Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 76


__ADS_3

Beberapa Hari di Jakarta perasaan Daffin perlahan membaik, ia batal memecat semua pelayan, senyuman pun tak pernah hilang dari wajahnya.


"Ada rapat dengan orang orang dari kementrian pariwisata pukul 1 nanti " Ucap Melvin yang baru saja masuk.


Alis pria itu bertatut tatkala melihat Daffin yang hanya beegeming seraya menggosok dagunya pelan.


Ada apa dengannya?


"Bagaimana kondisi Pelangi?" Melvin mengalihkan topik.


Seketika wajah Daffin kembali datar, " Baik, aku akan membawanya Ke Amerika begitu bayi kami lahir" Tukas Daffin.


"Aku yakin kau sudah berbicara dengan Dr. Emy" Melvin mencoba mengingatkan jika mempertahankan kandungan Pelangi akan membahayakan nyawa Istrinya itu.


" Aku akan memastikan Pelangi akan hidup lebih lama dari pada diriku"


" cih, kau egois hanya demi mengikat Pelangi kau rela mempertaruhkan nyawanya"


"Aku tidak butuh anak untuk saling mengikat, karena Pelangi sudah nemberikan hatinya kepadaku secara utuh" Jelas Daffin dengan senyum smirknya.


Mendengar Pengakuan sepupunya,Melvin seakan bisa mendengar gemuruh petir dari dalam dadanya.


Ia beberapa kali menelan saliva dan sialnya Daffin bukan tipe pria pendusta, Melvin yakin Pelangi sudah mengakui perasaannya.


Apa itu alasannya wanita itu mau memaafkan semuanya?


Daffin menelisik wajah Melvin yang tiba tiba berubah pias, ia merasa sangat jahat kepada sepupunya itu, namun jika difikir Melvin jauh lebih tidak beradap bisa bisanya ia mengharapkan seorang wanita yang tengah mengandung anak dari pria lain.


Melvin berdiri dengan tatapan kosong yang entah mengarah kemana. " Jangan lagi menyakitinya, Atau kau akan menyesal seumur hidupmu!" Ucap Melvin sebelum Pergi meninggalkan ruangan Daffin dengan tangan yang mengepal sempurna.


Daffin tak terlalu risau dengan ucapan Melvin barusan, toh siapa juga yang mau menyakiti wanitanya? Bahkan ia sudah berjanji akan membuat Pelangi selalu tersenyum selama berada disisinya.


.


.


.


"Usap kepalaku" pinta Daffin yang langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Pelangi, tatkala wanita itu tengah asyik menikmati pemandangan melalui beranda kamarnya.


Pelangi duduk disebuah kursi panjang dari kayu jati hitam dengan ornamen tradisional jepara. Pemandangan didepannya memperlihatkan hamparan kolam berenang dengan air yang seakan berwarna biru.


Kaki Daffin setengah menggantung karena tak kursi itu tak mampu menampung semua tubuh jangkungnya.


Perlahan tangan Pelangi terulur memberikan belaian lembut kepada Pria yang tak pernah ia sangka bisa menghuni sebagian hatinya, seorang Pria yang sangat sangat ia benci dulu. Namun Pelangi tetap berharap Daffin tidak terlalu menganggap perasaannya, ia tak ingin pria itu larut kedalam Cinta yang tak bisa ia jamin kelangsungannya.


Daffin berhak bahagia, dan biarlah ia yang membawa rasa ini pergi bersama raga yang tak lagi dinaungi jiwa kelak. Pelangi selalu merasa usianya tidak akan lama lagi.


'Mungkin hidup Pelangi sudah tidak lama lagi bun' ucapnya karena terlalu sering merasakan sakit didadanya.

__ADS_1


'jika kau merasa ingin mati berarti usiamu masih lama' Bunda siti menoel hidung Pelangi.


Dan benar saja wanita tua itu pergi duluan bahkan sebelum menitipkan pesan pesan terakhir.


Bolehkah Pelangi Egois berharap memiliki usia yang lebih panjang meski terdengar mustahil?


Transplantasi Jantung?


Heh?


Bahkan seorang anak mentri pun masih ada yang masuk kedalam daftar tunggu dan harus menunggu 5 tahun lagi untuk menerima Donor organ.


"Tidurlah Tuan" Pelangi mengusap penuh kasih kepala Daffin.


"Kau ingin tempat tinggal seperti apa Pelangi?"


"Tempat tinggal?" Alis Pelangi berkerut.


"Iya semacam rumah impian"


"Ah......" Pelanģi terdiam lalu memejamkan matanya, ia terbayang suasana panti saat dirinya masih kecil dulu, sebuah bangunan permanen tua dengan halaman hijau yang sangat luas, serta beberapa pohon mangga yang bisa ia panjat ketika musimnya tiba, dan Satria akan berteriak kesetanan jika mendapati dirinya memanjat. Pria dewasa itu memang selalu lebih menyayangi Pelangi dari pada anak anak panti lainnya.


Daffin menikmati wajah teduh pelangi yang seakan tengah merangkai rumah masa depannya.


