
Daffin mengerjapkan matanya, selama 4 tahun terakhir ini adalah kali pertama ia tidur sangat nyenyak, tak ada lagi mimpi buruk dari teriakan gadis yang mengganggunya selama 4 tahun terakhir.
"Dasar jalan* kecil, usiamu baru 19 tahun tapi kau sudah tidak perawan lagi, apa kau melakukannya saat dibangku sekolah hemmm" Daffin memiringkan tubuhnya lalu mengusap surai panjang wanita yang kini tengkurap disampingnya.
Mulai saat ini Daffin tidak akan pernah melepaskan Pelangi ia tak peduli siapa yang sudah memdahuluinya toh ia juga seorang casanavo, lagi pula Daffin sudah tidak terlalu mengidamkan gadis tersegel rapi, ia benar benar trauma.
"Terima kasih" Daffin mengecup pucuk kepala wanita bertubuh polos yang ia pikir pelangi, hingga membuat Cleo cekikikan didalam benaknya.
Cleo menggeliat kecil lalu membalik tubuhnya hingga pandangan matanya dan Daffin saling bersiborok.
"Cleo? Apa yang kau lakukan disini?" Daffin tersentak, dengan posisi yang sudah setengah duduk, seraya memindai tubuh polos mereka berdua.
"Menghabiskan malam panas bersamamu" Jawab cleo acuh lalu mengikuti posisi duduk Daffin dan menarik selimut menutupi tubuh bagian atasnya.
Deg.
Tunggu.
Daffin mengernyitkan dahi.
Jadi yang ia usap dan kecup kepalanya adalah Cleo? Tapi bagaimana mungkin semalam gadis yang ia tiduri adalah Pelangi.
Lalu Traumanya?
Daffin menarik tengkuk Cleo tiba tiba ia harus memastikan sesuatu.
Diluma*nya bibir Cleo dengan rakus hingga mereka saling pagut dan membelitkan lidah, tentu saja Cleo antusias membalasnya, hampir 4 tahun menjalin kasih ini kali pertama Daffin mau menciumnya.
Hambar!
Mata Daffin yang tadinya terpejam kini perlahan terbuka sedangkan Cleo masih menikmati segala kenikmatan ciuman dari seorang casanova yang terkenal di antara para rekan seprofesinya para model papan menengah kebawah.
'Aku sudah sembuh' Daffin membatin, ia menyeringai tipis, dengan keyakinan penuh jika Pelangi berhasil menyembuhkannya.
Daffin mendorong bahu Cleo, lalu kembali meremat dagu wanita yang ia tahu sudah mencampurkan obat perangsang kedalam minumannya.
Meski berhasil menciumnya namun Daffin sadar cleo sama sekali tidak bisa membangkitkan hasratnya, Hambar bagi sayur tanpa garam! Pikir Daffin.
"Kemana Pelangi?" Tanya Daffin kesal.
__ADS_1
"uku tuduk tuhu" Cleo tak bisa menjawab dengan benar karena cengkraman tangan Daffin pada dagunya.
Akhirnya Daffin melepas Cleo dan bangkit dengan tubuh polosnya, ia sama sekali tidak merasa malu melakukan hal itu dihadapan wanita yang notabene tidak memiliki hubungan halal dengannya.
Setelah cukup lama berendam ia kembali kekamar tamu dan memakai kemeja dan celana serta boxer yang berserakan didalam kamar Pelangi.
Sementara Cleo masih betah membungkus tubuhnya dengan selimut diatas ranjang, ia masih berharap Daffin percaya jika yang memghabiskan malam bersamanya adalah dirinya.
"Mengapa kau masih disana? Kau ingin diseret?" Ketus Daffin.
"Daf..kau harus tanggung jawab padaku!" Tukas Cleo ragu.
"Cih" Daffin berdecih lalu mendekat dan mengusap pucuk kepala cleo hingga wanita itu memejamkan mata dalam, Daffin melakukannya hanya sekedar menguji jika kini ia sudah tidak masalah lagi kalau bersentuhan dengan wanita.
"Kau fikir aku bodoh? Aku mengingat semua wajah wanita yang kutiduri meski dalam pengaruh obat sekalipun" Daffin menoyor kepala Cleo lalu keluar dari dari kamar pelangi.
Membuat gadis itu diselimuti rasa kecewa.
Ia menyusuri setiap cela Apartemen mewahnya guna mencari keberadaan istrinya itu.
Pelangi!
Pelangi!
Pelangi!
