Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 31


__ADS_3

Pelangi bangun dipagi hari seperti hari biasanya, ia sama sekali tak menaruh curiga jika seorang pria yang berstatus suaminya sepanjang malam menemaninya tidur, sambil sesekali mengusap pucuk kepalanya pelan agar ia tidak terjaga, hanya mengusap bagi Daffin ia tak melakukan apapun.


Pelangi melakukan aktifitas paginya. Mandi dan berberes rumah sambil memasak hidangan sehat yang cocok untuk jantungnya, hal yang ia lakukan diluar kamar tak luput dari tatapan mata Daffin yang masih setiap mengusap layar tabletnya. Kini ia tahu mengapa Pelangi kadang kadang merasa kesakitan sambil meremat dada sebelah kirinya.


Huh....Melvin menghela nafas kasar lalu meletakkan kembali tabletnya diatas meja makan dengan posisi layar mati. Sejenak Daffin melihat kearah sepupunya itu lalu kembali mengolesi selai diatas roti tawar yang menjadi sarapannya di hari minggu pagi. Daffin bisa menbak jika Melvin baru saja memgamati pergerakan Pelangi dan entah apa yang membuatnya begitu gusar.


"Daff!"


"heem"


"Apa yang kau lakukan kepada Pelangi??" Sentak Melvin tiba tiba dengan kedua alis yang saling bertautan, ia tidak sengaja memutar video cctv dini hari tadi dan melihat Daffin masuk kedalam kamar pelangi dengan rentan waktu yang cukup lama.


"Seperti yang ada difikiranmu mengenai suami istri yang tidur di kamar yang sama" jawab Daffin santai, sambil mengunyah sarapannya.


Berselingkuh dengan Pelangi?


Cih....Daffin berdecih didalam benaknya ia juga baru sadar jika perkataannya pasti membuat nyali Melvin menciut guna melaksanakan aksinya. Ada perasaan tidak rela saat memikirkan pelangi bersama melvin.


Puluhan tahun hidup berdampingan, Daffin tahu jika kini Melvin tengah kesal dan menyembunyikan kepalang tangannya yang mengepal sempurna.

__ADS_1


Daffin akui wajah Pelangi bisa membuat hati pria manapun bergetar, namun kini gadis itu harus menyembuhkannya terlebih dahulu Baru Daffin bisa melepasnya kepada orang lain.


.


Pelangi duduk disebuah bangku taman yang masih berada dalam kawasan Apartemen elite tempat tinggalnya kini.


Sebulan tinggal disini, ini menjadi kali pertama Pelangi menikmati hari minggu paginya di tempat ini, mengedarkan pandangan dan mengamati beberapa pasang muda mudi berlari pagi sambil bercengkrama.


Namun fokus pelangi tertuju pada seorang ibu muda yang tengah berjalan santai dengan seorang bocah berusia tiga tahun.


"Mungkin dia sudah sebesar itu jika masih hidup" Tatapan Pelangi terlihat begitu sendu saat bergumam lirih.


"Tu-an..." Pelangi terbata lalu dengan cepat menundukkan pandangan sambil meremat jarinya.


Kembali mendengar suara anak berusia 3 tahun itu membuat Pelangi mengangkat pandangannya dan menatap Daffin yang melihat kearah depan.


Pelangi menatap rahang kokoh Daffin dari samping, ketakutannya seakan sirna mengingat pernah ada janin pria itu Didalam kandungannya


Dan harus di keluarkan dengan paksa lantaran bisa mempengaruhi kondisi jantung Pelangi saat itu, sehingga tim dokter harus mengambil tindakan aborsi secara legal.

__ADS_1


"Seorang wanita yang ku kenal pernah kehilangan anak yang mungkin kini seusia dengan anak itu" Pelangi akhirnya menjawab pertanyaan Daffin.


Daffin menoleh dan menatap lekat Pelangi dengan segudang kebencian yang tersirat di manik mata biru ke abu abuan miliknya.


"setiap orang memiliki kemalangan masing masing begitupun denganku" Daffin mulai terbuka, padahal selain Melvin dan psikiaternya tak ada yang mengetahui trauma yang dialami Daffin.


Pelangi memicingkan matanya, dadanya bergemuruh. Kemalangan? diantara mereka berdua hanya Pelangi sajalah yang paling malang.


"Aku memiliki trauma" Daffin terlihat menyugar rambutnya kebelakang.


"Aku ingin kau membantuku" kini netra mereka saling mengunci.


Pelangi semakin mengerutkan alis, dua orang dengan kebencian yang sama dan meminta bantuan. Trauma? Bukankah trauma Pelangi jauh lebih besar.


"Maaf" Jawab Pelangi singkat, ia tidak peduli dengan trauma, masalah atau apalah yang berhubungan dengan Daffin.


"Ini perintah seorang suami kepada istrinya"


"Tapi aku..."

__ADS_1


"Kau akan mengetahuinya nanti, dan aku tidak menerima penolakan" ujar Daffin sebelum beranjak pergi.


__ADS_2