Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 92


__ADS_3

"Ada apa dengan kalian?" Ayu berbisik kepada Pelangi, ia memindai Daffin yang kini berdiri menyapa rekan bisnisnya yang hendak pulang, lalu kembali menatap Pelangi yang wajahnya tidak secerah tadi.


"Tuan Daffin salah paham padaku" Jelas Pelangi.


"Heh, aku tidak tahu harus bilang apa jika itu pertengkaran sepasang suami istri"


Keduanya saling menyinggungkan senyuman.


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya yang masih nampak modis dan cantik mendekati Pelangi.


"Hai Nyonya Daffin Jaxton" Sapa wanita itu.


Ayu dan Pelangi berdiri bersamaan dan bergantian menyalami wanita dengan tatapan tegas itu.


Pelangi dan Ayu merasa tidak asing dengan wanita itu sepertinya ia sering wara wiri dilayar kaca.


Artis? Ayu menggelang lalu menyentak kepalanya "Naila Paris?" gumamnya, ia adalah pengacara terkenal yang sering membela artis wanita yang di zolimi oleh para suaminya, Naila paris terkenal sangat vokal membela clientnya yang berhubungan dengan Pelakor. Pengalaman masa lalunya yang pernah tersakiti membuatnya seperti itu.


"Pantas saja Tuan Daffin berpaling dari kekasihnya rupanya istrinya memang sangat cantik" ucap Naila.


Pelangi bergeming, sekali lagi ia merasa seperti ditampar, padahal ia tak merasa merebut Daffin dari Paula. Wanita hamil itu hanya tersenyum kikuk.


"Naila Paris, terima kasih sudah datang" sapa Daffin yang langsung mengalihkan atensi wanita itu menuju dirinya.


"Terima kasih juga atas undangannya, oh iya istri Tuan Daffin sangat cantik, saya fikir Cleopatra adalah sosok wanita yang sudah berhenti membuat anda menjadi casanova karena beetahun tahun anda hanya terlihat bersamanya, ternyata saya salah, semoga nona cantik ini menjadi pelabuhan terakhir anda Tuan"


"Saya bisa pastikan hal itu!" jawab Daffin mantap. Meski masih kesal dengan kejadian di Basement barusan.


.


.


.


"Ada apa ?" Tanya Pelangi melihat Daffin mengggelengkan kepalanya, ada rasa pening yang menjalar disetiap syaraf didalam kepalanya.


Pelangi mencoba mengusap lengan kekar Daffin namun pria itu menepisnya, yah itulah Daffin jika marah butuh waktu lama untuk memperbaiki suasana hatinya, beruntung kali ini ia tak mencoba untuk menjaga jarak dari sang istri karena bagaimanapun akhirnya Daffin yakin ia akan kembali kepelukan Pelangi, ia benar benar tak bisa hidup tanpa wanita itu disisinya.


"Maaf" Lirih Pelangi.


Daffin semakin mengeratkan cekalannya pada stir, ia sama sekali belum beranjak dari basement, ia ragu apakah bisa mengemudi dengan kondisi seperti ini.


"Pelangi, bisa panggilkan Mel....tidak , panggilkan Jhon" titah Daffin.


Pelangi yang mulai khawatir segera merogoh ponsel dari dalam tas jinjingnya lalu melakukan panggilan kepada Jhon.


Namun belum sempat ia menekan tombol hijau, kaca mobil mereka diketuk dengan pelan dari arah luar, Pelangi menoleh dan mendapati sosok Paula berdiri diluar, sementara Daffin menelungkupkan wajahnya ditengah stir.


"Ada apa kenapa mobil kalian tidak bergerak? Ibu memperhatikan dari sana, " Paula menunjuk Sebuah lomousin hitam yang nampak mengkilat, ia terlihat sangat ramah bahkan menyebut dirinya dengan sebutan Ibu dihadapan Pelangi.


"Sepertinya Tuan Daffin kesakitan" Pelangi menyingkir dari ambang pintu dan membiarkan Paula melihat kondisi putra tunggalnya.


"Daffin kamu kenapa sayang?"


Meski sempat menolak akhirnya Daffin pasrah juga ketika Paula mengajaknya ikut dengannya, tentu saja Daffin tak melupakan Pelangi ia menggenggam erat tangan istrinya itu meski masih ada setitik rasa marah dan cemburu dihatinya.


Didalam Mobil mewah dengan ukuran tidak biasa itu, Paula membaringkan kepala Daffin diatas pangkuannya.

__ADS_1


"Apa kita akan kerumah sakit Nyonya?" Tanya Pelangi, masih terlihat jelas gurat ketakutan diwajahnya, melihat kondisi Daffin dan harus menghadapi Paula seorang diri.


