
Prang...
Prang....
Sebuah Potret yang sudah 29 tahun menghiasi dinding kamar pasangan Paula dan Alexander jatuh dengan dan pecah hingga berkeping keping, kertas foto itu masih utuh namun tidak dengan bingkainya.
Hal itu seperti gambaran nyata kehidupan rumah tangga yang sudah mereka bina selama 29 tahun, potret itu layaknya kehidupan keluarganya yang nampak bahagia dan utuh diluar, namun pada kenyataannya Bingkai rumah tangga mereka sudah lama hancur tak berbentuk.
Kali ini Paula wanita 55 tahun yang masih nampak sangat cantik diusia senjanya sudah tidak bisa mentolelir keputusan sepihak yang diambil suaminya, ia adalah pelaku yang menghancurkan potret pernikahannya sendiri dengan pria yang sudah ia renggut paksa dari tunangan yang sangat dicintainya.
"Kau gagal mendapatkan ibunya dan kini kau ingin anaknya menikah dengan putraku hah" Hardik Paula dengan dada yang naik turun, rasanya ia tidak terima harus menikahkan anaknya dengan anak dari wanita yang sangat ia benci sepenuh hati, bahkan saat sudah meninggalpun Isyana tetap tidak bisa pergi dari hati suaminya, itu membuat Paula semakin geram.
"Putramu?bukankah dia putraku, Daffin adalah milikku, kau membuatnya menjadi milikku saat menjadikan kehadirannya sebagai alasan menuntut pertanggung jawabanku, Aku berhak mengatur kehidupannya" Tukas Alexander, seraya memegang dadanya, penyakit paru paru yang sudah lama ia derita sebenarnya tidak memperbolehkannya untuk mengeluarkan emosi yang berlebihan.
"Aku tidak sudi menjadikan anak wanita Jala*g itu sebagai menantuku"
"Siapa yang kau sebut Jalan*?"
"Wanita itu !dia yang sudah merebutmu dariku, aku hanya mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku, ingat Alex!" Paula menunjuk wajah suaminya, "Kau dijodohkan terlebih dahulu denganku, bukan dengan upik abu itu" geram Paula.
Alexander tak habis fikir bagaimana mereka bisa menjalani rumah tangga yang seperti ini, ia bahkan hanya bisa menyentuh Paula dalam keadaan mabuk, dan itu ia lakukan demi menjaga perasaan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Entah mengapa tak ada cinta yang bisa tumbuh didalam hatinya jika mengingat perbuatan Paula dulu.
"Paula...." suara Alexander terdengar parau dan mulai melemah, ia sadar membujuk istrinya dengan kekerasan tak akan pernah berhasil.
__ADS_1
"Tak bisakah kali ini saja kau menurutiku tanpa melakukan perlawanan. Kau tahu aku dalam kondisi yang tidak sehat, aku hanya ingin melihat Daffin menikah dengan wanita pilihanku" Alexander terpaksa menggenggam tangan istrinya itu.
Paula yang memang selalu mengharapkan sentuhan hangat dari sang suami yang tak pernah mencintainya perlahan mulai mencair.
"Mengapa harus anak dari wanita itu? Daffin memiliki Cleo, ia anak dari teman arisanku, Cleo berasal dari keluarga berada dan seorang model"
"Tapi Daffin membutuhkan Pelangi untuk menjadi CEO Jaxton grup, sekaligus pemegang saham tertinggi"
"Kenapa begitu?" paula menautkan kedua alisnya , yang ia tahu Daffin adalah satu satunya pewaris tunggal Jaxton grup perusahaan milik suaminya.
Daffin hanya membutuhkan 40 persen saham milik Alexander dan mengabungkannya dengan milik Daffin dan Paula yang masing masing berjumlah 10 persen sehingga 60 persen saham otomatis akan membuatnya menjadi pemimpin tertinggi di Jaxton, sementara 40 persen saham lainnya dimiliki oleh sekitar 20 orang pemegang saham lainnya, beberapa dari mereka adalah keluarga jauh Alexander dan rekan bisnisnya.
