Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 49


__ADS_3

"Kau tidak usah masak hari ini" Daffin mengecup pucuk kepala Pelangi bertubi tubi hingga kecupan ringan itu menjalar kewajah dan bibir Pelangi. Kedua mata Pelangi yang sembab bahkan tak luput dari buaian bibir tebal Daffin.


"Aku tahu kau lelah tidurlah" Lanjutnya Lagi, sementara pelangi hanya bisa meringkuk dibalik selimut tebal dengan tubuh yang dipenuhi kiss mark dan beberapa lebam membiru.


Daffin merasa tubuh Pelangi adalah candu baginya, rasanya ia tak ingin berangkat kekantor hanya demi menemani wanita itu dirumah.


"Dua minggu lagi kita akan pergi kedokter kandungan untuk periksa, aku akan pastikan kau hamil anakku, dan tinggal disisiku selamanya, aku akan pastikan hidupmu akan nyaman bersamaku hemmm" Daffin kembali mengecup pucuk kepala Istrinya yang masih terdiam dengan berbagai fikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.


flashback


"Hamil? sangat jarang kasus seseorang dengan katup jantung mekanik bisa hamil dengan mudah" Dokter Ahli bedah Jantung yang duduk dihadapan Pelangi dan Dokter Isyana sempat terperanjat, namun kembali menatap sendu gadis kecil malang yang menurut penjelasan Dokter umum paruh baya dihadapannya adalah korban kekerasan seksual yang tidak ingin melaporkan kasusnya.


"Jika kehamilan ini dilanjutkan akan berakibat kematian bagi ibunya, dan pertumbuhan janin tidak akan sempurna karena oksigen yang disuplai ke janin akan mengalami masalah, kehamilan ini tidak bisa dilanjutkan" Tutur sang dokter lagi.


Flashback off


Jika Pelangi mengandung maka kemungkinan besar ia akan memgalami gagal Jantung yang menyebabkan kematian, itu sebenarnya lebih bagus, ia tidak perlu lagi repot repot memikirkan kesehatan jantungnya dan langsung bisa bertemu dangan Bunda Siti dan Dokter Isyana dialam sana.


Pelangi membuka matanya dan menatap teduh pada wajah tampan dihadapannya, siapa yang menyangka Tuan Muda kaya yang tidak mungkin ia gapai 4 tahun lalu ternyata kini adalah suaminya.


"Jangan jatuh cinta padaku Tuan" Lirih Pelangi.


Mendengar hal itu Daffin tertawa mencemooh, ia lalu menundukkan kepalanya dan ******* bibir Pelangi dengan penuh kelembutan.


"Aku tidak pernah jatuh cinta dengan wanita yang kutiduri, aku melakukannya tanpa melibatkan perasaan jadi kau tidak usah geer" Daffin terbahak bahak lalu beranjak menuju Balkon setelah memakai bathrobe nya, ia menghabiskan dua batang rokok disana sambil menggeleng dan sesekali tertawa kecil membayangkan isi kepala Pelangi yang mengira dirinya akan jatuh cinta pada istrinya itu.


Sementara Pelangi menatap nanar punggung Daffin, Geer? Ia sama sekali tidak geer ia percaya diri dengan wajahnya bisa membuat pria itu jatuh cinta, Pelangi bahkan sudah mulai menerima pengakuan cinta dari umur 13 tahun saat masih sekolah dulu, dan berlanjut saat ia bersekolah dipinggiran kota Jakarta saat Dokter Isyana masih berdinas disana. Namun satupun tak pernah ditanggapinya karena bagi Pelangi cinta hanya akan menyisakan luka jika suatu saat ia sudah tidak ada.


'Aku hanya tak ingin kau menderita Tuan' Batin Pelangi, ia lalu kembali terlelap karena seaungguhnya tubuhnya memang sangat lelah.


.

__ADS_1


.


.


"Dimana Pelangi?" Melvin yang baru masuk langsung menuju kamar Pelangi namun tidak menemukan wanita itu disana, ranjangnya masih nampak rapi.


"Pikirmu dimana lagi?" Daffin berjalan santai menuju kulkas dan meneguk sebotol air mineral kemasan 600 ml hingga tandas, permainan panasnya semalam hingga dini hari benar benar menguras cairan tubuhnya.


Melvin mendengus kesal, ia menatap pintu kamar Daffin yang masih tertutup rapat, darahnya mendidih mengingat Pelangi dan Daffin yang tidur bersama seraya berbagi peluh.


