Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 63


__ADS_3

Mata Daffin berbinar seraya membelai lembut pucuk kepala istrinya yang kini berada didalam dekapan dada bidangnya.


"Tuan....."


"Jangan bergerak, aku terlalu bahagia Pelangi" Rasanya Daffin ingin menagis sekaligis tertawa secara bersamaan, ia fikir ketika Pelangi Hamil ia akan bahagia karena ia punya pengikat bagi Pelangi, nyata kebahagiannya itu hanya secuil, ia bahagia karena akan segera menjadi ayah, membayangkan sosok makhluk kecil kelak memanggilnya ayah membuat bunga bunga berterbangan didalam dirinya, ternyata seperti ini rasanya menantikan kehadiran anak yang diidam idamkan, tidak seperti kehadirannya dulu.


Sekertaris dan supirnya yang duduk di jok depan saling melempar tatapan dan senyuman, mereka turut bahagia dengan kabar bahagia sang atasan.


"Tuan tidak marah??" Pelangi tak berani mengangkat pandangannya menatap Daffin. Saat diruangan dokter Obgyn Daffin sempat menatap tajam dirinya lalu kini pria ini terlihat kembali menghangat.


Daffin memang sempat mendelik tajam kearah Pelangi tadinya, saat dokter Obgyn bertanya mengenai kehamilan Istrinya.


"Ini kehamilan yang keberapa?"


"Yang kedua" jawab Pelangi gugup, ia lalu menjelaskan harus menjalani proses kuretase diusia 16 tahun.


Seulas senyuman yang menghiasi bibir Daffin seketika menghilang, ****** tetap saja ******, ia kesal ternyata bukan ia orang pertama yang berhasil menabur benih dirahim pelangi, meski ia sudah tahu sejak awal jika pelangi tidaklah Virgin saat ia menyentuhnya.


Namun rasa bahagia akan segera menjadi ayah mampu meluluhlantahkan kekesalan Daffin, ia tak lagi peduli dengan masa lalu sang istri toh masa lalunya juga dipenuhi noda. Bahkan mungkin lebih parah dari pada masa lalu Pelangi! Fikir Daffin.


" Jangan berfikir macam macam, aku sama sekali tidak marah, kau harus fokus dengan anak kita jaga ia baik baik" ujar Daffin seraya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Pelangi menatap kesong kearah yang entah, ia bahagia dengan kehamilannya kali ini namun bayangan perkataan dokter 4 tahun lalu kembali menari difikirannya, ia mengusap perutnya dimana bersemayam benih yang baru berusia 4 minggu seraya membatin ' Maafkan ibumu anakku, '.


.


.


.


Kabar kehamilan pelangi sudah tersebar di penjuru kantor, bahkan beberapa karyawan hotel di kota dan negara lainnya sudah mengetahui jika sang CEO yang dikenal sebagai casanova ulung ternyata telah menikah dan tengah menantikan kelahiran anak pertamanya. Kini Daffin benar benar menempatkan Pelangi di posisi seharusnya yakni Istri seorang Daffin Jaxton.


Bahkan Cleo yang hampir 2 bulan menjalani operasi perawatan serta selaput dara di Korea dibuat geram, ia membanting ponselnya di ruang tunggu bandara Incheon begitu selsai membaca sebuah portal berita bisnis yang berjudul akhir petualangan cinta Daffin Jaxton.


Rasanya ia ingin meraung menangis sejadi jadinya, jika tidak mengingat pesan yang hampir setiap hari dikirimkan Paula sebagai penyemangat agar ia lekas menyelesaikan perawatannya dan kembali sebagai menantu keluarga Jaxton. Sebuah smirk terulas di bibir Cleo, yah selama Paula masih dalam genggamannya maka kemungkinan ia menjadi istri Daffin masih terbuka lebar, Cleo kembali dan memungut ponselnya yang masih dalam keadaan On, ia tetiba teringat dengan sebuah Foto yang ia dan Laila ambil sebelum ke Korea, dimana memperlihatkan Pelangi yang tengah digandeng mesra oleh seorang Sugar Daddy.