"Aku sudah memberikan 20 persen sahamku pada Pelangi, dan itu resmi, jadi jalan satu satunya adalah Daffin harus menikah dengan Pelangi agar ia mengukuhkan posisinya di Jaxton Hotel" kali ini Alexander kembali menegaskan nada bicaranya.
"Kau benar benar sudah tak bisa dimaafkan Alexander Jaxton" sentak Paula dengan Amarah yang kembali memuncak di ubun ubun.
Sementara Daffin yang sejak tadi berdiri diambang pintu kamar kedua orang tuanya yang tidak tertutup rapat hanya menyeringai mendengar setiap kata yang terlontar dari dua orang yang tak pernah membuatnya tenang tinggal dirumah ini.
"Wanita itu" Daffin mengepalkan tangannya, ingin sekali rasanya ia memukul sesuatu saat ini juga, Pria 28 tahun itu memang tak pernah menyukai wanita yang bernama Isyana meski ia sama sekali belum bertemu dengannya. Ia yakin dalang ketidak bahagiaan keluarganya adalah wanita yang kini ia tahu sudah meninggal.
"Menikahi anaknya?" Daffin kembali bergumam, seringai licik terus terbit dibibirnya, tentu tak ada jalan lain selain harus menikahi anak wanita itu karena saham 20 persen yang terlanjur diberikan ayahnya.
Namun Daffin sudah berjanji dalam hatinya akan membuat anak dari wanita tersebut merasakan penderitaan ia dan ibunya selama ini.
__ADS_1
Daffin berlalu bersama Melvin menuju ruang kerjanya di Mansion mewah itu. Sebenarnya Daffin jarang sekali pulang ke mansion orang tuanya ia dan Melvin lebih memilih untuk tinggal di sebuah apartemen mewah yang unitnya saling berdampingan, namun hari ini ia tiba tiba merindukan ibunya dan akhirnya harus kembali mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya.
"Cari wanita yang bernama Pelangi itu, ia anak dari Dokter Isyana wanita yang sangat dicintai ayahku" titah Daffin saat sudah menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi kerjanya.
Sementara Melvin duduk dengan gaya machonya disebuah sofa yang tidak terlalu jauh dari meja kerja Daffin.
Pria yang juga seusia Daffin itu hanya bisa memijit pelipisnya.
"Tak usah dicari, ayahmu akan membawanya sendiri" Timpal Melvin.
"Aku ingin melihat sehebat apa anak dari wanita yang dicintai ayahku itu sehingga harus merelakan saham 20 persen, sial miliknya bahkan lebih besar dari pada milikku" geram Daffin.
"Jadi kau akan menikahinya?" Tatapan Melvin penuh selidik," Lantas bagaimana dengan Cleo, semua orang mengetahui model tidal terkenal itu adalah kekasihmu" Kata kata Melvin terkadang memang terdengar kejam.
"Kekasih?" Daffin tertawa terbahak bahak, ia pun sebenarnya bingung dengan dirinya sendiri, ia tak pernah merasakan apa itu cinta,baginya wanita hanyalah makhluk merepotkan yang mendekatinya hanya karena uang dan ketampanannya, begitupun Cleo. Daffin tak pernah benar benar menganggap wanita itu, ia hanya berusaha menjaga perasaan sang ibu dengan membiarkan Cleo berkeliaran disekitarnya, dan akhir akhir ini wanita itu mulai membuatnya Jengan dengan menuntut untuk dinikahi.
Menikah? Jika ia harus menikah maka Pelangi akan menjadi pilihannya, selain saham 20 persen ia juga akan memberikan neraka dalam kehidupan gadis itu.
"Aku akan menikahinya, persetan dengan Cleo"
"Kau ternyata belum berubah, bagaimana kau akan menikahi seorang wanita padahal kau sama sekali tak akan bisa menyentuhnya, rahasiamu akan terbongkar di tangan gadis itu"
"Siapa bilang aku akan mententuhnya? Aku akan menyiksanya hingga mundur dengan sendirinya dan memberikan saham yang memang sudah menjadi hakku itu" lagi lagi Daffin menyeringai.
__ADS_1