
"Kak...kalau kamu sudah bosan dengan cintamu yang tidak terbalaskan datang padaku" Ucap Ayu yang sontak menghentikan langkah Melvin saat hendak meninggalkan ruangan dokter berusia 27 tahun itu.
Yah, Melvin baru saja meminta Ayu untuk membantunya mengecek DNA Pelangi.
Ayu sudah melepas harga dirinya yang setinggi gunung, ia lelah mengajar dengan cara yang halus, mungkin dengan berterus terang bisa membuat Melvin sedikit saja memikirkan perasaannya.
Melvin tahu apa yang dirasakan Ayu sekarang, karena ia pun tengah merasakannya, ia merasa bersalah dengan membuat orang lain menderita seperti dirinya.
"Mengapa kau menyukaiku?" Melvin tidak menoleh, ia tak tega melihat ekspresi Ayu sekarang ini.
"Seperti halnya kakak menyukai Pelangi, maka itu pula alasanku menyukaimu" Ayu berdiri dari kursinya dengan kepalang tangan yang mengepal kuat, hingga ia merasa kuku tajamnya tertancap di telapak tangannya, entah kemana harga dirinya ia letakkan.
Ia menatap nanar punggung Melvin yang seakan enggan untuk berbalik.
"Jangan menyakiti dirimu Ayu Widiantari"
"Bisa aku ucapkan ucapan yang sama? Bukankah kita berdua sama sama tersakiti disini"
Kini melvin menoleh, ia tertawa miris kearah Ayu yang wajahnya memerah karena menahan malu.
"Ah....ternyata seperti ini rasanya," Melvin menolak pinggang lalu menengadah menatap langit langit, kini ia tahu apa yang dirasakan Pelangi, Wanita itu tidak akan pernah bisa menerima perasaannya namun tidak tega menyuruh dirinya benar benar pergi karena kebaikannya selama ini, sama seperti Ayu, Dokter muda itu terlalu banyak membantunya hingga rasanya ada sedikit rasa tidak tega untuk benar benar mematahkan hati Ayu secara langsung.
"Rasa dicintai tapi tidak bisa membalasnya?" Tebak Ayu, ia tersenyum getir.
Melvin hanya memgangguk membenarkan.
"Aku ingin minta maaf padahal aku sendiri menolak jika Pelangi meminta maaf karena tak bisa berbuat lebih atas rasa ini"
"Maka dari itu biarkan saja Perasaanku ini kak, jangan mencegahku, seperti kau yang membiarkan rasa itu tumbuh kepada Pelangi"
Dua orang bodoh! Masing masing saling merutuki diri.
.
.
.
"Daffin belum pulang? Sepertinya kalian marahan? " Tebak Cleo senang, ia menghampiri Pelangi yang tengah menikmati buah diberanda kamarnya.
Sementara dua orang pelayan Pelangi hanya menatap wanita ular yang mencoba merusak kehidupan rumah tanggah majikannya itu dengan malas.
__ADS_1
Tentu, siapapun tahu apa tujuan sebenarnya Cleo tinggal disini.
"Dia menginap di Apartemen" Pelangi masih mencoba tersenyum, sedangkan Cleo mulai memperlihatkan sisi aslinya, ia lelah berpura pura, andai kata Daffin marah kepadanya karena peristiwa di malam tiga hari yang lalu mungkin ia masih melanjutkan dramanya tapi toh justru sebaliknya Daffin terlihat lebih marah kepada Pelangi dan pergi meninggalkan rumah.
"Dia tidak di Apartemen, kau tahu dia sekarang berada di Thailand menghadiri undangan pernikahan kerajaan ,aku juga baru pulang dari sana, Tante Paula dan Daffin memintaku menemaninya" ucap Cleo tanpa merasa bersalah sedikitpun, meski sebenarnya hanya Paula yang memintanya menemani Daffin dan saat disana Daffin memperlakukannya seperti tidak pernah mengenalnya. Sial! Rasanya Cleo ingin menagis jika mengingat hal itu.
"Ah...begitu ya, Tuan Daffin tidak memberitahuku" Pelangi tersenyum kikuk, bohong jika ia tidak merasa sesak, bahkan cerita Cleo rasanya lebih menyesakkan dari pada melihat langsung mereka berpelukan, karena Daffin pergi dalam keadaan marah.
Namun Lagi lagi Pelangi berlindung dengan dalih kebahagiaan Daffin, Pria itu bebas memilih untuk bersama siapapun, kondisi kesehatannya tidak memungkinnya untuk bersikap Egois.
"Apa ia marah karena kau masuk tanpa mengetuk tempo hari? Ahahah " Cleo berpura pura malu dengan tertawa sambil menutup mulutnya, "maafkan kami Pelangi, itu karena aku dan Daffin sudah tidak sabar"
"Aku yang minta maaf nona" timpal Pelangi, yang membuat Cleo sedikit geram, Percuma saja ia membuat wanita itu cemburu, ia sama sekali tidak terprovokasi.
Menyebalkan!
Sementara dua orang pelayan yang mengupas buah untuk Pelangi saling melempar pandangan, meski terdengar ambigu namun mereka bisa mengerti situasi yang tengah dialami Pelangi.
