
"Tidak tidak bisa begini, hanya donor itu yang cocok untuk Pelangi....aish...." Daffin memukul stirnya berulang ulang, mengeluarkan semua kekesalannya.
Bagaimana tidak Donor itu begitu sulit ditemukan, Daffin harus menggerakkan semua koneksi Dokter Emy di Amerika demi menemukan satu Jantung yang cocok.
Beruntung Daffin menemukannya beberapa bulan yang lalu, seorang pasien yang sudah menandatangani surat persetujuan pendonoran organ semasa sehatnya, saat keluarga pasien sudah menyerah Daffin datang dengan penawaran menarik ia akan membayar semua biaya rumah sakit termasuk membeli Jantung sang pasien, ia tak peduli dengan organ lainnya hanya Jantung saja yang dibutuhkannya.
"Jhon siapkan Jet pribadiku" Titah Daffin pada Jhon melalui sambungan telepon.
.
.
.
Tadinya Eshaq akan melakukan transplantasi jantung Pelangi di Istanbul saja akan tetapi ia terkendala donor, tak ada donor yang cocok untuk pelangi diseantero negara tersebut, mulai dari pasien kecelakaan hingga mati otak.
Namun Eshaq teringat perkataan Melvin yang mengatakan jika Daffin sudah menyiapkan segalanya untuk Pelangi Amerika termasuk donor Jantung yang cocok, dan benar saja dengan menggunakan koneksinya Eshaq berhasil menemukan pendonor tersebut yang memang dipersiapkan untuk Pelangi.
Dengan sedikit trik menceritakan kisah putrinya yang malang Eshaq berhasil membujuk keluarga pasien agar memberikan jantung Putrinya yang tengah koma kepada putri tercintanya Ayleen Hakan.
"Kenapa tidak ikut gabung?" Tanya seorang pria muda, usianya sekitar 3 tahun diatas Pelangi, pria itu mengambil posisi duduk tepat disamping Pelangi dengan segelas jus ditangannya, ia lalu menatap Pelangi dengan tatapan jahilnya.
Diantara semua keluarga Pelangi di turki hanya pria itu yang fasih berbahasa indonesia, karena beberapa teman kuliahnya dulu ada yang orang indonesia, ia juga jatuh cinta dengan kebudayaan indo sehingga ia mempelajari bahasanya.
Namanya Balian ahmet Hakan, ia dan Pelangi kini duduk disebuah kursi panjang dengan pemandangan pesta BBQ, semua keluarga Hakan berkumpul makan malam bersama karena esok Pelangi akan berangkat Ke Amerika.
"Aku belum terbiasa, ini semua seperti sebuah mimpi bagiku, aku juga takut tak bisa berbaur karena terkendala bahasa" Jawab Pelangi.
"Padahal Pesta ini untuk dirimu" timpal Balian seraya tersenyum.
Balian menatap adik sepupu dengan perut membuncitnya itu, ia tak tahu banyak mengenai Kehidupan Pelangi di Indonesia karena Eshaq hanya mengatakan jika ia sudah menemukan putrinya yang hilang dalam keadaan sudah berpisah dengan suaminya.
__ADS_1
Malang! di mata Balian Pelangi memang seperti menyembunyikan luka yang begitu dalam, namun wanita 20 tahun itu enggan mengungkitnya karena tak ingin merusak kebahagiaan barunya.
"Hufh.....," Balian menghembuskan nafas panjang lalu meneguk sisa jusnya hingga tandas.
"Oh Iya Ayleen aku punya lelucon untukmu" Ucap Balian antusias setelah meletakkan gelas kosong disampingnya.
"Apa itu?" tanya Pelangi penasaran.
"Bapak kamu polisi ya?" Tanya Balian tiba tiba, sontak alis Pelangi saling bertautan.
"Polisi? Bukankah dia seorang eksekutif Chef dan sudah Pensiun?" kata Pelangi Bingung, bagaimana mungkin Keponakan ayahnya itu tidak mengetahui pekerjaan sang paman.
"Wah....kau yakin tinggal di Indonesia? Biasanya lelucon ini berhasil untuk teman teman indoku, mereka akan menjawab, Koq tahu? Lalu akan berkata, Karena kau telah memenjarakan hatiku dan kami pun tertawa terbahak bahak" Terang Balian menatap bingung kearah Pelangi yang nampak mengulum senyumannya.
Setelah sepersekian detik akhirnya Pelangi tak bisa lagi menahan tawanya. Sebuah suara lepas menarik peehatian beberapa orang orang disana untuk menengok kearah Pelangi dan Balian.
"Jadi ceritanya kau ingin menggombalku? Maaf maaf....aku yang kurang peka" Pelangi mengatupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf sambil terus terkekeh "Baiklah kau bisa mengulanginya lagi" lanjut Pelangi.
"Baik akan aku ulangi" Ucap Balian, " Bapak kamu Polisi ya?" Balian mengulang pertanyaannya, ia senang melihat Pelangi terbahak bahak.
"Memangnya ada kalimat lainnya?"
"Iya misalkan bapak kamu muazin ya? Koq tahu? Soalnya paggilan cintamu menggema dihatiku, atau kau bisa juga menggunakan bapak kamu tukang cat ya ? Koq tahu? Soalnya kamu telah mewarnai hatiku" jelas Pelangi yang tak bisa berhenti tertawa..
