
"Ada apa Vin?" Sapa Paula yang baru saja masuk kesebuah ruangan privat salah satu restoran Jepang, namun bukan hanya Melvin yang ia dapati disana melainkan Menantu yang tak akan pernah ia terima keberadaannya.
"Ada yang ingin Pelangi bicarakan" Ujar Melvin dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Paula sempat berdecak sebelum akhirnya ia duduk melantai dengan alas sebuah bantal yang cukup empuk.
Pelangi tersenyum tipis, ia masih kecewa dengan wanita paruh baya dihadapannya, tapi ia bisa apa? Ia sadar dirinya bukan wanita kalangan atas yang pantas bersanding dengan Daffin, seharusnya dari awal mereka tidak menggunakan hati dan membiarkan pernikahan kontrak ini berakhir sesuai dengan perjanjian.
Melvin beranjak dan meninggalkan Paula dan Pelangi.
Hening sesaat....
"Kau sudah melihat beritanya bukan?" Ketus Paula.
"Sudah Nyonya, untuk itu aku ingin mundur dan mengembalikan semua ketempatnya seperti semula" ujar Pelangi dengan suara yang yerdengar bergetar menahan tangis.
Paula sempat Tercengang tetapi ia dengan cepat menetralkan ekspresinya.
Wanita paruh baya itu tersenyum smirk.
"Mundur? Kau fikir Daffin akan melepaskanmu? Kau ingin pergi lalu mengadu domba kami? Agar Daffin berfikir aku yang sudah mengusirmu cih..."
"Jadi pergi tidak bisa menyelesaikan masalah ini? Apakah aku harus mati Agar semua terselesaikan? Pelangi menatap nanar kearah Paula yang tersenyum mencibir.
"Kau fikir aku sekejam itu? Lagipula nyawamu tak berarti apa apa untukku "
"Lalu aku harus apa Nyonya?"
"Terserah!! Aku tak peduli"
"Tapi Nyonya bisakah aku minta sebuah permintaan" Tatapan Pelangi penuh harap.
"Katakan!" Paula terlihat lebih santai, ia menatap warna merah yang menghiasi kukunya seraya menjettik jentikkan jarinya.
"Kemungkinan aku hidup setelah melahirkan hanya 20 persen, jika angka itu nyatanya gagal mempertahankan nyawaku maukah Nyonya menerima putriku dan merawatnya, bagaimanapun ia adalah darah daging Tuan Daffin, namun jika ternyata aku masih bisa bertahan maka nyonya tidak perlu menghawatirkan kami terutama putriku" terang Pelangi yang berhasil membuat Paula menatapnya penuh tanda tanya.
Jika mengenai permintaan untuk merawat sang cucu mungkin Paula akan memikirkannya, karena meski ia menolak Daffin pasti akan tetap merawatnya.
Tapi persentase kehidupan itu maksudnya apa?
Paula enggan untuk bertanya lebih lanjut, ia tak ingin Pelangi berfikir jika ia tengah menghawatirkan wanita itu.
"Baiklah" Paula mengangguk.
"Terima kasih nyonya" pelangi menunduk dalam penuh hormat, dan sekali lagi itu membuat Paula terasa seperti trrcubit hatinya, bagaimana mungkin wanita itu masih bisa berlaku sopan.
"Sudah Pelangi?" tanya Melvin yang baru saja masuk.
matanya terlihat berkabut karena mendengar apa yang baru saja disampaikan Pelangi kepada Paula dari balik pintu.
Pelangi mengangguk sembari tersenyum, Melvin lalu membantu wanita hamil itu untuk berdiri,ia memapah Pelangi, namun sebelum benar benar keluar Melvin kembali menoleh kearah Paula " Katakan pada Daffin jangan pernah mencari Pelangi " Melvin lalu mengambil ponsel dari saku celana bahan yang ia kenakan membuka fitur kamera mengarahkannya kepada ia dan Pelangi.