Ingin rasanya mereka melempar buah apel yang besar kearah Cleo namun posisi mereka tentu tak memungkinkan mereka melakukan itu. Menjadi pendengar yang baik adalah jalan terbaik agar tidak dipecat, bagaimanapun Cleo adalah kekasih Daffin.
"Mengapa kau bertahan Pelangi? Apa demi anak ini? " Cleo tersenyum penuh cibiran.
Pelangi tak langsung menjawab, ia mengusap perutnya yang nampak sudah membuncit diusia kehamilan 5 bulan.
"Kau benar Nona Cleo" Pelangi merasa sangat jahat memang, meski pada kenyataannya Daffinlah yang lebih dahulu merusak hidupnya.
Pelangi menghela nafas dan menatap Cleo dengan sendu.
"Nona Cukup, Nyonya Pelangi harus istirahat" ucap Rena menyela, salah satu pelayan Pelangi. ia sudah tidak tahan melihat Pelangi yang terus dipojokkan oleh Cleo.
"cih...." Cleo muak mendengar Pelangi yang terus menerus dipanggil Nyonya dan diratukan dirumah ini, padahal seharusnya ia lah yang pantas menyandang Nyonya Daffin Jaxton.
"Mari Nyonya" Ajak Ani pelayan yang satunya.
Saat Pelangi hendak meninggalkan branda tiba tiba Cleo menahan pergelangan tangannya.
"Aku ingin makan buah" tukas Cleo yang membuat ani dan Rena saling bertukar pandangan.
"Maaf Nona silahkan" Rena menyodorkan keranjang yang berisi aneka buah lengkap ada pisau buah juga didalamnya. satu apel dan beberapa biji anggur tadi sudah dimakan Pelangi.
"Aku ingin Pelangi yang mengupasnya" Cleo mengambil satu buah pear dan menyodorkannya kepada Pelangi.
__ADS_1
"Nona anda jangan keterlaluan, Nyonya Pelangi Tuan rumah disini" tegur Rena sedikit ketus.
"Diam kau Pelayan!!" Sentak Cleo, namun tidak membuat rena menurunkan pandangannya.
"Tuan Daffin sendiri yang tidak mengijinkan Nyonya Pelangi memyentuh peralatan dapur apa lagi pisau" Terang Rena dengan tegas.
Cleo tersenyum miring.
Sial! Ia memastikan akan memecat semua pelayan dirumah ini jika nanti dia menjadi Nyonya Daffin Jaxton, terutama dua orang pelayan pribadi pelangi ini.
"Maafkan aku kalau begitu Nyonya besar" ucap Cleo dengan nada mengejek sambil menatap Pelangi. Namun yang ditatap justru kembali duduk, ia tak jadi meninggalkan Beranda.
"Biar aku kupaskan Nona" Pelangi meminta buah yang dipegang Cleo. Lalu mengambil pisau buah dari dalam keranjang.
"Nyonya..." Ani
"Nyonya jangan lakukan itu, Tuan Daffin akan marah" ucap Rena. Membujuk Pelangi agar tidak menghiraukan Cleo.
"Tidak apa apa,hanya mengupas buah ini kok" Pelangi tetap tersenyum.
"Tapi Nyonya anda adalah Istri Tuan Daffin tidak sepantasnya......"
"Astaga Drama banget sih, aku cuman minta tolong kepelangi juga" Sela Cleo ia lalu memgambil dengan paksa pisau dari tangan Pelangi dengan kasar.
Tujuan Cleo menyuruh Pelangi hanya ingin menunjukkan dimana sebenarnya tempat wanita itu, sampai kapanpun ia tidak akan bisa berada diatas dirinya.
Sretttt.....
Akibat Cleo yang menarik pisau buah telapak tangan Pelangi tergores cukup dalam hingga membuat darah mengucur deras dari tangannya.
Pendarahan Pelangi nampak bukan seperti pendarahan biasa, ia yang mengkonsumsi obat pengencer darah mampu membuat darah yang mengucur nampak tidak normal hingga berceceran diatas lantai.
"Nyonya...." ucap Rena dan Ani Kompak, mereka menatap Tajam kerah Cleo yang juga nampak Panik.
"Pe..pelangi..."
"Sudah tidak apa apa....ambilkan saja Handuk " Pelangi masih berusaha tenang ia menekan luka itu kearah tubuhnya hingga membuat baju yang dikenakannya juga berlumuran darah.
"Tidak !nyonya harus kerumah sakit" Ani segera menelpon dan memberitahu Supir agar menyiapkan Mobil. Tak lama kemudian Seisi rumah nampak panik, mereka semua berlarian masuk kedalam kamar Pelangi seraya bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun Ani dan Rena tak bisa menjelaskannya mereka terlalu panik dan segera membawa Pelangi kedalam mobil untuk dilarikan kerumah sakit.
Meninggalkan Cleo dengan tubuh lemas memandangi ceceran darah yang sangat banyak dilantai.
__ADS_1
"Itu hanya pisau buahkan, tidak mungkin sedalam itu lukanya...lalu kenapa darahnya sangat banyak?" Cleo bergumam sambil berjalan mondar mandir dan menggigit kukunya.