
"Akhir akhir ini aku melihat kau lebih sering merokok? Apa sebahagia itu?" Melvin yang masih mengatur beberapa berkas di meja menoleh sejenak kearah Daffin yang baru masuk dari arah Balkon. Pria itu baru saja menghabiskan satu batang rokok diluar sambil mengingat wajah teduh Pelangi yang menunggunya di Apartemen.
Daffin tak menjawab, ia segera bergabung bersama Melvin, duduk disebuah sofa di salah satu kamar mewah Jaxton Hotel yang ada di Singapura.
"Apa kau mulai mencintainya?" Melvin kembali bertanya, kali ini ia sudah menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa dan menatap lekat Daffin yang tersenyum miris dihadapannya.
"Cih....satu lagi orang yang nampak bodoh karena cinta" Daffin benar benar miris melihat Melihat Melvin.
"Jangan bahas Pelangi lagi, Bukankah selain urusan bisnis kedatanganmu kemari untuk menyelesaikan proyek g21?"
Melvin tidak menjawab, ia lebih memilih diam, ia memang sudah menyiapkan rencana untuk menemui Tuan Eshaq yang kebetulan menetap di Singapura, Melvin akan menyelesaikan semuanya tanpa melibatkan Daffin sama sekali. karena terakhir kali proyek sejenis ini yang mereka tangani Daffin justru memberi ide yang melibatkan dan memanfaatkan Pelangi. Meski Pelangi tidak mungkin terlibat kali ini namun memikirkannya saja masih membuat Daffin geram.
.
.
.
Mana yang lebih kau pilih mencari jarum.di tumpukan jerami atau menghitung batu sedunia? pilihan itu rasanya sudah berkali kali dihadapkan pada Eshaq, pria paruh baya keturunan Turki yang masih mencari asa kehidupan ditengah guncangan Badai.
"Bagaimana?" Tanyanya pada seseorang di sambungan telepon.
"Maaf Tuan"
Tut....tut....
Selalu kata kata seperti itu, ia memang sudah tidak memiliki harapan lagi, namun selama nyawa masih menyatu dengan raganya, Eshaq masih akan berusaha semaksimal mungkin.
Eshaq menyandarkan punggung lelahnya disandaran kursi, beberapa waktu lalu ia masih memeriksa laporan keuangan Restoran, namun kabar buruk yang ia terima membuatnya malas untuk melanjutkan aktivitasnya, tapi itu hanya akan bertahan beberapa jam saja karena setelahnya Eshaq akan kembali bersemangat.
__ADS_1
Tok
Tok
Suara Ketukan mebuat Eshaq kembali menegakkan punggungnya, ia melihat seorang Pelayan rumahnya masuk dan memberi hormat.
"Seseorang datang dan ingin menemui anda Tuan" Pelayan tersebut memberitahu.
Eshaq sempat memgernyitkan dahi karena mengingat ia sama sekali tidak memiliki janji temu dengan seseorang, namun pria rendah hati itu masih beranjak untuk menemui seseorang yang dimaksud Pelayannya.
Sementara itu Melvin yang menunggu diruang tamu mencoba mengamati keadaan sekitar, rumah berlantai satu yang sangat luas dan mewah disertai halaman yang luas juga menarik perhatian Melvin, ia bisa dengan mudah menerka karakter sipemilik yang sepertinya tidak banyak neko neko, terlihat dari tatanan prabot rumah yang sangat sedikit dan hanya memiliki prabot penting saja.
Sebuah lukisan berukuran Besar menempel di dinding ruang tamu sangat menarik perhatian Melvin Sebuah keluarga kecil dengan satu orang anak yang diapit kedua orang tuanya yang ia yakini Eshaq dan sang istri, bukan hanya itu, ada juga beberapa lukisan gadis kecil berukuran A4 yang berdiri tegak di atas Bupet dan sebuah Piano.
Melvin tersenyum tak percaya, ternyata masih ada orang yang lebih memilih memajang Lukisan keluarga dari pada sebuah potret yang diambil dari kamera.
"excuse me who are you?" Tanya Eshaq yang baru saja dari arah belakang, ia menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa internasional karena tidak mengetahui asal tamu tersebut, selama di Singapura ia lebih banyak berbicara melayu atau indonesia mengingat riwayat tinggalnya yang pernah menetap lama di Indonesia. Sementara bahasa negaranya sendiri ia baru menggunakannya ketika pulang ke turki.
