Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 97


__ADS_3

Daffin merasa ia seakan hypotermia padahal Risman sudah menaikkan suhu ruangan itu, karena takut Daffin demam akibat terlalu lama didalam kamar mandi dalam menuntaskan hasratnya seorang diri.


Pria yang hanya menggunakan bathrobe dengan dada terbuka itu memeluk tubuhnya sendiri yang seakan bergetar hebat.


Kenyataan apa ini?


Mengapa gadis itu bisa Pelangi?


"Katakan jika paman berbohong tidak tidak " Daffin menggeleng dengan air mata yang mulai menganak di ujung netranya.


Ia terus menatap Risman menunggu jawaban dari pria tua itu, tapi ia hanya menghela nafas panjang.


"PAMAN!!!" bentak Daffin.


"Maaf Daffin tapi gadis itu memang Pelangi, usianya masih 16 tahun kala itu, dan lebih parahnya gadis malang itu baru saja menjalani operasi pergantian katupnya setahun yang lalu, ia Drop karena pengasuhnya meninggal dunia. Dan diusia 16 tahun ia harus mengandung dan merelakan Janin darimu untuk dikeluarkan karena masalah kesehatan, Gadis itu sangat menderita akibat kesalahanmu, ia mengalami trauma hebat yang berkepanjangan, Pelangi......" Risman tak bisa melanjutkan perkataannya ia tidak tahan melihat rasa bersalah menyelimuti Daffin, pria yang biasanya terlihat dingin dan macho secara bersaan itu kini tak lebih dari sekedar pria Depresi.


"Tidak....Tidak....."Daffin menarik rambutnya kuat, gadis yang ia gagahi dan memohon ampun 4 tahun yang lalu ternyata adalah istrinya sendiri, bahkan seperti tidak puas dengan luka lama yang ia torehkan, Daffin kembali memberikan luka baru setiap hari selama masa pernikahannya, ia kembali membuat wanita itu mengandung anaknya ditengah kondisi dimana ia harus melawan rasa sakit pada organ inti kehidupannya.


Ia fikir dirinya adalah pria baik yang bisa menerima Pelangi dengan segala masa lalunya yang kelam, ia fikir ia adalah Pria yang berhasil memberikan Kebahagian dan hujaman kasih sayang , namun pada kenyataannya ia tak lebih dari sekedar pria bejat yang terus menabur garam pada luka Pelangi yang masih basah.


"Dan Pelangi tahu aku adalah pria bejat itu Arghhhhhh" Daffin benar benar terlihat seperti orang yang putus asa.


"Dimana istriku Paman....dimana Pelangiku aku harus menemuinya" Daffin hendak beranjak lalu berdiri namun pengaruh obat sialan itu masih ada, sehingga Daffin berdiam diri sejenak namun karena rasa nyeri itu semakin terasa tubuhnya ambruk.


"Sial!!! Brengsek!!!!" Daffin yang geram dengan kondisinya sendiri serta dua orang wanita yang bertanggung jawab atas hal itu, hanya bisa menghantam marmer mewah yang keras itu dengan kuat hingga buku buku jarinya memerah dengan terdengar bunyi gemercak tulang, tapi ia tak peduli, bahkan jika Pelangi menginginkan nyawanya sekarang juga ia akan menyerahkannya.


"Hentikan Daffin kau menyakiti dirimu sendiri!!Pelangi akan sedih melihatmu seperti ini" Ucap Risman seraya membantu Daffin untuk duduk di tepi ranjang, akan tetapi Daffin kembali menjatuhkan tubuhnya ia berlutut dihadapan Risman sembari menahan nyeri pada kepalanya.


"Bawa aku paman, bawa aku pada Pelangi....Aku bahkan mengacuhkannya semalam aku...."


"Daffin!!" seseorang tiba tiba muncul diambang pintu.


Atensi Risman teralihkan tapi tidak dengan Daffin ia tetap denga rasa marah dan frustasinya .


Paula tak bisa berkata apa apa, Daffin benar banar terlihat kacau dengan bathrobe yang hampir tanggal dari tubuhnya untung saja alat vitalnya tak sampai terumbar.


Tangan Paula bergetar berusaha meraih tubuh putranya yang baru ia lihat dalam keadaan kacau seperti ini, Paula biasa melihat Daffin mabuk mabukan bahkan sejak di bangku menegah atas tapi Menagis sambil meracau nama seorang wanita baru kali ini dilihatnya, begitu kontras dengan Daffin yang besar dilingkungan korporat dan terbiasa bersikap tegas sejak dini.


"Lepaskan tangan kotormu ibu!!" sentak Daffin menghempaskan tangan ibunya dengan kasar. Paula seketika menitikkan air mata dadanya bagi dihujam sembilu, ini bukan kali pertama Daffin membentaknya namun kondisi putranya yang begitu tragis membuatnya merasa sangat bersedih, seketika ia teringat perkataan Risman yang mengatakan jika Daffin pernah berada difase dimana ia dalam perawatan seorang psikiater.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya dengan putranya?


Jangan katakan jika ia sudah tahu Pelangi akan pergi dari kehidupannya? Tapi Paula bahkan belum memberitahukan hal itu kepada siapapun.


"Daffin ada apa denganmu nak?" Paula kembali memegang tangan putranya, rasanya benar benar sedingin es, ia mulai menyesali keputusannya memberikan obat perangsang dengan dosis yang sangat tinggi, akan tetapi Paula yakin itu tidak akan berdampak buruk, karena Alex pun tidak apa apa saat itu.


Namun Daffin seolah olah tidak menganggap keberadaan sang ibu. Daffin yang masih sangat sulit menyeimbangkan tubuhnya terus memegang tangan Risman sambil terus berlutut.