Daffin benar benar menjaga ekstra Pelangi, selain menambah jumlah pelayan yang harus mengurusi Pelangi selama 24 jam Daffin juga memindahkan kamar mereka dilantai bawah agar Pelangi tidak lagi menaiki tangga, meski ada lift dirumah mewah mereka namun Daffin tahu kalau Pelangi lebih senang menggunakan tangga.


Daffin berpesan kepada setiap pelayan agar tidak membiarkan Pelangi melakukan apapun, jika Daffin melihat Pelangi mengerjakan pekerjaan rumah tangga melalui pantauan cctv maka mereka harus menerima hukuman berupa pemotongan gaji. Sejak dinyatakan Hamil minggu lalu Daffin juga tidak lagi mengijinkan pelangi  untuk keluar rumah, padahal biasanya ia masih rutin melakukan pemeriksaan dirumah sakit dan menemui Satria diwaktu senggangnya.


.


.

__ADS_1


.


Sementara Melvin sudah hampir seminggu berada disebuah pulau tanpa jaringan dikawasan Sulawesi, ada sebuah Villa mewah disana milik seorang WNA yang biasa disewakan, ia sengaja memilih tempat ini untuk menyambut Eshaq hakan selain karena pria yang dicari Eshaq ditemukan di area Sulawesi eksekutif chef yang banyak digandrungi masakannya oleh para petinggi negara itu menginginkan tempat yang begitu privasi untuk berbicara berdua dengan manusia yang paling ia benci dan ia hampir menghabiskan seluruh tenaganya mencari orang itu hampir disetiap penjuru Indonesia, bahkan pihak berwajib sudah lama menutup kasusnya karena tidak menemukan titik terang, tapi Melvin tak kurang dari satu bulan ia sudah berhasil menemukan manusia selicin belut itu. setelah ini tentu Eshaq hakan tidak akan berfikir dua kali menerima kontrak kerja bersama Jaxton Hotel.


"Mereka masih berbicara?" tanya Melvin seraya meneguk jus Jeruknya, biasanya saat jauh dari Daffin dan tidak harus bertanggung jawab pada sepupunya itu Melvin sesekali mengkonsumsi alkohol namun sejak memutuskan untuk menjadi pendonor Organ ia enggan menyentuh minuman memabukkan itu lagi.


"Masih Tuan" Jawab Jhon patuh, ia bisa menanggap raut wajah Melvin jika Pria itu sudah jengah berada ditempat ini.


Sementara Eshaq dan alfredo nama pria yang membuatnya dan istrinya menjalani hidup setengah mati berada dipaviliun yang berbeda dari Melvin.


"Tuan ingin memeriksa sesuatu?" Jhon melihat Melvin sedari tàdi terus memperhatikan ponselnya yang tergeletak diatas meja, ia yakin pria itu penasaran dengan kabar Daffin dan Hotel Jaxton selama seminggu tidak berada dalam pengawasannya.


"Ah, tidak Jhon sebaiknya kau memeriksa apakah Tuan Eshaq sudah menemukan apa yang ia inginkan dari Alfredo" titah Melvin.


"Baik Tuan!"


Sementara itu Eshaq terlihat berlutut dihadapan Alfredo yang sudah babak belur, pria paruh baya yang nampak mempesona saat muda dulu itu kini terlihat sebaliknya, kulitnya hitam legam dengan urat urat yang menonjol.


pekerjaan sebagai nelayan membuatnya tampak mengenaskan, seandainya dulu ia tidak membuat kesalahan yang sangat fatal mungkin kini ia sudah berdiri sejajar dengan Eshaq Hakan, seorang eksekutif chef yang dihormati dikalangan hotel berbintang.


"Katakan aku mohon" pinta Eshaq memelas, ia sadar kekerasan mungkin tidak akan membuat Alfredo bicara.

__ADS_1


"Apa yang bisa kukatakan, aku hanya bisa meminta maaf padamu" Alfredo lebih nampak sangat menyesal apalagi mendengar cerita jika istri Eshaq meninggal dengan membawa luka yang sudah ia torehkan.


Padahal satu satunya yang bersalah disini adalah dirinya, dan apa yang dilakukan Eshaq dimasa lalu adalah sebuah kebenaran, tapi dengan Kejamnya Alfredo mengubah takdir keluarga kecil itu menjadi sangat mengenaskan.


__ADS_2