Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 104


__ADS_3

Sesuai dugaan Melvin ternyata Pelangi kini sudah kembali ke jati dirinya yang sebenarnya, ia tak lagi menggunakan nama Pelangi melainkan Ayleen Hakan dan menggunakan pasport yang sama dengan kewarganegaraan sang ibu.


Melvin tak langsung menyusul Pelangi, ia membiarkan wanita itu menjalani kehidupan barunya asalkan tahu Pelangi baik baik saja ia sudah puas meski kondisi mengenaskan Daffin terus mengusik relung hatinya.


Melvin juga sudah menerima kabar jika orang yang menggunakan donor Pelangi adalah Ayleen sendiri.


Sejak tak bisa lagi menemukan Pelangi dan mendengar kabar transplantasi Jantung gadis turki itu berhasil, jiwa Daffin sudah benar benar meninggalkan raganya, hidup segan mati tak mau menjadi pilihan yang dilalui Daffin, ia tak lagi terlibat dalam urusan Hotel dan menyerahkan segalanya kepada Risman dan Melvin yang sudah kembali bekerja.


Kini daffin memilih menjauh dan tinggal di sebuah bangunan tua tempat Pelangi dibesarkan dulu.


"Plak" Satu buah mangga yang gagal melawan gravitasi menimpa kepala Daffin, namun pria berambut sebahu dengan brewok tak karuan disekitar wajahnya itu bahkan tak meringis.


Ia hanya mendongak tanpa ekspresi lalu bangkit dari tidur panjangnya diatas rerumputan hijau yang selalu berhasil memberinya kenyamanan, yaj Ia teringat Pelangi yang pernah bercerita ia selalu nyaman berbaring di halaman panti ini.


"Sorry kak....gak sengaja" Triak Dandi melihat kebawah dan menatap punggung Daffin yang perlahan bergerak menjauh.


Pemuda yang baru saja selesai ujian Akhir SMA itu kemudian melompat turun dengan satu buah mangga setengah matang ditangannya yang nampak beberapa bekas gigitan disana.


"Ish....ish...." Dandi menggeleng pelan, sudah setahun Daffin tinggal bersamanya dipanti ini. Kondisinya begitu memprihatinkan saat kali kedua pria yang sudah berusia 30 tahun itu kembali mengijakkan kakinya lagi disini.


"Aku suami Pelangi" Akunya jujur saat itu, ia langsung menghadiahi segepok uang kepada Dandi sebagai uang sewa.


Tak lama kemudian Risman melakukan Vidcall kepada Dandi dan menjelaskan siapa sebenarnya Daffin, ia berharap Dandi bisa mengurus Daffin selama tinggal disana.


Semua orang bersyukur setidaknya Daffin masih ingin melanjutkan kehidupannya meski tanpa semangat sedikitpun.


"Astaga Kak Pelangi cepatlah kembali, kondisinya semakin memprihatinkan" Gumam Dandi dengan gelengan kepala, ia lalu berjalan masuk kedalam Panti dan kembali mendapati Daffin tengah duduk diteras seraya menatap kosong.


Selama belum mendapatkan kabar mengenai Kematian Pelangi ia pèrcaya istrinya itu hidup bahagia dibelahan bumi lainnya, namun jika ia menemukan kabar sebaliknya maka Daffin bersedia mati dengan memilih cara kematian paling menyakitkan. Itulah alasan mengapa sampai sekarang ia masih memegang nyawanya.


Dandi melewati Daffin begitu saja, karena sebanyak apapun ia berbicara Daffin hanya akan membalasnya dengan deheman saja.


"Ini kak" Setelah masuk Dandi kembali keluar dengan sepiring nasi goreng yang ia buat untuk sarapan tadi pagi, ironis melihat Daffin yang tak menyentuh sarapannya padahal sudah menjelang siang.


Dandi meletakkan nasi goreng itu dihadapan Daffin, Sekilas Daffin hanya melirik lalu kembali menatap jauh, Memang tampilan nasi gorengnya sangat sederhana tak ada Seafood atau sosis mahal seperti yang biasa dihidangkan dirumahnya, hanya nasi putih berpadu dengan kecap dan daun bawang, namun bukan itu yang membuat Daffin tak selera, ia akan makan hanya ketika ingat.


"Ini nasi goreng yang paling sering dimasak kak Pelangi" Dandi menatap sendu sepiring makanan yang tak disentuh Daffin itu.


Mendengar nama sang istri disebut atensi Daffin kembali ke arah nasi goreng sederhana dihadapannya.


