Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 94


__ADS_3

"Cleo....Cleo....Kau harus lihat ini, kita berha....." Paula yang memang memiliki akses masuk kedalam kamar Daffin menerobos dengan sangat antusias seraya membawa ponsel seharga motor nmaxnya, ia puas dengan pemberitaan yang menggemparkan Media itu.


Paula yakin sekali jika Daffin pasti tengah terlelap karena obat itu adalah obat yang sama yang ia berikan untuk alexander dulu, Ayah Daffin itu bahkan tertidur selama 12 jam setelah menggempur Paula habis habisan lalu menangis tergugu setelah sadar.


Aish...jika mengingat hal itu Paula rasanya masih kesal padahal Alex adalah yang pertama dan terakhir baginya.


Langkah Paula terhenti, ponsel yang dipegangnya tetiba terjatuh melihat sosok yang kini duduk disebuah Sofa.


"Risman?" Alis Paula saling bertautan, apa yang dilakukan pria itu disini? sejauh mata memandang Paula tak bisa menemukan kebradaan Cleo? Kemana calon menantu kesayangannya itu? Sementara Daffin masih terlelap dengan suara dengkurannya yang nyaring, Paula yakin Daffin kelelahan bersama Cleo semalam.


"Paula Jaxton!! Apa belum cukup kau menghancurkan hidup Alexander? Kau juga ingin menghancurkan hidup putranya?" cibir Risman.


Paula yang mendengar mantan anak buah suaminya itu menyebutnya dengan tidak hormat kembali memungut ponselnya lalu dengan congak melipat tangan didepan dada.


Saat Alex meninggal Risman sempat dijadikan sebagai salah satu manager hotel namun karena pengaruh Paula, Daffin akhirnya memecat mantan asisten Ayahnya itu, karena Risman adalah kaki tangan yang Alex yang berhasil menenukan Dokter Isyana.


"heh" Paula tertawa hambar, "Menghancurkan hidup siapa yang kau maksud hah? Apa kau tahu jika Dokter Isyana menikah dengan Alex ia tak akan pernah memiliki penerus, itulah mengapa mertuaku tak pernah merestui mereka. Dan untuk Daffin aku bahkan berusaha menata kembali hidupnya"


"Tidak! Kau ingin menjadikan Daffin sebagai Alex kedua, apa kau tahu betapa Daffin sangat mencintai istri dan anak yang dikandungnya? Jika rencana mu berjalan dengan lancar maka kau akan menciptakan rumah tangga neraka bagi putramu sendiri, kau akan melihat Daffin tak akan pernah bahagia bersama Cleopatra, sama seperti rumah tangga yang kau jalani bersama Alex" Melvin dan Jhon sudah menceritakan bagaimana Daffin yang akhirnya bisa mencintai Pelangi dan begitupun sebaliknya.


"JAGA MULUTMU RISMAN!!!!" Paula tidak terima rumah tangganya disebut bagai neraka oleh Risman, meski pada kenyataannya memang seperti itu.


"Apa aku salah? Cleopatra yang kau sebut calon menantumu itu tak lebih dari sekedar wanita ******, ia rela menjajakan tubuhnya hanya demi sebuah kontrak iklan, apa kau kehilangan kemampuan mencari informasimu? Bahkan info mengenai Dokter Isyana yang tak bisa hamilpun bisa kau dapatkan dengan mudah? Tapi informasi mengenai Cleo dan Keluarganya kau seakan menutup mata, miris!" Risman tertawa mencibir.


"Aku tidak peduli, toh Daffin juga tidak sesuci itu"


"Kau memang orang tua yang buruk"


"RISMAN!!"


" Apa kau tahu bagaimana perjuangan Alexander hingga bisa menemukan Pelangi? 3 tahun" Risman dengan emosi menggebrak meja nakas kuat, meski suaranya cukup memekakkan telinga tapi tidak sampai membangunkan Daffin. " 3 Tahun Paula Jaxton! " Lanjut Risman lagi.


"Cih....3 tahun hingga akhirnya bisa menemukan Pelangi dan ibunya Dokter Isyana bukan begitu Risman?" Sarkas Paula, wanita setengah abad itu membuang pandangannya, jika mengingat sang suami yang bahkan terus mencari keberadaan Dokter Isyana hingga disisa hidupnya membuat Paula sangat geram.


"Yah!!! Alex memang terus mencari Dokter Isyana, tapi tidak seperti yang kau fikirkan "

__ADS_1


Paula semakin geram ia menghardik Risman agar berhenti berbelit belit.


"Mengapa kau terus membahas anak kampung yatim piatu tanpa sekolah dan kedudukan itu Hah?"


"Karena Daffin tak bisa menikahi wanita manapun setelah apa yang dilakukan putramu pada Pelangi, jika ia tidak menikahinya maka putramu akan menyesal seumur hidup sama seperti Ayahnya" Tukas Risman.


"Apa maksudmu?"


"Daffin, Dia pria yang merenggut kesucian Pelangi"


Hening beberapa saat..


Paula berusaha mengatur emosinya, namun aneh apa yang ia dengar barusan justru terdengar membingungkan.