"Bawa aku paman, bawa aku pada istriku " Daffin semakin merasa beesalah tatkala ia mengingat segala perlakuannya semalam.


"DAFFIN!!" Sentak Paula yang merasa diacuhkan, ia seakan tak terima Pelangi mengubah putranya sampai seperti ini.


"Paman...."


"Bangunlah...kita akan kerumahmu, paman yakin Melvin membawanya kesana"


Melvin akhirnya memakai kembali pakaiannya yang berserakan dilantai dengan bantuan Risman. Mereka meninggalkan Paula seorang diri didalam kamar hotel dengan kemarahan yang meletup letup di ubun ubunnya.


.


.


.


"Arghhhh" Daffin tak berhenti menyugar rambutnya sembari terus menatap jendela mobil disampingnya dengan perasaan yang tak menentu.


Sementra Risman fokus mengemudikan mobil Pajeronya sambil sesekali melirik Daffin yang sepertinya sudah mulai sembuh dari rasa nyeri dikepalanya.


"Selamat datang Tuan" Sapa salah seorang pelayan dengan senyuman yang membukakan pintu bagi Tuannya itu, namun Daffin sama sekali tak menjawab, beberapa pelayan menunduk hormat setelah Daffin melewatinya dan Daffin mengabaikannya seperti biasa.


Setelah sepersekian detik wajah Pelayan dirumah mewah berlantai 3 itu kembali muram, andai Daffin bukan seorang Jaxton mungkin mereka sudah mencabik cabiknya, Pria itu tega menyelingkuhi sang Nyonya secara terang terangan. Yah semua pelayan sudah mengetahui kabar viral yang beredar tadi pagi, sayangnya Daffin belum menyadari dirinya tengah viral .


Para pelayan seakan mengutuk Daffin yang kini berteriak tak karuan memanggil nama sang istri, mereka berharap Pelangi pergi Jauh dan tak pernah kembali kesisi Daffin lagi.


"Pelangi!!!"


"Pelangi!!"


"Maafkan aku!!!"

__ADS_1


Daffin menelusuri semua ruangan yang berada dirumah mewah tersebut, ia bahkan mencari hingga kepaviliun belakang , sebuah bangunan yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal para pelayan.


"Bi ijah dimana Istriku?" Daffin mulai ketakutan, ada perasaan aneh yang ia rasakan jika kemungkinan ia tak bisa melihat pelangi lagi. Karena semarah apapun ia biasanya istrinya itu masih tetap berada dirumah, dan menyambutnya penuh kehangatan.


"Nyonya Pelangi belum pernah kembali sejak pergi bersama Tuan kemarin malam"


Sekujur Tubuh Daffin semakin menggigil mendengar penuturan Sang ART, khawatir dan ketakutannya beradu pacu didalam dadanya.


Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Istrinya? Samar samar ia bisa mengingat terakhir kali Daffin masih bisa melihat Pelangi duduk di depannya seraya meremat jarinya dan terlihat gugup, kala itu Daffin berada didalam Limousin milik Paula.


Daffin lagi lagi meremas surainya kuat, ia berbalik dan hendak mencari Pelangi keApartemen atau mungkin menanyakan keberadaanya pada Melvin.


Tetiba teringat Melvin membuat Daffin semakin geram, padahal sepupunya itu mengetahui segalanya akan tetapi menyembunyikan kenyataan penting itu darinya.


Daffin meraba saku celana dan Kemejanya yang tak karuan, akan tetapi tak menemukan ponselnya disana.


"Sial"


Sebelum meninggalkan Halaman paviliun Belakang, langkah kaki Daffin dihentikan oleh sebuah suara.


"Tuan mengapa begitu kejam dengan Nyonya?" Tanya Bi Ijah.


Daffin tak menoleh, ia hanya memejamkan matanya dalam, baru kali ini ia mendapatkan pertanyaan menyudutkan hanya dari seorang Pelayan.


"Mungkin Nyonya sudah berada di batas kesabarannya, wanita mana yang rela berbagi suami kepada wanita lain, meski diawal ia masih bisa menolerirnya, aku ada disana ketika Nyonya melakukan panggilan Video kepada anda saat berada di Singapura, ia benar merindukan suaminya tapi wanita lainnya yang menjawab panggilan tersebut....bahkan Rena dan Ani pernah mendengar Kekasih anda memprovokasi Nyonya jika ia dan anda baru saja menghabiskan waktu bersama di Thailand dan memghadiri acara kerajaan, itu sebelum Cleo menyayat tangan Nyonya hingga wanita malang itu harus di bawa keeumah sakit" Bi Ijah sudah tidak peduli lagi jika harus dipecat setelah mengatakan semua ini, sebagai kepala Pelayan Bi Ijah merasa bertanggung jawab menyuarakan semua isi hati para Pelayan disini.


"Kau tidak tahu apa apa" Jawab Daffin dingin, mendengar penuturan Bi Ijah Daffin sangat marah, bukan kepada Bi Ijah tapi kepada dirinya sendiri yang memang tak pernah berhasil memberikan kenyamanan bagi istrinya.


"Semua Pelayan tahu Anda tidak pulang karena menghabiskan malam bersama Nona Cleo, dan kami tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Nyonya saat mengetahui hal tersebut"


Daffin menoleh dan menyorot Bi Ijah dengan tatapan membunuh.


Bagaimana bisa semua Pelayan seakan tahu apa yang terjadi kemarin malam di hotel?


"Pelangi Tahu??" tanya Daffin.


Mendapan tatapan setajam itu membuat Bi Ijah menciut, tapi ia lekas mengubah ekspresinya, bagaimanapun ia sudah bersedia dipecat.


"Si-siapa yang tidak tahu tuan, disaat Video panas anda beredar dimana mana".

__ADS_1


__ADS_2