
Pelangi menggeliat seraya meraba guling yang dipeluknya sebelum tidur tadi, namun kali ini ia merasa guling tersebut sedikit berbeda, teksturnya sedikit kenyal dan terasa lengket, dan entah mengapa kasurnya menjadi lebih empuk dan luas.
Masih belum membuka mata, Pelangi semakin mengeratkan pelukan pada gulingnya seraya mulai mengerjapkan mata indahnya.
"Ini mimpi" Gumam Pelangi tatkala menemukan sesosok pria bertelanjang dada tengah tertidur disampingnya, ia mengurai pelukannya.
"Tuan Daffin"Pelangi kembali bergumam dan berusaha bangkit namun peŕgelangan tangannya dicekal erat oleh Daffin yang sama sekali tak pernah terlelap, ia benar benar menikmati setiap sentuhan tangan pelangi yang berada dibawah alam bawah sadarnya.
"Bagaimana Pelangi bisa ada disini Tuan?" Tanya pelangi gugup dengan wajah yang enggan menatap Daffin.
" Aku menggendongmu, Kau istriku! Jadi sudah sewajarnya kau tidur dikamarku bukan di kamar pembantu" Jelas Daffin, ia tidak berbohong, memang dirinyalah yang memindahkan Pelangi tanpa ada siapapun yang melihat.
"Pelangi, aku sudah sangat jujur padamu, aku sama sekali tidak bisa menyentuh wanita lain selain dirimu, jadi mari memainkan peran selayaknya suami istri sungguhan"
__ADS_1
"Maaf Tuan, Pelangi tidak bi-sa" Pelangi berusaha mengurai cengkraman Daffin yang ia yakini akan kembali meninggalkan lebam membiru disana.
"Aku akan memberikanmu uang, satu, dua, tiga hingga 10 milyar aku akan menjamin hidupmu bahkan bahkan jika kita sudah resmi bercerai " ucap Daffin menggebu gebu ia yakin dengan membiasakan diri bergumul dengan Pelangi, akan membuatnya kembali seperti sedia kala, Daffin bukan ingin kembali dengan kehidupan bebasnya sebagai seorang casanova yang hoby gonta ganti pasangan, yang ia inginkan hanya kembali nenjadi pria normal.
Pelangi tersenyum miris dengan tatapan sendunya "Apa Pelangi akan tuan jadikan seperti pelachuer?"
"Pelachuer? Statusmu bahkan lebih tinggi Pelangi kau istriku, sudah seharusnya kau memberikanku hak sebagai suami, jangan bilang dengan memberikan tubuhmu kau merasa sudah kehilangan sesuatu padahal aku tahu aku bukanlah pria pertama yang menjamahmu" Daffin tersenyum mencemooh.
"Maafkan aku..." Lirih Daffin, ia sadar perkataannya barusan bisa membuat Pelangi berubah fikiran, atau lebih tepatnya tidak setuju dengan keinginannya.
"Kau benar tuan, Aku kehilangan mahkotaku diusia yang baru saja menginjak 16 tahun, heh" Pelangi terkekeh diakhir kalimatnya, saat berbicara pelangi terbiasa menyebut namanya sendiri karena terkesan lebih manja dan kekanakan itu sudah menjadi kebiasaannya, namun kali ini ia memyebut dirinya sebagai Aku agar terkesan lebih dewasa dihadapan Daffin. supaya Pria itu berfikir dirinya bukanlah seorang gadis lugu
Pelangi benar benar tak ingin Daffin mengetahui segalanya, Pelangi sempat berfikir Daffin mungkin menyesal dengan perbuatan masa lalunya tapi mendengar bahasa kasar pria itu pelangi tahu Daffin hanya merasa bersalah kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau bebas juga rupanya" Daffin tersenyum miring, ia tak menyangka gadis yang nampak polos itu nyata tak sepolos kelihatannya.
"Tidak usah kaku begitu" tegur Daffin, ia sudah melepas tangan Pelangi dan bersandar pada kepala ranjang sambil mendongak menatap langit langit kamarnya yang begitu mewah.
Padahal Kakunya pelangi adalah karena ketakutannya yang ia rasa meski tidak sebesar sebelumnya, entah mengapa Pelangi sudah tidak setakut itu berada dodekat Daffin, mungkin karena pria itu sudah menyentuhnya ataukah kata suami yang selalu digumamkannya mau tidak mau membuat Pelangi merasa sedikit lebih nyaman.
"Aku bahkan lupa kapan kehilangan keperjakaanku, semua bergulir begitu saja dan aku bangga dengan julukan casanova yang disematkan padaku" ujar Daffin, ini kali pertama ia menceritakan prihal dirinya kepada orang lain, bahkan Melvin sekalipun tak tahu, Pria itu terlalu dingin untuk dijadikan teman bertukar cerita.
"Wanita bagiku hanya sebagai pemuas hasrat, tak ada cinta atau rasa yang sejenisnya, Cinta itu kebodohan seperti ayahku yang dengan bodohnya mencintai ibumu hingga melalaikan keluarganya, atau ibuku yang mencintai ayahku dan menghalalkan segala cara cih....bukankah itu memuakkan?" Kali ini Daffin menatap lekat wajah Pelangi yang selalu terlihat sendu, padahal bayangan potret wanita itu yang tersenyum lebar di ponsel yang ia temukan di apartemen Melvin seakan terus berputar dikepalanya.
'Kemana perginya senyumanmu gadis bodoh!' rutuk Daffin dalama benaknya, karena menurutnya Pelangi akan terlihat semakin sempurna dengan wajah seceria mentari. Daffin tidak sadar jika senyuman itu ia sendiri yang merenggutnya.
"Tuan sepertinya kau sakit" Gumam Pelangi yang didengar Daffin, dan pria itu hanya menyeringai ia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan istri kontraknya itu, ia justru merasa lebih ringan setelah berbincang sebentar dengan pelangi.
__ADS_1