"Kau tahu sendiri sepak terjang putraku, apa maksudmu dia harus menikahi setiap wanita yang ia tiduri? Begitu? Heh" Paula tersenyum mencemooh "Hubungan Daffin dan Cleo akan baik baik saja jika wanita kampung itu tidak hadir, Cleo berhasil merubah Daffin terbukti sejak bersama Cleo Daffin tak pernah lagi bermain wanita"


"Kau benar benar tidak mengenal siapa putramu. apa kau tahu selama 4 tahun ia bolak balik serta gonta ganti psikiater??" Yah, Alexander dan Risman tahu semua apa yang terjadi dengan Daffin dengan masa 4 tahunnya yang kelam.


"Psikiater?" Paula mengerutkan alis, ia menatap lekat Risman dan mencari kebohongan dikedua manik matanya, sayangnya pria itu sama seperti Alexander suaminya, yang tidak pernah berdusta sama sekali.


"Heh" kali ini Risman yang tertawa mencemooh " Kau fikir Cleo yang bisa merubah Daffin?"


Saat tengah beradu dengan Risman ponsel Paula tetiba berdering, nama Melvin terpampang disana.


Sejenak Paula menelan saliva dengan kasar, ia yakin keponakannya itu ingin menuntut mengapa namanya ikut diseret.


"Aish....dasar Cleo aku sudah bilang untuk tidak melibatkan anak itu" geram Paula seraya menempelkan ponselnya dikuping.


Paula keluar dari kamar Daffin yang masih terlelap, ia terlalu malas meladeni Risman.


Namun sebelum benar benar keluar Risman kembali bersuara.


"Dokter Isyana tak bisa memiliki Anak karena Alex, kesehatannya terganggu sesudah ia mendonorkan salah satu ginjalnya untuk suamimu!" terang Risman, ia sudah terlalu lama menyimpan rahasia ini, inilah penyebab mengapa Alexander terus mencari keberadaan Dokter Isyana, karena ia berutang segunung maaf pada Tunangan yang tak pernah direstui keluarganya itu.


Lutut Paula tetiba lemas mendengar penuturan Risman, ia tahu Alex pernah menerima donor ginjal untuk menggantikan salah satuginjalnya yang rusak, saat masih lajang dulu.

__ADS_1


"Kau bohong kan? Kau ingin membuatku merasa bèrsalah pada dua orang penghianat itu" Suara Paula trrdengar bergetar, tanpa sadar ia mengabaikan panggilan Melvin, tapi sekali lagi Paula mengenal Risman sebagai orang paling jujur.


"Untuk apa membuatmu merasa bersalah? toh jika itu terjadi kau sudah tidak punya tempat untuk meminta maaf" Sarkas Risman.


"Kau...." Paula tak melanjutkan kata hardikannya, karena ponselnya kembali berdering. Ia menjawab panggilan tersebut dengan perasaan yang kalut.


"Ha-halo V-in"


" Tante bisa bertemu ?" pinta Melvin dengan suara datarnya.


.


.


.


"Jangan menagis lagi hemm" Melvin menghapus air mata Pelangi yang masih terus mengalir dikedua pipinya.


Pelangi yang bersandar dikepala ranjang hanya bisa terisak dengan sisa air mata yang ia punya, namun senyum getir masih berusaha ia kembangkan.


"Kau begitu mencintainya? " tanya Melvin yang hanya diangguki Pelangi, "Aku yakin Daffin tidak menghianatimu, Percaya padaku aku orang yang paling mengenal pria itu"


"Aku tahu ia tak mungkin menghianatiku dengan tidur bersama Cleo, namun jika ia melakukannya akupun masih bisa menerimanya ia berhak mendapatkan yang terbaik"


"Bagi Daffin kau yang terbaik"


"Akupun tahu itu," Pelangi tersenyum, ia bisa merasa betapa pria itu begitu mencintainya selama ini, namun ia tetap merasa dirinya bukan wanita terbaik yang bisa mendampingi Daffin Jaxton "Aku pernah melarangnya untuk jatuh cinta, tapi kami berdua melanggar aturan itu" lanjut Pelangi seraya menundukkan wajahnya dan Tertawa miris, ia terlalu percaya diri wajahnya bisa meluluhkan hati Daffin dan ia tak ingin pria itu merasakan kesedihan saat dirinya sudah tiada, Ah...Pelangi bodoh! Rutuknya padahal waktu itu Daffin adalah pria yang paling ia benci tapi ia tetap memikirkan bagaimana hancurnya pria itu jika jatuh cinta padanya.


"Cinta adalah sesuatu yang Bodoh bagi Tuan Daffin" Kali ini Pelangi kembali mengangkat wajahnya dan menatap lekat Melvin yang menyorotnya dengan segudang iba.


"Ternyata bukan hanya bodoh, cinta itu menyakitkan bagi Tuan Daffin" Pelangi teringat bagaimana kesakitannya pria itu semalam, ia mengurut kejadian itu dimana Paula tiba tiba muncul, tentu saja semua sudah diatur Paula dan Cleo.


"Cinta kami bodoh dan menyakitkan, Tuan Daffin menerima begitu banyak kebencian karena memilihku, ia dan ibunya saling membenci, Nyonya Paula tak akan menyerah membuat kami berpisah dan itu akan semakin menambah kebencian dihati Tuan Daffin pada Sang Ibu"


"Pelangi apa sebenarnya yang kau bicarakan?"

__ADS_1


"Kak....Apa janjimu padaku masih berlaku? Bisakah aku menggunakannya sekarang"


Melvin mengangguk mantap.


__ADS_2