
"Tuan, Nyonya sedang sakit, ia baru saja mengirim pesan" Sekertaris Daffin yang duduk di samping supir memberitahukan.
Mereka baru saja tiba dari Bali dan tengah menuju Pulang.
Daffin memang memblok semua akses dari sang ibu sehingga wanita itu harus mengirim pesan kepada sekertaris sang anak. Karena menghubungi Melvin dan Jhon juga percuma bagi Paula, Daffin tak kunjung datang.
"Nyonya?" Daffin yang duduk sendiri di belakang tersentak, ia menegakkan punggungnya.
"Iya Tuan, Nyonya Paula Jaxtòn ibu anda" ucap sekertaris Daffin.
"Oh.." hanya jawaban itu yang keluar dari bibir Daffin, lalu kembali terlihat santai.
"Iya -Tuan......." Sang sekertaria kembali membaca pesan di ponselnya yang baru masuk " Tuan, Nyonya Besar kembali mengirim pesan, katanya Tuan harus mengajak istri Tuan untuk peresmian Tower Jaxton"Jelas sang sekertaris, ia sengaja menambahkan kata Besar dibelakang Nyonya karena Daffin tadi sempat bingung antara istri dan ibunya.
Alis Daffin berkerut, tidak biasanya Paula meminta Pelangi mendampingi dirinya di acara resmi seperti itu.
Biasanya Cleo sudah ada ditempat acara bahkan tanpa persetujuannya sekalipun.
Daffin berfikir mungkin ini waktu yang tepat memperkenalkan Pelangi pada public, apalagi istrinya itu tengah hamil, akan jadi sebuah berita besar agar pada gadis berhenti mengejarnya.
Jujur selain Cleo, Daffin memang masih banyak menerima pesan tidak penting bernada menggoda dari para wanita.
"Katakan pada ibuku aku menyetujuinya"
"Baik Tuan!"
.
.
.
"Apa kau tahu Pelangi tugas seorang istri CEO?"
Pelangi menggeleng, ia belum paham maksud dari intro pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Aku lahir dari seorang keluarga berpendidikan, Ayahku seorang wakil Mentri sedangkan ibuku Desainer kebaya ternama, aku dididik bagaimana menjadi seorang istri Bos besar, karena keluargaku dengan keluarga mendiang suamiku memang memiliki perjanjian akan menjodohkan anak anak mereka, setelah menjadi seorang Jaxton aku banyak mendampingi suamiku keberbagai acara dan berusaha agar tak membuatnya malu" jelas Paula panjang lebar.
Mendengar hal tersebut pelangi menarik sebuah kesimpulan, jika ia yang seorang anak panti asuhan nyatanya tidak layak mendampingi Daffin Jaxton, ia tak memiliki latar belakang keluarga yang mumpuni, meski ibu angkatnya seorang Dokter yang dipandang tinggi di kalangan masyarakat menengah kebawah, nyatanya bagi konglomerat itu tidak ada apa apanya.
Hati Pelangi mencelos mendengar penuturan sang mertua, inilah alasan utama mengapa ia selalu merasa insecure disamping Daffin.
Pelangi berfikir jika hal inilah yang membuat Daffin selalu membutuhkan Cleo untuk mendampinginya diacara acara penting.
"Aku tahu Daffin tak pernah mengajakmu ke acara resmi, maafkan putraku yang mungkin malu mengenalkanmu pada hayalak ramai dan lebih memilih Cleo" Sendu Paula penuh kepura puraan, dan Pelangi Tahu jika Paula berusaha menyadarkan dimana Posisinya.
"Tidak apa Nyonya, saya sadar diri" Pelangi tertunduk, beban yang selama ini ia pikul menjadi istri Daffin semakin bertambah, "Maaf karena saya bukan seorang menantu idaman, maaf karena saya hanya berasal dari panti asuhan dan telah lancang mengandung Anak dari seorang Daffin Jaxton" lanjut Pelangi lagi.
Seketika Paula menelan Saliva, ia manusia biasa yang masih punya hati, rasa iba itu ada tapi rasa bencinya masih lebih besar, sehingga bisa dengan cepat mengubah ekspresinya.
"Bukan itu maksudku Pelangi, aku justru ingin memberimu kesempatan dan meminta Daffin mengajakmu ke peresmian Tower Jaxton yang baru selesai, bagaimanapun kau harus ikut serta melakukan tugas sebagai seorang istri CEO" Paula tersenyum miring.
Pelangi mengusap air matanya dengan punggung jari, tatkala mengingat perbincangannya dengan Ibu mertua yang sampai kapanpun tak akan pernah menerima kehadiran dirinya.
"
Nyonya...., jika tak bisa menerimaku bisakah Nyonya Menerimanya" Pelangi membawa tangan Paula mengusap perut buncitnya.
Jantung paula seakan berhenti berdetak kala merasakan pergerakan halus di dalam perut Pelangi, ia menatap menantu cantiknya dengan pandangan berbinar.