"Kemana Pelangi! Dimana kau menyembunyikannya hah!!" Sentak Daffin dengan wajah khawatirnya, ia takut Pelangi meninggalkannya karena apa yang ia perbuat semalam.
Dibentak seperti itu membuat Cleo yang sudah mengenakan pakaiannya hanya bisa gelagapan dengan bibir yang bergetar.
"Kau...men cari pelayan itu?" Cleo terbata, ia bisa melihat khawatir dan marah yang tersirat di sorot mata tajam Daffin.
"Jaga mulutmu Cleo, dia istriku!"
"Istri....? Tidak" Cleo bergumam sambil menggeleng pelan, ia yakin Daffin berbohong padanya, Jika Pelangi adalah istri Daffin maka tidak mungkin Paula yang ia panggil tante itu mengatakan Pelangi adalah Pelayan.
"Katakan dimana kau menyembunyikan Pelangi! dan bagaimana kau bisa masuk kesini?"
"Tante Paula yang membawaku, dan....dia juga yang membawa gadis pelayan itu" jawab Cleo takut.
__ADS_1
"Sial!" Daffin menyugar rambutnya dengan kasar, ia tahu ibunya siapa, pasti ibunya berusaha menyakiti Pelangi mengingat dendamnya dengan Dokter Isyana dan sahamm 20 persen itu, ditambah lagi Daffin yakin ibunya tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan istrinya itu semalam.
.
.
.
Daffin melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke mansion utama hatinya gelisah tatkala mengingat ekspresi keterpaksaan diwajah Pelangi kala membantunya menuntaskan hasrat, ia bisa melihat betapa Pelangi iba dan membencinya disaat yang bersamaan.
"Sial sial!" Daffin memukul stirnya kuat, ia tak ingin ibunya sampai turun tangan didalam pernikahan kontraknya, bagaimanapun Daffin sudah berjanji akan mengurus Pelangi dan mendapatkan kembali saham tersebut.
Setelah setengah jam berkendara Daffin akhirnya tiba di sebuah bangunan mewah yang berdiri diatas lahan seluas 20 hektar persegi dikawasan salah satu perumahan paling elite di ibukota.
Pintu pagar yang menjulang tinggi dengan segala keindahannya terbuka sendiri bahkan sebelum Daffin sempat menekan klaksonnya.
Daffin menghambur masuk kedalam mansion tanpa memperdulikan beberapa pelayan berseragam lengkap menyapanya.
"Ibu!"
"Ibu!" teriak Daffin gusar.
"Apa kau meninggalkan sopan santunmu di thailand?" Gerutu Paula yang baru saja keluar dari lift, suara Daffin bahkan menggelegar hingga ke lantai 3 tempat ia tadi berada.
Sementara kini Pelangi sudah menata pakaian murahan yang dibelikan Paula kedalam lemari kayu didalam kamarnya sangat berbanding terbalik dengan pakaiannya yang ia tinggalkan di apartemen pakaian mahal yang sudah disediakan Melvin dengan perintah Daffin tentunya. Pelangi tinggal di Mes ARt yang terletak dibagian belakang dan cukup jauh dari Bangunan utama, Paula memberitahu para art disana jika pelangi adalah pelayan yang hanya ditugaskan untuk membersihkan halaman mes, sesuatu pekerjaan yang terbilang mudah tentunya dan mengundang beberapa tatapan iri dari para pelayan lainnya.
"Dimana ibu menyembunyikan Pelangi?"
"Ayo bicara didalam!" tukas Paula lalu masuk kedalam ruang perpustakaan yang terletak di lantai satu. Ia tak ingin para pelayan mengetahui jika pelayan cantik yang baru saja ia bawa adalah istri Daffin.
Kini Daffin dan Paula sudah duduk saling berhadapan di sebuah sofa. Diantarai sebuah meja bundar yang tidak terlalu besar.
"Jangan mencari Pelangi, istri kontrakmu itu aman bersama ibu!"
"Ibu sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan ini bukan?"
"Yah! Ibu janji ! Tapi ingat kau juga mengatakan pada ibu jika didalam perjanjian kalian tidak ada kontak fisik! Dan lihat yang terjadi semalam kalian bahkan tidur bersama! Ibu harus turun tangan karena ibu tidak ingin anak dari wanita itu mengandung benih penerus Keluarga Jaxton!"
Cukup sengit perdebatan yang terjadi antara Paula dan Daffin, hingga membuat Daffin harus menarik diri saat melihat dilayar ponselnya ada panggilan masuk dari Melvin yang kini mungkin dalam perjalanan pulang dari kelurahan x.
__ADS_1