Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 47


__ADS_3

Daffin sengaja membuat Melvin menggantikan dirinya menghadiri makan malam bersama rekan bisnisnya, ia seakan tak rela pria itu pulang dan menemui Pelangi.


Sejak Pelangi pergi Melvin memang lebih banyak menginap di hotel Jaxton ketimbang pulang diApartemennya, sehingga ia baru tahu jika pelangi sudah kembali ke Apartemen melalui Daffin.


Klek...


Pintu terbuka, memperlihatkan ruang tamu bergaya klasik modern yang sangat luas dan mewah, ruang tamu tersebut memang menyatu dengan ruang makan dan dapur tanpa sekat, sehingga begitu masuk Daffin langsung disuguhkan pemandangan Pelangi yang tengah sibuk memasak didepan kompor listrik.


Tidak seperti saat bersama Satria, Pelangi kembali ke mode dingin tanpa semangatnya, ia menoleh sebentar lalu kembali mengaduk kepiting asam manis diwajan yang ia beli di supermarket tadi bersama Satria.


Daffin tersenyum tipis mengamati punggung pelangi lalu masuk kedalam kamar dan membersihkan diri, ia keluar dengan pakaian santai, celana selutut dipadukan kaos putih yang ngepas di badan memperlihatkan dengan jelas tubuh atletisnya.


Daffin melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 8 malam, ia tak percaya bisa pulang kerumah secepat ini.


"Kau memasak apa?" Tanya Daffin datar, ia duduk disalah satu kursi meja makan , diatas meja sudah terhidang nasi, sambel, dan cah kangkung, semua adalah masakan yang biasa dimasak Pelangi saat masih tinggal di Panti, ia memang selalu ditugaskan bunda siti didapur, karena bagi anak anak setiap yang dimasak Pelangi pasti rasanya sangat enak, bahkan ketika menerima pujian pelangi selalu bercanda dengan mengatakan "Mungkin darah seorang koki memgalir dalam tubuhku" kelakarnya saat itu.

__ADS_1


"Kepiting asam manis Tuan" Jawab Pelangi patuh lalu menghidangkan sepiring besar kepiting yang tadi dimasaknya.


"Kau mau kemana?" Daffin memegang tangan Pelangi saat wanita itu hendak meninggalkannya sendiri dimeja makan.


"Aku akan makan setelah Tuan" ujar Pelangi masih tanpa ekspresi.


Daffin menghela nafas kasar, " Kau istriku bukan pelayan" ketus Daffin, meski ia belum mau membuat Pelangi merubah panggilannya, karena ia sendiri bingung mau dipanggil apa selain Tuan.


Daffin menarik kasar tangan Pelangi hingga istrinya itu duduk dipangkuan nya.


"Tu-an" Pelangi terbata sambil berusah bangkit namun Daffin justru melingkarkan kedua tanganya erat di perut Pelangi, dengan wajah yang bersandar pada bahu Pelangi,menikmati aroma vanila yang menyeruak dari tubuh wanita itu.


"Apa aku menakutkan bagimu?"


"Maaf Tuan"Lirih Pelangi.

__ADS_1


"Jangan Takut,aku tidak akan melakukan apapun malam ini, biarkan seperti ini dulu"Daffin semakin mengeratkan pelukannya dan memikmati bau pelangi yang menurutnya sangat menenangkan, sejenak itu bisa sedikit melupakan rasa bersalahnya.


'Sial mengapa Melvin harus mengungkit gadis itu' Batin Daffin, tak bisa dipungkiri hatinya seakan beku dan butuh kehangatan saat ia kembali mengingat pembicaraannya dengan Melvin. entah mengapa Pelangi mampu mengingatkannya dengan gadis itu namun ia juga secara bersamaan ia juga bisa mengobati rasa bersalahnya.


"Apa ini?" Daffin meraba kalung yang dipakai Pelangi, sebuah untaian indah yang diberikan Satria sebelum mereka berpisah tadi.


"Ini ditemukan saat kamu pertama kali datang ke Panti" Jelas satria sambil mengalungkannya di leher Pelangi, Satria sudah mengganti talinya dengan Emas putih yang baru agar muat di leher Pelangi yang telah tumbuh dewasa tapi tidak dengan batu mulianya.


"Apa mungkin....." Ah rasanya Pelangi sangat ingin berhayal jika ini adalah pemberian orang tua yang tega membuangnya ke Panti asuhan.


"Mungkin saja nak, mungkin itu salah satu peninggalan orang tua Pelangi " Timpal Satria seraya tersenyum hangat, dan memeluk gadis kecil yang sangat ia sayangi itu.


"Ini....pemberian orang Tuaku" Jawab Pelangi Ragu.


Rasanya Pelangi ingin menangis memikirkan kemungkinan jika ia sebenarnya Memiliki keluarga yang utuh namun dengan tega membuang dirinya.

__ADS_1


"Oh...."Daffin hanya mengoho, ia sebenarnya masih ingin bermanja dengan gadis itu, namun kata orang tua yang disebut Pelangi membuat Nama Dokter Isyana tiba tiba terlintas dibenaknya, dan ia tidak menyukainya.


"Duduklah di kursi, dan temani aku makan" Titah Daffin penuh penekanan, dan Pelangi hanya bisa menuruti setiap kata yang terlontar dari mulut suaminya.


__ADS_2