
"Bodoh!" Rutuk Laila seraya menyesap rokoknya dalam, ia kembali memutar bola matanya jengah melihat Cleo yang nampak sangat frustasi disampingnya.
Gadis itu memang sangat Bodoh maka dari itu karirnya dalam dunia model tidak mengalami peningkatan, untung saja nama Jaxton selalu disangkut pautkan dengan namanya sehingga masih bisa membuatnya mendapatkan beberapa kontrak kecil.
"Aku tidak Percaya diri Laila, Pelayan itu jauh lebih cantik dariku, dia kelihatan lugu dan polos, usianya mungkin masih belasan dan lebih parahnya lagi Daffin mengakuinya sebagai istri" Jelas Cleo lalu menyeruput alkoholnya hingga tandas, wanita itu benar benar frustasi, seluruh negeri sudah tahu ia adalah calon istri Daffin Jaxton dan kini ia harus bersaing dengan seorang pelayan? Yah! Cleo yakin gadis kecil itu hanya seorang pelayan tidak mungkin Paula membiarkan Daffin menikahi Pelayan.
"Kau kira apa yang membuat suamiku berpaling dariku? Hemm?" Dengan tatapan sayunya Laila mengungkit kembali hal yang membuat rumah tangganya hancur berantakan.
"Mana ku tahu Laila, disini aku yang ingin didengar bukan malah mendengar curhatanmu, lagi pula semua orang tahu suamimu kabur dengan asistenmu sendiri" Ketus Cleo.
"betul sekali! Aku berfikir apa yang membuatku kalah dari asisten yang Wajahnya pas pasan itu"
"Apa?"
"Virgin!"
"Maksudmu?"
"Iya Pria brengsek merasa dia sudah memenangkan lotre apabila bisa merasakan sesuatu yang tersegel, itu yang membuatnya memilih asisten sialan itu" Kesal Laila, ia lalu mematikan rokok dan mulai menuang wine kedalam gelas dihadapannya. Darahnya seakan mendidih mengingat mantan suaminya yang lebih memilih asistennya dibanding dirinya yang lebih cantik, meski ia akui suaminya bukanlah pria pertama baginya.
"Aku masih belum mengerti apa maksudmu"
"Bodoh!" Lagi lagi Laila merutuki Cleo, namun kali ini ia sedikit memberikan toyoran, "Aku yakin Pelayan itu masih virgin sehingga Daffin begitu menggilainya"
"Maksudmu dia tidak akan menggilaiku karena aku bukan virgin?"
"Tentu sayang, aku tahu Daffin seperti apa, ia pria yang mudah bosan dengan wanitanya jika tak ada yang membuatnya penasaran, ia juga bukan tipe pria yang tidur dengan sembarang wanita apa lagi itu pelayan, aku yakin ia menemukan sesuatu pada Pelayan itu hingga ia begitu istimewa"
__ADS_1
"Dan itu adalah Keperawanan?"tebak Cleo
"Yupzz, aku tidak yakin 100 persen tapi sepertinya begitu, Daffin pasti tahu sepak terjangmu selama ini makanya kau tidak berarti apa2 dihapannya meski bu*il sekalipun"
"Mustahil, Daffin sama sekali belum menyentuhku mana bisa ia tahu aku tersegel atau tidak" bela Cleo
"Cih...kau fikir Daffin siapa? Dia seorang pro player, hanya dengan melihat bahasa tubuh ia sudah tahu semuanya"
"Jadi menurutmu apa aku harus....."Cleo menggantung kata katanya seraya menatap lamat Laila, janda tanpa anak yang pernah menjadi partner Daffin di Amerika Dulu.
"Menghilang sejenak dari Daffin, buat ia penasaran dan lakukan operasi selaput dara"
.
.
.
wanita 20 tahun itu terus menunduk menatap lantai mengkilat dibawah kakinya.
"Huh....." Daffin menghela nafas kasar "Pelangi aku adalah pria dengan kesabaran setipis tisu toilet, jangan berani membangkang karena aku memperlakukannmu dengan baik diatas ranjang, itu semua kulakukan demi diriku sendiri" Daffin kembali mencoba meraih pergelangan tangan Pelangi, kali ini tak ada penolakan dari Pelangi setelah mendengar penuturan pria itu disertai sorot mata tajamnya.
