Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 61


__ADS_3

pukul 8 malam Pelangi baru terbangun dari tidurnya, ia dikejutkan dengan dua orang Pelayan yang sudah bersiap di sampingnya.


Daffin sengaja menghubungi mereka guna membantu Pelangi bersiap siap untuk makan malam pertama, ini menjadi langkah awal Daffin memperkenalkan Pelangi dengan dunia luar, ia tak ingin lagi menyembunyikan keberadaan Pelangi, lagi pula tak ada yang memalukan dari wanita itu, meski tidak setinggi para model atau gadis gadis yang biasa tidur dengannya namun Pelangi memiliki wajah yang sangat cantik dan unik yang tidak dimiliki kebanyakan wanita Indonesia.


Pelangi mengerjapkan matanya bingung, bukankah setelah pukul 6 tidak ada lagi pelayan yang diijinkan masuk kedalam rumah ini? Dan lagi..Pelangi memicingkan matanya bukan hanya ada dua orang pelayan tapi seorang wanita muda yang membawa tas jinjing berbentuk persegi baru saja masuk melalui pintu kamarnya bersama Daffin, lalu kemana pria itu?


"Maaf Nyonya, kami diminta untuk membantu Nyonya bersiap guna keluar makan malam bersama Tuan Daffin" jelas salah satu Pelayan sambil menunduk penuh hormat.


"Ah...begitu" Pelangi lagi lagi hanya bisa pasrah, jika suaminya menyuruhnya begini dan begitu maka ia harus menurutinya.


Selama 1 jam dua orang pelayan dan seorang MUA membantu Pelangi bersiap ketiganya dibuat takjub dengan penampilan Pelangi yang sangat cantik meski hanya menggunakan make up tipis. Pelangi memilih sebuah dress lengan pendek berwarna baby pink yang terdapat diantara jejeran dress yang memang sudah disiapkan Daffin di Walk in closet.


Daffin menelan Saliva saat melihat Pelangi yang perlahan datang dengan menuruni satu persatu undakan anak tangga.


"Kau sudah siap? Ayo" Daffin meraih jemari Pelangi dan menautkannya erat dengan miliknya, mereka bejalan bersisian menuju sebuah mobil Sedan mewah keluaran terbaru. Kali ini Daffin tidak menggunakan supir, ia membawa sendiri mobilnya setelah sebelumnya membukakan pintu untuk Istrinya dan mendudukkannya disamping kemudi. Drama adu detak jantung keduanya kembali terjadi saat jarak keduanya begitu dekat ketika memansangkan sabuk pengaman untuk Pelangi.


Sial! Lagi lagi Daffin memgumpat, bagaimana bisa detak jantungnya begemuruh seperti ini hanya karena jarak, padahal mereka baru saja selesai melakukan peegumulan yang halal.


"Kau ingin makan dimana?" Tanya Daffin pada Pelangi yang terus memandang keluar, seakan menghitung jejeran bangunan yang ia lalui.


"Terserah Tuan" Pelangi sama sekali tidak menoleh, ia takut katup mekaniknya rusak saat kembali bertatapan dengan Daffin.


"Tu-an...." Pelangi terperanjat saat Daffin tiba tiba meraih tangannya dan menggenggamnya hangat, sementara tangan satunya masih memegang kemudi.


Pria itu bisa merasakan peluh dingin mengalir di tangan istrinya yang ia genggam.


"Jangan Berontak, aku ingin menikmatinya" ujar Daffin yang kini menempelkan punggung tangan Pelangi di bibirnya, pria itu tersenyum smirk saat merasakan tangan mungil itu bergetar hebat.

__ADS_1


"Aku tidak akan kembali seperti dulu, jangan harap aku akan menyakiti wanita yang kelak akan mengandung anakku" Daffin tetiba teringat dengan permintaan tidak masuk akan Pelangi, Ia tak habis fikir bagaimana mungkin ada wanita yang lebih suka diperlakukan kejam.


Pelangi menggigit bibir bawahnya, ia bingung harus bereaksi seperti apa, haruskah ia bahagia? Tapi bagaimana dengan luka yang belum mengering didalam dirinya? Pria ini....


"Janji padaku satu hal Tuan " Mata Pelangi kembali berkaca kaca, ia menatap lamat wajah tampan disampingnya, wajah pemilik Hotel Jaxton yang sangat terkenal, sebuah Paras yang tak pernah ia sangka akan menjadi suaminya setelah meorehkan luka sayatan yang teramat dalam.


"Katakan...."


"Jika suatu saat aku berhasil memberikan Tuan Keturunan maka janji padaku Tuan akan memperlakukan anak itu dengan baik, biarkan anak itu merasakan kasih sayang orang Tua dari Tuan" Terang Pelangi, meski ia Yakin kelak Daffin akan menyayangi sang anak namun wanita itu juga membutuhkan kepastian.