Namun sebelum terdengar bunyi cekrek bibir Melvin sudah terlebih dahulu mendarat di sudut bibir Pelangi.
Seketika Pelangi melotot dengan rahang yang mengeras, darahnya seakan mendidih dan seluruh tubuhnya membeku.
Paula pun tak kalah tercengang dengan apa yang barusan dilakukan keponakannya itu.
"Melvin Kau!!!" Geram Paula.
Sementara Pelangi seketika berubah menjadi manekin yang tak bisa bergerak.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Paula, namun wanita paruh baya itu tak mengeceknya.
"Aku sudah mengirimkan potret barusan" Melvin lalu tersenyum sinis " Lain kali katakan saja padaku, jangan memgambil potret diam diam, itu terlihat bodoh karena Daffin tak akan meninggalkan Pelangi hanya dengan potret merangkul, perlihatkan itu pada Daffin! " Tukas Melvin.
"Jika kau butuh pose yang lebih menantang katakan saja" Sarkas Melvin pada Paula yang kini sudah menatap layar ponselnya, dimana memperlihatkan Melvin yang seperti terlihat meluma* bibir Pelangi dari samping.
Tanpa sadar Paula mengepalkan kepalang tangannya kuat.
"JANGAN BODOH MELVIN MAHENDRA!!!!" sentak Paula kuat. foto ini bisa menjadi akhir hubungannya dengan Daffin dan juga Hotel Jaxton, Paula sadar Melvin mungkin akan menjadikan dirinya tumbal atas perpisahan Daffin dan Pelangi.
"Kau akan pergi dengan wanita yang tengah hamil anak dari pria lain?" Cibir Paula.
Namun Melvin tak menghiraukan atau sekedar menjawab pertanyaan Paula. Ia segera keluar membawa tubuh Pelangi yang terasa masih sangat kaku, meninggalkan Paula dengan segala kekesalannya kepada Pelangi. Wanita itu benar benar berhasil memghancur hubungan putra dan keponakannya.
Disepanjang perjalanan Melvin hanya menghela nafas panjang, tak terasa air matanya luruh mengingat ia akan segera berpisah dengan Pelangi.
Sementara Pelangi hanya membuang pandangannya ke arah luar, ia tak berani bertanya mengapa Melvin membantunya dan malah mengorbankan segala yang ia miliki, tak bisa dipungkiri Hotel Jaxton merupakan sumber kemewahan yang selama ini dinikmati Melvin.
"Maaf...." Lirih Pelangi tanpa menatap Melvin yang terus fokus mengemudi.
Mereka dalam perjalanan menemui Eshaq dan juga Satria.
Pelangi tahu ia sudah menjadi wanita yang sangat egois, namun jika bukan Melvin siapa lagi yang bisa ia andalkan, kini ia tahu Melvin bukan hanya akan mengirimnya ketempat yang Jauh tapi juga akan menemaninya disana.
"Jika putriku lahir dan aku tak bisa bertahan bawa ia....."
"Tidak!! Kau dan putrimu akan selamat, kalian akan hidup bahagia, karena meski tanpa Daffin kau masih bisa menjalani transplantasi Jantung"
Pelangi tersenyum getir, sekali lagi ia merasa seperti seseorang yang sangat jahat karena memanfaatkan Melvin.
"Maaf...."
Melvin seakan tahu apa yang ada difikiran Pelangi saat ini, padahal orang akan membawanya pergi dan berjanji akan memberikan fasilitas kesehatan terbaik untuk Pelangi adalah ayah kandungnya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku memaksamu saat aku bisa melihat betapa besar cintamu untuk Daffin dan begitupun sebaliknya"
Pelangi menghela nafas.... Bahkan Melvin bisa melihat bagaimana mereka saling mencintai tapi mengapa semesta seakan menentangnya?? "Aku harap Tuan Daffin baik baik saja, semoga Cleo bisa menjadi pendamping baik untuknya," ucap Pelangi Pelan.
