Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 60


__ADS_3

Jika Daffin tengah berbunga bunga maka tidak bagi Pelangi, ia merutuki tingkah konyolnya yang langsung mencium pipi suaminya itu. Agar ia tidak bertanya lagi mengenai katup mekanik yang barusan didengarnya.


Memalukan! Hanya itu yang ia rasakan kini, hingga beberapa kali Pelangi mengacak rambutnya penuh rasa frustasi sambil duduk disebuah sofa dengan layar datar 50 inci dihadapannya yang dibiarkan dalam keadaan on.


Rumah besar Daffin yang baru dihuni oleh beberapa pelayan yang memiliki kediaman sendiri di Belakang, Ada seorang penjaga keamanan, dua orang Pelayan yang bertugas membersihkan rumah, Bi Ijah sendiri  hanya ditugaskan untuk masak dan mencuci, Sementara supir pribadi Daffin tidak tinggal disana. Untuk ukuran rumah sebesar itu jumlah pelayannya memang terbilang sangat sedikit karena Daffin tidak ingin Pelangi merasa tidak nyaman dengan kehadiran banyak orang dirumah itu. Ketika sudah lewat jam 12 siang maka pelayan yang boleh masuk di Rumah utama hanya Bi Ijah, dan saat ia sudah menyelesaikan masakan untuk makan malam maka pada pukul 6  petang Bi ijah sudah kembali ke kediaman belakang.


"Nyonya mengapa melamun?" Tegur Bi Ijah pada Pelangi yang terus menatap kosong pada layar tv 50 inchi yang on, Wanita itu hanya duduk di sebuah sofa sambil memeluk bantalan kursi, ia sangat butuh teman bicara namun terlalu malu untuk mengungkapkan apa permasalahannya.


"Ah tidak apa apa bi...pelangi hanya memikirkan__"


"Tuan Daffin??"  Tebak Bi Ijah saat Pelangi justru menggantung perkataannya.wanita paruh baya itu kini duduk disamping Pelangi.


"Iya bi" Pelangi tersenyum, ia memang selalu memikirkan soal ciuman dipipi itu.


"Mungkin nyonya sudah pernah dengar kalau bibi bahagia  melihat Tuan Daffin menikah, sesungguhnya itu benar benar tulus dari hati bibi. Bibi benar benar senang orang yang menjadi pendamping Tuan adalah orang yang sabar dan bisa mengimbangi Tuan, nyonya tahu sendirikan bagaimana Tuan Daffin terhadap....."


"Wanita?" Tebak Pelangi lalu tersenyum, seakan ia sudah tahu sepak terjang daffin dan menerima segala masa lalu pria itu.


"Iya Nyonya, tapi sekarang saya sudah melihat banyak perubahan dalam diri tuan Daffin, memang beberapa tahun belakangan ia hanya berkencan dengan satu orang saja, tapi bibi rasa hal itu tidak juga membuatnya bahagia, dan hanya bersama nyonya bibi bisa melihat perubahan air wajah Tuan menjadi lebih bersemangat dan bahagia" Jelas Bi ijah dengan seutas senyuman.


"Benarkah bi" Pelangi tersenyum getir, dari sudut pandang bi Ijah mungkin ia dan Daffin terlihat selayaknya pasangan suami istri yang bahagia. Namun pada kenyataannya Daffin hanya menganggap dirinya sebagai pemuas nafsu yang harus segera mengandung anaknya agar Pria itu bisa menahannya lebih lama, dan Pelangi yakin ketika pria itu sembuh ia pasti akan dibuang, namun satu keyakinannya yang kuat Mengatakan jika benar ia kelak memiliki anak Daffin pasti memperlakukan Darah dagingnya dengan baik, dan entah mengapa pemikiran itu membuatnya tenang.


"Ehem...." Daffin berdehem kuat menyaksikan perbincangan hangat Pelangi dan Bi Ijah dari belakang, pria itu berdiri sambil melipat tangan didada dan setengah bersandar pada dinding.


Ia merasa terpesona dengan Pelangi yang beebincang sambil sesekali tersenyum meski hanya sesimpul, bukan sebuah senyuman yang pernah ia saksikan di sebuah potret hape tua yang terdapat di Apartemen Melvin. Entah mengapa Daffin sangat ingin melihat wanita itu tersenyum lepas bahagia dan ia berharap menjadi orang yang bisa membuat pelangi kembali tersenyum seperti itu.

__ADS_1


"Tuan sudah Pulang" Bi Ijah dan Pelangi menoleh bersamaan, Bi ijah lalu kembali melihat sebuah Jam dinding dengan desain mewah yang terpatri masih menunjukkan pukul 3 sore, itu Artinya Daffin pulang lebih awal, dan ia sama sekali belum menyiapkan makan malam. Padahal menurut aturan rumah baru yang ditetapkan Daffin semua Pelayan harus kembali kekediaman belakang saat ia pulang dari Kantor, dan biasanya ia sampai dirumah pukul 6 petang.


"Kami akan makan malam diluar" Ujar Daffin yang kini berjalan mendekati Pelangi yang terus menunduk sambil memainkan kuku kukunya. Ia seakan tahu isi kepala Bi Ijah.


