
"Tuan anda tidak apa apa?" Jhon meraih ponsel yang baru saja dijatuhkan Melvin, Pria itu masih bisa merasakan getaran hebat ditangannya.
Hari ini sebuah taxi online bergerak cepat menuju bandara Sultan hasanuddin, Yah Melvin dan Jhon hendak kembali ke Jakarta guna mengurusi masalah Eshaq Hakan.
"Sial ! Sial!" Melvin mengepalkan tangannya dan meninju dengan kasar sandaran Jok depan hingga bengkok.
"HEI TUAN APA YANG KAU LAKUKAN!!" sentak sang supir taxi melihat kondisi mobilnya, tapi Melvin tak menggubrisnya, Jhon yang sudah tau apa yang harus ia lakukan segera meminta maaf dan mengeluarkan setumpuk uang dari dalam tas jinjingnya yang berjumlah 20 juta.
"Maafkan kami pak, bos saya sedang dalam kondisi yang tidak baik," jelas Jhon seraya mengulurkan uang ganti rugi kepada sang supir.
Supir tersebut berdehem acuh tak acuh lalu mengambil segepok uang itu, ia merasa tidak rugi sama sekali bahkan jika Melvin harus merusak jok tersebut, toh harganya tak akan lebih dari 5 juta.
"Iya baiklah"
Suasana kembali tenang, Melvin memijat pelipisnya kuat, sementara Jhon tak berani bertanya, baru kali ini ia melihat Melvin segusar ini.
Jhon melirik layar ponsel Melvin yang menampilkan berita mengenai Istri Daffin Jaxton, pemilik Jaxton Hotel yang tengah berbadan dua.
Istri?
Hamil?
Sebagai karyawan Jaxton yang bekerja dalam bayangan, Jhon baru tahu jika ternyata Daffin sudah memiliki istri.
Apa ini yang membuat Melvin murka?
Jhon melirik Melvin lalu menghentakkan kepala kuat guna mengusir fikiran nyelenehnya.
Tidak mungkin Melvin cemburu pada Daffin, mereka tidak memiliki hubungan seperti itu, siapa yang tidak tahu sepak terjang Daffin dalam dunia wanita! tapi jika bukan itu apa mungkin Melvin marah bukan karena menyukai Daffin melainkan istrinya?
Jhon men zoom potret Daffin yang tengah melindungi wajah istrinya dari sorotan kamera, namun ia tak bisa melihatnya dengan Jelas.
"Berikan ponselku!" Titah Melvin.
Jhon pun menurut tanpa banyak bertanya.
Melvin lalu melakukan panggilan ke Kontak Ayu.
__ADS_1
.
.
.
"Nyonya ada yang ingin bertemu..." Seorang Pelayan baru saja masuk kedalam kamar Pelangi dan memberitahu, padahal wanita yang tengah hamil muda itu baru saja beristirahat dari meladeni Ayu yang memintanya untuk menggugurkan kandungannya, entah sudah berapa kali Ayu datang dan membujuknya, Meski Pelangi sudah berusaha meyakinkan Ayu jika kondisi jantungnya baik baik saja, ia bahkan tidak pernah merasa nyeri sejak di nyatakan hamil.
"Siapa?" tanya Pelangi, wanita itu bersusah payah untuk turun dari ranjang, ia memang tidak merasa ada yang salah dengan jantungnya namun kondisi tubuhnya entah mengapa semakin melemah, Pelangi memduga hal ini karena pola makannya yang kurang baik ditambah lagi ia masih memuntahkan makanannya setiap selesai makan.
"Entahlah Nyonya, ia seorang wanita"
"Oh, baiklah, kak bisa bantu saya berdiri" Pelangi mengulurkan tangannya agar disambut sang pelayan wanita yang usianya sedikit lebih tua dari Pelangi itu.
Setelah keluar dari kamar, Pelangi sudah tidak ingin dibantu, ia meminta sang pelayan untuk kembali kebelakang diiringi senyuman manisnya.
Pelangi berjalan sendiri menuju ruang tamu yang terlerak jauh dari kamarnya, ia perlu melewati ruang keluarga dan sebuah ruangan santai yang juga berukuran besar, ia tak mengerti mengapa Daffin membeli rumah yang sangat besar ini.
Jantung Pelangi rasanya berdetak lebih cepat saat melihat wanita yang hendak menemuinya, wanita paruh baya yang masih nampak sangat cantik itu datang dengan didampingi 3 orang bodyguard yang nampak sangar. Yah Paula harus membawa serta pengawalan ekstra karena kedatangan sebelumnya ia tak diijinkan masuk oleh dua orang penjaga keamanan dan itu semua atas perintah Daffin, meski Paula koar koar jika ia adalah Nyonya Jaxton.