Meski fikirannya ingin menolak kehadiran sang cucu namun tak bisa dipungkiri ada rasa haru yang merasuk kedalam hatinya.
"A-pa jenis kelaminnya?" Paula terbata lalu menelan saliva.
Sial mengapa ia merasa ribuan kupu kupu seakan berterbangan didalam hatinya.
"Perempuan" Jawab Pelangi sambil tersenyum.
'Ah setidaknya dia masih menerima kehadiranmu nak' Batin Pelangi seraya mengusap perutnya, Meski Paula tak mengiyakan namun Pelangi bisa melihat kasih sayang melalui Sorot mata mertuanya.
Siapa yang butuh pengakuan? Asal mereka menerima anaknya saja Pelangi sudah sangat bahagia, Toh tak ada yang menjamin setelah melahirkan masihkan jantungnya akan berdetak atau tidak.
__ADS_1
"Mengapa tak menyambutku Hemm?" Daffin tiba tiba muncul di ambang pintu beranda kamar.
Pelangi yang tengah menikmati waktu seraya memutar kilas balik pertemuannya dengan Paula menoleh dan tersenyum pada Suaminya.
"Maaf Tuan, Pelangi tidak menyangka Tuan akan kembali secepat ini" Jawab wanita cantik itu seraya melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya yang baru menunjukkan pukul 3 sore.
Kini Daffin sudah meraih tubuh Pelangi dan mengangkatnya ala bridal Style menuju tempat tidur.
"Apa Tuan tidak lelah?"
"Lelahku sirna saat melihat wajah istriku" Daffin lagi lagi mengecup bibir istrinya sebelum membaringkan tubuh ringkihnya diatas kasur lalu menyelimutinya.
Daffin membuka kemejanya terlebih dahulu lalu ikut berbaring disamping Pelangi. Membawa tubuh istrinya masuk kedalam dekapan hangatnya.
Hampir sehari tak melihat wajah Pelangi Daffin sudah begitu dilanda kerinduan.
"Pelangi....Bulan depan kita Ke Amerika, kau akan melahirkan dan menetap disana bersamaku"
Daffin memang meminta rekomendasi Dokter Emi agar Pelangi menjalani tranplantasi denegara paman Sam tersebut, ia ingin menikmati masa masa kehadiran malaikat kecilnya berdua bersama Pelangi di negara nun Jauh disana. Tak ada Paula, Cleo, Melvin atau orang lain yang tidak suka melihat keutuhan rumah tangganya.
Tentu Daffin sudah mempersiapkan segalanya, ia bahkan membeli salah satu kondominium mewah di California, mungkin setahun atau dua tahun ia akan tinggal disana.
Pelangi menatap Lekat wajah kuyu suaminya, ia tahu Daffin lelah dengan segala pekerjaan dan perjalanan yang baru saja dilakukannya. Tapi disampingnya pria itu tetap menunjukkan kasih sayangnya. Pelangi bersyukur Daffin berubah lebih baik dan bisa menyembuhkan traumanya kepada pria itu.
"Pelangi bahkan belum pernah bepergian keluar Pulau Jawa" Tangan Pelangi terulur mengusap wajah lelah Daffin "Tapi Pelangi tahu, Amerika sangat jauh dia ada dibelahan benua yang lainnya, jika kita tinggal disana artinyanTuan meninggalkan pekerjaan dan Keluarga Tuan" Tetiba wajah Pelangi berubah Sendu.
"Huh.....Dulu bagiku Hotel Jaxton adalah segalanya, aku bahkan rela menikahimu demi saham 20 persen itu, tapi setelah menikah kini aku tahu jika Pelangi si gadis kecil ini ternyata jauh lebih Penting dari pada segalanya, Persepsiku tentang cinta ternyata tidak salah, Cinta itu masih tetap bodoh, terbukti aku merasa bodoh jika tengah merindukanmu"
"Pelangi, jika aku katakan bersedia meninggalkan segalanya demi hidup bersamamu maka percayalah, karena aku sungguh sanggup melakukan hal itu, tapi sayangnya aku masih membutuhkan Uang dari Hotel untuk membuatmu bahagia dan mencari donor jantung yang tepat untukmu" Daffin tersenyum lebar.
"Jangan fikirkan hal lain, selama disana aku tidak akan melalaikan pekerjaanku, Ada Melvin yang siap menghandle semuanya, dan Untuk Ibuku jika ia sudah bisa menerimamu maka ia bisa menyusul kesana."
"Tuan, mengapa kau memberikan kasih sayang sebesar itu padaku? "
"Mungkin karena aku mencintaimu, sangat mencintaimu" ini kali pertama kata kata itu begitu lancar terucap dibibir Daffin.
__ADS_1
Air mata Pelangi meleleh.
Sementara Daffin tak percaya, pengakuan itu akhirnya terucap dari bibirnya, rasanya ia ingin berteriak kepada seluruh pelayan dirumah ini betapa ia mencintai istrinya ini.