
Dua bulan sudah berlalu namun Daffin dan Melvin sama sekali tidak bisa memgetahui siapa sosok dibalik pergerakan akun bank milik Jaxton Hotel tersebut. Jhon pun dibuat kelimpungan karena pihak Bank tidak bisa diajak kerja sama dalam hal ini, alasan nasabah Prioritas membuat mereka melindungi akun tersebut, meski yang memintanya adalah Daffin Jaxton sekalipun.
Sebenarnya mudah bagi Jhon meretas situs Bank, tapi itu terlalu berbahaya, sistem keamanan bank bisa dengan mudah menemukannya hanya beberapa menit setelah peretasan dan jika itu terjadi tentu ia akan mendekam dibalik jeruji besi karena tindakan kriminal.
"Berapa lama Tuan di Bali?" Tanya Pelangi yang tengah duduk di kursi Roda elektriknya seraya mengamati Daffin yang tengah mengenakan kemejanya.
Pelangi memang harus selalu berada diatas kursi Roda selama 2 bulan ini, kini usia kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan.
Ia benar tak diijinkan melakukan aktifitas berat bahkan untuk sekedar berjalan didalam rumahnya sendiri.
"Sore aku pulang" Daffin kini sudah berlutut dihadapan Pelangi dan mengecup perut istrinya yang membuncit itu dan lanjut memberikan luma*tan kecil di bibir Pelangi, hanya sebatas itu karena aktifitas Ranjangpun sangat dibatasi oleh dokter karena hal trrsebut bisa memicu jantung bekerja lebih ekstra.
"Maaf" lirih Pelangi, lalu membuang pandangannya kesamping sesaat setelah pagutan mereka terlepas.
Pelangi merasa sama sekali tidak berguna sebagai istri, Daffin bahkan tak bisa menyalurkan hasratnya melalui istrinya sendiri.
Daffin sudah jujur kepada Pelangi jika Traumanya sudah sembuh total, namun ia berjanji kepada istrinya tidak akan menyentuh wanita manapun lagi selain wanita cantik yang duduk dihadapannya kini.
"Hei...hei..." Daffin menangkuk kedua pipi Pelangi yang nampak semakin tirus, jika wanita hamil biasanya mengalami kenaikan berat badan maka tidak bagi Pelangi. "Jangan pernah berfikiran macam macam, aku bahkan melakukan permainan Solo selama 4 tahun, menunggu hingga kesembuhanmu pasca melahirkan bukanlah hal yang lama bagiku" Ujar Daffin.
"Iya Tuan" sendu Pelangi, Daffin lalu mengecup kedua kelopak mata Pelangi dengan lembut, "Perjalanan kali ini menggunakan jet pribadi jadi akan kuusahakan untuk tidak menginap, oh iya beritahu Pelayan agar menghubungi Jhon jika terjadi apa apa, karena Melvin sepertinya sangat sibuk akhir akhir ini" jelas Daffin. Tentu hal itu hanya sebuah Alasan, jika dulu Daffin hanya bisa mempercayai Melvin untuk menjaga Pelangi namun tidak kali ini, ia berharap Jhon juga bisa diandalkan layaknya Melvin.
"Baik Tuan" ucap Pelangi sembari tersenyum, ia mengantarkan Daffin hingga pintu utama, Barulah saat didepan Daffin memyerahkan kursi roda Pelangi setelah sebelumnya kembali membenamkan kecupan hangat pada pucuk kepala istrinya itu.
__ADS_1
9T
"Nyonya hari ini ada jadwal pemeriksaan, Dokter Emy memberi kabar apa Nyonya mau ke Rumah sakit atau didatangi" Rena mengintrupsi Pelangi yang masih menatap kearah halaman depan yang sudah kosong, mobil yang baru saja membawa Daffin kini sudah tak terlihat lagi.
"Kita kerumah sakit saja ya, aku sudah lama tidak melihat dunia luar" ucap Pelangi, karena selama 2 bulan ini ia selalu menjalani pemeriksaan di rumah, namun bukan berarti Daffin tidak memberi ijin, dua hari yang lalu Pelangi sudah meminta ijin dan menyetujuinya.
"Baik Nyonya kalau begitu saya akan menghubungi Tuan Melvin" Rena mengambil ponsel dari saku kemejanya, namun belum sempat ia menekan layar ponselnya, Pelangi memegang lengannya.