"Wah.....sepertinya aku harus banyak belajar dari ahlinya" ucap Balian seraya mengusap pucuk kepala Pelangi.
"Aku senang melihatmu tertawa adik...." Sambung Balian lagi, kali ini pelangi sudah puas menertawakan kebodohan sepupunya itu.
"Maaf"
"Jangan minta maaf, tertawalah selalu seperti ini, tadinya aku kira kau memaksakan diri menjalani kehidupan baru mu disini tanpa bisa melupakan masa lalumu yang penuh kenangan, tapi sepertinya aku salah.. Ayleen Hakan, selamat datang dikeluarga besan Hakan adikku" Balian merentangkan kedua tangannya lalu Pelangi membawa tubuhnya masuk kedalam pelukan pria muda itu.
__ADS_1
"Terima kasih" lirih Pelangi disertai linangan air mata bahagia.
Tak lama kemudian para sepupu Pelangi yang lain mendekat dan memberikan pelukan kepada Wanita hamil itu secara bergantian, beberapa dari mereka melafalkan doa semoga operasi Pelangi kelak di Amerika bisa berjalan lancar.
tidak jauh dari sana, Eshaq nampak mengusap air matanya melihat Pelangi dengan para sepupu dan kerabat lainnya, ia berharap Pelangi bisa benar benar melupakan Daffin Jaxton, meski ia sedikit pesimis karena acap kali Eshaq mendapati Pelangi dengan tatapan kosongnya yang menerawang jauh.
.
"Anda tidak bisa melakukan ini padaku" Ucap Daffin tegas, kini ia menghardik seorang ibu paruh baya berkewarganegaraan Amerika yang tengah berdiri disamping tubuh putrinya yang hampir satu tahun terbaring koma.
"Maafkan kami Tuan Daffin, tapi seharusnya akhir bulan ini Istri anda sudah Di operasi bukan? Atau setidaknya istri anda sudah berada di Amerika melakukan beberapa pemeriksaan tapi tidak ada. Putriku sudah terlalu lama menderita, seharusnya dari beberapa bulan yang lalu semua organ vitalnya berguna bagi para pasien lainnya tapi karena menunggu anda semuanya tertunda " Sahut sang ibu tak kalah tegas.
Mereka berbincang dengan bahasa inggris yang fasih.
"Sebelum ini bukankah pihak rumah sakit sudah menghubungi anda bahkan jauh jauh hari sebelumnya agar Istri anda segera ke Rumah sakit, saya dan rumah sakit sudah memberi anda kesempatan" Lanjut sang ibu pasien lagi.
"Tolong tunggu sebentar lagi, Saya akan membawa Istri saya kesini" Suara Daffin terdengar merendah dan penuh permohonan.
"Kapan?"
Daffin terdiam, bagaimana bisa ia memastikan waktunya disaat ia sendiri tak mengetahui keberadaan sang istri.
"Kenapa tuan, Tidak bisa memastikan?" tebak paruh baya itu, melihat wajah linglung pria yang ia kenal sebagai pemilik bisnis Hotel yang menggurita di kawasan Asia tenggara itu.
"Tolong Nyonya" Daffin akhirnya berlutut dihadapan Ibu pasien itu, ia tak peduli lagi dengan harga diri yang selama ini ia junjung tinggi, "Saya akan memberikan 1 hotel Jaxton, tidak tidak...dua hotel...atau semuanya saya akan menukar semua harta yang saya miliki asal bisa menyelamatkan istri saya Nyonya,Tunggu beri saya waktu sebentar lagi" ucap Daffin dengan menautkan kedua tangannya, bahkan jika bisa menukar nyawanya dengan keselamatan Pelangi maka akan ia lakukan dengan senang hati.
Hati siapa yang tidak terenyuh melihat kesungguhan seorang Daffin Jaxton, pengusaha kaya yang rela berlutut dan merendahkan dirinya demi seorang wanita, ibu pasien itu bahkan bisa melihat betapa banyak cinta yang dimiliki Daffin untuk istrinya melalui sorot matanya.
" Hanya Jantung putri anda yang bisa menyelamatkan istriku Nyonya" Daffin benar benar putus asa.
"Berdirilah Tuan Daffin Jaxton jangan seperti ini, anda tidak pantas berlutut dihadapan wanita tua sepertiku" Ibu itu akhirnya luluh, ia membantu Daffin yang menangis pilu dengan memegang kedua bahunya agar berdiri tegap.
__ADS_1
"Perlu anda ketahui Tuan, seorang wanita hamil dari Turki juga sangat membutuhkan jantung putriku, menurut pihak rumah sakit kondisinya sama seperti istrimu, ia juga tak akan bertahan hidup setelah proses persalinannya, tapi karena melihat kesungguhanmu aku akan memberi waktu satu minggu lagi, jika istrimu sudah siap maka biarkan aku yang berganggung jawab atas wanita dari Turki itu aku akan menjelaskan padanya, tapi jika Istrimu tidak tiba di Amerika dalam waktu satu minggu maka Jantung putriku akan menjadi milik wanita Turki itu" Terang sang ibu paruh baya panjang lebar.
"Terima kasih Nyonya" Daffin sudah tidak menyimak pembicaraan mengenai gadis turki, yang ia tahu ibu itu memberinya waktu 1 minggu, maka ia akan menggerakkan lebih banyak tenaga lagi untuk menemukan Pelangi.