Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 54


__ADS_3

Pelangi tak membuka pintunya berapa kalipun bi ijah mengetuk pintu kamarnya.


ia bukan tertidur melainkan meratapi nasibnya yang begitu malang, disaat ia sudah mulai menerima kehidupan rumah tangga ini Daffin


justru memperlakukannya layaknya seekor binatang, bahkan Kucing anggora tetangga apartemennya lebih beruntung dari dirinya.


"Makanannya bibi siapkan di Meja ya nyonya" Bi ijah mengulum sebuah senyuman sebelum meninggalkan pintu kamar pelangi dan beranjak keluar, karena jam kerjanya sudah usai.


Ia tidak pernah berfikir kemungkianan sesuatu yang buruk telah terjadi pada wanita muda itu didalam kamarnya, yang ia fikirkan Pelangi kelelahan setelah melayani hasrat suaminya sepulang dari singapura, Bi Ijah bisa melihat bagaimana Daffin begitu menyayangi istrinya itu dari cara ia yang selalu melakukan panggilan hanya untuk menanyakan kabar Pelangi.


Sementara didalam kamarnya Daffin nampak gelisah, matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan grafik saham namun fikirannya berada didalam kamar Pelangi, Ia menyesal melakukannya dengan kasar.


Bagaimana jika Pelangi tak mau melayaninya lagi?


Sial!


Ia merutuki dirinya sendiri yang bisa sebringas itu hanya karena pesan dari Melvin.


Daffin menahan gejolak amarah hingga ia benar benar terlelap karena jujur permainannya barusan sangat menguras tenaganya.


Lalu bagaimana dengan Pelangi? Saat ini ia pun sudah tak memiliki tenaga, Hanya nyawa yang masih menyatu dengan raganya yang bisa membantunya berjalan menuju kamar mandi, ia duduk didepan kloset sambil menusuk tenggorokannya dengan jari, berharap hal menjijikkan yang barusan ia alami tidak meninggalkan jejak didalam sana.


Tatapannya begitu sayu dengan wajah yang pucat pasi, selain air mata yang keluar pelangi juga berusaha mengeluarkan semua isi perutnya hingga ia benar benar kehabisan tenaga dan ambruk di lantai kamar mandi, tentunya dengan sekujur tubuh yang dipenuhi lebam membiru.


.


.


.


Bi Ijah tiba Apartemen Daffin pada pukul 8 pagi. kemarin Daffin sudah memberinya kartu akses untuk ia bisa langsung masuk.


Kening wanita tua itu berkerut mendapati makan malam yang ia sediakan untuk sang nyonya muda sama sekali tidak disentuhnya, bahkan beberapa menu sudah nampak berbuih karena basi.


"Apa Nyonya Baik baik saja ?" Gumam wanita paruh baya itu, sejenak ia berfikir untuk membangunkan Pelangi, namun takutnya wanita itu sudah pindah dari kamarnya dan malah tidur dikamar Utama bersama sang suami, sedangkan Bi Ijah tahu Daffin sangat tidak suka jika tidurnya terganggu.


Akhirnya Bi Ijah memutuskan melakukan pekerjaannya saja.


Pukul 10 pagi masih belum juga ada tanda tanda pergerakan dari kedua kamar utama Apartemen mewah tersebut, mungkin karena Sabtu jadi Daffin masih betah terlelap. sampai akhirnya Bi Ijah memutuskan untuk membuang sampah di trash chute yang ada dilantai tempat apartemen mereka.

__ADS_1


Setelah selesai, Bi Ijah berpapasan dengan Melvin yang baru tiba dari Thailand dan hendak masuk kedalam unitnya.


"Baru datang den Melvin?" Sapa Bi Ijah basa basi, mereka memang sudah saling mengenal karena Bi Ijah adalah ART Daffin sejak dulu.


"Bi Ijah?"Melvin urung masuk dan hanya mendorong kopernya saja untuk masuk kedalam apartemen,sedangkan ia tetap diluar. "Daffin?"


"Ia den, Tuan Daffin mempekerjakan bibi lagi, katanya tidak mau istrinya kelelahan karena mengurus pekerjaan rumah" Timpal Bi Ijah, sebelum Melvin melanjutkan perkataannya. Wanita paruh baya itu terkekeh pelan.


"Permisi Den" Pamit Bi Ijah, seraya menunduk lalu meletakkan kartu didepan sensor pintu.


Sebenarnya Melvin sangat ingin masuk dan memastikan keadaan Pelangi, meski tak memiliki kartu akses namun Melvin sudah menghapal sandi untuk masuk keaprtemen Daffin sebuah sandi yang hanya ia dan Daffin yang tahu. Namun ia tak ingin hubungannya dengan Daffin menjadi lebih runyam lagi. Lagi pula ia hanya perlu menunggu 8 bulan lagi sampai pernikahan kontrak ini benar benar berakhir.


...----------------...


