Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 78


__ADS_3

"Maafkan aku Tuan" cicit Pelangi saat Daffin baru saja keluar dari kamar mandi, pria itu hanya menggunakan kimono mandi dengan beberapa tetes air masih menghiasi rambut dan wajahnya.


Pelangi duduk di tepi ranjang sambil memainkan jemarinya, ia terlihat gugup sejak Daffin membolehkan Cleo tinggal dirumah ini sampai bayi Pelangi lahir. Kini Cleo menempati kamar tamu dilantai 3 agar tidak terlalu dekat dengan kamar Pelangi yang ada dilantai bawah.


Ia memang model dengan job yang sangat sedikit apalagi setelah hiatus untuk operasinya di Korea, dunia modeling seakan lupa akan namanya.


Pelangi merasa takut dan merasa bersalah pada saat bersamaan.


"Kenapa kau minta maaf hemm" Daffin berlutut dihadapan Pelangi sembari memegang kedua tangannya yang terasa dingin.


Pelangi menggeleng pelan, "Maaf karena sudah merusak hubungan Tuan dengan ibu tuan, maaf sudah merusak hubungan Tuan dengan kekasih tuan, dan maaf karena sudah hadir didalam hidup Tuan"


"Hubunganku dengan ibuku memang tak pernah baik, aku kecewa karena ia sudah melahirkanku kedunia ini, sementara dengan wanita itu tidak seperti yang ada dikepala istriku ini" Tangan Daffin terulur mengusap wajah teduh sang istri. Entah mengapa dari sekian wanita yang pernah tidur dengannya Daffin baru sadar Pelangi lah yang paling cantik, tak ada yang memiliki pahatan sesempurna ini selain wanita dihadapannya.


"Pelangi mengapa kau begitu cantik hemm, sebenarnya saat pertama bertemu di restoran tempatmu bekerja aku terpukau, hanya kebencianku pada Dokter Isyana mengalihkan segalanya, apa karena itu kau selalu terlihat takut kepadaku? " Daffin mengalihkan topik, ia tak tahan melihat wajah Istri polosnya yang diliputi rasa bersalah.


Kini pelangi bersemu merah, ini kali pertama Daffin memujinya, "Saat pertama melihat Tuan Pelangi tak takut, Pelangi kagum dengan tampilan seorang tuan muda yang seakan keluar dari komik online yang biasa Ku baca melalui ponsel paman Satria, Pelangi tak pernah berfikir Tuan muda yang sulit digapai itu berakhir menjadi seorang suami gadis penyakitan sepertiku" Terang Pelangi mengingat bagaimana ia yang terus mengamati Daffin dari atas balkon villa bersama mbok Yum. Saat itu Daffin dan Melvin memang paling bisa menarik perhatian, sayangnya Pelangi hanya tertuju pada Daffin ia sama sekali tak menyadari kehadiran Melvin disana.


Alis Daffin berkerut, namun sejurus kemudian ia bangkit lalu duduk di samping tubuh Pelangi yang baru saja mengatai dirinya sebagai gadis penyakitan. Daffin membawa Pelangi kedalam Dekapannya, ia seakan tak terima Pelangi mengatai dirinya sendiri.


"Aku akan memastikan setelah melahirkan Jantungmu akan kembali berdetak normal, Tapi Pelangi....apa pertemuan di Restoran bukan yang pertama bagimu?" Daffin begitu penasaran.


Pelangi menggeleng didalam dekapan dada Bidang suaminya. "Bukan, Pelangi sudah melihat Tuan saat usiaku masih 16 tahun"


"Benarkah? Itu artinya 4 tahun yang lalu?" Daffin mengingat usia Pelangi sekarang adalah 20 tahun.


"Hemmm Pelangi saat itu masih kelas 11 SMA"


" Oh ya? Dimana kau melihatku ? Apa saat itu ayahku sudah memiliki rencana menjodohkan kita?"


Pelangi lagi lagi menggeleng namun kali ini ia sudah mengurai pelukan sang suami, ditatapnya seorang Daffin Jaxton lekat lakat. "Pelangi bahkan belum mengenal uncle Alex saat itu "


"Benarkah? Apa saat itu...." Daffin terdiam ia tak dapat melanjutkan kata katanya karena Pelangi langsung menyambar bibirnya. yang membuatnya tersenyum Jahil, Daffin tak akan membiarkan dirinya didominasi wanita, kini posisinya Pelangi sudah berada dalam kungkungan Daffin. Bukan lagi sebuah kecupan namun berubah menjadi luma tan yang begitu menuntut sampai pintu kamarnya terdengar dibuka dari.

__ADS_1


Ceklek.


