
Pelangi duduk memeluk kedua lututnya didepan sebuah jendela yang terbuka lebar, letak mes yang sangat jauh dari mansion utama membuat suasana disini terasa begitu sunyi, yah semua penghuni mes pada pukul 6 pagi akan pergi ke mansion utama dan pulang ketika petang. Hanya ia seorang yang ditugaskan Paula tetap berada didalam Mes, Karena Paula memang tidak ingin mempertemukan Daffin dengan Pelangi untuk sementara waktu.
Wanita cantik itu nampak memijit lemah sekujur lengannya, dimana bekas lebam membiru sudah mulai memudar.
"Aku tidak melakukan dosa, aku melayani suamiku!" Gumamnya, mengingat ia sudah bergumul bersama Daffin tadi malam. Pelangi tercenung mengingat perkataan Daffin yang tidak bisa menyentuh wanita lain selain dirinya.
Tuhan benar benar adil, jadi selama 4 tahun pria bangsat itu sama sekali tidak bisa menyentuh wanita akibat perbuatannya kepada dirinya? Pelangi mengulum sebuah senyuman namun dengan cepat ia mendesah lirih, cukup Daffin yang jahat ia tak ingin menjadi lebih jahat lagi meski hanya dengan senyuman kepuasan. rasanya kebencian itu mulai perlahan menguap diudara. Yah perlahan tidak hilang namun masih tetap ada!
'Tuhan bukankah umurku sudah terlalu lama?' Pelangi membatin, sambil menatap beberapa lembar daun diluar jendela yang jatuh karena terpaan angin. Pelangi merasa hatinya mulai berdenyut nyeri kala mengingat kematian seperti saat masih memiliki Dokter Isyana dan Satria disampingnya.
.
.
.
"Aku di Mansion utama Vin, aku akan menggubungimu nanti"
Tut....
Daffin mengakhiri secara sepihak panggilan dari Melvin.
"Kau jatuh cinta padanya Daff???" tatapan Paula penuh kecurigaan, bagaimana tidak baru kali ini ia melihat putranya uring uringan hanya karena seorang wanita. Yah ia akui Pelangi memang memiliki wajah yang cantik.
Daffin kembali mendudukkan bokongnya diatas sofa sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Ibu! Aku punya tanggung jawab untuk menjaga Pelangi sampai masa waktu kami berakhir! Dan cinta? Cih...."Daffin berdecih seraya tersenyum sinis, " Cinta itu bodoh seperti ibu yang mencintai ayah yang jelas jelas menyimpan nama dokter isyana hingga akhir hayatnya , tapi kini aku tidak menyalahkan ayah lagi, karena melihat kelakuan ibu yang membiarkan Cleo masuk dan menyerahkan tubuh telanjangnya padaku, itu menjijikkan, pantas ayah jijik hingga akhir pada ibu" Daffin menyeringai, ia tak menyangka dua orang wanita itu menganggapnya bodoh dengan menjebaknya bersama Cleo.
"DAFFIN KAU!!!" Paula benar benar geram dibuatnya dengan penuturan Daffin putra kebanggaannya sendiri.
"Aku akan mencari Pelangi sendiri!" tukas Daffin meninggalkan sang ibu yang masih memendam amarahnya.
__ADS_1
.
.
Melvin menatap nanar wine berwarna merah didalam gelas yang ia genggam, ia baru tiba beberapa waktu lalu dan langsung memutuskan melepas dahaga dengan sebotol wine yang kini sisa setengah isi.
Ia sangat jarang menyentuh minuman beralkohol itu, beberapa koleksi alkohol di bar mininya hanya ditujukan untuk Daffin dan beberapa kolega yang kadang ia beri sebagai hadiah.
Daffin yang baru datang langsung duduk di samping Melvin seraya meneguk sisa wine didalam botol dan hampir tandas.
"Sial!" Umpatnya kesal entah ditujukan kepada ibunya, Cleo atau mungkin dirinya sendiri.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menemukan gadis 4 tahun lalu itu ?" Melvin bertanya tanpa menoleh kearah Daffin.
"Aku tidak membutuhkannya, Pelangi sudah menyembuhkanku"
Melvin menautkan kedua alisnya, Melvin memang ragu memberitahukan Daffin siapa pelangi sebenarnya ia takut saat mengetahuinya Daffin justru tidak akan pernah melepaskan Pelangi.
"Cleo Jalan* itu memberiku obat perangsang sehingga aku harus meniduri Pelangi" Jawab Daffin santai, namun saat ia hendak meneguk kembali wine langsung dari botolnya Melvin tiba tiba saja sudah menerjangnya dan menghadiahkan satu bogem mentah diwajah tampannya.
