
Daffin membawa mobilnya menyusiri jalanan kelurahan X hingga tiba disebuah perbatasan yang menjadi tanda ia akan memasuki Desa dimana Pelangi dibesarkan, jarak kelurahan X dan desa Pelangi tidak Jauh hanya sekitar 30 menit berkendara dengan mobil atau mungkin motor, mungkin jika jalanan yang dilalui tidak berlubang maka Daffin bisa sampai dalam waktu 15 menit saja.
Yang juga membuat perjalanan menjadi sangat lama adalah hamparan kebun teh yang terletak disisi kanan dan kiri jalan, matahari yang seakan enggan terlalu bersinar membuat lalai setiap pengendara untuk melambatkan laju kendaraaan seraya menikmati keindahan alam yang disuguhkan.
Daffin tak berbekal maps, ia bahkan menyimpan ponselnya itu di Villa dan hanya membawa dompet.
Ia pernah kesini 4 tahun yang lalu dan mendatangi puskesmas bantu yang kala itu tengah dilanda kekosongan Jabatan, sang Dokter dikatakan tiba tiba meminta untuk dipindah tugaskan. Sehingga Daffin dan Melvin hanya bisa bertanya kepada petugas medis lainnya jika saja ada seorang wanita yang terlihat baru saja mengalami kekerasan mendatangi puskesmas. Namun tak ada yang seperti dimaksud kedua pria itu, merekapun tak lupa bertanya kepada Babin yang bertugas dan lagi lagi mendapatkan jawaban yang sama.
Kini Daffin kembali kedesa itu, dan berharap bisa melihat Panti asuhan tempat Pelangi mendapat segala curahan kasih sayang dari Bunda Siti dan Satria. Daffin tersenyum seraya menggosok dagunya dengan jemari tatkala mengingat betapa bahagiannya Pelangi menceritakan Bunda pemilik panti itu dan pamannya.
Mobilnya berhenti tepat disebuah bangunan Tua yang masih nampak terawat, bahkan papan nama yang bertuliskan nama Panti masih terpampang disana, padahal panti tersebut sudah ditutup sejak meninggalnya Bunda Siti.
Persis seperti yang digambarkan Pelangi, asri dan sejuk, siapapun yang melihatnya Akan membawa ketenangan didalam jiwanya.
Tak ada siapapun disana namun halaman luas yang dioenuhi reumputan hijau itu nampak baru saja dipangkas hingga terlihat rapi. Daffin berjalan mengitari bangunan itu lalu berhenti dibawah sebuah pohon mangga yang begitu besar dan rimbun.
Daffin merebahkan tubuhnya persis seperti yang biasa dilakukan Pelangi.
Pelangi paling suka berbaring dibawah pohon mangga, ucap Pelangi kala itu dengan rona wajah bahagia.
Daffin tersenyum dengan mata terpejam.
"Aku menrindukanmu istriku' Batinnya, namun Daffin terlalu gengsi entah mungkin karena ini kali pertama ia merasakan cinta sedalam ini, dan ia berharap Pelangi bisa menerimanya seutuhnya, didorong untuk bersama Cleo membuat Daffin geram karena menganggap Pelangi masih bèrfikir ia adalah casanova yang brengsek!
"Hei Tuan apa yang kau lakukan disini?"
Sebuah suara dengan nada ketus menghampiri rungu Daffin, padahal ia baru saja merasa terlelap dengan mimpi yang mulai menyeruak dalam alam bawah sadarnya, mimpi bertemu dengan Pelangi.
Daffin membuka matanya pelan lalu terduduk, dan sang pria yang nampak masih sangat muda dengan mesin pemotong rumputnya masih menatapnya tak suka.
"Apa kau salah satu dari mereka? Teman paman Satria?"
Daffin mendongak mendengar nama yang tidak asing disebutkan pria itu, meski sebenarnya Daffin belum pernah bertemu dengan Satria.
__ADS_1
"Apa maksud anda?" Daffin bingung.
"Ah jadi bukan!" Pria itu lalu meletakkan mesin pemotong rumputnya dan tersenyum ramah lalu ikut duduk disamping Daffin dengan posisi berselonjor.
Semntara Daffin sudah melipat kakinya ia duduk bersila. Dan menatap lekat pria atau mingkin lebih tepatnya pemuda yang kemungkinan masih duduk dibangku sekolah menengah atas.
"Sepertinya Tuan dari Kota juga, maaf aku kira tadi Tuan adalah teman paman Satria"
"Oh iya Tuan, kenalkan namaku Dandi" Pemuda bernama Dandi itu mengulurkan tangannya setelah sebelumnya mengusap di baju kaos kebesaran yang ia pakai. ditangan itu masih nampak bekas tanah.
Daffin bergeming, ia menelisik penampilan Dandi yang nampak masih sangat muda dan membiarkan tangannya menggantung diudara. Lalu dengan perasaan kecewa Dandi kembali menarik tanganya. Salahnya juga kenapa tadi berbicara sangat ketus kepada Tuan yang nampak kaya dilihat dari penampilan dan mobil yang terparkir dihalaman depan.
