Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 101


__ADS_3

Rombongan Daffin tiba di rumah sakit sekitar pukul 9 malam, disana sudah ada Risman, Cleo dan beberapa Pelayan dari Mansion utama tengah menunggu Paula yang sedang menjalani Operasi.


Cleo tak bisa menyembunyikan rona bahagianya tatkala melihat kedatangan Daffin, meski ia cukup terkejut dengan kondisi Daffin yang nampak tidak terurus.


"Mas Daffin kau sudah datang" Sapa Cleo lembut, namun ketiga pria itu melaluinya begitu saja dan langsung menuju dimana Risman tengah duduk disebuah kursi tunggu, Sontak wanita cantik dengan tinggi proporsional itu mencebik kesal.


"Apa yang terjadi Paman?" Tanya Melvin, sementara Daffin langsung menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu yang lainnya, perasaannya kesal bercampur sedih, meski ibunya adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kepergian Pelangi namun Daffin tak bisa memungkiri perasaan sedih dan rasa bersalahnya karena sang ibu kandung kini tengah berjuang nyawa diatas meja Operasi.


Cleo yang tak tahu malu juga ikut duduk di samping Daffin, kali ini ia tak banyak bicara hanya sesekali mencuri pandang kearah Pria yang masih mengacuhkannya itu, Dan lagi Daffin juga tidak memusingkan keberadaan Wanita itu.


"Ia mengalamai penyumbatan darah dan sepertinya Dokter melakukan operasi pemasangan Ring pada Jantungnya" jelas Risman.


" Astaga" Melvin mengusap wajahnya gusar seraya melirik Daffin yang masih nampak datar.


"Jantung " Gumam Daffin seraya tertawa hambar,  mengingat dua orang wanita disekelilingnya harus memiliki penyakit yang serupa,


Beberapa Pelayan dan perawat yang berlalu lalang menatapnya heran tapi tidak dengan Risman, Melvin dan Jhon mereka bertiga paling tahu apa yang kini dirasakan Daffin.


"Apa Pelangi belum bisa ditemukan? " Risman memindai Melvin dan Jhon bergantian, namun hanya gelengan kepala yang bisa ia dapatkan dari mereka berdua.


Setelah proses operasi yang cukup lama Paula akhirnya dipindahkan diruang ICU untuk dilakukan Observasi pasca pembedahan.


Paula sadar setelah 2 hari,  lalu  ia dipindahkan ke Ruang perawatan VVIP kelas wahid.


"Nak" Tatapan Paula penuh binar bahagia tatkala mendapati Daffin muncul dari balik pintu kamarnya, nyeri pasca operasi seketika menguap begitu saja karena sang putra tunggal pada akhirnya bersedia menemuinya.


Penampilan pria itu masih sama seperti biasanya kusam dan tak terurus.


"Bagaimana kondisi ibu?" Daffin menghempaskan bokongnya pada sebuah sofa yang masih hangat. Ia tahu Cleo baru saja dari ruangan sang ibu karena Daffin tadi berpapasan dengannya, dan seperti biasa Daffin masih mengacuhkannya, sebenarnya ia ingin sekali memberi pelajaran pada wanita tidak tahu malu itu, hanya saja Daffin sudah tal memiliki tenaga, semua terkuras akibat pencarian Pelangi dan pekerjaannya.

__ADS_1


"Ibu baik baik saja nak" 


Mereka masih saling menatap lekat,  Paula tak kalah kucelnya dengan sang anak, piyama rumah sakit benar benar berhasil menampakkan sosok tua didalam dirinya. Ini kali pertama Daffin melihat penampilan sang ibu yang seperti ini.


"Pe-Pelangi bagaimana vin?" Takut takut Paula bertanya,sejak divonis penyakit Jantung koroner wanita itu juga turut mencari keberadaan Pelangi dengan menyewa seorang detektif swasta.


"Heh...." Daffin tertawa hambar, " Aku akan menemukannya" Tukas Daffin dengan sorot mata tajamnya yang seakan menguliti kembali Jantung Paula hingga wanita paruh baya itu harus menunduk dalam.


"Ibu menyesal nak, jika diberi kesempatan  bertemu Pelangi lagi Ibu akan bersujud dihadapannya dan memberikan semua restu ibu, hiduplah bahagia bersama wanita yang kau cintai" Paula terisak lirih, ia yang sudah setengah duduk dengan bersandar pada kepala ranjang membuang pandangannya kesamping seraya mengusap air mata dengan punggung jari telunjuknya.


Sementara Daffin hanya bisa menampilkan raut wajah datarnya.


"Apa yang ibu ketahui?" Daffin kini bersandar pada sandaran sofa seraya melipat kedua tangan didada, tidak masuk diakal Paula bisa berubah sedrastis ini jika tidak mengetahui apa apa. Daffin curiga Risman sudah menceritakan jika Pelangu adalah korban kebejatannya.