"Sial!" Daffin menoleh, Pelayan kurang ajar mana yang berani menggangu waktunya bersama Pelangi? Mana kondisi istrinya sudah hampir polos dibagian atas karena Daffin berhasil membuka res Dress Pelangi yang memang terletak didepan dada.


" Astaga " Cleo terlihat Geram dengan wajah memerah , ia lekas menutup kembali pintu kamar Pelangi dengan keras.


Brak.....


"Wanita sialan itu!!" Daffin tak kalah geramnya. Namun. Usapan tangan Pelangi diwajahnya berhasil meredam emosinya.


"Tidak apa Tuan".


Sementara diluar dua pelayan yang biasa menjaga Pelangi memandang Cleo dengan tatapan jengah, padahal sebelum masuk mereka sudah mengingatkan jika Daffin tak pernah mau diganggu ketika sedang berduaan saja dengan istrinya.


" Mbak kan tadi sudah saya bilang, lihat sekarang, Tuan Daffin marah kan?" Ucap salah seorang Pelayan kepada Cleo yang masih menahan kecemburuannya.


Para pelayan itu ingin tertawa puas melihat wajah pias Cleo, mereka bisa menebak pemandangan seperti apa yang ia lihat didalam sana.


Hanya saja sebagai seorang Pelayan mereka wajib menghormati Tamu sang majikan.


"Baik Nona Cleo" jawab keduanya sembari berlalu meninggalkan Cleo yang katanya akan mengambil alih tugas mereka untuk mengingatkan Daffin dan Pelangi makan malam.


Tak lama kemudia Daffin keluar lengkap dengan stelan hariannya, celana pendek garis garis berwarna Navi dan kaos putih polos yang mencetak dengan jelas tubuh atletis seorang Daffin Jaxton.


"Saya kira Pelayan sudah memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan selama tinggal dirumah ini" tukas Daffin, ia memang sudah meminta bi Ijah menjelaskan semuanya.


"Maaf Mas Aku lupa, aku hanya ingin memanggilmu dan Pelangi untuk makan malam, diruang makan sudah ada Melvin yang menunggu kita" Tutur Cleo dengan penuh kelembutan layaknya seorang putri kraton.


"Melvin" Daffin bergumam lirih, ia tidak ingat meminta pria itu untuk datang lagi pula tak ada pekerjaan mendesak yang mesti mereka kerjakan. Daffin lalu menatap pintu kamarnya yang tertutup.


tak lama kemudian Pelangi datang dengan pakaian yang hampir senada dengan sang suami. Rok payung hitam dengan kaos putih yang sedikit longgar. Padahal mereka tidak janjian, Pelangi memutuskan mengganti dress rumahannya yang sudah bercampur dengan peluh dirinya dengan Daffin meski mereka tidak sampai menyatu namun tetap saja gairah panas membekas di pakaian mereka.


"Melvin sudah menunggu kita" ucap Daffin Datar.

__ADS_1


"Kak Melvin datang?" Pelangi terlihat tidak tahu apa apa. Semua terlukis jelas diwajah polosnya.


Daffin menghela nafas, ia baru ingat tidak mungkin Melvin dan Pelangi masih saling berkomunikasi disaat ia sudah merusak Ponsel Pelangi dengan dalih tidak sengaja.


"Baiklah ayo temui ia dimeja makan" Ajak Daffin seraya merangkul bahu istrinya mesra.


"Ayo Nona Cleo" Sebelum pergi Pelangi menoleh dan tersenyum lembut pada Cleo yang tak bisa menyembunyikan gurat kekesalan diwajahnya.


'Apa mereka harus memperjelas status dengan baju couple?ish' Rutuk Cleo didalam hati.


.


.


Senyum melvin mengembang melihat Pelangi yang berjalan menghampirinya meski Daffin tak pernah melepaskan genggaman tangannya.


"Bagaimana Kondisimu Pelangi?" tanya Melvin, sementara Para pelayan menarik kursi untuk Daffin dan Pelangi.


Cleo tentu melayani dirinya sendiri.


Melvin tak perlu banyak bertanya lagi dengan kehadiran kekasih Daffin itu. Karena Cleo sudah menjelaskannya tadi, hanya satu pesan Melvin yang membuat Cleo bergidik tak karuan dengan ancaman Pria dingin itu.


"Sedikit saja kau menyentuh Pelangi maka akan kupastikan kau tidak akan pernah memijakkan kaki dibumi ini lagi"


"Aku Baik kak" Jawab Pelangi sembari tersenyum ramah.


Mereka ber 4 menikmati makan malam tanpa suara. Sunyi, sepi, senyap hanya terdengar suara garpu dan sendok yang beradu pacu dengan piring keramik.


n



Pelangi ( 20 thn )

__ADS_1



Daffin Jaxton (28 thn)


__ADS_2