Daffin berfikir ia memang harus melindungi Pelangi dari amarah Paula saat berjalan keluar dari Mansion utama ini.
Dafin mematap nanar pergelangan tangan Pelangi yang membiru namun harga dirinya tidak mengijinkannya untuk bertanya, ia tak mau Pelangi berfikir jika ia terlalu peduli cukup dngan genggaman di tangannya.
"Ibu ingin bicaŕa berdua" Tatapan Nyalang Paula menyiratkan sejuta kemarahan disana saat ia berpapasan dengan Daffin yang memegang erat tangan Pelangi.
__ADS_1
Paula masuk kedalam ruang kerja Alexander disusul Daffin yang masih meyatukan jemarinya dengan milik Pelangi. Gadis itu nampak semakin cantik dengan sebuah dress lengan pendek bawah lutut dengan motif bunga bunga kecil berwarna baby pink, sangat serasi dipadankan dengan kulitnya yang seputih porselen china.
"Rilex" sekali lagi Daffin berbisik lembut di cuping Pelangi membuat wanita itu bergidik ngeri dengan tubuh yang sedikit gemetar.
"Jal*ng!!" Paula membanting Asbak tepat di samping kaki Pelangi, untung pecahannya tidak mengenai betis mulus Pelangi.
Pelangi bergeming, dengan peluh dingin yang seakan mengalir disekujur tubuhnya, Jangankan lemparan asbak, bahkan sayatan pedang pun akan ia terima kini jika Paula bersedia melakukannya, itu akan mempermudah perjalanan hidupnya.
"Apa apaan kau Daffin! Kau ingin menunjukkan kepada seisi mansion ini siapa gadis ini sebenarnya" Paula benar benar murka kali ini ia menunjuk wajah Daffin yang menyeringai dengan tatapan remehnya.
Paula sangat membenci Pelangi, meski tidak mirip namun ia bisa melihat wajah Dokter Isyana diwajah wanita itu.
setelah menjodohkan Pelangi dengan Daffin, Alexander memang tidak pernah mengatakan jika Pelangi hanyalah anak angkat Dokter Isyana, maka dari itu Daffin dan Paula masih berfikir wanita 20 tahun itu anak kandung Dokter Isyana.
"Seisi mansion sudah tahu aku suka tidur dengan para Jala*g apa yang ibu takutkan" Jawab Daffin santai, ia tidak sadar kata katanya barusan seakan meremukkan hati Pelangi yang memang sudah lama tidak berbentuk.
Pelangi menggigit mulut bagian dalamnya menahan buliran bening agar tidak luruh dipipinya.
Jalan* ? Pelangi memang menganggap dirinya murahan semenjak Daffin sudah merenggut segalanya dari dirinya jadi ia berusaha berfikir tidak ada yang salah dengan julukan itu, meski hatinya yang luka seakan ditaburi garam mendengar kata kata itu terlontar dari mulut Daffin.
"Cih....Seleramu sudah berubah Daffin" Paula yang berdiri dibalik meja kerja Alexander memindai Pelangi dari atas hingga bawah seraya melipat tangan didepan dada, tidak dipungkiri kata kata Daffin barusan bisa sedikit meredam amarahnya, yah sebagai seorang Ibu ia memang tidak melihat ada rasa cinta dari sorot mata Daffin selain Nafsu, sangat berbeda dengan tatapan Melvin saat mencari wanita itu di Mansionya.
"Pokoknya ibu tidak mau tahu jangan sampai orang orang tahu wanita ini adalah istrimu" Rasanya Paula ingin menyikat lidahnya yang barusan menyebut Pelangi dengan kata Istri.
"Untuk itu aku akan membawanya kembali ke Apartemen agar Mansion ini bisa tetap tenang, dan jangan sekali kali Ibu mencampuri urusan pernikahan ini lagi" Ujar Daffin dengan penekanan hampir disetiap katanya.
Tentu Paula akan mendengarnya kali ini, ia akui memang tak pernah menag jika harus berdebat dengan Daffin putra semata wayangnya yang sangat keras kepala.
__ADS_1
"Ingat gunakan Pengaman ibu tidak mau Jala*g itu mengandung benihmu!" Teriak Paula saat Daffin dan Pelangi sudah hampir keluarbdadi ruangan kerja Alexander .