Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 71


__ADS_3

Dia baru keluar dari rumah sakit


"Kerumah istriku" titah Daffin kepada sang supir pribadi yang baru saja menjemputnya di bandara, sesaat setelah ia menerima pesan masuk dari Melvin.


Sebenarnya melvin sangat malas memberitahukan Daffin, ia sudah bahagia dengan keputusan Daffin untuk menjaga jarak dari istrinya sejak temuan Paula, akan tetapi janji yang diucapkan Pelangi kepadanya sudah cukup membuatnya tenang. Setidaknya ia masih memiliki kesempatan, dilain sisi Melvin juga ingin agar anak didalam perut Pelangi setidaknya mendapatkan perhatian sedikit saja dari ayah kandungnya.


"Apa istriku baik baik saja belakangan ini?" Pertanyan Daffin sontak membuat sang supir menelan saliva, ia juga adalah supir yang ditugaskan untuk mengantar Pelangi setiap kali cek kesehatan dirumah sakit. Meski tidak tahu pasti memgenai Pelangi tapi siapapun yang melihat kondisi wanita itu bisa menyimpulkan jika ia sedang tidak baik baik saja.


Namun berkata yang sejujurnya kepada Daffin sama saja ia melanggar perintah Melvin untuk tidak membicarakan mengenai kondisi dan kegiatan Pelangi kepada Suaminya.


Para pelayan dan pekerja di keluarga Jaxton menganggap posisi Melvin sama pentingnya dengan Daffin, karena pria itu lebih banyak membuat keputusan dari pada Daffin yang hanya terima jadi.


"Kenapa tak menjawab?" sorot mata Daffin yang bersiborok dengan sang supir penuh intimidasi


Dan kecurigaan.


"Eh...anu tuan, nyonya baik baik saja hanya saja...." Supir tersebut menggantung kata katanya ia takut apa yang ia keluarkan bisa menjadi boomerang bagi dirinya.


"Hanya saja?" Daffin semakin memicingkan matanya, padàhal ia sudah meminta Melvin mengawasi Pelangi selama ini dan belum pernah ia mendapat aduan yang menghawatirkan selain pesan yang baru ia terima


"Saya juga tidak tahu tuan, tapi Nyonya sangat sering kerumah sakit, bahkan beberapa dokter akan datang dan memeriksa Nyonya 3 kali dalam seminggu"


"Beberapa dokter?" Daffin bergumam lirih, mungkinkah itu Ayu dan seorang dokter kandungan? tapi 3 kali seminggu plus mengunjungi rumah sakit bukankah terlalu berlebihan? Apa kandungannya bermasalah? Pikir Daffin.


Entah mengapa hatinya terasa berdenyut nyeri, ia takut terjadi sesuatu dengan Istri yang masih ia ragukan masa lalu dan kesetiaannya serta anak yang berada didalam kandungannya yang menurut Paula bukanlah darah daging Daffin.


.


.


.


"Nyonya Tuan Daffin datang" Seorang pelayan wanita datang dan memberitahu Pelangi yang kini tengah duduk disebuah sofa didalam kamarnya seraya mengolesi salep pada lebam biru di lengan dan bahunya. Entah mengapa sejak dokter mengganti obat pengencer darahnya Pelangi semakin mudah lebam padahal benturannya tidak terlalu kuat tadi.

__ADS_1


"Tuan pulang?" Pelangi heran, selama 3 bulan ini Daffin hanya pulang 3 kali, ia fikir pria itu masih di Singapura dan bersenang senang dengan kekasihnya Cleo.


Semalam Pelangi menyingkirkan harga dirinya hanya demi keinginan yang kemungkinan berasal dari sang jabang bayi. Ia sangat ingin melihat wajah Daffin hingga berani melakukan Video Call lebih dahulu sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama masa pernikahan.


Flashback on


Cleo tersenyum miring saat melihat nama yang tertera di layar ponsel Daffin yang ia tinggalkan begitu saja di meja tamu khusus VIP. Sementara si empunya tengah sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya tak jauh dari meja dan mengabaikan keberadaan Cleo. Bagi Dafgin wanita itu tak lebih dari sebuah pajangan.


"Hai sugar baby...." sapa Cleo dengan suara manja sambil sesekali melirik kearah Daffin yang tengah memunggunginya.


"Jangan hubungi Daffin kami tengah sibuk bye" Cleo berdecak sebal sebelum mengakhiri panggilan Pelangi sepihak ia takut ketahuan Daffin dan ia benar benar kehilangan kesempatan emas untuk mendekati Pria itu.


Sialnya ponsel Daffin dilengkapi pengaman hingga tidak bisa diakses untuk menghapus riwayat panggilan Pelangi, Cleo cuma bisa berharap keputusannya menjawab panggilan pelangi tidak menyusahkannya dikemudian hari.


.


.


"Kau baik baik saja?" Sebuah bariton yang begitu dirindukan Pelangi menggelegar dirungu Pelangi, seorang Pelayan yang bertugas dikamar pamit undur diri, meninggalakan sepasang suami istri itu.


