
Air mata Ayu Widiantari jatuh saat menyaksikan tubuh pria yang begitu ia kagumi dimasukkan kedalam mesin pemindai tubuh yang berukuran besar dan bundar, CT Scan yah Melvin tengah menjalani tes kesehatan untuk mengetahui apakah tubuhnya benar benar sehat.
Mata Ayu masih sembab menatap Melvin yang kini duduk dihadapannya sambil mengancing ujung lengannya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Melvin penasaran.
"Kakak Sehat koq"
"Jadi bisakan?"
"Bisa"
"Terima kasih Ayu, aku akan kembali kekantor"
"Kak " Ayu memegang tangan Melvin yang hendak berdiri hingga pria itu kembali terduduk, "Kenapa kau melakukan ini untuk Pelangi? Apa sebegitu pentingnya ia didalam hidupmu? Padahal kau tau sendiri ia istri dari Kak Daffin meski pernikahannya sendiri adalah sebuah kesepakatan" lanjut Ayu. sejak awal ia memang sudah tahu dasar pernikahan Pelangi, namun satu yang belum ia ketahui adalah fakta mengenai Daffin yang menjadi pria bejat yang sudah melecehkan Pelangi 4 tahun lalu.
Melvin berusaha mengurai genggaman Ayu.
"Pelangi memang sepenting itu, Aku pernah melakukan kesalahan yang fatal dimasa lalu" Ujar Melvin, Yah Daffin memang orang yang memperkaos Pelangi, tapi semua berawal dari dirinya, andai saat itu ia tidak meminta Mbok yum mengantarkan minuman itu maka Pelangi tak akan mengalami semuai ini. Dan bayangan Pelangi yang berjalan tertatih dengan terseok seok meninggalkan Villa seakan memperdalam rasa bersalah Melvin.
"Kak...boleh aku tahu kesalah apa?" Tanya Ayu lembut.
Melvin tersenyum hampa, " Itu urusanku dengan Pelangi"
Ayu kecewa mendengar jawaban Melvin seakan ia adalah orang yang tidak penting, Melvin sedikit mengangguk tanda Pamit namun Ayu buru buru keluar dari balik mejanya dan memghalangi jalan Melvin.
"Kak kau yakin ingin memberikan jantungmu pada Pelangi?"
__ADS_1
"Saat ini aku tidak yakin, tapi jika suatu saat aku mati maka aku yakin akan memberikannya, kalian memiliki surat kuasa atas tubuhku jika saat itu tiba" ucap Melvin mantap.
Ayu menelan saliva sambil menatap punggung kokoh Melvin yang bergerak menjauh, ia sudah tidak tahan lagi perlahan bulir air mata itu jatuh dipipi putih Dokter cantik itu, langkahnya pelan namun pasti hingga ia sudah memeluk Melvin dari belakang sambil terisak.
"Bagaimana mungkin kau berbicara mengenai kematianmu semudah itu kak"
Melvin menelan saliva namun ia dengan mudah kembali menetralkan ekspresi dan degup jantungnya, Pelan tangannya memegang kedua tangan Ayu yang melingkar di perut ratanya yang sixpack. Ia bukan pria polos yang tidak menyadari perasaan Ayu, bahkan sejak SMA Melvin sudah Sadar adik kelasnya itu menaruh hati kepadanya.
"Dokter Ayu Widiantari, aku tidak berencana untuk bunuh diri dan mendonorkan organku" Melvin melepas tautan tangan Ayu yang melingkar diperutnya."Bukankah hal wajar seseorang ingin mendonorkan organ Seharusnya sebagai seorang Dokter kau senang?"
"Aku akan senang jika orang itu bukan pria yang aku cintai" Ucap Ayu, persetan dengan harga diri, kali ini ia akan membiarkan Melvin mengetahui semua isi hatinya yang selama ini dipendamnya.
Hening.....beberapa Detik.
Melvin yang tak bisa bersikap romantis setelah mendengar pengakuan seorang gadis cantik yang berfrofesi sebagai dokter itu hanya tersenyum simpul ia berbalik dan memegang kedua pundak Ayu, yang otomatis membuat Ayu salah tingkah.
"Kau dokter yang baik" Ucap Melvin seraya tersenyum tipis, tak lupa ia juga mengusap pucuk kepala Ayu. Itu adalah tindakan paling romantisnya kepada seorang wanita dan berhasil membuat Ayu terasa melayang diudara, kesedihaan yang baru saja ia rasakan seakan menguap begitu saja diudara digantikan dengan senyum mengembang mengantarkan Melvin hingga benar benar keluar dari ruangannya.
Daffin terus menghisap rokoknya sambil sesekali tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kejadiannya sudah berlalu dua hari tapi tiap kali mengingat hal itu rasanya ada ribuan kupu kupu yang berterbangan di dalam dadanya.
Bahagia
Lucu
Entah rasa apa yang kini ia rasakan hingga tak sadar sudah menghabiskan beberapa bungkus rokok sejak kemarin.
Beberapa sekertarisnya yang keluar masuk di ruangannya pun dibuat bingung dengan rona wajah Daffin yang tidak biasanya.
__ADS_1
Setiap menghembuskan asap putih dari mulut dan hidungnya Daffin pasti memegang pipinya lalu mengulum senyuman penuh arti.
Gila! Ia merasa gila.
Rasa apa ini?
Seperti masih menyisakan kebahagaiaan disana, padahal mereka biasa melakukan hubungan badan tapi ciuman dipipinya memberikan rasa yang berbeda.
Apa karena itu inisiatif Pelangi?
Daffin senantiasa teringat saat ia menanyakan prihal dentang jarum jam yang seakan terdengar di dada Pelangi. Yang sempat membuat wanita itu bergeming terdiam dengan tatapan sayunya, lalu sejurus kemudian Pelangi malah mengecup pipinya dengan lembut.
Arghhh.....mengingat hal itu saja membuat Daffin ingin mengacak rambutnya yang sudah rapi dengan pomade, namun urung ia lakukan ia masih waras untuk menyalurkan rasa anehnya itu dengan beberapa lintingan rokok.
Melvin masuk seperti biasa tanpa mengetuk pintu seperti pegawai lainnya, fokusnya teruju pada air wajah Daffin yang terlihat tidak biasa yang beberapa puntung rokok yang tergeletak diasbak, pintu Balkon bahkan terbuka lebar agar asap rokok Daffin bisa keluar.
Melvin tak perlu bertanya karena Daffin pasti sangat Bahagia dengan kepulangan pelangi dari rumah sakit, meski rasanya tidak ikhlas tapi Melvin berharap Pelangi merasakan hal yang sama dengan kehadiran Daffin disisinya.
"Kau baru datang?aku mampir keruanganmu tapi kau tak ada" Mata Daffin memicing seraya mematikan rokok terakhirnya hari ini, setelahnya mungkin ia akan kembali menyuruh sekertarisnya membeli rokok lagi.
"Rumah sakit"
"Rumah sakit?"
"Aku memeriksakan kesehatan"
"Oh"
__ADS_1
Setelah pertanyaannya terjawab Melvin dan Daffin kembali membahas masalah pekerjaan hingga jam pulang tiba.