"Baik Tuan, kalau begitu bibi pamit ke kediaman Belakang" Bi ijah undur diri, meninggalkan Pelangi dengan segala ketakutan dan kegugupannya.


Daffin duduk lalu berbaring di pangkuan Pelangi.


"Tuan" Lirih Pelangi, seraya menarik kedua tangannya agar tidak menyentuh kepala Daffin yang kini berada dipangkuannya.


"Aku lelah, biarkan seperti ini dulu" Daffin menyamping dan memeluk pinggang pelangi, menghirup aroma istrinya yang seakan membawa ketenangan dalam fikirannya yang harus mengurusi ratusan unit hotel yang tidak hanya berada di Indonesia melainkan dibeberapa negara Asean lainnya.


Pelangi menelan saliva dengan kasar, matanya berkaca kaca melihat tingkah Daffin yang semakin hari semakin membuatnya bingung. Ia berharap Daffin kembali menjadi pria dingin yang selalu menganggapnya sebagai wanita ******, dari pada Daffin yang yang senantiasa menunjukkan sisi lemah dihadapannya. Pelangi takut hatinya Goyah dan malah memiliki perasaan yang tidak seharusnya, mengingat Daffin adalah pria yang seharusnya paling ia benci. Dan entah mengapa rasa benci itu perlahan menguap.


"Tidurlah Tuan" Lirihnya lagi, dan Daffin semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa rumah ini kurang tenang? Apa aku harus membeli rumah disebuah pulau?" Tanya daffin masih membenamkan wajahnya di hadapan perut rata Pelangi.


Pelangi mengernyitkan dahinya, Yah Daffin memang sangat ingin mencari ketenangan hanya berdua dengan Pelangi, ia ingin pelangi rileks dan bahagia agar bisa sesegera mungkin mengandung darah dagingnya.


"Rumahnya sangat tenang Tuan" ujar Pelangi ragu.


"Baguslah..." Daffin kini mendongak dan hendak memandang wajah teduh istrinya yang sudah mengaduk aduk perasaannya setelah ciuman di pipi itu namun....


Tik

__ADS_1


Tik


Dua tetes air mata justru membasahi wajahnya.


Pelangi yang panik lekas membuang wajah dan mengusap sisa air matanya.


"Maafkan aku Tuan" Pelangi sedikit gugup.


Melihat Pelangi menangis membuat hati Daffin terasa diremat remat, ini menyakitkan padahal ia berharap menjadi seseorang yang bisa membuat Pelangi tertawa bahagia tapi entah mengapa Wanita itu malah bersedih dan ketakutan setiap berada didekatnya.


Daffin bangkit dan duduk di samping Pelangi ia menarik tangan Pelangi hingga istrinya Itu berada didalam dekapannya.


"Jangan pernah menangis lagi dihadapanku, aku ingin melihatmu tersenyum, tak apa jika itu senyuman palsu dan tidak tulus maka lakukan saja"


Mendengar penuturan Daffin Pelangi justru semakin terisak, ia benci Daffin yang seperti ini, bagaimana ia bisa meninggalkan Daffin kelak jika ia seperti ini, Memikirkan kelak ia harus meninggalkan Satria saja membuat dadanya sesak, dan kini ditambah Daffin.


"Tuan kembalilah seperti dulu, Perlakukan aku dengan buruk, aku lebih senang kau menyiksaku dari pada seperti ini" Ujar Pelangi dengan nafas yang tersenggal senggal.


Daffin mengurai pelukannya, menangkup kedua pipi Pelangi yang kini basah, ia bisa melihat jika Wanita dihadapannya takut jatuh cinta padanya, tapi mau bagaimana lagi, Daffin sudah memutuskan akan mencurahkan segala kebahagian untuk wanitanya itu.


Daffin tak berkata apa apa, ia langsung mengecup bibir Pelangi yang menjadi candunya hingga kecupan ringan itu berubah menjadi ******n penuh damba, mereka melakukannya diruang keluarga dan bukannya dikamar untuk pertama kalinya, tak ada ketakukan akan terlihat oleh Pelayan karena keduanya yakin tak akan ada yang melihat. Sekali lagi Daffin memenuhi rahim pelangi dan berharap salah satu dari ribuan kehidupan yang ia semburkan bisa hidup selama 9 bulan dirahim Pelangi.


Keduanya melakukan pergumulan tanpa kata, hanya desaha* dan erangan kenikmatan yang saling bersahutan, Pelangi tak bisa memungkiri ia mulai menikmati permainan Daffin yang penuh kelembutan hingga ia mengalami pelepasan berkali kali.


Setelah selesai Daffin mengangkat tubuh istrinya dan membantunya untuk membersihkan diri, ia juga menidurkan Pelangi, memastikan wanita itu tidak kelelahan dengan apa yang barusan mereka lakukan.Bahkan Daffin memungut sendiri pakaian mereka yang berserakan di ruang keluarga, sesuatu yang seakan mustahil dilakukan oleh seorang Daffin Jaxton.

__ADS_1


__ADS_2