"Panti ini tak banyak donatur karena letaknya yang jauh dari pusat keramaian, kami sangat jarang makan enak hanya ketika ramadhan saja saat orang orang berbondong bondong untuk menyumbang, bagi anak panti makanan ini sangat Enak karena itu kak Pelangi paling suka membuatnya untuk sarapan" Terang Dandi dengan fikiran yang seakan melukiskan saat saat sebelum bunda siti meninggal dan anak panti masih lengkap.


"Ah....istriku..." Gumam Daffin lalu mengambil sesendok demi sesendok suapan nasi goreng itu hingga habis tak bersisa, meski bukan Pelangi yang masak namun Daffin seakan bisa merasakan cinta dari setiap suapannya, ia menikmati makanan itu dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


"Huhfh.... .." Dandi menghela nafas panjang, ia lalu mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar Daffin secara diam diam lalu mengirimkannya ke Risman.


"Tuan, saya takut melihat kondisi Tuan Daffin" sebuah pesan diketik bersamaan dengan terkirimnya foto Daffin.


Risman hanya bisa mendesah melihat kiriman foto Dandi, Ia begitu prihatin dengan kondisi Daffin sekarang, Paula pun tak kalah cemasnya dengan keadaan sang putra.


Risman memang mengirimkan setiap Foto dari Dandi kepada Paula, bukan untuk menghukum wanita tua itu dengan rasa bersalah hanya sebagai pengobat rindu karena Daffin benar benar menutup akses komunikasinya dengan siapapun ternasuk Risman, Melvin dan Jhon.


"Paman rasa 1 tahun sudah cukup menghukum Daffin, lama lama anak itu bisa mati tanpa arah" Ujar Risman seraya meletakkan ponselmya diatas meja rapat.


Pèrtemuan sudah selesai 30 menit yang lalu, hanya tingga Risman dan Melvin sajaa didalam ruangan rapat itu memeriksa beberapa berkas hasil persentase para manajer hotel.


Melvin menarik diri dari kesibukannya, iapun berfikiran sama tapi mau bagaimana lagi, rasanya ia tak tega melihat Pelangi sudah bahagia disana.


Melvin sempat menyusul ke Turki, sebuah desa yang menjadi tujuan wisatawan asing menjadi tempat yang dipilih Eshaq mengasingkan sang putri dan cucu cantiknya.


Melvin tak berani mendekat, seminggu disana ia hanya melihat dari kejauhan bagaimana Pelangi berinteraksi dengan sang putri di balkon kamarnya, Rona bahagia selalu menghiasi wajah cantiknya seakan menggambarkan kehidupan bahagianya bersama keluarga besar Hakan.


'Pelangi berhak bahagia!'


Tapi bagaimana dengan Daffin, pria itu sangat terpuruk.


Melvin hanya menghubungi Eshaq kala itu, dan pria tua itu meminta agar tidak mengganggu putrinya lagi.


"Paman biarkan pelangi bahagia" ucap Melvin pada Risman


"Dan Daffin seperti itu? Kau tidak kasihan padanya"


"Entahlah paman, aku kasihan pada keduanya" bukan tanpa usaha Melvin untuk membantu sepupunya itu ia bahkan selalu berbagi informasi kepada Eshaq mengenai Daffin namun pria tua itu acuh tak perduli, asal putri dan cucunya bahagia yang lain mau jungkir balik pun bukan urusannya.


.


.


.


"Daddddy....mommmmy....." kata kata itu menjadi kata pertama yang diucapkan Baby Reinara azalea Jaxton sejak usianya 7 bulan dan kini hampir setahun, itu artinya sudah 5 bulan bayi Rei begitu Pelangi memanggil putrinya mengulang kata kata itu.


yah Pelangi tetap menyematkan nama ayah kepada sang putri, dan Eshaq tak bisa tak bisa menolaknya seorang perempuan membutuhkan perwalian dari sang ayah.


"Kau tak ingin memberikan Ayah untuk Reinara?" tanya Eshaq tiba tiba saat melihat sang putri dan anaknya bermain diatas permadani mewah dengan corak khas turki.


"Rei sudah memiliki ayah" Pelangi tersenyum kepada pria dengan uban yang hampir menghiasi seluruh kepalanya itu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Balian?Ayah liat dia perhatian kepadamu dan Rei"


Mendengar pertanyaan Eshaq sontak Pelangi menghentikan aktifitasnya, boneka barbie pemberian Balian untuk Rei diam tak bergerak ditangannya padahal tadi ia sibuk mengisi suara boneka itu untuk menghibur Reinara.