"Bagaimana?"


"Panti asuhanmu dimana?"


"Di desa B,"


"Desa B..., seketika tubuh Daffin terasa begitu dingin, ia ingat tempat yang disebutkan Pelangi, itu adalah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kelurah tempat villanya berada, dan ia bahkan mencari gadis 4 tahun lalu sampai kedesa itu. Tempat itu dan sekitarnya seakan memiliki trauma bagi Daffin karena hal itu ia tak pernah lagi kembali ke Villanya.


"Semoga ia baik baik saja" Gumam Daffin, ia memang sudah lama tidak memikirkannya, kabar dari Melvin yang mengatakan jika gadis itu telah menikah dan hidup dengan pria kaya membuat Daffin bisa mengurangi rasa bersalahnya.


"Ada apa Tuan?" Pelangi bisa melihat jika wajah Daffin tiba tiba berubah tegang.


" Pelangi, kau ingat dengan kisah yang ku ceritakan 4 tahun lalu? Kejadian yang membuatku trauma dan tidak bisa menyentuh gadis lain selain dirimu?"


Pelangi memgangguk lemah, tentu ia ingat tapi kini ia sudah tidak ketakutan lagi setiap teringat hal itu.


Ah..pelangi benar benar berhasil berdamai dengan masa lalunya.


"Kejadiannya di Kelurahan X, itu berbatasan langsung dengan Desa tempat tinggal mu Pelangi" Daffin menyamping dan memeluk erat pinggang istrinya. Tubuhnya sedikit bergetar dengan telapak tangan yang seakan Beku. Pelangi bisa merasakannya jika Daffin belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian itu, ada rasa bersalah didalam dirinya yang begitu besar.


"Aku yakin gadis itu baik baik saja sekarang Tuan, Kau harus bisa melupakannya, jika ia membencimu mungkin ia akan mencari Tuan dan menuntut pertanggung jawaban heem....cobalah berdamai dengan masa lalu tuan Heem....."


"Pelangi" Daffin menengadah menatap wajah cantik sang istri.


"Iya Tuan"

__ADS_1


"Apa kau juga seperti itu? "


"Berdamai dengan masa lalu?"


Daffin mengangguk.


"Iya Tuan, kini aku merasa seperti Amnesia, tak ada lagi hal mengerikan yang ku ingat pernah terjadi dimasa laluku"


"Aku akan berusaha...." Daffin membelai pipi Pelangi " Bisa aku meminta satu hal Pelangi"


"Apa itu Tuan"


" Jangan memanggilku Tuan lagi "


"Tapi....Pelangi harus memanggil apa Tuan?"


"Terserah asal jangan Tuan"


"Kak?"


"Apa kau pernah melihat seorang Kakak meniduri adiknya?" wajah Daffin berubah muram, ia tak suka dengan panggilan itu, ia tak ingin panggilannya sama dengan Melvin.


Pelangi mengulum senyuman, " Biarkan seperti ini dulu Tuan, Pelangi suka memanggil Tuan, ketika anak ini lahir Pelangi akan memanggil dengan sebutan Ayah Bagaimana?"


Daffin benar benar tersentuh, beberapa kali ia mengulang Kata ' Ayah ' didalam benaknya, dulu ia paling tidak suka setiap harus menyebut panggilan itu, karena Daffin tak pernah melihat sedikitpun rasa cinta di tiap tatapan sang ayah, bagi Alexander kehadiran Daffin adalah batu sandungan antara ia dan Dokter Isyana sehingga tidak bisa bersama.


Tapi kini Daffin berjanji akan menjadi seorang ayah yang bagi anaknya kelak.


.


.


.


....


"Pelanginya ada pak?" Tanya seorang wanita cantik, yang nampak anggun dan dewasa.


Ia tertahan didepan pintu gerbang rumah Pelangi, karena security tidak akan membiarkan orang sembarang masuk kedalam rumah, Sesuai perintah Daffin. Apalagi disaat Tuannya itu sedang pergi ke Hotel untuk bekerja.


"Maaf Saya tidak bisa memberi informasi apapun mengenai penghuni rumah ini" Ketus sang security namun masih dengan pandangan menelisik wanita cantik itu dari ujung kaki sampai kepala. Ia merasa familiar dengan wajah dihadapannya.


"Saya, teman Pelangi pak, mungkin anda bisa mengkonfirmasinya dulu, katakan Cleopatra ingin bertemu" ucau Cleo dengan penuh kelembutan, ia yakin Pelangi akan bertemu dengannya mengingat betapa bodoh dan penurutnya wanita itu apalagi Daffin sedang tidak berada dirumah.


"Cleopatra?" Ah kini sang security tahu siapa wanita dihadapannya, wajahnya sering wara wiri di tv karena membintangi salah satu minuman kemasan Jas Jes.


"Baiklah tunggu nona kami akan memberitahu Nyonya Dulu" .


"Sikahkan" Cleo menyeringai licik begitu security itu masuk kembali kedalam posnya, ia menghubungi seseorang yang berada didalam rumah sana.

__ADS_1


__ADS_2