Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 69


__ADS_3

"Pelangi lagi?" Soraya sudah menunggu dengan wajah ditekuk, sebenarnya sejak mengetahui Pelangi menikah dengan Daffin Jaxton pria mapan nan tampan, Soraya tidak yakin dua orang itu terlibat Affair, akan tetapi kebencian Soraya akibat titah terakhir mertuanya benar benar sudah mendarah daging.


Satria bergeming dari pertanyaan istrinya, ia segera memgambil handuk dan Piyama serta berlalu menuju kamar mandi ,Meninggalkan Soraya yang tengan membaca majalah Fashion di sebuah Sofa.


Saat keluar dari kamar mandi Satria sudah mendapati istrinya setengah duduk diatas tempat tidur sambil bersandar,malam ini rasanya ia tidak ingin berdebat mengenai Pelangi karena bagaimanapun ia menjelaskan Pelangi masih tetap buruk di mata Soraya.


Sora mengamati wajah suaminya yang sembap, pria itu tidak bisa menyembunyikan gurat kesedihannya, Soraya tahu Satria baru saja selesai menangis dan itu aneh, ia hanya dua kali melihat satria menagis, yakni saat kelahiran sikembar dan saat bunda siti meninggal, dan kala itu wajah Satria terlihat seperti malam ini.


"Mas....." Panggil Soraya, kini suaranya sedikit lebih lembut, ia khawatir terjadi sesuatu dengan pabrik mereka.


Satria mengusap wajahnya dengan gusar, saat dimobil ia memang kembali menangis, sebagai orang tua ia merasa gagal menjaga Pelangi, dan amanat terakhir sang Bunda tidak bisa ia jalankan dengan baik.


"Mas....ada apa dengan mu?"


Satria masih bergeming, ia berbaring dan memunggungi sang istri hingga Soraya berdecak sebal.


"Mungkin usianya masih belum genap 1 bulan, bibir dan sekujur tubuhnya membiru karena kedinginan, ia diletakkan begitu saja ditengah hujan yang begitu deras" Ucap Satria dengan sorot mata yang seakan melukiskan kejadian 20 tahun yang lalu.

__ADS_1


"Mas kamu ngomong apasih? " Soraya mendengus


"Ia tidak menagis meski diperlakukan bagai binatang disaat ia sama sekali tidak mengenal apa apa, sehingga tak ada yang menyadari kehadirannya,Kabut dan Pelangi dipagi hari seakan menayambut kedatangannya kepada kami"


"Mas!!!"


"Aku Orang Pertama yang mengangkatnya dengan kedua tanganku, aku orang pertama yang memakaikannya popok, akulah yang pertama memandikannya, aku....." Satria tak sanggup melanjutkannya perkataannya, air matanya kembali meleleh di pipi, ia merasa seperti pria tua yang sangat cengeng, tapi jika itu menyangkut Pelangi jangankan air mata bahkan ia sanggup mengalirkan darah dari dalam tubuhnya.


"Mas!! Berhenti membahasnya, aku membenci gadis itu!!" Sentak Soraya, ia benar bersungut sebal, kini ia sadar Satria tengah membahas Pelangi, selintas lalu ia pernah mendengar cerita serupa dari mertuanya.


"Apa kau tau Soraya, setelah sukses seperti sekarang ini begitu banyak wanita yang datang padaku hanya dengan bermodalkan ************" Satria tersenyum miris ia masih memunggungi sang istri.


"Apa kau pernah melihatku menggubris para wanita itu Soraya? Selama lebih dari 10 tahun usia pernikahan kita apa kau pernah menemukan kejanggalan dari kesetiaanku? Pabrik, Toko, bukankan kau turut andil dalam mengelola keuangannya! Apa pernah kau menemukan aliran dana yang mencurigakan yang kemungkinan aku gunakan untuk berselingkuh?"


"Mas!!"


"Jawab Soraya!"

__ADS_1


"Tidak!" Soraya kini membuang wajahnya kesamping dengan buliran bening yang mulai membasahi pipinya. Sejak berpacaran Dengan Satria ketika pria itu masih seorang mahasiswa Strata dua Satria memang belum pernah macam macam sampai sekarang, entahlah mungkin karena didikan bunda siti hingga Satria tumbuh menjadi pria yang sangat menghargai wanita.


"Lalu mengapa kau begitu membenci Pelangi? Mengapa kau cemburu buta kepadanya? Apa hanya karena permintaan terakhir bundaku? Kau menilaiku terlalu Rendah Soraya, bagaimana mungkin kau berfikir aku akan menikah dengan bayi mungil yang kubesarkan dengan tanganku sendiri, Persetan dengan batasan. bagiku Pelangi adalah putriku, dari Pelangi aku belajar bagaimana menjadi ayah yang baik untuk si kembar, Sampai kapanpun Pelangi akan tetap menjadi putriku meski ia tidak pernah memanggilku dengan sebutan Ayah!!"


Soraya tersenyum mencemooh, "Bagaimana aku tidak cemburu mas" Soraya berbalik dan mengambil sesuatu dari laci nakas, beberapa lembar foto yang diberikan Paula berhamburan didepan wajah Satria.


"Kalian berdua beberapa kali ke Hotel yang berbeda, dia memang gadis jalan* "


Satria tersenyum miring ia menyimpulkan jika Soraya selama ini menguntitnya.


"Aku mengajaknya makan di restoran hotel yang mewah Soraya! Bukan seperti yang ada difikiran kotormu"


"Cih...." Soraya berdecih lirih "Aku berharap gadis itu mati saja" lanjut Soraya


"Soraya kau!!" Tangan Satria terangkat dan lagi lagi hendak menampar istrianya namun urung ia lakukan, Satria sadar hal itu akan semakin menumbuhkan kebencian di hati Soraya kepada Pelangi.


"Kenapa berhenti mas? Tampar aku!!" sentak Soraya kuat.

__ADS_1


"Tadinya aku kira hal buruk yang menimpa Pelangi karena kesalahanku, ternyata memang benar hal buruk itu terjadi kepada Pelangi akibat aku salah memilih istri!! Andai aku menikah dengan seorang wanita yang memiliki sedikit saja hati nurani maka hal mengerikan itu tidak akan pernah dialami Pelangi" ucap Satria datar, ia lalu beranjak menuju ruang kerjanya, meninggalkan Soraya dengan segudang kemarahan yang membuncah didadanya.


__ADS_2