Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 75


__ADS_3

Puluhan pekerja yang mendiami rumah megah itu kini berbaris berdiri dengan perasaan gundah gulana. tak terkecuali Bi Ijah dan kara security yang berbadan kekar, petugas Cctv pun tak luput dari amukan Daffin.


Merasa merasa seperti seorang penghianat yang sudah digaji dengan jumlah yang besar tetapi malah patuh dan tunduk kepada orang lain.


sementara Pelangi yang melihat hal tersebut dari jarak yang Tidak terlalu jauh hanya bisa menggigit bibirnya, ia tidak pernah melihat Daffin semarah itu. Sebuah vas dan meja yang terbuat dari kaca sudah hancur berantakan. Daffin kecewa dengan kinerja bawahan yang ia bayar untuk melaporkan kondisi Pelangi tapi malah lebih patuh kepada Melvin.


Sebenarnya Daffin hanya butuh pelampiasan amarah.


Di dalam lubuk hatinya ia merasa bersalah luar biasa, diawal 3 bulan ia menjaga jarak dengan Pelangi Bi Ijah sering melaporkan kondisi Pelangi yang terlihat semakin pucat namun Daffin Acuh mungkin karena itu Bi Ijah lebih memilih Melapor hal itu kepada Melvin yang nampak sangat Peduli dengan nasib wanita malang itu.


Saat itu Daffin memang sangat terpengaruh dengan temuan Paula, ia benci melihat Pelangi yang justru tidak menampik kedekatannya dengan Satria kala itu.


Bahkan Daffin yang sudah sadar ia telah sembuh dari traumanya sempat berfikir melampiaskan hasrat kepada wanita lain namun tetap tak bisa, ia tak mengerti mengapa wajah Istrinya seakan memenuhi isi kepalanya.


"Maafkan kami Tu-an" Bi ijah terbata mewakili rekan rekannya untuk berbicara.


Pelangi yang tidak tahan melihat semua kekacauan Daffin melangkah perlahan mendekati suaminya itu. Bagaimanapun semua ini diawali dari dirinya. ia yang meminta Melvin merahasiakan segalanya.


"Tu-an"


" APA!!!" Sentak Daffin ketika ia menoleh tanpa mengamati siapa yang memanggilnya.


"Pelangi" Daffin.


"Nyonya" Sahut semua Pelayan hampir bersamaan, saking khawatirnya takut Pelangi juga menjadi sasaran kemarahan Daffin.


"Nyonya tidak apa apa?"


"Nyonya baik baik saja?"


Semua pelayan yang tadinya berbaris rapi seketika berhamburan kearah Pelangi menanyakan kondisi wanita hamil itu. Yah Melvin memang pernah berpesan untuk menjaga keselamatan Pelangi dengan nyawa mereka.


Daffin tercengang sebegitu khawatir nyakah para Pelayan dirumah ini kepada Pelangi? Padahal ia sama sekali tidak sengaja membentaknya.


Mereka berlaku seperti itu bukan tanpa sebab, salah satu pelayan mengenali Dokter Emy yang selalu datang memeriksa Pelangi sebagi Dokter ahli Jantung, karena itu beredar spekulasi diantara para Pelayan jika Pelangi mengalami sesuatu pada Jantungnya dan tidak boleh kaget. Padahal hal seperti itu sama sekali tidak berpengaruh bagi Pelangi.


Para Pelayan juga tak berani bertanya langsung kepada Pelangi sehingga mereka hanya bisa menjaga Pelangi semaksimal mungkin selain sesuai pasanan Melvin jika Pelangi tidak boleh beraktifitas berlebih para Pelayan juga menjaga Pelangi dari bunyi bunyian yang memekakkan Telinga termasuk yang baru saja terjadi.


'Apa hanya aku yang tidak tahu apa apa disini'? Daffin membatin sebelum menghampiri Pelangi.

