
"Kau sudah datang sayang" ujar Paula kepada gadia cantik yang baru saja masuk kedalam kamarnya, sedangkan ia sendiri hanya bisa duduk sambil menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang dengan ukiran naga berwarna emas.
"Maaf tante, bibiku juga sedang sakit jadi tidak bisa memeriksa tante, sebagai gantinya bibi mengirim saya kemari" Ujar wanita itu lembut lalu menarik sebuah kursi disamping ranjang seraya mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa keadaan Paula.
Paula yang merasa pening dengan kedatangan Daffin tadi memang langsung menelpon dokter keluarganya yang tak lain bibi dari wanita cantik yang kini duduk dihadapannya, Paula sudah sering bertemu dengan wanita itu yang tak lain adalah Ayu, karena ayu sesekali menemani bibinya kala memeriksa kesehatan Paula.
"Iya tidak apa apa bibimu sudah memberitahuku tadi melalui telp"
hampir sekitar 15 menit Ayu memeriksa Paula, mulai dari detak jantung, tekanan gula darah hingga kolesterol karena wanita itu mengeluh tengkuknya menegang dan kepalanya pusing saat menghadapi Daffin tadi.
"Tante baik baik saja, ini hanya lonjakan hormon adrenalin sementara, sehingga tekanan darah sempat naik, itu juga hanya bersifat sementara tant" Ayu tersenyum simpul seraya merapikan kembali peralatannya kedalam sebuah tas jinjing.
"Ini semua karena Daffin !" Geram Paula.
"Tant...udah deh," Ayu mengingatkan.
Ayu sebenarnya sudah lama mengenal keluarga Jaxton, saat SMA ia tinggal bersama bibinya dan bersekolah di salah satu sekolah unggulan di Jakarta ia adalah adik kelas Daffin dan Melvin mereka selisih satu tahun.
"Oh iya bagaimana kabar kak Daffin dan kak Melvin?" tanya Ayu saat ia dan Paula tengah menikmati secangkir teh hangat diruang keluarga.
"Huh...." Paula terdengar menghela nafas kasar sebelum menjawab "Jangan membahas Daffin yu, tante masih kesal , oh iya bibi kamu pernah cerita katanya kamu naksir Melvin sejak sma apa masih sampai sekarang?" tatapan paula menelisik membuat Ayu seketika tersedak teh yang baru saja di seruputnya.
"uhuk...uhukk....ah tante..." Wajah ayu merona merah jambu, ia memang sangat mengidolakan Melvin sejak dulu bahkan mungkin sampai sekarang. Ayu benar benar jatuh cinta dengan karakter dingin pria yang layaknya tokoh utama novel online itu, namun bukan hanya itu, ada suatu peristiwa yang membuat Ayu tak bisa melupakan Melvin. yakni saat pria itu menggendongnya menuju UKS karena Ayu hampir pingsan ketika upacara, kala itu dimata Ayu Melvin layaknya seorangbpangeran dengan kuda putihnya, akan tetapi ia sama sekali tidak berani mengutarakan perasaannya lagi pula Melvin juga sama sekali tidak pernah meliriknya setelah kejadian tersebut. Mengingat hal itu tiba tiba membuat hatinya mendadak sendu.
Kini ayu menyesali pertanyaan basa basinya mengenai kedua pria itu.
"Kau tenang saja, tante akan menjembatani kalian berdua, tante juga sudah jengah melihat Melvin yang sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri, ia selalu saja mengutamakan kepentingan Daffin hingga lupa mencari pasangan"
"Maksud tante Melvin sama sekali belum memiliki pacar?" Ayu bertanya sambil menahan rasa malu, ia memang tak tahu kabar terakhir Melvin sejak memutuskan untuk kuliah disurabaya dan melanjutkan pendidikannya di Seoul.
"Belum nanti tan__" Paula menjeda ucapannya saat manik matanya melihat Melvin yang baru saja datang dan duduk dihadapannya, sebuah sofa tunggal yang bersebrangan dengan Paula dan Ayu.
"Melvin?"
"Kak Melvin" Seketika senyum Ayu merekah sempurna, namun sayangnya Melvin hanya meliriknya sekilas tanpa membalas senyum manisnya.
__ADS_1
"Jangan katakan kau juga mencari gadis itu?" Tebak Paula dengan wajah kesalnya.
"Dimana dia?" Melvin masih dengan wajah yang sedatar lapangan sepak bola.
"Tante tidak akan mengatakannya!" Tukas Paula, sementara Ayu hanya menatap Paula dan Melvin secara bergantian, ia bingung dengan pembahasan tante dan keponakan itu.
"Aku mencarinya untuk menjauhkannya dari Daffin" Balas Melvin.
Paula mencari kebohongan dari tatapan Melvin namun tak bisa menemukannya, ia tentu Tahu Melvin adalah orang yang hidupnya paling lurus.
Tapi kenapa?
Baru kali ini Paula mendengar Melvin dan Daffin memiliki tujuan yang berbeda, puluhan tahun dua bersepupu itu hidup bersama tak pernah sekalipun Melvin mengesampingkan keinginan Daffin.
