Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 62


__ADS_3

"Kau sakit?" Daffin menarik tangan Pelangi yang berdiri disampingnya, wanita itu baru saja selesai menata beberapa rantang dihadapan Daffin. Selain nasi Ada capcay dengan campuran udang dan brokoli, ayam teriyaki dan beberapa potongan buah segar.


Pelangi yang memang sangat Lemah hanya bisa pasrah saat bokongnya sudah mendarat diatas pangkuan Daffin.


"Aku Lelah Tuan" Pelangi tidak berbohong, tubuhnya memang terasa begitu lemah, dan entah mengapa berada didekat Daffin membuatnya sedikit lebih nyaman. Pelangi melingkarkan tangannya di leher Daffin lalu menidurkan kepalanya pada bahu lebar suaminya. Ia sudah tak peduli apa yang difikirkan Daffin dengan tindakan beraninya ini karena bagi Pelangi rasa nyaman yang diberikan Daffin bisa membuat tubuh lemahnya lebih enakan , Rasanya ia selalu ingin berada disamping suaminya itu.


"Tidurlah" Seulas senyuman menghiasi bibir Daffin, perlahan tangannya mengusap surai pelangi yang lembut dan wangi, ia bahagia Pelangi akhirnya bisa bersikap manja layaknya seorang istri kepada suaminya.


Namun seketika mata Pelangi terbelalak saat rasa kantuk mulai menghampirinya, ia ingat tindakannya akan mengganggu waktu makan siang Daffin.


"Maafkan aku Tuan" Pelangi gegas berdiri dan langsung menunduk dalam.


"Mengapa kau bangun?" Daffin sedikit Kesal padahal ia pun baru saja merasakan ketenangan serupa saat menghirup aroma tubuh Pelangi.


"Maaf sudah mengganggu makan siang Tuan" Pelangi benar benar diliputi rasa bersalah, makanan yang ia bawa tadi masih dalam keadaan hangat namun karena tingkah kekanakannya makanan itu kini dingin.


Daffin hanya mendesah pasrah, melihat Pelangi yang mulai menyiapkan peralatan makan, seperti biasa wanita itu juga ikut menemani Daffin, tak ada suara selama santap siang sampai akhirnya Pelangi kembali merapikan rañtang dan beberapa peralatan lainnya.


"Jangan langsuñg pulang, aku juga ingin memakanmu" Ucap Daffin datar, dengan mata yang masih tertuju pada layar Ponselnya.


Pelangi hanya bisa menelan Saliva dengan kasar mendengar keinginan suaminya itu. Itu artinya ia akan berada diruangan Daffin sampai sore.


"Baik Tu___ hoek...mppp" Pelangi segera menutup mulutnya saat kembali merasa jika seluruh isi perutnya akan keluar.

__ADS_1


Ia bergeggas lari kedalam ruangan Istirahat Daffin dimana terdapat kamar mandi didalam sana.


"Pelangi...." Daffin mengikuti langkah istrinya, ia terlihat khawatir seraya mengetuk dengan kuat pintu kamar mandi yang sudah dikunci dari dalam oleh Pelangi.


"Pelangi...kau baik baik saja? Apa kau sakit? Pelangi ....Pelangi....Ah Sial!" Daffin geram saat tak mendapat respon dari dalam sana, ia bahkan tak bisa mendengar apa yang dilakukan Pelangi.


Sementara Pelangi mulai mengeluarkan isi perut yang baru saja masuk kedalam closet, tubuh lemahnya bersandar pada badan Closet. Ia baru bangun setelah cairan kekuningan menjadi pertanda jika semua isi perutnya sudah habis tak bersisa.


Pelangi membuka pintu dengan sisa tenaga yang ada, rasanya tubuh mungilnya benar benar lemas, diluar Daffin langsung meraih tubuh Pelangi dan mendekapnya erat ia benar benar khawatir terjadi sesuatu pada wanitanya, Daffin sadar harus mengurungkan niatnya memakan Pelangi karena kondisi wanita itu yang terlihat memprihatinkan, Daffin menyesal tidak menyadari kondisi Pelangi di awal, padahal wanita itu memang nampak pucat sejak tadi.


"Kita akan kerumah sakit" putus Daffin setelah menidurkan Pelangi pada ranjang King size yang memang terdapat didalam ruangan itu, ranjang itu juga menjadi saksi bisu betapa perkasanya Daffin saat menggagahi sang istri disela sela jam kerjanya.