__ADS_1


"Maafkan aku Pelangi, ku fikir kau salah satu dari mereka" Daffin mengusap lengan Pelangi, lalu melempar sorot mata membunuh ke arah para Pelayan yang perlahan beringsut mundur dan kembali berbaris dengan rapi.


"Tuan, mereka tidak bersalah pelangi yang bersalah, pelangi yang meminta Kak Melvin maupun para Pelayan untuk tidak menghubungi Tuan" Jelas Pelangi, sebagian ia telah berbohong, Pelangi memang meminta Melvin tapi tidak dengan para Pelayan, itu adalah titah Melvin.


Daffin mendesis seraya memejamkam mata Dalam, ia tak bisa melampiaskan kemarahan kepada Pelangi.


"Jangan membela mereka Pelangi!" Daffin meraih telapak tangan Pelangi dan hendak membawa istrinya itu kembali kekamar.


Setelah dikamar Daffin menelpon seorang sekertarisnya.


"Pecat semua Pelayan yang bertugas dirumahku, dan cari gantinya dari yayasan terbaik !" Tukas Daffin.


Sontak Pelangi yang tangannya masih digenggam Daffin meluruhkan tubuhnya kelantai, ia berlutut dan mendongak menatap Daffin penuh iba.


"Tuan jangan Pecat mereka, ini salah Pelangi" Pelangi menggosokkan kedua tangannya didepan dada.


"Pelangi? Apa yang kau lakukan? Berlutut demi Pelayan? " Daffin berusaha mengangkat bahu Pelangi tapi wanita itu enggan.


"Tuan, mereka adalah keluarga Pelangi selama 3 bulan ini, mereka menjaga Pelangi hingga masih bisa bertahan sampai sekarang ini "


"Pelangi! Sadari posisimu kau istri seorang Daffin Jaxton!Jangan merendahkan dirimu seperti itu" tukas Daffin , kali ini ia berhasil mengangkat tubuh Pelangi dan membawanya di tepian ranjang.


"Tidak Tuan" Pelangi menggeleng pelan" Pelangi hanya anak yatim Piatu yang ditinggalkan di panti asuhan, Pelangi tidak memiliki keluarga dan mereka yang tuan sebut Pelayan memperlakukan Pelangi melebihi keluarga"


"Pelangi tahu Tuan, tapi mereka...."


"Kalau begitu ada syaratnya" daffin menyela Pelangi dengan seringai licik di bibirnya, "Gugurkan anak itu!" tegas Daffin seraya menunjuk perut Pelangi. Terakhir kali ia meminta istrinya untuk melakukan prosedur itu Pelangi hanya terdiam, Daffin tahu Pelangi tidak bisa kehilangan anaknya tapi iapun tak bisa kehilangan Pelangi.


"Tuan," Pelangi membawa telapak tangan Daffin yang besar untuk mengusap Perutnya "Kata bunda siti saat usianya 4 bulan ia sudah ditiupkan ruh, ia memiliki nyawa sekarang sama seperti Tuan dan saya, Apa tuan bisa merasakannya? Didalam tubuh kecilnya mengalir darahku dan darah Tuan, lantas bagaimana Kita tega untuk membunuhnya? " Pelangi tak bisa menahan bulir bening yang jatuh dari matanya, cukup ia yang menjadi Bayi yang sama sekali tak pernah diinginkan, tapi tidak dengan anaknya, sementara saat melakukan aborsi yang pertama Pelangi tidak bisa mengelak usianya saat itu masih terbilang muda dan tak mengerti apa apa mengenai kehidupan.


Daffin dengan susah payah menelan salivanya, jika ditanya apa ia tega membunuh darah dagingnya sendiri? Maka jawabannya tidak.


"Tapi Pelangi...." Daffin membawa Pelangi kedalam pelukannya" Aku tak sanggup kehilanganmu" ia mengusap surai pelangi penuh kasih.