"Melvin jangan katakan ?" Paula sepertinya bisa menerka sesuatu, namun ia berharap kali ini hanya dugaannya yang salah.
"Dimana dia?" tanya Melvin penuh penekanan.
Paula memijit pelipisnya kuat, rasanya tengkuknya kembali menegang.
Ada apa dengan putra dan keponakannya sebenarnya?
"Permisi!" ujar Melvin lalu beranjak menuju kearah belakang Mansion mewah itu, namun ia keluar melalui pintu samping yang berhubungan dengan kolam renang berukuran cukup besar.
"Tante boleh saya ....." Ayu menggigit bibir sebelum melanjutkan perkataannya, rasanya ia ingin membuang harga dirinya kali ini, usianya juga sudah tidak muda lagi sehingga ia sudah tak memiliki banyak waktu. Kesempatan bertemu Melvin kali ini mustahil ia lewatkan.
"Aku ingin berbincang sebentar dengan kak Melvin boleh tan? " Lanjut Ayu lagi.
"Tentu saja sayang, sepertinya Melvin sedang menuju ke arah belakang mansion"
Ayu akhirnya mengikuti langkah besar Melvin dari belakang, pria itu terus berjalan tanpa menoleh dan melihat seseorang bersusah payah menyeimbangkan langkahnya.
Sementara Pelangi sendiri tengah menikmati harinya dengan duduk disebuah bangku panjang dibawah jejeran pohon palem yang menjulang tinggi seraya mengatur nafas dengan sebuah sapu lidi ditangannya, ia baru saja membersihkan halaman disekitar Mes tersebut.
Sepertinya dulunya dibelakng Mes tersebut adalah sebuah taman yang kini terbengkalai.
__ADS_1
"Pelangi" ucap Melvin dengan tatapan berbinar, rasanya ia ingin mendekap tubuh gadis malang itu, ingatannya kembali berputar kemasa 4 tahun lalu, saat Pelangi melangkah terseok seok meninggalkan Villa dengan segudang Luka yang ia pikul sendiri.
Pelangi mencoba tersenyum hangat, kini mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter.
Satu tangan Melvin terulur kedepan namun tak sampai menyentuh wajah Pelangi, ia mencoba menutup setengah bagian wajah pelangi hingga hanya memperlihatkan bagian mata wanita 19 tahun tersebut.
Deg..
Memang Pelangi, bukan tak percaya Melvin hanya ingin memastikan jika manik mata indah yang ia lihat dari seorang gadis pelayan yang kala itu mengenakan masker adalah benar benar Pelangi.
"Ada apa kak?"
"Pelangi Maafkan aku, maaf karena tidak mengenalimu, seharusnya aku tidak membawamu masuk kedalam keluarga ini" langkah pelan Melvin perlahan mengikis jarak antara dirinya dan Pelangi, hingga akhirnya Pria itu berhasil meraih tubuh Pelangi dan membawanya masuk kedalam pelukannya yang hangat.
Susah payah Pelangi menelan salvinya dan berusaha mengurai pelukan Melvin namun pria itu justru semakin mengeratkan dekapannya.
"Aku takut....." lirih pelangi pelan, dengan tubuh yang mulai bergetar, Yah pelangi memang selalu ketakutan jika ia terlalu dekat dengan seorang pria karena sisa trauma itu sesungguhnya masih membekas.
Melvin yang menyadarinya segera melepaskan tubuh Pelangi dan membiarkan wanita itu mengatur kembali ritme nafasnya.
"Ada apa Kak?kenapa kau minta maaf? Pelangi kembali bertanya.
"Kenapa kau menyembunyikan ini dariku Pelangi? Mengapa kau menutup fakta jika kau sebenarnya....gadis yang selama ini kucari cari" Melvin mengatakannya sambil memegang kedua bahu Pelangi.
Pelangi perlahan memundurkan tubuhnya, "Kau sudah tahu kak?"
Melvin hanya mengangguk dengan sorot mata yang berkabut, tangannya mengepal mengingat betapa keji perbuatan Daffin pada seorang gadis kecil yang kala itu masih berusia 16 tahun ditambah lagi ia menderita gangguan jantung sejak lahir.
"Aku baik baik saja sekarang" jawab Pelangi dengan bibir bergetar seraya menunduk dengan air mata yang terus berjatuhan, entah mengapa ia merasa tidak rela saat seseorang mengetahui aib masa lalu yang selalu ingin ia tutupi.
Sementara itu....beberapa menit sebelumnya...
Tubuh Ayu terasa lemas saat ia melihat pria pujaannya justru memeluk wanita lain yang wajahnya kini terbenam didalam dada bidang Melvin.
Namun saat wanita lain itu mengangkat wajahnya ia justru lebih kaget lagi, entah ia harus bersedih ataukah bahagia namun yang pasti langkahnya terus maju kedepan hingga akhirnya.
__ADS_1
"Pelangi....."
"Dokter Ayu...."