Pelangi memberi kode dengan pejaman mata agar kedua security itu tak perlu khawatir dan kembali ke pos jaga masing masing.
"Nyonya" Sapa pelangi gugup.
Paula yang mendengarnya hanya tersenyum remeh, yah sudah seharusnya wanita itu memanggilnya dengan sebutan seperti itu, karena ia tidak pernah mengakui keberadaan Pelangi sebagai menantunya.
"Berapa yang kau butuhkan untuk menggugurkan kandunganmu? 1 milyar ? 2 milyar? Katakan padaku !" ujar Paula langsung pada intinya.
Pelangi menunduk dalam, jantungnya terasa diremat dengan segumpal garam, padahal anak yang ia kandung adalah cucu dari wanita kaya dihadapannya.
"Kenapa? Kau berfikir bagaimana ada nenek yang tega membunuh cucunya sendiri? Cih...." Paula menatap jijik pada wanita dihadapannya yang masih menunduk, ia yakin anak dalam kandungan Pelangi bukanlah darah daging Daffin, kalaupun Ia ia juga tidak sudi mengakuinya karena dimata Paula Pelangi adalah wanita ****** peliharaan om om. Ia sudah menyelidiki Pelangi dan beberapa kali orang suruhannya melaporkan jika Pelangi nampak sangat mesra dengan seorang Pria dewasa, keyakinan Paula diperkuat dengan laporan Cleo beserta foto foto yang ia ambil sendiri.
"Katakan anak siapa yang ada didalam perutmu?" sarkas Paula.
Seketika Pelangi mengangkat wajahnya yang mulai nampak memucat.
"Apa maksud Nyonya? Anak ini anak Tuan daffin " timpal pelangi dengan suara yang melemah.
__ADS_1
"Lalu siapa pria ini?" Paula mengambil tumpukan foto yang telah dicetak dari dalam tasnya dan menghamburkannya didepan wajah Pelangi.
'Paman Satria' Batin pelangi, menyaksikan beberapa posenya dengan Satria yang memang bisa membuat orang salah paham jika tidak mengetahui ikatan yang terjalin antara dirinya dengan pria itu, Bagi Pelangi Satria adalah, Ayah, paman ,dan kakak baginya, Satria adalah satu satunya keluarga yang masih ia miliki didunia ini.
Pelangi bersimpuh dilantai dan memunguti satu persatu potret dirinya dan Satria, "Anda salah paham Nyonya" Pelangi berusaha membela diri.
"Dasar Jala*g! Kau masih berhubungan dengan pria tua itu saat masih menyandang Istri dari Putraku" Akhirnya Paula mengakui jika Pelangi memang istri sah dari Putra semata wayangnya.
"Dia Pamanku Nyonya" Aku Pelangi.
Paula yang geram dengan tingkah Pelangi yang ia fikir Sok Polos itu mendekat dan merukuk untuk meraih Dagu Pelangi dan dalam satu kali hempasan telapak tangannya ia menampar Pelangi dengan sangat kuat dan membuat sudut bibir menantunya mengeluarkan darah segar.
"Ibu!!!"
"Tante!!!"
Daffin dan Melvin yang datang bersamaan segera mendekati Pelangi yang sudah tidak sadarkan Diri.
Pelangi!!
Wanita itu pingsan, dan Daffin membawa tubuh Istrinya kedalam dekapannya lalu tak lupa memberi tatapan tajam kearah ibunya.
"APA YANG IBU LAKUKAN PADA ISTRIKU!!" hardik Daffin dengan kasar. Inilah alasan ia memerintahkan kepada penjaga agar tidak pernah membiarkan Ibunya masuk kedalam rumah yang ia beli khusus untuk Pelangi.
"Kau membentak Ibumu Daffin Jaxton? Kau tidak lihat ini" Paula memungut beberapa foto yang berserakan dan melemparnya dengan kasar kewajah Daffin, hingga pria itu bisa melihat betapa pelangi tersenyum hangat didalam foto itu dalam rangkulan seorang pria dewasa yang masih nampak gagah.
Ekspresi Daffin sempat goyah, namun keselamatan Pelangi kini yang harus lebih ia utamakan.
"Melvin siapkan mobil, Pelangi harus kerumah sakit"
"Berikan ia padaku" Melvin melihat Daffin yang nampak syok, ia ragu Daffin bisa membawa tubuh pelangi.
Kali ini Daffin mengalah, entah mengapa ia merasa tubuhnya seakan tak bertulang melihat foto foto Pelangi, ia tahu itu bukan Rekayasa dan dalam foto itu Pelangi menggunakan Baju yang ia pilih sendiri untuk dijadikan koleksi istrinya didalam Walk in closet.
Itu artinya kejadian Didalam foto itu adalah peristiwa saat Pelangi sudah tinggal didalam rumah ini.
Tapi siapa pria dewasa itu?
__ADS_1