Pria dengan alis tebal dan rahang kokoh itu memegang kerah baju Daffin yang kini sudah tersungkur dilantai, nafasnya naik turun tak sanggup lagi menahan gejolak amarah yang mendengar penuturan Daffin yang tega meniduri pelangi untuk kedua kalinya.
"MELVIN!!!! APA APAN KAU?" hardik Daffin berusaha melepas cengkraman tangan Melvin dari lehernya.
"Binatang!!" Satu kata itu diucapkan Melvin dengan mata digenangi air mata.
Dengan susah payah akhirnya Daffin berhasil bangkit dan berdiri seraya memegangi kerah baju melvin, mereka berdua dalam posisi yang sama dengan sorot tajam membunuh di masing masing netranya.
"Brengsek kamu Vin, aku meniduri istriku!"
__ADS_1
"Kau yang brengsek daff, kau memperkosanya! Dia bukan istrimu lagi karena kupastikan akan membawanya jauh dari pria durjana sepertimu!!" Melvin mendorong kuat tubuh Daffin hingga pria itu terhuyung namun tidak sampai membuatnya terjatuh. Yah! sepertinya keputusan Melvin untuk tidak memberitahu Daffin sudah benar, ia takut alasan tanggung jawab akan dijadikan Daffin untuk menehan Pelangi disisinya.
'gadis malang itu' Melvin membatin.
"Jangan bodoh Melvin! Kau sadar sudah jatuh cinta kepada istri saudara sepupumu sendiri? Dia iparmu sekarang !" tegas Daffin yang sempat menghentikan langkah kaki Melvin saat hendak keluar apartemen, namun pria dingin itu hanya menyeringai lalu membanting pintu dengan kasar.
Brak....
beberapa kali menekan bell di depan apartemen Daffin namun Pelangi tak kunjung membukakan pintu. Akhirnya Melvin merogoh ponsel dari celana bahannya dan mengecek cctv yang terdapat didalam.
Hatinya bergemuruh tatkala mengecek rekaman semalam yang memperlihatkan bagaimana Daffin masuk kedalam kamar Pelangi lalu tak keluar lagi dalam waktu yang lama. alis Melvin kembali bertautan saat melihat Paula dan Cleo juga berada disana bahkan Paula menarik dengan paksa pelangi saat gadis itu baru keluar dari kamarnya dan hanya membawa dompet serta ponselnya.
Melvin cukup cerdik untuk memikirkan dimana Pelangi sekarang.
"Tante Paula!" yah hanya nama itu yang sanggup membawa Pelangi. Dan kemungkinan Paula juga menyembunyikan Pelangi dari Daffin melihat betapa suntuknya wajah pria itu tadi saat menenggak wine nya.
Sementara di dalam apartemen Melvin Daffin masih merutuki kebodohan Melvin yang mengejar wanita yang sudah ia tiduri, dan lebih parahnya lagi wanita itu sudah bukan perawan saat ia menyentuhnya.
Daffin hanya tersenyum sinis, ia tidak mungkin menyerahkan Pelangi begitu saja disaat hanya wanita itu yang sanggup membuat hasratnya bergelora bahkan ia tidak bereaksi ketika mencumbu Cleo yang tubuhnya jauh lebih menarik, entah ini nafsu atau cinta tapi Daffin janji tidak akan pernah melepaskan Pelangi!
Daffin kembali hendak meneguk winenya yang sisa sedikit saat netranya menagkap sebuah tas kecil usang teronggok begitu saja diatas meja bar , tepat dihadapan melvin duduk tadi.
Barang usang yang sangat kontras berada didalam apartemen elite seperti ini.
Tangan Daffin terulur mengambil tas itu lalu membukanya perlahan, sudah tak ada lagi obat obatan didalam sana karena melvin membuangnya, hanya ada dompet dan sebuah ponsel android kecil yang dalam keadaan aktif.
Dahi Daffin mengernyit saat membuka ponsel tersebut, ada foto pelangi yang mengenakan seragam putih abu abu seraya merangkul bunda siti. rasa penasaran Daffin membuatnya lebih dalam lagi membuka galeri ponsel tersebut, tak banyak foto yang terdapat didalam hanya beberapa buah yang memperlihatkan Pelangi bersama satria dan sepasang anak kembar serta beberapa anak panti lainnya.
Namun satu hal yang ditangkan Daffin dari semua foto itu ' senyum Pelangi ' wanita yang kini menjadi istrinya itu tersenyum bahagia disetiap potretnya sangat berbanding terbalik dengan wajah sendunya sekarang.
"Aku seperti melihat dua orang yang berbeda" Daffin bermonolog.
__ADS_1