Beberapa hari yang lalu Paula memang tengah merenungi kejahatannya selama ini, apalagi setelah Dokter Emy mengatakan yang sebenarnya mengenai Pelangi, Tidak! Paula sama sekali belun mendengar Risman berbicara yang sebenarnya.


"Pelangi....ibu tahu kau sedang mempersiapkan transplantasi jantung untuknya" Paula benar benar menunduk dalam, air matanya kembali luruh.


Paula menatap Daffin penuh telisik, menanti putranya yang kini merunduk seraya memegang pelipisnya untuk kembali melanjutkan kalimatnya.


"4 tahun lalu aku melakukan sebuah kesalahan fatal, Aku memperko*a seorang gadis sma, aku menyadari kesalahanku hingga membuatku trauma, psikolog dan para psikiater tak berhasil menyembuhkanku, gadis itu hamil tapi janinnya harus digugurkan jika saja keberuntungan dipihak kami mungkin ibu akan menimang cucu dari 3 tahun yang lalu" Daffin kembali tertawa hambar, kali ini ia merebahkan kepalany pada sandaran sofa sembari menatap langit langit rumah sakit.


Paula yang mendengar kisah itu hanya bisa menutup mulutnya sambil terus menggeleng pelan, inilah yang dimaksud Risman, Putranya itu pernah berada dititik terendahnya dan memilih untuk menutupnya rapat rapat dari ibu kandungnya, paula benar benar gagal menjadi seorang ibu yang melindungi sang putra, karena anaknya itu tidak memilihnya sebagai tempat bersandar disaat terpuruknya.


"Ayah tahu?" tanya Paula dengan suara yang bergetar, dan dijawab Daffin dengan sebuah anggukan kepala.


Daffin kembali menunduk kali ini netranya menatap lantai rumah sakit.


"Ayah bahkan mengenal gadis itu dengan baik, sementara aku bahkan tak bisa mengingat wajah dan namanya, Heh..."Daffin terkekeh diakhir kalimat sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Gadis itu menyembunyikan semuanya, ia membiarkanku menyakiti fisik dan batinnya disaat ia sebenarnya bisa menghukumku dengan berat"Lanjut Daffin.


"Siapa gadis itu nak?"


"Pelangi....gadis itu Pelangi bu, wanita yang ibu benci adalah gadis kecil yang sudah dihancurkan masa depannya oleh putra bangsat mu ini" Daffin menepuk dadanya kuat dengan isak tangis yang tercekat.


"Ya Tuhan Daffin.....apa yang sudah ibu lakukan nak" Paula merasa ia tak pantas lagi disebut sebagai seorang ibu dan Wanita. Ia benar benar zalim kepada menantunya itu.


"Hukum ibumu Nak...."


"Cari Pelangi dan suruh ia menghukum ibu"


Paula terisak, ia tak peduli dengan bekas sayatan didada sebelah kirinya yang masih terasa begitu nyeri.


"Sayangnya hati Pelangi terlalu lembut, ia lebih memilih pergi dan membawa luka yang baru disaat luka yang lamanya bahkan masih begitu basah" timpal Daffin.


Cukup lama Daffin menemani sang ibu merenungi semua kesalahannya hingga akhirnya wanita paruh baya itu kembali terlelap setelah perawat masuk dan memberinya obat melalui botol infus yang terhubung dengan punggung tangannya.


Drtttt.....Daffin menjawab panggilannya setelah melirik sang ibu yang pulas dalam pengaruh obat, sebuah nomor luar negri terpampang nyata dilayar ponselnya.


"Hello why contact me? "


Daffin membiarkan lawan bicaranya mengutarakan maksudnya terlebih dahulu, setelah selesai wajah pria itu berubah muram dengan rahang yang mengeras menahan amarah.


" Keluarga pasien sudah menandatangani kontrak denganku, aku akan membayar lebih banyak lagi, suruh mereka menunggu sebentar lagi, aku bahkan bersedia menanggung semua biaya peralatan medis yang melekat pada tubuhnya, jangan biarkan mereka melakukan hal itu" ucap Daffin ber api api, ia tak menyangka pasien dengan kondisi mati otak dan sudah menandatangi surat persetujuan mendonorkan beberapa organya itu akan segera melepas semua peralatan medisnya, keluarganya beralasan jika mereka sudah terlalu lelah menunggu dan pada akhirnya beberapa organ putrinya yang tengah koma juga akan berakhir di tubuh orang lain.


Kèluarga pasien bahkan bersedia mengembalikan semua uang yang sudah dikeluarkan Daffin. Karena pria itu satu satunya yang menahan pelepasan alat bantu kehidupan pada pasien koma tersebut.


"Sorry Mr. Daffin, there are other people who need this female organ more and must be operated on in 2 weeks" ( maaf Tuan Daffin ada orang lain yang lebih membutuhkan organ wanita ini, dan harus segera dioperasi 2 minggu lagi)

__ADS_1


"TIDAK!! JANTUNGNYA MILIK ISTRIKU" Teriak Daffin...


__ADS_2