Saat kembali dari membuang sampah Bi Ijah sudah mendapati Daffin berdiri di depan kulkas seraya meneguk satu botol air mineral hingga tandas.


"Apa Nyonya masih tidur tuan?" Tanya Bi Ijah


"Apa ia masih tidur?" Daffin mengerutkan alis dan justru balik bertanya, begitupun dengan wanita paruh baya dihapadannya.


Apa mereka tidak tidur dikamar yang sama? Sampai Daffin tidak tahu Pelangi sudah bangun atau belum.


"Nyonya juga tidak makan malam Tuan,makanan yang saya siapkan di meja tidak disentuhnya, Nyonya juga tidak membuka pintu semalam saat sya menggedornya" Kini raut wajah Bi Ijah berubah khawatir.


Dan jangan ditanya dengan Daffin, wajah tampannya benar benar diliputi kecemasan.


Bagaimanapun ia sudah sangat keterlaluan kemarin.


Apa mungkin Wanita itu melakukan tindakan Bodoh?


Hanya itu kemungkinan yang difikirkan Daffin.


"Tidak"Daffin bergumam lalu berjalan cepat menuju pintu kamar Pelangi.


"Pelangi"


"Pelangi"


"Buka pintunya......"

__ADS_1


Berapa kalipun Daffin berteriak dan menggedor pintu dengan kasar tetap tak ada jawaban dari dalam, sehingga Daffin menyugar rambutnya frustasi, ia ingat tak memiliki kunci cadangan pintu utama hingga jalan satu satunya adalah mendobrak pintunya.


Tubuh lunglai yang seketika melemas karena memikirkan sesuatu yang buruk membuat tenaga Daffin seakan melemah hingga tak sanggup menaklukkan pintu setelah beberapa kali hentakan.


Ia hanya bisa meriaki nama Pelangi layaknya pria gila yang takut ditinggalkan pasangannya.


Tak lama berselang Melvin masuk, ternyata Bi Ijah sempat keluar untuk meminta bantuan pada Sepupu majikannya itu.


Wajah melvin nampak basah dengan rambut acak acakan karena ia baru saja membasuh wajahnya tanpa sempat mengeringkannya, Kemeja abu abu dan celana bahan hitam yang digunakannya juga masih sama dgn yang ia pakai dari Thailand.


Melvin langsung menendang pintu kamar Pelangi dengan satu kali hentakan dan beberapa engsel bergeser dari posisinya. Ia seakan tak menganggap keberadaan Daffin disana, dikepalanya hanya ada Pelangi. Satu kalimat Bi Ijah yang mengatakan jika Pelangi dari semalam tidak keluar kamar langsung membuatnya panik.


"Pelangi"


Melvin dan Daffin masuk bersamaan namun mereka tidak menemukan keberadaan Pelangi didalam kamar tersebut, seakan kompak keduanya lalu masuk kedalam kamar mandi, dan terperanjat saat melihat Pelangi sudah terlentang tak berdaya di lantai.


Wanita itu menggunakan gaun tidur berbahan satin dengan atasan tertutup namun bagian bawah sedikit tersingkap hingga memperlihatkan kedua pahanya yang putih mulus namun dipenuhi bekas kiss mark yg bercampur Lebam, begitupun di lengan dan juga wajahnya.


Bi Ijah menutup mulutnya tak percaya, Penampilan pelangi layaknya seorang istri yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.


Daffin lebih dahulu menggapai tubuh istrinya dan menyandarkan tubuh lemah itu didada bidangnya.


"Pelangi...ada apa denganmu sadarlah" Pinta Daffin memelas sambil menepuk pelan pipi wanita itu, ia benar benar merasa bersalah pada Pelangi.


Melvin yang melihat kondisi mengenaskan Pelangi berusaha manahan gejolak Emosi dengan mengepalakan tangannya kuat hingga buku bukunya memutih, dan rahang yang saling mengatup kuat.


"Kau Brengsek Daffin Jaxton!" ucap Melvin tegas.


Namun Daffin tak peduli dengan kebencian sepupunya itu.


"Melvin siapkan mobil...tidak tidak...panggil Ambulance Pelangi harus kerumah sakit" Daffin mendongak menatap wajah kesal Sepupunya. Tangannya bergetar sambil terus membelai wajah wanita yang sudah menjadi penuntas dahaganya itu.


Melvin bergeming dengan titah Daffin, ia justru menunduk dan hendak mengambil alih tubuh Pelangi.


"Aku yang akan membawanya" Tukas Melvin.


"MELVIN MAHENDRA!!" sentak Daffin, melihat Melvin menyentuh pundak istrinya.


"Singkirkan tangan bejatmu dari tubuh Pelangi" Timpal Melvin seraya menatap nyalang sepupunya itu.

__ADS_1


Keduanya terlibat saling adu sorot mata siapa yang akan membunuh lebih dahulu, mereka tak menyadari jika Bi Ijah sudah terlebih dahulu memanggil ambulance yang datang tak kurang dari 10 menit kemudian.


__ADS_2