
Pelangi mengerjapkan matanya, ia tak perlu lagi mengumpulkan jiwanya yang sempat bercerai berai dengan raganya untuk memastikan apa yang baru saja ia alami.
Pelangi sadar jika ia sudah diperkosa, Mahkota kesucian yang telah ia jaga selama ini luruh sudah, habis tercabik cabik oleh seorang pria tidak beradab yang kini melingkarkan taƱgannya di pinggang polosnya.
Air mata pelangi rasanya sudah mengering untuk menangisi masa depannya yang hancur dalam semalam.
Gadis itu tumbuh tanpa kekurangan perhatian, kondisi jantungnya yang tidak sehat membuat semua orang yang mengenalnya seakan menjaga dirinya ekstra, Guru, teman sekolah, paman Satria, dan Dokter Isyana bahkan begitu hati hati saat hendak menyentuh tubuhnya, Mereka tahu sedikit saja tubuh Pelangi tersakiti maka akan meninggalkan lebam yang membiru, akibat efek samping obat yang selama ini dikonsumsinya
Namun kini Pria yang sama sekali tak ia kenali bagai menghujam seluruh tubuh Pelangi dengan semua jenis kesakitan yang ada dimuka bumi.
"Tuan tahukah kamu, Pelangi ini hanya seorang gadis kecil yang beruntung masih diberi kehidupan oleh tuhan"
"Maafkan aku yang harus mengembalikan tubuh ini dalam keadaan kotor" Pelangi membatin.
Ia sadar tak akan bisa menuntut pertanggung jawaban pria disampingnya, Pelangi sudah melihat hal serupa di banyak sinetron yang berbeda. Gadis malang itu sebenarnya tengah menunggu kematiannya, namun tuhan masih terus memberinya bonus kehidupan. Pelangi sadar ia tak akan pernah memiliki masa depan dengan kondisi jantungnya yang bagaikan Bom waktu dan pria disampingnya datang lalu semakin mempertegasnya jika memang kehidupannya tak akan pernah memiliki masa depan.
Suasana Kamar sudah tidak segelap tadi malam, sepertinya sebelum tidur Daffin masih sempat menyalakan lampu tidur yang ada diatas nakas.
Pelangi melirik jam yang terpatri didinding, tatapan sayunya bisa melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tanpa menoleh kearah Daffin dengan langkah terseok seok dan tubuh yang remuk redam Pelangi memunguti semua pakaiannya, ia mulai memakai ********** dan rok payung selutut dengan motif polkadotnya, namun saat hendak memakai bajunya, Pelangi sadar sudah tak ada kancing yang melekat pada baju itu. Akhirnya Pelangi mengambil sebuah kemeja putih berukuran besar yang tergantung pada sandaran Sofa.
Sebelum benar benar keluar dari kamar kaki gadis cantik itu tertusuk pecahan beling yang berserakan didepan pintu, namun ia bahkan tak meringis, meski darah segar mengalir dan meninggalkan jejak kaki berwarna merah pada karpet mahal yang terbentang di villa mewah itu.
Baginya tak ada rasa sakit yang lebih menyakitkan dari pada perlakuaan Tuan Muda itu semalam, yang menjadikannya layaknya santapan binatang buas.
Pelangi berjalan tertatih menuju pintu utama yang tidak dikunci, ditaman bahkan sudah tak ada siapa siapa lagi, mungkin mereka melanjutkan pestanya didalam kamar.
__ADS_1
Melvin berdiri diatas balkon sambil menyesap rokoknya Dalam, netranya menangkap pergerakan seseorang yang seperti sedang menyeret sebelah kakinya, ia memicingkan matanya untuk melihat sosok yang ia kenali sebagai wanita bertubuh kecil, cahaya lampu temaran di taman membuatnya sadar jika dia adalah gadis pelayan dengan rok polkadot dan kemeja kebesaran.
Kemeja kebesaran? Melvin mematikan rokoknya di pagar pembatas dan membuang puntungnya kebawah, ia berlari lari kecil demi mengejar gadis pelayan itu, entah apa alasannya ia pun tak tahu, namun saat didepan gerbang ia sama sekali tak menemukan siapa siapa, hanya kegelapan pekat yang mengitari seluruh jalanan.
