
"ini" Daffin melempar sebuah salep diatas pangkuan Pelangi, ia singgah keapotik hanya untuk membeli itu.
"Terima kasih Tuan" Lirih pelangi datar tanpa menoleh sedikitpun, ia hanya memggenggam salep itu tanpa bermaksud memakainya.
Pelangi berfikir akan menggunakan salep yang ada di Apartemen saja.
Daffin menghela nafas kasar , hari ini ia membukakannya pintu, membelikannya obat? Lantas besok apa lagi ? Daffin benar benar hampir gila hanya kerena Pelangi tidak mempengaruhi traumanya, ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada wanita lainnya.
Dan lihatlah? Istrinya itu bahkan tidak menghargai usahanya.
"Sini" Daffin kembali meminta salep dari tangan Pelangi.
Pelangi menurut saja, ia mengembalikan salep tersebut dan kembali memutar wajahnya namun Daffin dengan cepat meraih tangan kanannya. Bukan karena khawatir namun momen ini benar benar dirasa Daffin bisa menyembuhkan traumanya.
"Apa yang kau lakukan Tuan?" Pelangi memekik kuat dengan mata Membulat sempurna ia berusaha menarik tangannya namun tenaga Daffin terlalu kuat.
"Selama kau menjadi Istriku, tidak boleh ada memar maupun lecet ditubuhmu, itu memalukan" Tukas Daffin enggan melepaskan tangan pelangi, hanya dengan satu tangan ia sudah berhasil membuka penutup Salep tersebut dan menyimpannya diatas dashboard.
"Aku akan melakukannya sendiri" Nafas Pelangi seakan tercekat, sekujur tubuhnya menegang dengan peluh panas dingin yang mulai mengucur.
"Diam!" Bentak Daffin, yang seketika membuat tubuh dan lidah Pelangi terasa kelu.
Daffin mulai mengoles salep pada memar Pelangi, ia menikmati setiap sentuhan kulit pada lengan Putih Pelangi. Kulit gadis itu seputih dan sebening porselen hingga memar biru nampak sangat mengganggu jika dibiarkan lama terpatri disana.
Daffin merasakan tangan Pelangi yang bergetar, hingga ia menghentikan sapuannyanya dan mendongak menatap wajah Pelangi yang tengah menunduk, air mata nampak berjatuhan disana.
Daffin mengernyitkan dahi, Gadis dihadapannya benar benar terlihat ketakutan. Daffin mengamati tubuhnya padahal para wanita benar benar menggilai dirinya tapi megapa Pelangi justru ketakutan.
"Ampun Tuan muda" lirih Pelangi dengan bergetar.
" Huh Apa aku menyakitimu?" Tanya Daffin pelan, rasa nyaman itu merubah sendu melihat air mata Pelangi, ia merasa sakit melihat istrinya itu menangis.
"Ampun Tuan" Pelangi terdengar seperti meracau dengan kondisi setengah sadar, ia menarik kedua telapak tangannya dan menutup kedua kupingnya sambil menggeleng kuat, Pelangi tahu ia juga belum sembuh seutuhnya, Kesakitan yang ia rasakan 4 tahun lalu nyatanya masih begitu membekas.
"Jangan menyakitiku...Ampuni aku Tuan"
__ADS_1
"Pelangi sadar...Aku tidak menyakitimu" Daffin mengoyangkan kedua bahu gadis itu agar segera tersadar.
Tiba tiba Daffin merasa seperti melihat dirinya sendiri tatkala trauma itu kembali menghampiri.
Mungkinkah ia juga memiliki trauma?
"Pelangi, sadar aku Daffin suamimu" ucap Daffin yang berhasil membuat pelangi mengangkat wajahnya, Gadis itu benar benar terlihat begitu sembap. Ia tak tahu siapa yang ada dihadapannya yang jelas saat ini ia sangat butuh pelukan seperti yang biasa dilakukan Dokter Isyana.
"Bunda isy...." Lirih pelangi lalu menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan Daffin.
Deg....
Seketika Daffin merasa tubuhnya menegang sempurna, beberapa kali ia menelan saliva sebelum akhirnya tersadar jika wanita dalam pelukannya kini dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Mengapa harus kau wanita yang tidak bisa mempengaruhi rasa traumaku" ungkap Daffin sambil mengelus pucuk kepala Pelangi.
"Pelangi...Pelangi....Kau pingsan" Daffin menagkup kedua pipi Pelangi dan membawa wajahnya kehadapannya.
Wajah gadis itu nampak sangat pucat seperti tanpa aliran darah sedikitpun.