"Tidak kita akan kehotel Jaxton terdekat" Paula lalu menekan sebuah tombol yang menghubungkan suaranya dengan sang supir didepan sana. Ia memerintahkan supirnya untuk mencari rute tercepat menuju Hotel.


Hening....


Pelangi tak berani bersuara ia hanya bisa menatap penuh iba pada Daffin karena Paula tak mengijinkannya untuk menyentuh tubuh suaminya sendiri dengan dalih ada dia disini, Tentu saja Paula terus memasang senyum palsunya.


Tiba dihotel Paula meminta Pelangi untuk menunggu di Loby saja sementara ia dan dua pelayan hotel memapah Daffin menuju kamar mewah khusus yang memang diperuntukkan untuk para petinggi Hotel.


Dua jam Pelangi menunggu namun tak ada tanda tanda Paula turun dari atas, Jam kecil dipergelangan tangannya yang terbuat dari emas murni sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat lima belas menit.


Pelangi berinisiatif untuk bertanya kepada Nona resepsionis namun wanita itu berkata jika Paula sudah membawa Daffin kerumah sakit. Melihat raut wajah cemas pelangi ditambah wajahnya yang pucat membuat Resepsionis itu merasa iba. Apa lagi ia juga tidak tahu pasti kebenaran berita yang ia terima tadi melalui telepon agar disampaikan kepada Pelangi jika ia bertanya.


"Apa Nona istri Tuan Daffin?" resepsionis itu hanya asal menebak, karena yang ia tahu istri dari CEO nya itu memang tengah hamil Tua.


"Iya" Jawab Pelangi singkat, "Kalau begitu saya pamit Nona" Lanjut Pelangi lagi, ia berjalan gontai meninggalkan Lobby yang didominasi warna kuning keemasan, sapaan penjaga pintu utama Hotel tak lagi ia hiraukan. Pelangi melangkah hingga tanpa sadar ia memeluk tubuh ringkihnya sendiri.


Hujan....


Ia tak menyangka Paula begitu tega kepada dirinya, ia bisa memaklumi Daffin karena kondisinya, tapi mertuanya itu? padahal jelas jelas mereka naik kelantai atas dan tak pernah turun lagi, apa mungkin mereka pergi melalui Basement? Namun mata Pelangi masih sempat melihat Limousin Paula yang masih pada tempatnya.


Ah...Pelangi menghela nafas panjang mungkin sampai kapanpun ia tak akan pernah diterima dikeluarga Jaxton.


Pelangi terduduk, ia membiarkan runtuhan air hujan yang tidak terlalu deras membasahi bahu polos dan seluruh tubuhnya, hingga seseorang datang dan melindunginya.


Pelangi mendongak menatap payung berwarna kuning yang sudah menyelimuti tubuhnya.


" Apa Paman harus berbicara yang sebenarnya agar mereka tidak lagi berlaku kejam kepadamu?"


Pelangi mengerutkan alisnya, sudah lama ia tidak mendengar suara itu.


"Paman Risman" Melvin juga terkejut dengan kehadiran risman pria Tua yang di depak Daffin sejak sang Ayah meninggal.


Melvin baru saja tiba saat melihat Pelangi dipayungi oleh seorang pria asing, yang ternyata ia kenal.


"Kau sudah tahu bukan?" Tanya Risman.


Dan Melvin hanya mengangguk pelan.


Risman kembali menoleh dan menarik tangan Pelangi dengan lembut, "Berdirilah nak " pinta pria tua itu lalu membantu Pelangi.


"Antarkan ia beristirahat ia sepertinya kedinginan" Risman mengusap Pucuk kepala Pelangi yang terlihat semakin pucat itu.


"Ikut denganku Pelangi" Melvin mengambil alih payung risman dan merangkul bahu pelangi hingga merapat ketubuhnya.


Mereka berdua berjalan menuju mobil Melvin, sementara Risman melihat mereka sebentar lalu masuk kedalam loby hotel.


.


.


.


Pagi menjelang dan Pelangi baru saja mengerjapkan matanya, kini ia berada di Apartemen milik Melvin yang lainnya, sebuah apartemen type studio yang berukuran kecil, ia ingat pria itu semalam membawanya kesini dan berjanji akan pergi setelah Pelangi terlelap. Dan dia menepati janjinya. Karena saat ini ia tidak melihat sosok itu dimanapun. Namun Pelangi dibuat terkejut dengan kehadiran Satria yang terlihat menunggunya di sisi ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu.


"Paman..." Suara Pelangi sedikit Parau.

__ADS_1


Satria reflek mengambil segelas air yang sudah disiapkan Melvin diatas nakas sebelum pergi semalam.


Pelangi meneguknya hingga tandas.


"ini nak" Satria menyodorkan kalung milik Pelangi dari dalam saku kemejanya.


"Ini...." Pelangi bingung padahal terakhir kali ia menyerahkan kalung trrsebut kepada Melvin tapi kenapa sekarang ada pada Satria.


