
Daffin merutuki dirinya, beberapa kali ia memukul stir mobil yang ia kemudikan sendiri dari rumah sakit. Tujuan pertamanya adalah Hotel Jaxton dimana Melvin berada, ia sudah menanyakan keberadaan sepupunya itu melalui Jhon.
Tak ada senyuman hanya perasaan marah yang ingin segera ia lampiaskan kepada Melvin.
Daffin berjalan dengan mngetatkan rahangnya tanpa membalas sapaan dari para pegawai hotel yang menyapanya, lagi pula ia memang tidak terbiasa membalas sapaan bawahannya.
Brak..... pintu kantor Melvin dibuka dengan kasar, ini adalah lantai teratas salah satu gedung Hotel Jaxton, sesekali Melvin berkantor disini untuk mengecek kinerja Hotel ini.
"Aku akan menghubungimu nanti smpaikan salamku pada Mr. Eshaq Hakan" Melvin nampak acuh dengan Daffin,sekilas ia bisa melihat gurat kemarahan yang tak biasa terlukis jelas diwajah CEO Jaxton itu.
"Kalau begitu aku akan mengantarkan Tuan Eshaq, semoga kali ini tidak salah lagi" Ucap Jhon. lalu pamit dari hadapan Daffin dan Melvin.
Melvin keluar dari meja kerjanya untuk menghadapi amarah Daffin yang ia fikir tengah marah karena tidak memberitahukan lebih awal mengenai Pelangi yang mengalami sesak.
"Brengsek" Daffin langsung meraih kerah baju Melvin" apa maksudmu memyembunyikan semuanya dariku? Kau ingin melihatku berakhir sebagai pembunuh istriku sendiri? "
Bugh..... Satu bogem melayang disudut bibir Melvin hingga pria itu jatuh karena tidak siap menghadapi serangan Daffin, ia tidak menyangka Daffin akan semarah ini.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau ketahui?" melvin enggan untuk bangkit ia tetap terduduk dilantai seraya mengusap darah di bibirnya.
Sepertinya informasi yang diterima Daffin tidak sesederhana yang difikirkan Melvin.
Dahi pria yang sebentar lagi berusia 29 tahun mengkerut, mungkinkah?
" kenapa ?Apa ada hal yang tidak boleh kuketahui mengenai istriku?" Daffin berucap sinis lalu meramas rambut dengan kedua tangannya dan berteriak frustasi "Arghhh....."
Ia menendang meja kerja Melvin dengan kuat sehingga menimbulkan suara yg cukup memekakkan telinga.
"Jantung Melvin! Pelangi menderita penyakit seserius itu tapi kau menyembunyikannya dariku...dua kali operasi? obat pengencer darah, anak yang seharusnya tidak ia kandung! Kenapa? " Sorot mata Daffin begitu nyalang dan semerah saga, dadanya naik turun menahan gejolak amarah hingga akhirnya ia kembali melampiaskannya dengan menghantam dinding dengan kuat.
"Pelangi yang tak ingin kau mengetahui segalanya." melvin menatap datar Daffin.
"Dan kau menurutinya?" Daffin tersenyum miris. "Kau ingin aku terlihat sekejam apa dihapadan istriku sendiri hah?"
"Jika orang lain mendengar kau bicara seperti itu mereka akan mengira kau suami yang amat mencintai istrimu"
__ADS_1
"Aku....."
Drtttt.....
Getaran ponsel Melvin yang tergeletak diatas meja menurunkan atensi keduanya.
Melvin dan Daffin sama sama melirik kearah ponsel yang menampilkan foto Bi Ijah, Pelayan yang Daffin tugaskan untuk melaporkan setiap gerak gerik Pelangi padanya.
"Kenapa Bi?" Melvin tak bisa menutupi gurat khawatir begitu menerima panggilan dari Bi Ijah,karena setiap kali wanita tua itu menelpom pasti sesuatu terjadi pada Pelangi.
"Nyonya Pelangi terkena panci panas tuan"
"Apa?? Kenapa membiarkannya masuk kedapur?" Yah sebegitu khawatirnya Melvin hingga ia meminta Bi Ijah melaporkan setiap ada lebam yang timbul di tubuh istri sepupunya itu.
"Aku akan kesana sekarang!" Melvin menfakhiri panggilannya.
"Aku tidak ingat pernah menyuruh Bi Ijah, melaporkan apapun kepadamu" Daffin yakin Bi Ijah melaporkan jika sesuatu yang buruk sudah terjadi Kepada Pelangi, ia pun segera bersiap meninggalkan ruangan Melvin, ia tak akan mebiarkan asistem tidak rau dirinya itu sampai duluan.
__ADS_1
"Bukan kah kau yang memberikan kuasa kepadaku untuk mengurus istrimu?" Melvin tersenyum miris.