
Pelangi membersihkan tubuhnya sebelum tidur dikamar Daffin, ia tidak mengenakan piyama melainkan sebuah sweater rajut longgar yang tidak terlalu besar dan rok payung serta tidak lupa menggunakan leging.
"Masuk dan berbaring disini" Daffin menepuk kasur disebelahnya, sementara ia sendiri masih dalam keadaan duduk dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang king sizenya, sementara pelangi masih bertanya tanya mengenai sikap Daffin yang tiba tiba berubah lebih lembut.
'Tentu saja karena aku adalah pemuas hasratnya' hanya alasan itu yang selalu ia dapatkan tatkala Daffin memperlihatkan sisi lainnya yang lebih baik.
Pelangi berbaring di samping Daffin sambil memunggungi pria itu.
"Ini sangat mengganggu" Daffin semakin mendekat kepunggung pelangi hingga membuat wanita itu menangis dalam diam.
Tangan Kekarnya menarik ujung sweater Pelangi, lalu memeluk Pelangi dengan erat.
"sepuluh bulan lagi, bertahanlah selama itu " Pinta Daffin tulus seraya berharap Pelangi bisa hamil seraya menunggu waktu berakhirnya pernikahan mereka.
"Tuan...apa yang terjadi dengan wanita yang kau sakiti itu?" Tanya Pelangi tiba tiba, ia mulai mengusap air matanya dengan punggung telunjuknya.
Daffin memgangkat sedikit kepalanya dan mengamati wajah pelangi yang menatap kosong kearah nakas.
"Dia sudah menikah, kata Melvin suaminya sangat kaya, aku berharap gadis itu bisa hidup bahagia selamnya"
Huh....Pelangi menghela nafas, ia bersyukur Melvin belum memgatakan apapun pada Daffin.
"Aku benci membahas gadis itu bersama Melvin, tapi rasanya lega jika menceritakannya denganmu" Daffin kembali mengeratkan pelukannya kepada Pelangi yang sempat ia kendurkan.
"Pelangi...."
__ADS_1
"Hemmm"
"Apa ayahmu WNA?" Daffin sudah lama penasaran dan ingin bertanya kepada Pelangi mengenai ayahnya karena melihat wajah istrinya yang terlihat seperti blasteran, bahkan wajah luarnya lebih mendominasi. Pria itu sama sekali tidak pernah berhasil mendapatkan informasi mengenai sosok suami Dokter Isyana.
"Aku tidak tahu, Aku hanya tahu Dokter Isyana adalah ibuku" jawab Pelangi.
Daffin mengerutkan alis "Apa ayahmu meninggal sebelum kau dilahirkan?"
Pelangi menggigit bibir bawahnya, perasaannya campur aduk, ia sedih karena harus mengingat orang tua yang sama sekali tidak pernah ia miliki, dan ia takut karena Nafas Daffin terasa begitu hangat di tengkuknya.
"Pelangi...."
"Aku tidak mengerti mengapa uncle alex memilihku, padahal ia tahu aku adalah anak yang tidak jelas asal usulnya"
"Pelangi apa maksudmu?" Daffin melepas pelukannya dan membalik paksa tubuh istrinya hingga kini mereka saling berhadapan, sehingga Daffin bisa melihat mata Pelangi yang sembab.
Daffin sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan wanita dihadapannya.
Asal usul? Bukankah ia anak Dokter Dokter Isyana?
Pelangi bisa melihat dari sorot mata Daffin yang nampak bingung, jika Pria itu sama sekali tidak mengetahui segalanya, mungkin Alexander takut Daffin akan menolak dirinya jika tahu ia adalah anak yang tidak jelas.
"Apakah Tuan bisa menceraikanku jika tahu semuanya? "
"Pelangi apa yang kau bicarakan? " Daffin bangkit dan menarik tangan pelangi kini mereka sama sama dalam posisi duduk dan saling berpandangan.
__ADS_1
"Aku bukan anak kandung dari Dokter Isyana, aku anak yang ditelantarkan di panti asuhan,orang orang mengatakan aku kemungkinan anak yang dihasilkan dari hasil kawin kontrak yang biasa terjadi disalah satu daerah, Ayahku mungkin orang luar,Entah itu pakistan, india, atau arab, aku tidak tahu tapi menurut orang orang mungkin salah satunya, aku....."
"Kau bukan anak Dokter isyana? Kau anak Adopsi?" Potong Daffin seraya memegang kedua Bahu Pelangi yang kini menundukkan kepalanya.
Pelangi mengangguk lemah.
"Darah Dokter Isyana tidak mengalir ditubuhmu? Astaga!"Daffin memijat pelipisnya, pantas saja ia tidak bisa menemukan data pria yang menjadi suami Dokter Isyana, sekali lagi dalam benak Daffin Cinta membuktikan jika rasa itu benar benar bodoh, tentu Daffin langsung tahu jika Dokter Isyana sama sekali tidak pernah menikah dan mempertahankan cinta sialannya demi sang Ayah.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak awal Pelangi?" Ada penyesalan yang tersirat dari perkataan Daffin, jika ia tahu sejak awal...mungkinkah ia tidak akan sebenci itu dengan Pelangi?
"Aku anak panti asuhan yang bahkan kehilangan mahkotanya di usia 16 tahun, aku wanita rendahan ,aku wanita murahan yang membiarkanmu menyentuhku "
"Hentikan Pelangi!" Sentak Daffin, "Jangan fikir dengan kenyataan ini aku akan melepasmu, bahkan jika saham itu sudah kembali dan waktu perjanjian sudah berakhir aku tidak akan pernah melepasmu" Kali ini Daffin berkata jujur.
Ia memandang wanita dihadapannya dengan amarah dan iba, Daffin bisa mengingat semuanya ia memang tidak mengucapkan nama ayah kandung Pelangi di ijab qobul saat menikahinya.
"Tuan apa maksudmu?" Pelangi memberanikan diri menatap Daffin dengan sorot mata yang tajam.
Pria itu tidak akan melepasnya?
Bagaimana mungkin?
Sementara setiap detik berada didekat Daffin ia merasa seperti dineraka, ia harus rela tubuhnya dijamah oleh seseorang yang sudah memperko$anya.
"Bukankah sudah kukatakan hanya kau wanitaku didunia ini" Daffin membaringkan tubuh Pelangi dengan kasar lalu mengungkungnya.
__ADS_1
"Kau harus mengandung anakku Pelangi" Tangan daffin mulai melepas satu persatu kain yang melekat ditubuh Pelangi hingga wanita itu polos sempurna, tak ada perlawanan karena pelangi tahu itu akan sia sia.
Daffin yang memastikan tak akan terjadi apapun malam ini nyatanya berbohong, ia bahkan membuat rahim pelangi seakan penuh dengan berkali kali pelepasan.