"Melvin yang memberikannya kepada Paman, ini benar benar milikmu nak peninggalan dari Ibumu"


"Ibu??" Pelangi ingat Satria pernah berkata kalung ini ditemukan bersamaan dengan dirinya yang diletakkan begitu saja didalam sebuah dus indomie. dan kemungkinan peninggalan Orang Tuanya. Lalu Ibu?? Pelangi merasa ada yang aneh saat Satria menyebut kata itu.


Rasa penasaran Pelangi belum terjawab tatkala pintu apartemen tiba tiba terbuka dan memperlihatkan sosok wanita dewasa bersama dua orang anak yang memiliki paras yang serupa.


"Echa , Echi " Seru Pelangi ia sudah terlalu lama tidak melihat kedua putri Pamannya itu kini mereka terlihat sudah setinggi bahu sang ibu.


" Kak Pelangi" Timpal keduanya lalu menghambur kedalam pelukan Pelangi.


"Kami merindukan kakak"


"Kakak Juga " Mata Pelangi berkaca kaca, apalagi kini ia melihat senyum yang menghiasi wajah Soraya, sebuah senyuman yang hanya ia lihat kala wanita itu baru menikah dengan Satria.


"Jangan terlalu erat Peluknya, kalian tidak kasihan melihat dedek bayi yang ada diperut Kak Pelangi?" Soraya memperingati kedua putrinya.


"Kak Pelangi bakalan punya dedek Bayi ya ma?" tanya Echa seraya mengamati perut Pelangi yang membuncit.


"Iya sayang, dedek bayinya cewek sama kayak Echa sama Echi " terang Pelangi.


"Sekarang Echa Echi main sama Ayah dulu ya diluar, mama mau ngomong sama Kak Pelangi"


"Baik Ma" sahut sikembar bersamaan, namun sebelum keluar mereka terlebih dahulu mengecup pipi Pelangi.


Satria mengelus pundak istrinya dengan lembut sebelum membawa kedua bocah kembarnya keluar dari apartemen kecil itu.


Kedua wanita beda usia itu saling menatap dengan tatapan penuh penyesalan.


"Bibi"


"Pelangi"


Soraya duduk ditepi ranjang dan mengusap pucuk kepala Pelangi yang tengah duduk sambil bersandar di kepala Ranjang.


"Maafkan Bibi " Lirihnya dengan mata yang berkaca kaca.


"Bibi tidak Punya salah sama Pelangi" Pelangi tersenyum hangat, ia bersyukur sikap Soraya kembali hangat sama seperti pertama kali saat Satria mengajaknya ke Panti. Entah apa yang membuatnya berubah pelangi tidak terlalu ambil pusing yang penting Soraya sudah bisa menerimanya kembali.


"Kau tidak penasaran mengapa dulu bibi sangat membencimu?"


Pelangi menggeleng pelan " pelangi sudah tahu" jawabnya.


Soraya menautkan alisnya padahal ia bisa menjamin yang tahu masalah ini hanya ia dan Satria serta mendiang mertuanya.


"Karena permintaan Bunda Siti? Dulu sekali saat masih berusia 14 tahun Bunda siti pernah bertanya bagaimana kalau saat Dewasa Pelangi menikah dengan paman Satria. Saat itu Pelangi sudah cukup dewasa dan mengerti apa maksud bunda, mungkin hal itu sudah sampai ketelinga bibi dan Paman, maka dari itu bibi membenciku, tapi bibi...bagi paman, Pelangi hanyalah anak yang ia besarkan tidak lebih, namun bagi paman...bibi adalah Dunianya Pelangi melihat bagaimana bahagianya kala paman menerima telepon dari bibi saat masih pacaran dulu, bagaimana paman yang sering tersenyum sendiri saat memandang foto bibi dilayar ponselnya, Paman pernah mengatakan pada Pelangi jika ia harus mempersunting soraya karena tak bisa hidup tanpa wanita itu" jelas Pelangi panjang lebar.


Air mata Soraya luruh mendengar perkataan seorang anak yang selalu ia anggap biang keladi dari setiap masalah Rumah tangganya, Ia memang bodoh tak menyadari betapa besar cinta sang suami untuk dirinya dan sikembar selama ini.


"Maafkan Bibi Pelangi" Soraya semakin Tergugu, apalagi saat ia mengingat semua yang ia lakukan pada gadis sakit sakitan itu, ia bahkan bekerja sama dengan Paula dan Pelangi sama sekali tak menyinpan dendam kepadanya.

__ADS_1


"Bibi.....Jangan menangis semua sudah baik baik saja sekarang" Pelangi menepuk punggung tangan Soraya, ia terlihat sangat dewasa seakan tak ada beban hidup yang tengah dipikirkannya.


__ADS_2