Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 56


__ADS_3

Rooftop, Daffin memutuskan untuk mengajak sepupunya itu bicara di lantai tertinggi gedung rumah sakit ini.


"Bugh....." Satu tinju mengarah pada Daffin hingga pria itu tersungkur.


Melvin memukulnya untuk yang kedua kalinya setelah di Apartemen tempo hari. namun Daffin hanya menyeringai sambil membuang ludah dan darah yang sudah bercampur dari dalam mulutnya.


Ini lebih baik.


Daffin sadar kondisi Pelangi disebabkan oleh dirinya, ia pun marah kepada dirinya sendiri namun ia belum menemukan cara menghukum dirinya, sebuah tinju yang terasa begitu perih rasanya bisa mengurangi sedikit rasa beesalahnya.


Melvin kembali memgangkat kerah Daffin.


"Kenapa kau tega brengsek?" Hardik Melvin.


"Tega katamu? Kau tau kenapa kondisi Pelangi seperti itu? Kenapa sampai aku bermain dengan kasar didalam kamar mandi heh" Daffin setengah berteriak.


Dan setiap kata yang keluar dari bibir sialan Daffin benar benar berhasil menyulut emosi Melvin, hingga Daffin bahkan bisa mendengar suara gigi Melvin yang bergemertak.


"Brengsek"


Bugh.....


Sekali lagi bogem mentah melayang kewajah tampan Daffin, setelah ini Melvin tidak peduli lagi jika Daffin dan Paula mengusirnya dari Jaxton hotel, lagi pula sudah lama ia muak dengan kehidupan yang ia jalani. Menuruti keinginan orang tuanya agar terus menjadi kacung Keluarga Jaxton sehingga ayah ibunya serta adiknya bisa hidup nyaman.


"Hehehe....." Daffin bangkit dengan posisi setengah duduk ia menopang satu lengan dengan lutut yang ditekuk keatas sambil terkekeh mengejek.


Entah itu ditujukan untuk dirinya sendiri ataukah Melvin, yang ia tahu pukulan Melvin membuatnya lega karena bisa menghukum dirinya sendiri.


"Suatu saat kau akan menyesal memperlakukan Pelangi dengan buruk!" Tukas Melvin.

__ADS_1


"Kau yang menyesal, AKU MELAKUKANNYA KARENA DIRIMU BRENGSEK!!!" Suara Daffin terdengar begitu menakutkan.


Kini giliran Daffin yang bangkit dan mencengkram kerah baju Melvin, "Kenapa kau mengirim pesan itu? Apa? Kau merindukan istriku? Sadar Melvin! Dia wanitaku, Istri yang akan melahirkan anak anak ku kelak, aku tidak akan melepaskannya, satu, dua, bahkan 100 tahun kemudian dia akan tetap disisiku!"


" Sudah ku duga, Kau memang Binatang!! Laki laki yang tidak bisa memegang omongannya" timpal Melvin.


"Aku tidak peduli, aku akan jadi pecundang untuk membuat Pelangi tetap disisku!"


"Kenapa apa karena tubuhnya? Atau kau mulai menyukainya?"


"Bukan urusanmu!!"


"Cih...." Melvin hendak mendorong tubuh Daffin tapi sepupunya itu justru semakin mengeratkan cengkramannya sambil berbisik didekat telinga Melvin.


"Jauhi Pelangi, ini permintaan seorang suami ! Yang Istrinya disukai oleh pria lain"


Melvin tersenyum miring, iapun beranggapan dirinya memang sudah gila, setelah 28 tahun kehidupannya tanpa pernah jatuh cinta dengan wanita manapun. Menagapa sekarang ia malah menyukai istri sepupunya sendiri!


"Kau menemukan titik terangnya?" Melvin benar benar mengacuhkan Daffin begitu lawan bicaranya mulai berbicara, ia meninggalkan Daffin begitu saja di atas rooftop saat pria itu masih sibuk menyeka darahnya dengan sapu tangan yang baru saja ia ambil dari dalam saku kemejanya.


.


.


.


"Pelangi"


"Kak..."

__ADS_1


Pelangi sudah bisa duduk dan bersandar pada kepala ranjang, meski tatapan dan wajahnya masih nampak sayu namun tidak mengurĂ ngi sedikitpun kecantikannya, Melvin sadar Daffin tidak akan melepaskan wanita secantik ini, dan mengingat kembali perkataan sepupunya itu yang sudah membaca pesannya untuk Pelangi sehingga wanita ini menderita membuat hati Melvin bagai diremas karena merasa bersalah.


Tangannya terulur untuk mengusap kepala Pelangi namun seketika ditepis oleh wanita 20 tahun itu.


"Kak.....Pelangi tidak pantas menerima perlakuan lebih dari kak Melvin"


"Mengapa Pelangi?"


"Hubungan kak Melvin dengan Tuan Daffin memburuk karena Pelangi "


"Tidak itu bukan salahmu pelangi, itu salahku karena sudah menunjukkan perasaanku padamu dihadapan Daffin" secara tidak langsung Melvin baru saja mengakui perasaannya dan ia tidak peduli jika wanita itu justru menolak atau memandangnya aneh.


Pelangi yang sangat peka hanya tersenyum simpul penuh makna, hatinya bagai ditusuk ribuan jarum mendengar pernyataan cinta Melvin.


Sakit sekali!


Jika ia adalah wanita yang memiliki jantung normal dan tidak pernah mengalami pelecehan, dicintai pria sebaik Melvin tentu hal itu akan sangat membahagiakan. Sayangnya ada luka didalam dirinya yang tidak akan mungkin bisa disembuhkan dengan cinta sebesar apapun.


Huuh.....Pelangi menghela nafas berat.


"Jangan buang waktu dan perasaan Kak melvin yang berharga demi seseorang yang hina dina sepertiku, lagi pula aku wanita yang bersuami kak " Jelas Pelangi dengan senyuman lemahnya.


"Mengapa kau begitu mamandang dirimu serendah itu Pelangi?" Melvin nampak kecewa.


"Aku ingin istirahat kak" timpal Pelangi cepat, ia ingin segera memgakhiri percakapan tidak berfaedah ini.


"Baiklah, aku akan keluar, ada yang harus kukerjakan" Melvin memilih mengalah, ia juga bisa melihat raut wajah lelah di paras pelangi.


Didepan pintu Melvin kembali berpapasan dengan Daffin yang mendengar semua percakapan Sepupu dengan istrinya itu. Daffin menyeringai puas setelah mendengar penuturan Pelangi yang terkesan menolak Melvin mentah mentah, namun Melvin hanya membalasnya dengan raut wajah datar. Jika ia tak bisa menjadi pria yang memberikan cinta untuk Pelangi setidaknya ia bisa menjadi pria yang akan memastikan jika Daffin tidak akan bisa menyakiti Pelangi.

__ADS_1


.


.


__ADS_2