
Daffin menatap Lamat ponsel pelangi hingga akhirnya benda pipih itu tak lagi bergetar, hanya dengan satu usapan layar ponsel tersebut sudah bisa diakses dengan mudah.
"Ceroboh!" Gumam Daffin pelan lalu menunduk dan mengecup bibir Pelangi yang sedikit terbuka dan mengeluarkan dengkuran halus. Wanita yang ia nikahi benar benar polos, bagaimana mungkin ia tidak menerapkan pengaman apapun di ponselnya.
Daffin mulai membuka aplikasi Hijau dan menemukan beberapa chat disana, Daffin tidak terlalu tertarik dengan chat yang lainnya karena matanya langsung tertuju pada chat Satria yang teratas serta sepupunya diurutan kedua.
"Kak Melvin" Daffin tersenyum sinis saat membaca nama Kontak Melvin, sementara nama kontak dirinya sebagai suami wanita itu sama sekali tidak ada disana.
'Kau baik baik saja?'
'Hubungi aku jika terjadi sesuatu'
'Beritahu aku jika Daffin menyakitimu'
'Pulang nanti aku akan memberikan ponsel mu yang lama'
'Pelangi kakak merindukan mu' pesan terakhir ini dikirim Daffin disaat malam terakhir ia di Singapura, sebelum Daffin mengutusnya untuk kembali melakukan perjalanan bisnis ke Thailand.
Daffin mengepalkan tangan nya kuat, seakan ponsel pelangi dalam genggamannya hendak ia hancurkan.
Untungnya Pelangi tidak sering membalas Pesan Melvin, wanita itu hanya membalas pesan terakhir.
'Aku baik baik saja kak, jangan terlalu menghawatirkanku'
Kemarin Setelah membalas pesan Melvin tersebut Pelangi sempat tertunduk lemah tak berdaya, ia bukan wanita bodoh yang tidak paham maksud pesan dan tatapan yang selama ini Melvin berikan, Pelangi sadar setelah Pria itu memeluknya di Mes Mansion utama dia sudah memupuk sesikit benih benih cinta dihatinya, untuk itu Pelangi rasanya ingin selalu menghindar, ia tak ingin Melvin mengingatnya saat dirinya sudah tak bisa lagi bertahan dengan katup mekaniknya, ia juga tak ingin hubungan Melvin dan Daffin merenggang hanya karena dirinya.
Daffin membuang Ponsel Pelangi begitu saja diatas Nakas dengan kasar, sehingga ia lupa tujuan utamanya memeriksa ponsel istrinya adalah untuk mencari tahu mengenai Satria.
Melvin membuat suasana hatinya menjadi semakin memburuk.
Tanpa menunggu Sang istri terbangun Daffin segera mengangkat tubuh Pelangi dengan kondisi keduanya benar benar polos. gaya bridal style dipilih Daffin untuk memindahkan Pelangi menuju kamar mandi, ia tak peduli dengan keadaan Pelangi yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang sempat tercerai berai.
Bruk.....Sedikit Kasar Daffin meletakkan Pelangi di dalam Bathup.
"Tuan.....Apa yang..." Pelangi gelagapan, ia berusaha menutupi tubuh polosnya sebelum akhirnya sebuah guyuran shower diatas kepala membasahi seluruh tubuhnya.
Terlambat!
Daffin sudah ikut bergabung bersama Pelangi didalam bathup yang mulai terisi air hingga penuh dan berceceran keluar.
Sekali lagi mereka bercinta namun penuh dengan kekasaran, Daffin menghentak Pelangi tidak peduli beberapa kali tubuh istrinya itu terbentur pinggiran bathup yang keras.
__ADS_1
"Tuan.....sakit" Lirih Pelangi dengan berderai air mata, Daffin kali ini memperlakukannya layaknya pelachuer, memaksanya untuk mengulum sesuatu yang menurut pelangi tidak seharusnya ditempatkan didalam mulut, bukan hanya itu, Daffin mencoba berbagai macam gaya tanpa suara, dan seakan tuli dengan ringisan kesakitan pelangi, ia hanya fokus dengan erangan kenikmatan yang seakan menggema di seluruh sudut Apartemen.
Hanya kesakitan yang dirasakan Pelangi tak ada kenikmatan sama sekali, sangat berbeda dengan apa yang mereka lakukan di ranjang tadi.
Sementara Daffin sendiri bingung dengan suasana hatinya yang tiba tiba memburuk ia benci dengan Melvin yang terus menghubungi Pelangi dan Wanita itu sempat membalas pesannya yang dianggap Mesra oleh Daffin karena Pelangi punya panggilan Khusus pada Melvin.
Sementara dirinya?
Pelangi Bahkan tidak menyimpan kontaknya, dan wanita itu sama sekali tidak pernah berinisiatif berbicara dengannya saat di Singapura, padahal Daffin setiap saat menelpon keapartemen dan berbicara dengan Bi Ijah hanya untuk menanyakan kabar Istrinya, apa yang ia lakukan, dan lain lainya. Pada kenyataannya Daffin berharap bisa mendengar suara Pelangi meski hanya lewat telepon namun wanita itu tidak berinisiatif, memang Daffin tidak pernah meminta Bi Ijah memberikan telepon kepada Istrinya, tapi sebagai seorang istri seharusnya Pelangi paham.
"Kau menyukai Melvin?" Tanya Daffin disela hentakannya yang kasar, kali ini Daffin menyuruh Pelangi menungging dan menarik rambutnya agar kepalnya mendongak keatas.
Pelangi tak bisa berujar, ia hanya menggeleng pelan sambil menahan nyeri diarea kepalanya. Ia tak bisa berfikir mengapa Daffin tiba tiba berbuat kasar lagi, padahal tadi suasana hatinya sedang baik.
