
Pelangi adalah gadis belia yang tahu menilai karakter seseorang, ia bisa melihat ketulusan dari setiap kata yang diucapkan Melvin, namun itu tidak cukup untuk membuatnya menerima permintaan Alexander , menikahi orang yang paling ia benci tak pernah sama sekali terlintas didalam benaknya.
"Maafkan....Pelangi..Tu..."
Brak
Pintu rumah pelangi dibuka dengan kasar, memperlihatkan Daffin yang langsung masuk tanpa permisi dengan sebuah map ditangannya.
"Sampai kapan aku harus menunggu?" Daffin memang menunggu di mobil karena sama sekali tidak berniat masuk kedalam gang sempit tempat Kontrakan Pelangi.
"Daffin, "Melvin melirik Pelangi yang meremat kedua tangannya sambil menunduk, entah ketakutan seperti apa yang dimiliki Pelangi hingga membuat Melvin menarik tubuh Pelangi untuk berlindung dibalik raga kekarnya.
brak...Sekali lagi Daffin melempar map yang berisi surat perjanjian pernikahan yang sudah ia persiapkan keatas meja ruang tamu Pelangi.
"Ayahku Kritis vin" lirih Daffin, ada gurat kesedihan yang terpancar diwajahnya, ia memang baru menerima kabar dari Paula jika Alexander sudah dipindahkan di ruangan ICU.
Menuruti keingan terakhir sang ayah dan Mengambil alih saham hotel jaxton menjadi prioritasnya saat ini.
"Uncle Alex" Gumam Pelangi yang hanya bisa didengar Melvin, tatapan mata Pelangi nampak kosong membayangkan wajah Pria 65 tahun yang begitu dicintai Dokter Isyana itu.
__ADS_1
Ibu angkat pelangi selalu membanggakan pria yang tak pernah sekalipun ia hapus dari dalam hatinya itu.