Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 91


__ADS_3

Acara peresmian Jaxton Tower dimulai saat Petang. Selain Cleo, Melvin , Paula dan Ayu juga nampak hadir disana, beberapa kolega bisnis Daffin pun tak luput dari undangan serta beberapa CEO yang sudah memutuskan untuk berkantor di Jaxton Tower nanti.


Tower Jaxton terdiri dari 30 lantai dan memang dipersiapkan khusus sebagai gedung perkantoran. Letaknya yang strategis membuat Tower tersebut langsung diserbu para Pelaku usaha bahkan sebelum peresmiannya.


Setelah acara gunting pita yang dilakukan Daffin dan Paula, para peserta bersorak riuh menyambut kesuksesan Daffin. Sementara Pelangi yang didampingi Dokter Ayu terlihat semakin Insecure, Daffin sengaja mengundang Ayu memang sengaja untuk menemani sang istri.


"Suamimu luar biasa Pelangi" bisik Ayu.


"Iya Dokter" timpal Pelangi seraya menelan Saliva sembari melirik beberapa wanita muda dengan dress anggun nampak menatap Daffin dengan sorot penub damba.


"Setelah ini kau harus menunjukkan beberapa titik Khusus kepada para wartawan" Bisik Melvin tepat disamping Daffin.


"Padahal gedung ini sudah full penyewa untuk apa masih di promosikan?" Daffin sedikit mencebik.


"Formalitas!" Tukas Melvin.


Daffin dan Melvin akhirnya menggiring para wartawan untuk melihat setiap titik istimewa yang terdapat pada gedung miliknya.


"Selamat Tuan atas keberhasilannya membangun satu lagi gedung pencakar langit, namun kali ini bukan Hotel " ucap salah seorang wartawan yang diangguki wartawan lainnya sambil mengambil sebuah jepretan.


"Bagaimana perasaan Tuan kuseksesan Tuan dibarengi dengan kesuksesan rumah tangga Tuan ?yang sebentar lagi akan memiliki calon penerus" tanya wartawan lagi, kali ini ia adalah pria yang bertemu Daffin di basement.


Mendengar pertanyaan tersebut para awak media kembali antusias dalam membidik Daffin, pria 29 tahun itu tak bisa menyembunyikan gurat bahagianya dan terus tersenyum,sebuah pemandangan langkah dimana Daffin biasanya tampil dimajalah bisnis dengan wajah dinginnya.


"Sangat bahagia, dan saya berterima kasih kepada istri saya karena bersedia menjadi istri dan ibu dari anak saya" Daffin masih tersenyum.


"Selamat Tuan" para wartawan bersahutan bersama sama.


"Cukup pertanyaan mengenai hal pribadi, silahkan lanjutkan dengan pertanyaan mengenai Tower atau Hotel Jaxton" Melvin tiba tiba menyela, tak ada protes dari para wartawan, karena mereka memang berasal dari media bisnis yang diharuskan menggali berita mengenai laju bisnis di negeri ini.


Sementara di luar Paula berusaha menarik perhatian Ayu, ia mengajak Dokter muda itu berbincang agak Jauh dari Pelangi, sehingga Ayu lupa apa tujuan ia diundang oleh Daffin keacara itu. Dengan iming iming akan dikenalkan kepada Saudara Paula yang tak lain adalah Ibu dari Melvin, Ayu lupa akan keberadaan Pelangi dan membuat Cleo leluasa mendekati saingan cintanya itu.


"Hai Pelangi bagaimana kabarmu? Luka ditanganmu baik baik saja kan?" tanya Cleo tanpa rasa beralah sama sekali, ia menghampiri Pelangi ditemani dua orang wartawan.


"Aku baik baik saja nona" reflek Pelangi membuka telapak tangannya yang sama sekali tidak meninggalkan bekas disana padahal dua bulan lalu lukanya cukup dalam.


"Wah anda cantik Sekali Nyonya bisa minta waktunya sebentar?" bujuk salah satu wartawan sementara yang satnya bersiap dengan kameranya.


"U-untuk A-apa?" Pelangi tergagap, suasana di tempat ini benar benar asing baginya apalagi tak ada Ayu disisinya.