" Buktinya Pelangi masih hidup Tuan, tak ada yang lebih tahu kondisi tubuh ini selain Pelangi sendiri " ujar Pelangi, meski ia sebenarnya tidak yakin, akan tetapi meyakinkan Daffin saat ini jauh lebih penting.


"Apa alasan penyakit pula yang membuatmu kehilangan janin pertamamu?" Daffin masih memeluk Pelangi yang mengangguk lemah.


"Lalu mengapa kau tidak mempertahankannya saat itu?"

__ADS_1


Pelangi melerai Pelukan Daffin lalu menatap lamat lamat wajah rupawan dihadapannya.


"Karena aku mencintai ayah bayiku kali ini" Jawab Pelangi.


Deg...


Hening...


Daffin mengerjapkan matanya tak percaya, ia berkali kali menelan saliva.


Sial!


Mengapa rasanya sangat membahagiakan, Daffin menahan agar tidak tersenyum.


Pelangi tolong ulangi perkataanmu! Argghhhh dalam benaknya Daffin seakan jingkrak jingkrak tak karuan.


Entah sudah tak terhitung jumlahNya ia mendengar kata seperti itu terucap dari bibir wanita, tapi mengapa saat Pelangi yang mengucapkannya rasanya terdengar berbeda.


"Tapi Tuan.....cukup Pelangi yang memiliki perasaan ini, Tuan jangan, karena tuan berhak bahagia" lanjut Pelangi lagi.


"Bahagiaku adalah bersamamu Pelangi" Daffin kembali membenamkan tubuh Pelangi kedalam dekapannya.


.


.


.


"Apa apaan ini bukannya kita sudah sepakat?" Paula berdecak kesal, mengamati amplop coklat berisi uang 300 juta yang baru saja disodorkan Soraya kepadanya.


Paula mengirimkan uang DP tersebut ke rekening Soraya sebagai konpensasi atas kesediaannya untuk membantu menyingkirkan Pelangi dari dalam kehidupan daffin.


"Maafkan aku Nyonya, aku tidak bisa melakukannya, bagaimana mungkin aku membiarkan suamiku meminum obat perangsang dan mengurungnya bersama Pelangi di kamar Hotel? Itu.....arghh..aku tidak sanggup Nyonya." Soraya tidak menyangka rencana Paula akan selicik ini. Ia memang membenci Pelangi tapi menyerahkan


"Bukan seperti itu Bu soraya" Paula mulai memperbaiki duduknya, kini ia dan Soraya berada didalam sebuah ruangan privat salah satu restoran mewah di Jakarta.


"Kalau begitu kita tukar saja, Pelangi yang diberi perangsang dan Suami ibu yang diberi obat tidur, bagaimana? Tenag saja kita akan mengrebek mereka sebelum sempat melakukan apapun" Jelas Paula menggebu gebu.


"Tidak Nyonya siapa yang bisa menjamin kita lebih cepat, Bagaimanapun saya tidak setuju dengan rencana itu, saya tidak ingin melibatkan suami saya, saya tahu suami saya orang yang setia, ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Pelangi dan gadis manapun, walau itu tak cukup menghilangkan kebencian saya dengan Pelangi, Tapi dengan membiarkan suami saya bersama wanita Lain dalam sebuah kamar lalu perangsang? Obat tidur? Tidak tidak....itu sama saja saya yang mendorong suami saya ke jurang perselingkuhan Nyonya"

__ADS_1


"Maaf Nyonya, jika rencana Nyonya hanya untuk melabrak Pelangi mungkin saya setuju tapi tidak dengan rencana kali ini maaf saya harus pergi" Entah Soraya mendapat keberanian dari mana berani mengacuhkan seorang Paula Jaxton. Tapi tidak ! Jika rencananya seperti itu bahkan orang terkaya didunia pun akan ia tolak.


Paula mengerang kesal sambil memukul meja kuat, kini ia harus memutar otak lagi.


__ADS_2