Pelangi menatap lekat sang ayah, ia tak akan bertanya ' Apa maksud ayah' karena paham betul tujuan dari pertanyaan itu, dikeluarga besar Eshaq pernikahan dengan sesama kerabat memang sudah bukanlah hal yang tabuh, bahkan ibu Balian yang merupakan adik kandung Eshaq menikah dengan pamannya sendiri, yakni sepupu ibunya. Hanya Eshaq seorang yang memilih menikah dengan wanita yang berasal dari negara berbeda.


"Ayah...." Pelangi menggantung ucapannya, dikepalanya masih menari wajah Daffin, pria yang pernah menyakiti sekaligus mencintainya, ia tak tahu kabar suaminya itu sekarang ia hanya berharap Daffin hidup bahagia bersama Cleo wanita pilihan ibunya, Setiap hari Pelangi merindukan pria itu hanya saja ia tak ingin menyiksa dirinya, cukup menyebut nama sang suami dihadapan Tuhannya pelangi merasa sudah mengobati kerinduannya, setiap rasa itu muncul lagi maka Pelangi melakukan hal yang sama bahkan terkadang disertai deraian air mata.


"Aku belum bercerai dengan Daffin Jaxton, sampai sekarang statusku masih istrinya, meski ia sudah memiliki istri yang lain tetap tak bisa merubah statusku" Lanjut Pelangi lagi.


Eshaq merasa bersalah karena tak pernah memberitahu kondisi Daffin yang sebenarnya, Ia membiarkan Pelangi terluka dengan mengetahui kenyataan yang tidak sebenarnya, wanita mana yang tidak terluka memikirkan bagaimana Suaminya berbagi ranjang dengan wanita lainnya.


"Yang ia nikahi bukan Ayleen Hakan" lirih Eshaq, berusaha mengaburkan hukum yang berlaku.


"Pelangi atau Ayleen adalah orang yang sama"


"hufhtttt....." Eshaq menghela nafas panjang, "Kau merindukannya?" tanya Eshaq.


"ia suami dan ayah dari anakku"Jawab Pelangi lalu kembali memainkan Barbie ditangannya.


Lagi lagi Eshaq menghela nafas. 'Dua orang yang saling menyiksa' batin Eshaq.


Pembicaraan mengenai Balian sudah tak pernah diungkit Eshaq lagi selama berhari hari ini, Pelangi berharap bisa selamanya karena ia tahu sepupunya yang kini melanjutkan study S2 nya itu telah memiliki kekasih, adapun perhatiannya selama ini kepada dirinya dan Rei hanya sebatas perhatian kerabat dan tidak lebih.


.


.


Eshaq,Pelangi dan Baby Rei tengah menghabiskan waktu bermain di ruang keluarga saat Bell didepan terdengar berbunyi.


Pelangi yang gegas sudah bisa menebak sosok dibalik pintu itu, ia sempat menoleh kearah jam dinding besar yang bertengger diruang tamu.


Jam kunjungan Balian, pemuda itu pasti membawa hadiah untuk Reinara lagi, entah sudah berapa lemari yang penuh akibat ulah pemuda itu, meski Pelangi sudah melarangnya namun ia tetap kekeuh demi sang keponakan tercinta.


Krekk....Pelangi membuka pintu dengan senyum termanisnya, namun sepersekian detik air wajahnya berubah, entah bahagia dan sendu seakan menyerang bersama, dua orang yang saling bergandengan mesra menatapnya penuh binar kesedihan.


Sosok wanita dengan perut sedikit mencuat dari dressnya yang ngepas dibadan mengingatkan Pelangi akan kondisinya ketika hamil muda, mungkin usianya sekitar 4 bulanan, sementara sang pria sudah mengusap ujung matanya yang basah.


"Pelangi" ucap keduanya bersamaan, wanita hamil itu langsung menghambur dan memeluk Pelangi erat dengan lelehan air mata, begitupun Pelangi ia terisak lirih mendapati seseorang dari masa lalu yang sudah ia tinggalkan setahun lebih di Indonesia, sebuah negara yang sudah memberinya kehidupan.


Dan sang pria itu mengusap pucuk kepala Pelangi seperti yang biasa ia lakukan dulu, namun kali ini Pelangi sudah tak bisa lagi melihat kilatan cinta dari sorot matanya, hanya ada rasa sayang dan iba beradu menjadi satu.


"Dokter Ayu, kak melvin" Sebut Pelangi dalam isakannya.

__ADS_1


__ADS_2