"Jangan gugup begitu Pelangi" Cleo tersenyum mencibir, "Mereka hanya wartawan, sebagai istri Daffin kau harus terbiasa dengan wawancara kecil seperti ini" lanjut Cleo lagi, ia lalu membawa Pelangi seraya menarik tanganya dengan kasar.


wartawan itu menanyakan beberapa pertanyaan standar diawal, seperti bagaimana kondisi dan usia kehamilannya. Pelangi terlebih dahulu dibuat rileks agar tidak terlalu canggung dengan wawancara ini.


"Dari sebuah sumber saya menemukan jika anda pernah menjalin hubungan dengan pria yang lebih Tua?" Sang wartawan memulai serangannya.


"Ah...itu tidak Benar, Aku.....itu adalah pamanku" Pelangi tergagap.

__ADS_1


"Ah...begitu" wartawan tersebut manggut mangut, " Oh iya apa benar anda dijodohkan oleh Tuan Alex dan menjadi orang ketiga dalam hubungan Tuan Daffin dan Cleopatra yang sudah terjalin selama 4 tahun?"


"Itu....."


"Apa anda tidak keberatan dengan sebutan Pelakor yang disematkan pada anda? dari sumber yang kami terima ibu angkat anda juga seorang Pelakor diantara hubungan Nyonya Paula dan Tuan Alex? apa anda memanfaatkan hal itu untuk masuk kedalam kehidupan Tuan Daffin?"


"Maaf aku harus segera Pergi" Pelangi yang mulai memucat mencoba menerobos dua barikade wartawan dari akun gosip tersebut, namun ia gagal tubuhnya terlalu lemah, ia mulai mengedarkan pandangan dan mencari keberadaan siapapun yang bisa membawanya pergi tapi nihil, Ia hustru mendapati tatapan sinis dari beberapa gadis yang tadi ia dapati menatap penuh damba kepada suaminya, sepertinya mereka mendengar perkataan wartawan tersebut.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh ia juga melihat Daffin dan Paula yang dikerumuni wartawan sementara Cleo terlihat selalu berusaha menempeli Paula.


Keluarga yang serasi, pikir Pelangi. Rasanya kehadirannya disini seakan tidak dibutuhkan. Tanpa Pelangi tahu Daffin gusar ingin segera menghampirinya namun Paula mengancam agar Daffin tidak bertingkah dihadapan wartawan dan membiarkan sesi ini berlalu dengan lancar.


"Nyonya maafkan jika pertanyaanku sedikit menyinggung" wartawan itu tersenyum tipis.


"Aku dan ibuku bukan Pelakor!" Tukas Pelangi, lalu berbalik dan berjalan menjauhi kerumunan. jika tidak bisa mendekati Daffin mungkin sebaiknya ia menjauh agar tidak menjadi sasaran empuk para pemburu berita.


Namun usaha Pelangi sia sia, dua wartawan itu kembali mengejarnya hingga turun ke basement.


"Nyonya..."


"Nyonya...tunggu!"


Langkah Pelangi terhenti, ia menoleh dengan wajah muramnya yang pucat seraya memegang dada yang sedikit sesak dan nyeri.


"Tolong mbak, saya butuh istrirahat" pinta Pelangi lembut.


Model tidak laku itu tahu betul kelemahan Pelangi.


"Ada yang mengatakan anda memiliki hubungan khusus dengan sepupu suami anda sendiri yakni Melvin Mahendra, apa itu betul?"


Nafas Pelangi tercekat ia mengepalkan kedua kepalang tangannya mendengar tuduhan dua wartawan yang diungkapkan dalam bentuk pertanyaan.


"Anda keterlaluan!!!" geram Pelangi, ia ingin berbalik namun wartawan kurang ajar itu meraih lengannya.


"Satu lagi Nyonya, anda yakin anak yang anda kandung adalah anak Tuan Daffin Jaxton? Bukan anak dari....."


"CUKUP!!!" teriak Pelangi seraya tertunduk, ia meremas kedua sisi dressnya, ia merasa disudutkan, Pelangi tahu pasti! Dua orang wartawan ini adalah orang suruhan Cleo.