Apa ia cemburu dengan Melvin?
Tapi apa yang membuatnya cemburu?
Pelangi meringis kesakitan, sambil menghilangkan isi kepalanya barusan.
Cemburu?
Tidak!
Akhirnya setelah dua jam Daffin menyelesaikan Permainannya.
senjapun telah tiba, menyembunyikan sang matahari dalam dekapannya.
Daffin bangkit dengan tubuh polos dan meraih sebuah bathrobe yang tergantung di sebuah besi bundar yang melekat pada dinding kamar mandi. Itu adalah milik pelangi. Daffin menyugar rambutnya kebelakang lalu berbalik dan menatap sendu Pelangi yang masih memeluk kedua lututnya sambil menahan isakan agar tak keluar.
Ada rasa bersalah yang terbesit dalam diri Daffin namun ia enggan mengakuinya apalagi minta maaf, ia pun masih bingung mengapa bisa semarah itu, padahal diaawal dulu ia sama sekali tidak apa apa jika Melvin bahkan mengamati istrinya melalui rekaman cctv sambil tersenyum tipis.
Daffin keluar sebentar dan mengambil handuk yang berukuran besar dari dalam lemari Pelangi, lalu kembali dan menyelimuti tubuh istrinya, mengangkatnya dan mendudukkannya di tepi tempat tidur, tanpa Suara Daffin sudah melilitkan handuk tersebut di badan Pelangi yang pasrah dengan tatapan kosongnya.
Ia kembali mendudukkan Pelangi didepan meja hias dan mengeringkan rambut pelangi dengan hairdryer.
Ini kali pertama Daffin begitu peduli dengan partner ranjangnya, biasanya ia akan meninggalkannya begitu saja. Mungkin rasa bersalah tanpa sadar mendorongnya untuk lebih peduli pada Pelangi.
"Aku ingin beristirahat" lirih Pelangi dan membuang wajah kesamping, ia seakan enggan menatap wajah Daffin yang wajahnya terpantul di cermin meja hiasnya.
"Baiklah" Daffin sedikit menghela nafas berat, "Jangan terlalu dekat dengan Melvin" lanjutnya lagi lalu mengecup pucuk kepala Pelangi dan beranjak meninggalkan kamar Pelangi.
__ADS_1
Di luar ia sudah mendapati Bi Ijah yang sibuk didapur, yah meski Daffin menyuruhnya pulang namun wanita paruh baya itu tidak benar benar pergi, ia hanya duduk di coffeshop yang terletak dilantai dasar gedung apartemen ini sambil menunggu waktu malam , ia tahu Daffin butuh waktu berdua dengan sang istri. Dan ketikania rasa sudah cuku Bi Ijah kembali lagi untuk memasak makan malam sebelum akhirnya benar benar pulang kerumahnya.
"Tuan, Apa nyonya Pelangi tidak keluar untuk makan malam?"
"Sepertinya ia Lelah, antarkan saja kekamarnya sebentar" Ujar Daffin lalu masuk kedalam kamar pribadinya untuk mengganti baju dan sebelum menikmati makan malamnya.
"Kamarnya?" Bi Ijah bergumam, lalu mengamati Daffin yang masuk kedalam kamarnya.
Bagaimana mungkin sepasang suami istri tidur dikamar terpisah? Namun melihat Daffin yang keluar kamar hanya mengenakan bathrobe membuat bi Ijah tidak usah khawatir lagi.
.
.
.
"Kak Melvin?" Ayu yang tengah menarik Koper besarnya di Lobi hotel terkejut saat melihat pria idamanya berdiri tepat dihadapannya dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
"I'll call back later" Ujar Melvin pada lawan bicaranya sebelum mengakhiri panggilannya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu kak Melvin disini" Ayu terdengar antusias.
"Ini Jaxton Hotel" Melvin menunjuk dengan dagu tulisan yang tertulis di belakang meja resepsionis.
"Oh Iya ya" Jawab Ayu malu malu. Harusnya ia tidak perlu terlihat heran, hal yang wajar jika Melvin berada disini secara ia adalah tangan kanan Daffin Jaxton.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Melvin.
"Ah aku ada pelatihan kak, di ballroom hotel ini, tapi sekarang kami sudah mau pulang, Ayu menunjuk rombongan dokter spesialis bedah jantung yang bergerombol tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Oh ya sudah" Jawab Melvin acuh lalu sedikit mengangguk dan berlalu melewati Ayu untuk menuju lift.
Ayu tersenyum tipis menatap punggung kokoh Melvin yang berjalan melewatinya, padahal hatinya sempat berbunga bunga melihat pria idamannya itu, Rasanya seperti takdir alam semesta merestui pertemuan tersebut.
Ayu sempat salah paham saat melihat Melvin memeluk Pelangi saat itu, namun setelah ia fikir Melvin tidak mungkin menyukai Pelangi yang notabene istri dari sepupunya sendiri.
Ayu hanya bisa berjalan dengan bahu yang terkulai lemas sampai akhirnya sebuah suara kembali menghentikan langkahnya.
"Ayu.....!" Pria itu kembali seraya berlari lari kecil, seketika senyum gadis cantik berusia 27 tahun itu merekah sempurna.
"Iya kak" tatapan Ayu berbinar.
__ADS_1
"Bisa beri aku nomor ponselmu? Aku ingin berdiskusi mengenai kesehatan Pelangi" Melvin mengulurkan ponselnya agar Ayu mengetik nomornya disana.
"Ah...Baiklah kak" Ayu tersenyum kaku, ada rasa kecewa yang ia rasakan, tapi tak mengapa ia akan menganggap ini adalah awal yang baik.