Daffin tercengang, senyum inilah yang ia lihat dipotret tua Pelangi, sebuah senyuman yang nampak tulus dan tanpa beban, Daffin juga sadar Pelangi tidak lagi berbicara formal padanya, kini dihadapannya ia seperti melihat seorang gadis kecil yang seakan baru beranjak dewasa.


"Kemarin kau masuk rumah sakit" Mata Daffin tak berkedip ia terus berjalan menghampiri sang istri hingga duduk disampingnya dengan jarak setengah meter.


"Ah, Pelangi hanya sedikit sesak Tuan," Lagi lagi Pelangi tersenyum, jika tidak mengingat temuan Paula Daffin mungkin sudah merengkuh tubuh mungil Pelangi kedalam dekapannya, ia Rindu namun enggan untuk mengakuinya. Alhasil Daffin hanya bisa menelan saliva dan memandangi tampilan Pelangi yang nampak sangat cantik dengan dress mini rumahan berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya dan beberapa lebam yang terpatri disana.


Tungggu.


Lebam?


"Pelangi apa ini? " Daffin memegang lengan Pelangi lalu menatap betis dan pahanya yang sedikit tersingkap, menyorot lebam yang juga terdapat disana. "Apa kau jatuh? Mengapa begitu banyak memar di tubuhmu?"


"Ah ini hanya...terbentur Tuan" Pelangi tergagap, dan membuat Daffin tersadar ada tengah disembunyikan Istrinya.

__ADS_1


"Tu..tuan...."Panggil Pelangi ia sangat ingin mengalihkan topik mengenai lebamnya " Bisakah Tuan menyentuhnya" pinta pelangi ragu sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit menonjol, sebenarnya itu bukan hanya pengalihan, akan tetapi sejak kemarin kemarin Pelangi memang sangat ingin disentuh oleh Daffin entah sepertinya bawaan kehamilannya.


Tak menunggu lama Daffin sedikit membungkuk dan mengusap perut Pelangi hingga membuat wanita itu sedikit merinding namun tetap menikmati belaian Daffin.


"Hei....apa kau menyakiti istriku?" tanya Daffin lalu mendongak menatap wajah istrinya yang masih tersenyum, "Jangan nakal ayah akan menghukummu jika menyusahkan istriku" lanjut Daffin lagi, darahnya berdesir dengan hati yang berbunga kala menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ayah.


"Tuan....kenapa berbicara begitu, tidak ada anak yang menyakiti ibunya" ucap Pelangi dengan tatapan teduhnya, kerinduanya selama beberapa hari rasanya telah terbayarkan, tak mengapa jika Daffin telah menikmati waktunya dengan Cleo diluar sana asal ia masih memberi perhatian untuk anak didalam kandungannya maka sudah cukup bagi Pelangi.


"Pelangi....bisa kau jujur padaku " Daffin sudah tidak tahan ia akhirnya membawa tubuh mungil Pelangi kedalam dekapannya. Ia bodoh mengapa tak bertanya langsung kepada Istrinya itu mengenai pria dewasa yang nampak begitu mesra dengannya.


"Apa mengenai foto itu Tuan?"


"Heem" Daffin memejamkan mata dalam, lalu mengecup pucuk kepala pelangi dan memuaskan indra penciumannya membaui tubuh Pelangi.


"Dia paman Satria, anak dari pemilik panti asuhan yang Pelangi tinggali, dia segalanya bagi Pelangi karena Paman satria adalah orang yang merawat Pelangi sedari kecil " Jelas Pelangi.


"Baiklah.....aku akan percaya itu" ucap Daffin lalu kembali mengecup wajah Pelangi bertubi tubi.


.


.


Daffin berjalan kedalam ruang cctv, ia akan memeriksa kegiatan Pelangi selama 3 bulan sejak dirinya memutuskan untuk kembali tinggal di apartemen.


Matanya jeli mengamati seberapa sering wanita itu pergi dengan supir dan beberapa pelayan, serta beberapa gambar yang menampilkan seorang dokter paruh baya yang rutin datang dan memeriksa kondisi Pelangi.


"Apa ia dokter kandungan?" gumam Daffin.


Di beberapa rekaman lain Daffin menemukan Pelangi yang seperti tengah menahan sakit seraya meremat dada sebelah kirinya. Bukan hanya itu Pelayan kadang dibuat kelimpungan karena Pelangi yang terkadang tak kunjung bangun dari tidurnya, lalu Wanita itu juga terlihat mengalami sesak nafas beberapa kali dan harus dilarikan kerumah sakit.


Daffin tak lupa memeriksa cctv depan rumah dimana Ambulance yang begitu lancarnya keluar masuk didalam pekarangan rumahnya.


"Apa apan ini" Daffin mengepalkan tangannya kuat, ia kesal mengingat Melvin yang tak pernah melaporkan apapun kepadanya begitupun para Pelayan.

__ADS_1


Daffin memutuskan untuk mencari tahu sendiri dengan mendatangi rumah sakit tempat Ayu bekerja.


__ADS_2