"Kalian ingin tahu semua tentang saya kan? Saya Pelangi anak dibesarkan di panti asuhan lalu diadopsi....."


"Pelangi!!" Melvin yang hendak mengambil ponselnya yang tertinggal di mobil kebetulan melihat Pelangi yang seakan gugup menghadapi dua orang yang ia ketahui sebagai wartawan.


Mata Pelangi semerah saga berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Kak...." lirihnya.


Melvin tersenyum sinis kearah dua orang wartawan yang mulai menundukkan wajahnya. ia meraih Id Card yang tergantung didepan dada wanita yang terus mencecar pelangi tadi.

__ADS_1


"Hot gosip news" Melvin menyorot tajam keduanya setelah membaca media asal mereka. "Jaxton tidak pernah mengundang wartawan dari media gosip seperti kalian " sinis Melvin. Ia lalu menoleh kearah Pelangi.


"Kau baik baik saja" Perubahan air wajah Melvin terlihat jelas tatkala menyorot Pelangi yang hanya bisa mengangguk.


"Kita masuk Pelangi," Melvin menggenggam tangan Pelangi dan melupakan tujuan yang membuatnya berada di Basement ini. Ia membawa Pelangi menjauh dari dua bedebah itu.


Begitu pintu lift terbuka mereka berpapasan dengan Daffin yang perhatiannya langsung tertuju pada tangan istri dan sepupunya yang saling bertautan.


" Ceklek!" Sebuah gambar diambil oleh kedua wartawan tersebut sebelum berlari meninggalkan mereka bertiga.


"Sial!!!" Melvin melepas tangan pelangi dan berlari mengejar wartawan itu.


"Perhatikan tingkahmu Pelangi! Ada banyak kamera yang menyorotmu hari ini" Tatapan Daffin benar benar seperti menelanjangi Pelangi, sorot mata elangnya seakan berkata 'Apa yang sudah kau lakukan bersama Melvin disini'.


Salah paham pikir Pelangi.


Tapi baik Daffin maupun Pelangi enggan mengutarakannya. Daffin lebih memilih menggenggam Tangan istrinya dan membawanya pergi ke tempat acara makan malam yang tengah berlangsung. Namun sebelumnya dan setelah Lift bergerak naik perlahan, Daffin tiba tiba mengurung tubuh Pelangi diantara kedua tangannya yang bertumpu pada dinding lift, ia memejamkan matanya dalam seraya mendengus kesal.


"Tu-Tuan ada apa?" takut Pelangi, jantungnya tetiba berdetak lebih cepat.


Daffin membuka matanya yang memerah menahan amarah " Tolong Pelangi, jangan membuatku menyakiti hatimu lagi, Jauhi Melvin aku tidak suka kau berada disekitarnya apalagi sampai menyentuhmu" Tegas Daffin.


Pelangi mengangguk perlahan dengan buliran bening yang mengalir dipipinya.


'Andai kau tahu apa yang kualami' batin Pelangi.


Melihat istrinya menangis, Daffin meluluh ia menarik tubuh pelangi dan mendekapnya erat, sambil berbisik " Aku tak suka milikku disentuh orang lain".


.


.


.


Daffin duduk disebuah meja bundar bersama Pelangi, Ayu dan juga Jhon yang sedari tadi menatap gusar kearah Daffin karena tak kunjung membaca pesan yang ia kirim sejak tadi siang.


Sementara Paula terlihat geram karena harus duduk dimeja yang berbeda dengan sang putra.


"Maaf Pelangi aku meninggalkanmu tadi" Ucap Ayu penuh sesal.


"Tidak apa apa Dokter" ucap Pelangi seraya tersenyum.


Mereka semua menikmati hidangan yang tersaji diatas meja tanpa sepatah katapun.


Sementara di meja yang tak jauh dari mereka Paula terlihat berbisik kearah Cleo. "Kau yakin semuanya akan berjalan lancar?"


"Yakin tante, peecaya padaku, asal tante membantuku semua pasti beres." ucap Cleo penuh percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2