Akhirnya Melvin kembali masuk kedalam villa dengan hati yang dipenuhi tanda tanya.
Apakah gadis itu putri Mbok Yum? Tapi jika itu Lisna maka ia langsung bisa mengenalinya, meski tidak akrab namun ia tahu wajah putri Mbok Yum pelayan yang sudah menjaga Villa ini sejak dibangun.
Lalu Mengapa ia keluar dengan langkah seperti itu pada tengah malam begini?
Melvin menggeleng pelan, lagi pula ia seharusnya tidak seperti ini, ia bukan type pria yang gemar ikut campur urusan orang lain, terkecuali Daffin, untuk yang satu itu Melvin memang harus terlibat dalam kehidupan sepupu sekaligus calon atasannya kelak.
...****...
Semburat matahari menghampiri siang menyeruak masuk melalui jendela kaca yang tirainya memang terbuka dari semalam. Daffin bangun dari tidur panjangnya seraya tersenyum bahagia. Ia mengingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya dan menemukan banyak noda darah di seprei putih tempat tidurnya.
Saat hendak keluar kamar langkah kakinya terhenti ketika hampir saja menginjak pecahan kaca yang berserakan cukup banyak.
"Mbok....Mbok yum" panggil Daffin kesal, Sorot matanya begitu tajam menatap Mbok Yum yang sudah menghampirinya dengan berlari tergopoh gopoh dari lantai bawah.
"Ada apa Tuan Muda?"
"Bersihkan pecahan kaca ini"Titah Daffin, ia lalu mengambil langkah lebar agar tidak menginjaknya.
Daffin berjalan menuju meja makan yang terletak di lantai bawah, disana sudah menunggu kedua sahabat bejatnya dan juga Melvin, Vano dan Reza menatap takut kepada Daffin karena gagal menyediakan gadis yang ia inginkan, sementara gadis yang mereka pakai tadi malam sudah pulang begitu pesta usai.
__ADS_1
"Daffin, sorry ya, gadis pesananmu tidak bisa datang semalam, diperjalan tiba tiba saja ia Datang bulan"
Daffin yang baru saja meneguk segelas air putih menatap bingung kearah dua sahabatnya.
Tidak Jadi datang?
Bukankah mereka yang mengirim gadis perawan itu semalam?
"Kalian bercanda? Bukannya gadis perawan yang semalam tidur denganku adalah suruhan kalian? Aku ingat betul menyuruhnya naik kekamar begitu tiba.
"Perawan?" Vano dan reza saling bertukar pandangan bingung, lalu tertawa terbahak bahak bersamaan. sedangkan Melvin seperti biasanya tanpa ekspresi, ia terlalu malas menimpali jika pembahasannya berkaitan dengan wanita jalan*.
"Daffin jangan bilang kamu berhalusinasi" Vano masih tertawa kecil.
"Terus dimana gadis kalian?" tanya Daffin.
"Kami sudah menyuruh mereka pergi setelah puas bermain, tak ada yang menginap" Jawab Reza.
"Mana mungkin halusinasi, aku benar benar merasakannya, bahkan darahnya masih tertinggal di seprei"
"Pshhhhh hahahaha......" Vano mengeluarkan semua air yang baru diminumnya, " Daffin kamu terlalu mabuk sobat, tak ada yang datang kekamarmu semalam..."
"Kecuali Mbok Yum" potong Melvin, kini ketiga pasang mata pria bejat itu mengarah kepada Melvin. Yah Melvin ingat menyuruh Mbok Yum memberi minuman penghilang mabuk.
"Jangan bilang.......hahaha, sudahlah bro jangan terlalu difikirkan kau hanya bermimpi" Vano berdiri dari meja makan karena sudah menghabiskan sarapannya, "mau balik tidur lagi aku, masih lelah" ucapnya seraya menepuk pundak Daffin yang masih melongo.
__ADS_1
"Tunggu Van" Reza pun menyusul langkah Vano.
Kini hanya Melvin dan Daffin yang berada dimeja makan.