Kaca mobil disamping pelangi di pukul dengan kuat memakai telapak tangan.
Yah Melvin sejak tadi mengikuti arah mobil Daffin.
Dan pria itu curiga saat melihat mobil Daffin berhenti cukup lama di parkiran apotik, ia bisa menebak Daffin pasti menyakiti gadis itu lagi.
Daffin sudah tidak peduli lagi dengan tampang kesal yang ditujukan Melvin, kali ini ia benar benar membutuhkan bantuan sepupu sekaligus Asisten pribadinya itu, Daffin kalut dan tak tahu harus berbuat apa pada Gadis pingsan yang kini masih dalam dekapannya.
Daffin membuka kunci pintu, hingga Melvin bisa dengan mudah membuka pintu disamping Pelangi.
"Apa yang kau lakukan Padanya?Hah?" Sentak Melvin, pria itu bisa melihat wajah pucat Pelangi.
"Aku juga tidak tahu vin"
Tanpa pikir panjang Melvin mengambil alih tubuh Pelangi dan menggendongnya ala bridal style menuju mobilnya.
__ADS_1
Tubuh Pelangi diletakkan di samping kemudi, dan Tak lupa Melvin memakaikan sabuk pengaman lalu menyetel kursi dan membuat tubuh Pelangi setengah berbaring.
Ia membawa Pelangi menuju rumah sakit terdekat, meninggalkan Daffin yang hanya bisa menatap gusar pada Mobil Melvin yang sudah mendahuluinya.
Secepat apapun Daffin berusaha mengejar Melvin tetap saja tak bisa perlahan mobil itu menjauh dengan jarak beberapa kendaraan lain diantara mereka hingga akhirnya Mobil Melvin benar benar menghilang dari.jangkauan Daffin yang hanya bisa memukul stirnya dengan kuat.
Di UGD....
Melvin membuang pandangannya kesamping saat dokter membuka dua buah kancing kemeja bagian atas Pelangi untuk memeriksa detak jantungnya.
Cukup lama Dokter memeriksa Pelangi hingga akhirnya sang dokter menemukan seauatu yang cukup membuatnya tercengang.
"Maaf Pak, anda Wali Pasien?" Tanya Dokter tersebut kepada Melvin yang kini sudah kembali menatap tubuh Pelangi dengan selang infus yang terpatri di punggung tangannya.
"Benar Dok, saya kakaknya"Aku Melvin.
"Saya akan merujuk Pasien ke dokter ahli jantung, saya khawatir kondisi tubuh pasien akan berdampak pada katup mekaniknya" Hanya dengan mendengar detak jantung pelangi yang seperti Jam berdetak dokter tersebut bisa mengetahui jika gadia muda sudah menjalani operasi pergantian katup jantung mekanik.
"Ahli Jantung?" tanya Melvin Bingung.
"Benar, mungkin sebentar lagi Dokternya akan tiba, sekarang ia benar benar sibuk karena banyaknya pasien" ujar dokter umum itu sambil melirik arloji dipergelangan tangannya.
Ia meminta Melvin menemani Pelangi sebentar diruangan yang hanya dibatasi oleh sekat tirai terhadap pasien lain pada ruangan serba putih itu.
Tatapan Melvin kearah pelangi benar benar teduh, ada rasa iba dan perasaan entah yang mengirinya sorot matanya.
"Katup Jantung Mekanik" Gumam Melvin.
'Apa karena ini kau selalu terlihat pucat dan tanpa semangat hidup?' Melvin membatin dengan tangan terulur guna membelai rambut halus Pelangi.
"Kak....Pelangi dirumah sakit?" Gadis itu ingin memastikan setelah melihat ruangan dengan nuansa putih disekelilingnya.
"Heem, sebaiknya kau kembali istirahat, kata dokter kau kelelahan, dan sebentar lagi Dokter ahli Jantung akan datang memeriksa"
"Dokter mengatakan semuanya?"
__ADS_1
Melvin mengangguk pelan, ada rasa bersalah yang tersirat dari sorot mata pria itu, bagaimana tidak ia memaksa seorang gadis kecil dengan kondisi tubuh seperti ini untuk mengikuti alur permainan pernikahan kontrak yang ia dan Daffin rencanakan. Dan lebih parahnya gadis ini adalah seorang yatim piatu. Yah Alexander sudah menjelaskan jika Dokter Isyana dan ayah pelangi memang sudah meninggal, namun ia tidak memberitahu jika Pelangi sebenarnya adalah putri angkat Dokter Isyana.