"Tu-an Aku tidak apa apa" elak Pelangi, kemungkinan ia hanya mengalami asam lambung.


Tapi Percuma, Daffiin tak ingin mendengar alasan, ia sudah keluar dari ruangan istirahat dan memanggil sekertarisnya Guna mengurus beberapa pekerjaan yang hendak ia tinggalkan, ia juga meminta agar supirnya bersiap karena mereka akan bergegas ke rumah sakit.


Pelangi nampak sangat gugup, ia beruntung Daffin tidak memilih rumah sakit tempat Ayu bekerja karena Beberapa dokter spesialis disana sudah mengenalinya, Pelangi memang tidak hanya berkonsultasi dengan ahli jantung, tapi juga ahli Paru dan penyakit dalam, karena Pnumonia yang kemungkinan bisa juga ia derita.


Daffin dan Pelangi duduk berdampingan, Daffin mendampingi Pelangi guna menjelaskan kelainan yang ia rasakan selama beberapa hari ini, dan sang dokter pria hanya mendengar dengan seksama sembari sesekali bertanya.


"Anda pengantin baru?" tanya dokter seraya menuliskan sesuatu pada selembar kertas.


"Iya Dok" Jawab Daffin mantap, sementara Pelangi hanya tertunduk.

__ADS_1


"Pasangan yang serasi" gumam Sang dokter yang masih menunduk dan menulis, Daffin yang mendengarnya hanya tersenyum simpul, beberapa karyawannya yang sudah mengenal Pelangi memang kerap kali mengatakan jika Pelangi dan dirinya bagaikan sepasang yang sudah ditakdirkan sejak awal.


"Baik Ibu Pelangi silahkan"Dokter pria dengan perawakan Dewasa itu mempersilahkan Pelangi untuk naik ke atas ranjang pemeriksaan, meski yakin akan diagnosanya namun ia juga perlu melakukan pemeriksaan standar.


Seketika sekujur tubuh Pelangi dipenuhi peluh, wajahnya semakin pias, ia yakin saat stetoskop dokter itu melekat didadanya maka ia akan dengan mudah mengetahui kondisi jantungnya, entah mengapa Pelangi sangat tidak ingin Daffin mengetahui kondisinya.karena jauh didalam lubuk hati Pelangi ia masih menyimpan luka itu, ia tak ingin orang yang begitu ia benci menertawai atau mengasihi kondisi jantungnya.


"Silahkan" Sekali lagi dokter ahli penyakit dalam itu mengingatkan, dan gegas seorang Perawat membantu tubuh lemas Pelangi untuk berdiri.


Tirai ditutup, sang dokter yang seakan bisa membaca raut wajah Pelangi yang ingin menyembunyikan sesuatu langsung menghalau Daffin saat hendak masuk, ia sejenak berfikir mungkin Pelangi ingin menjadikannya sebuah kejutan bagi sang suami


Dokter tersebut meminta kepada perawat agar mengantarkan Daffin keruang tunggu, dan Daffin hanya bisa menurut semua demi kepentingan Pelangi.


"Maaf Bu..." Dokter tersebut akhirnya menempelkan sebuah alat guna mendengar detak jantung dan nafas Pelangi.


Keduanya saling berpandangan dengan netra yang beradu dan saling mengunci.


"Katup mekanik" Pelangi dan dokter tersebut berujar bersamaan.


"Anda hamil dalam kondisi seperti ini? Tidak maksudku....ini belum bisa dipastikan tapi...." Dokter tersebut tidak melanjutkan kata katanya saat Pelangi menyela.


"Hamil? "


"Iya hamil, ini baru diagnosa sementara saja Bu Pelangi, maka dari itu setelah prosedur ini saya hendak merujuk Ibu ke Dokter Obgyn"

__ADS_1


Dokter bisa membaca dari ekspresi wajah Pelangi jika wanita itu baru tahu jika ia tengah berbadan dua, kini sang dokter benar benar serba salah, seorang pasien dengan katup jantung mekanik ditubuhnya kemungkinan tengah berbadan dua, apa suaminya tidak mengetahui kondisi istrinya?.


"Dokter, bisa merahasiakan kondisi jantung saya dari Suami saya? Dan silahkan rujuk saya ke bagian Obgyn jika memang saya benar benar hamil".


__ADS_2