
"Bagaimana kelanjutan proyek G21 yang diadakan di kota B?" Melvin bertanya tanpa melepas tatapannya dari tumpukan berkas dihadapannya, ia tengah mengevaluasi beberapa laporan hotel yang harusnya dikerjakan Daffin.
"Sepertinya kita tidak bisa bersaing tuan" Jawab pria paruh baya yang usianya jauh lebih tua dari Melvin namun masih bersikap hormat pada pria tampan itu.
Alis Melvin bertaut," Ada masalah?" Melvin seakan tidak terima bagaimana mungkin Jaxton Hotel dianggap tidak bisa bersaing untuk menyelenggarakan even sebesar itu.
"Pihak penyelenggara meminta seorang eksekutif chef khusus, dia adalah Mr. Eshaq Hakan seorang chef ternama asal turki, tapi....." Pria paru baya itu menghela nafas terlebih dahulu sebelum mlanjutkan kata katanya.
"Tapi...?" Kerutan didahi Melvin semakin menjadi.
"Dia sudah lama pensiun dan tidak bekerja lagi sebagai eksekutif Chef, sekarang Mr.Eshaq menetap di Singapura dan mengelola bisnis Restoran disana, masalahnya adalah kemungkinan besar pihak pesaing kita berhasil membawa Mr. Eshaq, karena Pria itu pernah bekerja di Hotel pesaing kita dan masih menjalin hubungan Baik dengan CEO dan beberapa manager hotelnya"
Melvin mengepalkan tangannya seraya memikirkan jalan keluar agar Jaxton Hotel bisa terpilih sebagai pihak penyelenggara pertemuan G21 yang akan diadakan di Kota B. kehadiran beberapa petinggi negara anggota di Jaxton akan sangat menguntungkan bagi Hotel.
.
__ADS_1
.
.
"Ini" Daffin meletakkan sebuah kartu Debit diatas Meja makan, Pelangi yang kini tengah membuat nasi goreng hanya menoleh sekejap lalu kembali menata makanan diatas dua buah piring dan membawanya ke meja makan tanpa meghiraukan Atm tersebut.
Sudah dua hari Pelangi kembali tinggal di Apartemen bersama Daffin namun tak sekamar, dan sudah dua kali pula Pelangi menyiapkan sarapan sebanyak dua porsi meski tak pernah disentuh oleh pria itu. Pelangi hanya berusaha melakukan tugas selayaknya istri meski ia tak terlalu peduli jika Daffin mau memakannya atau tidak.
"Uang dari uncle Alexander masih utuh" Bohong Pelangi, padahal ia sudah menghabiskan sekitar 30 juta untuk pemeriksaan kesehatannya.
Kini mereka duduk saling berhadapan dengan pelangi yang menikmati nasi gorengnya perlahan.
"Menjadi Jala*g adalah keputusanku sendiri, Tuan tidak perlu membayar"
Jawaban Pelangi membuat Daffin menyugar rambutnya Gusar, dua hari Pelangi memang nampak sayu tanpa semangat Daffin sadar itu dikarenakan perkataan Paula dan dirinya yang secara langsung menganggap Pelangi sebagai wanita murahan.
__ADS_1
"Sepertinya kau salah faham, tapi aku tak punya kewajiban meminta maaf dan menjelaskannya! " Yah! Daffin memang tidak bisa membiarkan Paula tahu betapa ia ketergantungan dengan tubuh Pelangi karena hanya wanita itu yang bisa disentuhnya. Untuk itu dengan memganggap rndah Pelangi di mata Paula bisa memuluskan rencananya agar ibunya tidak ikut campuri kehidupannya.
"Ini uang belanja kebutuhan dapur, aku ingin kau memasak dua kali sehari untukku saat sarapan dan makan malam" Daffin akhirnya mengatakannya lalu menelan saliva dengan pelan. Sebenarnya masakan yang disuguhkan pelangi begitu mengundang selera hanya saja harga dirinya tidak mengijinkannya untuk ikut mencicipi, karena ia tahu semua bahan makanan di kulkas dibeli Pelangi dengan uang pribadinya.
Pelangi mengangkat wajah datarnya menatap Daffin yang tak kalah datarnya.
Apakah selain Jalan* ia juga dianggap sebagai pembantu? Dilihat dari titah Daffin yang sarat akan perintah majikan kepada pembantunya, padahal Pelangi memasak untuk Daffin sebagai istrinya.
"Bukankah Itu tugas seorang istri?"
Pelangi mengangguk lemah, "Baiklah" ucapnya lalu mengambil Kartu Debit diatas meja.
"Aku akan membuat teh hangat untuk Tuan" Pelangi beranjak dan datang dengan secangkir teh ditangannya dan diletakkan di samping piring nasi Goreng Daffin.
"Terima kasih" Jawab Daffin Acuh, ia mulai memakan sarapannya, kini ia merasa punya Hak menikmati masakan Pelangi karena wanita itu sudah menerima pemberiannya.
__ADS_1
Mereka sarapan dalam diam, hanya terdengar suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring berwarna putih polos.
"Aku akan pulang cepat, kau tidur dikamarku!" perintah Daffin saat hendak keluar, Pelangi yang mengantar suaminya hingga ambang pintu hanya mengangguk lemah tanpa menjawab dengan suara. Ia tahu tugas apa yang akan ia lakukan jika Daffin memintanya tidur di kamar utama.