Kini Eshaq mulai tahu apa tujuan sebenarnya pria muda itu, Ia sudah mendengar desas desus beberapa perwakilan negara menginginkannya sebagai eksekutif chef khusus untuk menjamu mereka di Indonesia, bahkan hotel tempat ia bekerja sudah menghubunginya terlebih dahulu namun ia belum menerima tawaran tersebut.
"Ah... Jaxton Hotel, Indonesia, aku tahu kalau begitu mari berbicara bahasa indonesia saja" Eshaq kembali mempersilahkan Melvin untuk duduk.
Lama mereka berbincang, dan Melvin langsung To the point dengan tujuannya tanpa banyak basa basi, dan Eshaq suka dengan penjabaran anak muda dihadapannya, namun bukan berarti ia akan langsung menerima tawaran Melvin bagaimanapun ia harus berfikir dulu sebelum kembali melakoni pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan.
Eshaq memang berfikir untuk menerima tawaran kembali menjadi chef bukan karena bayarannya yang tinggi, karena jika masalah itu ia sudah cukup kaya dengan keuntungan yang dihasilkan beberapa restorannya yang berada di Singapura dan malaysia. Namun ada satu hal yang membuatnya harus kembali ke Indonesia mengingat orang orang suruhannya yang tidak kompeten selama sepuluh tahun terakhir, tepatnya ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun pada Anda anak muda,"
"Saya tidak memaksa anda untuk menerima Hotel Jaxton meski besar harapan kami agar anda menerima kerja sama ini, saya disini hanya menjabarkan beberapa keuntungan yang mungkin bisa anda dapatkan Tuan" Ujar Melvin.
__ADS_1
"Saya paham anak Muda" timpal Eshaq dengan senyuman khasnya.
Melvin menikmati secangkir teh hijau yang dihidangkan Pelayan Eshaq sambil matanya terus menatap lukisan besar dihadapannya.
"Istri anda sangat cantik Tuan" Melvin tidak tahan untuk tidak memuji wanita yang berada didalam lukisan tersebut, ia masih menatapnya Lekat karena wanita itu memang sangat cantik. Mengingatkannya dengan Seseorang yang kini tidak pernah lepas dalam ingatannya.
Istri sepupunya.
Miris!
"Anda bukan orang pertama yang memuji mendiang istriku!" Sorot mata teduh Eshaq mengarah kelukisan sang istri dan putri tunggalnya.
"Maafkan saya Tuan" Melvin merasa bersalah, ia sama sekali tidak mengetahui jika Istri pria itu ternyata sudah tak ada.
"Tidak apa apa, saya justru senang jika ada yang membicarakan istriku, makanya lukisannya ditaruh disana, agar orang orang bisa memujinya" kali ini Eshaq tersenyum Jenaka.
"Oh ternyata seperti itu"Timpal Melvin.
"Namanya Sefa Toulin, dia warga negara Tiongkok dan keturunan asli Uighur, kau taukan betapa terkenalnya suku Uighur dengan wanita Cantiknya. Semua kecantikan Uighur seakan tertuang padanya"Kelakar Eshaq.
"Anda Benar Tuan, Nyonya Sefa benar benar sempurna" Melvin lalu melihat Putri kecil Eshaq yang memiliki wajah perpaduan antara Eshaq dan Sefa.
"Dan Putri anda benar benar memiliki perpaduan antara anda dan nyonya Sefa" Celetuk Melvin sambil menatap lukisan putri Eshaq.
"Yah...Pelukisnya benar benar piawai menggabungkan kami Berdua " Sorot mata Eshaq terlihat hampa saat menatap putri kecilnya yang kemungkinan berusia 10 tahun dalam lukisan itu.
Melvin menautkan kedua alisnya, entah kata kata Eshaq barusan seakan menyiratkan makna yang tak bisa ia tangkap maksudnya.
Melihat Raut wajah Melvin Eshaq segera memperkenalkan putrinya, " Namanya Ayleen Hakan, sampai sekarang ia menetap dan hidup bahagia di Indonesia" Eshaq berujar dengan nada getir.
__ADS_1
Melvin hanya mangut mangut, kemudian mereka berbincang lagi mengenai suka duka bekerja Di Hotel, Melvin dan Eshaq seakan berbagi cerita sebagai sesama pekerja yang berada dalam naungan Hotel Internasional.
Sebelum Pulang Eshaq sedikit meminta Bantuan Melvin, ia memberi tenggat waktu pada pria muda itu atas permintaannya, dan Jika Melvin berhasil Eshaq berjanji akan bergabung dengan Jaxton Hotel.