Mobil mewah yang masih menjadi inventaris Hotel Jaxton itupun melaju cepat membelah ramainya jalanan ibu kota.
Sementara di sebuah kamar Hotel mewah Daffin mulai mengrjapkan matanya meski kepalanya masih terasa sangat pusing.
Risman segera memgambilkan sebotol air mineral dari dalam kulkas mini yang memang tersedia disana. Ia memberikannya kepada Daffin yang langsung diteguknya hingga setengah isi.
Kini Daffin sudah setengah duduk dan bersandar pada kepala ranjang seraya memijat pelipisnya.
"Paman kenapa bisa ada disini?" Heran Daffin namun ada rasa tidak enak dibalik pertanyaannya bagaimanapun ia orang yang memberhentikan Risman secara sepihak dari hotelnya meski memberikan jimlah pesangon yang cukup banyak.
"Kemarin Melvin menelpon paman dan meminta penjelasan, tapi hal itu tidak bisa dijelaskan melalui panggilan seluler untuk itu paman memutuskan untuk langsung menemuimu" setelah tidak direspon oleh Daffin karena terlalu sibuk dengan pesta peresmian Jhon memang memberitahu Melvin jika orang yang masih memiliki akses atas rekening khusus Hotel Jaxton tersebut adalah Risman mantan Asisten Pribadi Alexander .
Untuk itu Melvin mengabari Risman, tapi ia tidak menyangka Risman yang kini menetap di Provinsi sebelah itu langsung datang ke Jakarta.
"Penjelasan apa Paman? " telisik Daffin, ia memang tidak mengetahui apapun karena belum memeriksa ponselnya sejak Kemarin.
"Bukankah kau memang mencariku? " Risman menunjuk Buku rekening dan kartu debit di samping Daffin.
Daffin lalu mengamati kedua benda itu dan membaca apa yang tertera didalamnya dengan seksama, ia lalu memindai buku itu dan Risman secara bergantian.
"Jadi Paman yang membelinya 3 Tahun yang lalu?"
Risman menggeleng pelan, "Bukan paman nak, tapi Ayahmu"
__ADS_1
"Ayah?" Daffin mulai menerka alasan ayahnya membeli panti asuhan itu.
Apa karena Pelangi berasal dari sana dan Pelangi adalah putri dari orang yang sangat ia cintai.
"Menurutmu mengapa Ayahmu membeli panti itu ?"
Kini giliran Daffin yang menggeleng ia malas menyuarakan alasan yang kini sedang difikirkannya.
"Saat itu Ayahmu bingung harus melakukan apa , ia sudah mencari keberadaan Pelangi tapi tak bisa menemukan gadis itu, akhirnya ia membeli panti tersebut dan berharap Gadis malang itu suatu saat kembali kesana, maka dari itu ayahmu menempatkan Dandi disana agar memberinya imformasi jika suatu saat Pelangi datang lagi"
"Tunggu...tunggu...." Daffin mengangkat tangannya agar Risman menjeda penjelasannya, ia merasa tidak menemukan sebuah titik terang dari cerita itu.
"Maksud paman saat Ayahku yang mencari Dokter Isyana?" Alis Daffin saling menaut bingung.
"Tidak, justru pencarian Pelangilah yang membawa ayahmu menemukan Dokter Isyana,"
Daffin terlihat semakin bingung.
"Jadi Melvin belum mengatakan semuanya kepadamu?" Risman bisa mengira jika Daffin tidak tahu sosok Pelangi yang sebenarnya, padahal jelas jelas melalui sambungan teleponnya Melvin mengaku sudah sejak lama mengetahui Pelangi, bahkan diawal pernikahan Daffin dan gadis malang itu.
Kini Risman menghela nafas panjang, ia fikir kedatangannya hanya untuk menjelaskan mengenai Alex yang sudah mengetahui segalanya sejak awal jika Pelangi adalah korban pelecehan Daffin, dan mengenai alasan Mengapa Alex membeli panti asuhan tersebut.