"Hubungi Jhon saja, Kak Melvin sepertinya sedang sibuk Heem" Pelangi berujar penuh kelembutan, inilah yang membuat Semua Pelayan dirumah ini begitu menyayangi Pelangi, wanita itu sangat lembut meski hanya kepada Pelayan.
"Jhon?" Alis Rena bertautan padahal bunyi pesan Melvin adalah mengingatkan jadwal periksa Pelangi, dan ia minta dikabari jika Pelangi memutuskan untuk kerumah sakit. " Biasanyakan Tuan Melvin nyonya?"
"Tuan Daffin yang bilang tadi" Terang Pelangi lagi
Kini Rena mengerti, sudah menjadi rahasia umum dikalangan Pelayan jika Perhatian Melvin memang lebih dari sekedar Ipar maupun bawahan kepada istri atasannya.
Dirumah sakit Pelangi dikejutkan dengan kehadiran Paula secara tiba tiba yang menghalangi iring iringannya.
Paula tersenyum sinis melihat berapa banyak yang mengantar Pelangi ke rumah sakit. Lagak wanita itu memang sudah seperti seorang Nyonya Besar.
Ani dan Rena berusaha melindungi Pelangi, sementara Jhon terlihat santai seraya menunduk hormat kearah Paula, dan jangan lupakan seorang supir dan dua orang bodyguard yang khusus ditugaskan melindungi Pelangi.
"Wah wah....aku kira yang keluar dari ruang pemeriksaan ini adakah seorang Ibu Negara," sarkas Paula.
__ADS_1
Pelangi memberi kode kepada para pelayannya agar bersikap biasa saja.
" Apa kabar Nyonya? " sapa Pelangi pelan.
" Baik..." Singkat Paula, ia lalu mengambil alih kursi Roda Pelangi dan mendorongnya perlahan. Sebelumnya Jhon sudah mencegah namun Pelangi berkata tidak apa apa.
"Aku ingin berbicara berdua dengan Menantuku,bisa kan?" Paula memindai seluruh wajah pengawal Pelangi.
"Bisa Nyonya" Jawab Pelangi seraya tersenyum, "Aku akan berbicara dengan Ibu Tuan Daffin." Pelangi mencoba memberi pengertian kepada para pendampingnya.
Lagi lagi Paula mencibir didalam hati, ia tidak suka melihat kelembutan Pelangi kepada para pelayan, ini membuktikan jika ia memang tidak pantas mendampingi Daffin , kelas Pelangi terlalu Rendah.
"Aku bisa berjalan Nyonya" Pelangi meninggalkan kursi rodanya dan berjalan bersisian dengan Paula menuju sebuah taman. Mereka duduk disebuah bangku panjang dibawah pohon Akasia.
"Daffin begitu perhatian padamu tapi mengabaikan ibunya sendiri cih...."gumam Paula yang masih bisa didengar Pelangi, ia ingat mengirim pesan kepada putra tunggalnya itu mengenai asam lambungnya yang tiba tiba naik sehingga harus kerumah sakit, tapi jangankan dijenguk pesannya bahkan tidak dibaca sama sekali. tapi demi sang istri Daffin bahkan rela membayar orang banyak hanya untuk mendampinginya.
"Maafkan aku Nyonya, apa Nyonya tengah sakit?" tebak Pelangi dari gerutuan dan kehadiran Paula yang tiba tiba berada dirumah sakit.
"Iya Aku sakit dan putraku mengacuhkanku!! Kau puas?" Hardik Paula, ia lalu melirik semua pendamping Pelangi yang dalam keadaan stanby tak jauh dari tempat ia dan Pelangi duduk. Ia tak mungkin berbuat kasar kepada Pelangi dan membuat Daffin semakin membencinya.
"Pelangi...." Panggil Paula dengan senyumannya yang terlihat dipaksakan, " bisakah aku meminta sesuatu sebagai seorang ibu?" paula meraih tangan Pelangi dan memggenggamnya erat. Yah ia yakin kekerasan dan segala macam ide licik yang ada dikepalanya tidak akan pernah bisa membuat Daffin meninggalkan Pelangi.
Melihat sifat Pelangi, Paula tahu wanita hamil itu sebenarnya sangat polos, baik hati, dan penurut, namun itu semua tidak cukup untuk membuatnya menyukai Wanita pilihan mendiang suaminya tersebut sebagai menantu. Bagaimana pun Alex memilih Pelangi kerena Dokter Isyana.
__ADS_1
"Apa itu Nyonya" Pelangi tersenyum kikuk.
Dan tiba tiba saja Paula berwajah sendu dan mulai menceritakan keluh kesah dan permintaannya.