"Jangan terlalu difikirkan" Seakan tahu isi hati Melvin Daffin mencoba menenangkan dengan menepuk pundak sepupunya itu, meski didalam benaknya ia tertawa mengejek.


Tak lama kemudian pintu kamar Daffin terbuka, memperlihatkan Pelangi yang sudah memakai pakaiannya semalam, rambutnya setengah kering karena ia tidak menemukan pengering rambut dikamar Daffin.


"Pelangi"


"Kak Melvin"


"Kak Melvin apa yang kau lakukan?"


"Dia melakukan ini?" Melvin setengah berbisik saat menemukan beberapa lebam di lengan Pelangi. Lalu menoleh dan menyorot dengan tajam Daffin yang seakan Acuh duduk di sofa sambil menyilangkan kaki.


"Aku akan mengobatinya"Melvin hendak menarik tangan Pelangi untuk keluar dari apartemen menuju unit miliknya, karena ia sudah menyiapkan beberapa obat pengencer darah dan salep disana setelah mempelajari lebih dalam mengenai penyakit wanita yang harusnya sudah sejak lama ia lindungi itu, namun Pelangi seakan enggan untuk melangkah, ia bisa melihat hubungan yang merenggang antara kedua pria itu yang mungkin disebabkan olehnya.


"Jaga Batasanmu Melvin Mahendra!" Daffin menatap nyalang penuh amarah tangan Melvin yang saling bertautan dengan jemari pelangi.


"Maaf Kak" Pelangi akhirnya berhasil melepas genggaman Melvin,"Aku baik baik saja, jangan khawatirkan aku" lanjutnya lagi penuh kelembutan dan berhasil membuat Daffin geram, padahal saat berhadapan dengan dirinya Pelangi menganggapnya monster yang menakutkan sementara bersama Melvin ia bersikap layaknya anak kucil kecil yang butuh perlindungan.


"Cih..."Daffin berdecih.


"Aku akan ke kamar" Pamit Pelangi.

__ADS_1


Melvin hanya mendesa* pasrah saat melihat jalan pelangi yang nampak tidak sempurna, ia yakin Daffin sangat kasar kepada Wanita itu diatas ranjang.


"Bagaimana kelanjutan G21?" Tanya Daffin mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin berlarut larut memupuk kebencian pada sepupunya itu.


"Aku akan memastikan semuanya bèrjalan lancar tanpa perlu kau turun tangan, tapi bisa aku meminta ?tolong perlakukan Pelangi dengan Baik, jangan memyentuhnya dengan kasar" 'Karena tubuhnya begitu lemah' Melvin hanya bisa bergumam dibenaknya.


"Melvin! Bisa jangan membahas Pelangi dihadapanku? Aku tidak ingin hubungan ini merenggang karena Wanita"


"Aku memintamu sebagai seorang Pria "


"Melvin!" Sentak Daffin kuat. Rasanya ia ingin menyerah menghadapi Melvin yang seperti ini. Pria itu sebelumnya tidak pernah memperlihatkan gelagat ketertarikannya dengan wanita manapun.


Sementara Pelangi yang bisa mendengar suara bentakan Daffin hanya bisa mengurut dadanya takut,dibalik pintu kamarnya.


kedua pria itu saling menghela nafas berat.


"Pelangi adalah gadis lemah jangan menyakitinya" Permintaan Melvin terdengar begitu memelas.


"Apa kau tahu segalanya? Kau iba karena tahu semua tentang istriku yang ternyata hanya anak Adopsi Dokter Isyana?" cecar Daffin.


Melvin terdiam,apakah Pelangi sudah mengatakan beberapa poin penting mengenai dirinya?


Bukan hanya itu!


Melvin bahkan menyelidiki segala masa lalu Pelangi yang begitu memilukan. Ia sudah tahu segalanya bahkan sampai Janin yang harus dikeluarkan paksa dari dalam rahimnya.


Melvin hanya mengangguk untuk menjawab rasa penasaran Daffin. Ia lalu menatap pria yang masih mengenakan bathrobe dihadapannya, seorang Casanova yang nyaris menjadi seorang Ayah.


"Jangan menyakitinya!"


"Berhenti mengujiku Melvin, pelangi istriku aku tidak akan membiarkan ia tersakiti selama berada didalam perlindunganku!" Tegas Daffin.

__ADS_1


__ADS_2