"Menurutmu mengapa ayahmu ingin kau menikahi Pelangi?"
"Karena ia putri Dokter Isyana?"
"Bukan"
"Lalu?"
"Karena pelangi seharusnya bisa memenjarakanmu tapi ia tidak melakukannya sehingga kau tidak bisa bertanggung jawab padanya , maka dari itu Ayahmu memilih untuk menikahkan kalian berdua agar kau bisa bertanggung jawab dengan kehidupan gadis malang itu, Daffin selama ini Ayahhmu tahu selama 4 tahun kau mencari keberadaan Pelangi, tapi tak bisa menemukannya"
"Paman....jangan berbelit belit, mencari siapa? Aku tidak pernah memcari Pelangi selama 4 tahun!Apa yang paman maksud" Daffin mulai terpancing emosi, ia menyugar rambutnya penuh rasa frustasi. "Dan kenapa Pelangi bisa memenjarakannku? Apa yang sudah kulakukan padanya?" lanjut Daffin lagi.
"4 tahun lalu di Villa bukankah kalian mengadakan pesta zex ?" Risman bertanya sambil menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Pa-paman"Daffin seketika menjadi gagu, padahal ia yakin masalah ini hanya ia, Melvin dan Jhon yang mengetahuinya.b Jhon saja tidak mengetahui segalanya. Bahkan Daffin rela memutuskan pertemanan dengan Reza dan Vano karena mereka menaruh curiga mengenai siapa gadis perawan yang katanya digagahi Daffin.
"Ck ck ck Daffin kau terlalu bodoh jika mengira Sudah mematikan semua kamera cctv di villa itu, Kau fikir ayahmu akan membiarkanmu berbuat sesuka hati? Ia sudah memasang kamera cctv yang lain yang sama sekali tidak diketahui oleh Melvin. Jika kelakuanmu saat di Amerika saja ia ketahui bagaimana bisa kau berfikir ayahmu tidak mengetahui tindakanmu di Indonesia"
"Jadi....ayahku tahu jika aish....." Daffin meremat rambutnya kuat, tapi apa hubungan masalah ini dengan Pelangi?
"Ayahmu bahkan memasang kamera dikamar khususmu"
"Aku menyesal melakukanya paman, saat itu berada dalam pengaruh alkohol dan tidak bisa menggunakan akalku" Daffin menunduk sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Sial! Mengapa ia harus mengingat peristiwa itu lagi.
"Aku mencari wanita itu kemana mana dan ingin meminta maaf, aku bersedia melakukan apapun asal ia memaafkanku " terang Daffin
"Ayahmu tahu segalanya, ia tahu penyesalanmu maka dari itu ia memdiaminya dan memutuskan mencari gadis malang itu, ia juga ingin melakukan hal yang sama namun sayangnya menurut ibunya gadis itu ingin mengubur kisah kelam itu selama lamanya, ia sama sekali tak menginginkan bentuk pertanggung jawaban apapun"
"Karena ia sudah menikah paman, kisah itu adalah aib baginya" timpal Daffin, ia merasa sangat bersalah kepada gadis yang tak pernahbia ketahui namanya itu.
"Yah gadis itu sudah menikah, dia menikah denganmu dan tengah mengandung anakmu" sorot mata Risman begitu tajam.
Deg.....Daffin mengangkat wajahnya, ia berulang kali menelan saliva, bibirnya bergetar, matanya menjadi semerah saga, ia tak tahu perasaan apa yang kini ia rasakan.
"Pa-paman Ap-a maksudmu?" kedua tangan Daffin mengepal sempurna, Dadanya sekan bergemuruh ada ketakutan yang tiba tiba menyerang seluruh raganya hingga ia merasa kedinginan.
"Pelangi....gadis yang kau renggut mahkotanya 4 tahun lalu adalah Istrimu sendiri ".
__ADS_1