"Daffin" Jawab Daffin singkat lalu kembali menengadah melihat kumpulan buah mangga yang menggantung diatas sana.
Ah, rupanya sedang musim mangga.
"Apa yang kau lakukan disini Tuan?" Tanya Dandi Penasaran.
Sebuah tempat dimana Pelangi akan selalu tersenyum bahagia, ia tak masalah jika harus ikut tinggal didesa ini toh ada Melvin yang bisa mengurus semuanya, bukankah seharusnya orang kaya memang seperti itu? Menikmati kemewahan dan membiarkan bawahannya melakukan segalanya.
"Ah...kufikir kau juga ingin membelinya seperti orang kota yang lainnya" ujar Dandi.
"Memang kenapa kalau aku ingin membelinya?" Daffin mengerutkan dahi. Ia tidak terima, perkataan pemuda didepannya seperti batu sandungan yang menghalanginya untuk mewujudkan impian Pelangi.
"Tidak bisa! Bahkan jika paman Satria sendiripun yang akan membelinya tetap tidak bisa terjual!"
"Paman Satria?"
Dandi dengan polosnya bercerita jika Satria adalah pemilim panti ini dan sudah menjualnya kepada seorang pengusaha asal jakarta yang katanya akan membangun Villa dan merubuhkan panti ini, lalu ada orang lagi yang kembali membeli Panti ini karena tidak ingin Panti yang penuh kenangan ini dilebur dengan tanah, ia membeli dengan harga mahal dan mencari anak panti yang pernah tinggal disini pria yang membeli panti ini membayar mahal agar panti ini tetap terawat hingga pemiliknya tiba dan ingin mengambil alih panti ini lagi.
Pria itu sengaja meminta Dandi yang merupakan anak panti tertua yang sempat tinggal dipanti asuhan kota untuk merawat panti ini.
"Jadi kau yang bertugas merawat panti ini?" Tanya Daffin penasaran. Dari cerita Dandi Daffin bisa menebak jika Satria datang kembali membawa pembeli yang berminat dengan panti ini sayangnya ia sama sekali tidak punya hak menjualnya lagi, dan mereka berusaha membujuk Dandi untuk mempertemukannya dengan pemiliknya yang baru untuk negosiasi. Maka dari itu Dandi begitu ketus saat melihatnya tadi.
__ADS_1
"Aku yang bertanggung jawab atas panti ini sekarang Tuan, orangnya bahkan tak pernah lupa mengirimiku gaji setiap bulannya" Jawab Dandi.
"Ah....Jadi panti ini tidak akan terjual lagi?"
"Benar tuan, kata Tuan pemilik, ada seseorang yang akan kembali dan mengambil alih panti ini lagi."
"Siapa?"
"Entahlah....."
"Boleh saya tahu siapa pemilik panti ini sekarang?" tatapan Daffin penuh selidik, ia yakin Dandi akan memberitahu siapa pemiliknya dan untuk mengambil alih panti ini ia tidak perlu bersusah payah berurusan dengan bocah tengil dihadapannya. Ia akan berhubungan langsung dengan sang pemilik.
Satria Bodoh ! Daffin mengumpat ketidak mampuan pria itu bernegosiasi dengan seorang bocah.
"Saya pun tidak tahu Tuan" Jawab Dandi Polos.
"Apa!!! Maksudku bagaimana mungkin kau tidak tahu siapa pemiliknya padahal ia mempekerjakanmu?" Daffin menggeleng pelan. Ia benar benar kecewa.
"Saya hanya bertemu dengannya sekali, setelah itu gaji bulananku masuk setiap bulan melalui rekening" terang Dandi.
"Kau punya Sms banking? Atau mobile banking?" yah tentu saja Daffin bisa memgetahuinya dari transksi tersebut, ia bisa meminta JHon mencari tahunya.
"Sms Banking Tuan, tunggu sebentar" Entah mengapa perlakuan Dandi pada Daffin tidak seketus perlakuannya pada Satria. Ia membenci pria itu karena telah menjual panti ini dan membuat Pelangi pergi, setidaknya hal itulah yang ada dipikiran Dandi saat tahu Pelangi sudah tidak berada di panti ini lagi.
"Ini....." Dandi menyodorkan ponselnya, untuk seorang tukang bersih bersih ponsel Dandi bisa dibilang terlalu bagus, Daffin tahu ponsel trrsebut berada dikisaran harga 10 juta.
"Kenapa tuan? Bukankah ponselku bagus" Dandi cengengesan melihat Daffin yang sempat terperangah " jangan salah Tuan gajiku disini lumayan banyak"
Daffin berdehem, lalu kembali melihat jejeran notifikasi pesan yang tertera.
Mata Daffin membulat sempurna bukan karena nominal yang dikirimkan yang mencapai angka 10 juta perbulannya tapi nama rekening yang tertera disana.
"Jaxton Hotel" gumamnya penuh tanda tanya.
__ADS_1