"Aku berjanji Pelangi, bukan hanya anak kita, tapi seluruh kasih sayangku kelak akan tercurah kepadamu dan anak anak kita" jawab Daffin mantap.


Pelangi akhirnya tersenyum,tapi entah mengapa Daffin masih merasa ada segudang luka yang tersirat dari tarikan sudut bibir wanita itu.


.


.


.


"Terima kasih Tuan Melvin Mahendra"Eshaq sadar ada beberapa kamera yang mengarahkan lensanya kearah mereka, tapi ia tidak terlalu peduli, bukankah memang seperti itu cara bisnis bekerja. yang ia fikirkan kini adalah bagaimana ia bisa segera bertemu dengan orang yang sudah 20 tahun dicarinya, Dan Melvin berhasil menemukan orang itu.


Benar saja beberapa jam setelah pertemuan mereka situs bisnis segera memuat berita mengenai kemungkinan besar Hotel Jaxton akan menjadi penyelenggara tunggal even sebesar G21 yang akan diadakan di indonesia.


Daffin benar benar puas dengan kinerja Melvin, sepupu sekaligus tangan kanannya itu memang tidak pernah mengecewakan Hotel Jaxton, Melvin memang selalu mengedepankan kepentingan hotel diatas segala galanya.


Daffin meletakkan tabletnya setelah puas membaca salah satu situs online dengan judul, Berhasil mendatangkan eksekutif chef Eshaq Hakan, Jaxton Hotel dipastikan akan segera menyelenggarakan G21.

__ADS_1


Kebahagian Daffin rasanya belum lengkap sebelum melihat wajah cantik istrinya, ia menekan sebuah tombol pada pesawat telepon yang menghubungkannya dengan meja sekertarisnya.


"Hubungi resepsionis apa istriku sudah datang?"


"Baik Tuan" seorang wanita muda yang merupakan salah satu Sekertaris Daffin hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya melakukan perintah atasannya, padahal waktu baru menunjukkan pukul 11 menjelang siang yang artinya Pelangi baru akan datang satu jam lagi, akan tetapi atasannya itu seakan pura pura tidak tahu.


Sudah sebulan ini Daffin memang meminta Pelangi untuk selalu membawakan makan siang kekantornya, bukan hanya membawakan makan siang namun terkadang Daffin juga memanfaatkan jam istirahatnya untuk menanam benihnya diruangan istirahat khususnya. Ia pun sudah memperkenalkan Pelangi sebagai Istrinya di kantor sehingga beberapa karyawan akan memberi hormat kepada wanita 20 tahun itu ketika ia datang.


Tak ayal Pelangi bertemu dengan Melvin di ruangan Daffin dan mereka hanya bisa saling menyapa layaknya seorang kakak kepada adiknya begitupun sebaliknya, dan terkadang Daffin merasa geram dengan tingkah keduanya, namun ia tak ambil pusing lagi pula kini Pelangi hanya miliknya seorang dan tak akan ia biarkan laki laki manapun untuk memdambanya.


Bahkan Paula tak bisa berbuat apa apa menyaksikan tingkah Daffin yang sudah melanggar janjinya, ia hanya bisa memendam amarah sambil terus melakukan penyelidikan guna menemukan kelemahan Pelangi yang kelak akan ia gunakan untuk mengusir wanita itu dari kehidupan putra tunggalnya.


.


.


.


"Apa nyonya akan ke kantor Tuan dengan kondisi seperti ini? "Tanya Bi Ijah khawatir sambil mengelus punggung rapuh Pelangi yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya pada wastafle dapur.


"Pelangi harus pergi Bi" Pelangi membersihkan bibirnya lalu menjalankan air guna menghilangkan jejak kekuningan disana, rasanya semua isi perutnya sudah terkuras habis, ini hari kedua ia merasakan perasaan seperti ini.


"Tapi Nyonya, wajah anda terlihat sangat pucat, apa bibi harus menghubungi Dokter Ayu? " Bi Ijah semakin Khawatir, ia menyarankan agar Dokter Ayu datang dan memeriksa Pelangi. Daffin memang membayar Ayu khusus untuk menjadi dokter pribadi Pelangi, tadinya ia ingin Dokter lain yang lebih senior namun Pelangi sendiri yang merekomemdasikan Ayu, ia tak yakin dokter Lain akan bisa menjaga rahasianya dari Daffin.


"Tidak perlu Bi, Tuan Daffin akan kecewa jika Pelangi tidak datang" Akhirnya Pelangi mengambil rantang dan berjalan keluar, ia akan diantarkan Supir seperti biasanya.


Sementara Bi Ijah hanya bisa menatap nanar punggung Pelangi yang perlahan menjauh. "Kapan nyonya akan berhenti memanggil suaminya seperti itu?" gumam wanita bertubuh gempal itu.

__ADS_1


__ADS_2