
Pelangi akhirnya kembali menginjakkan kakinya di Desa tempat ia dibesarkan, hamparan bukit bukit pegunungan teh seakan menyambut kepulangannya. Kabut putih menyapa tubuhnya sehingga ia harus lebih merapatkan cardigan rajut yang ia kenakan.
Pelangi sengaja meminta hanya diantar sampai perbatasan desa, ia bahkan menitipkan Reinara kepada Balian, ia butuh waktu berdua untuk berbicara bersama Daffin.
Mata Pelangi masih terlihat Sembap semalaman ia menangis tanpa henti mendengar betapa mirisnya kehidupan Daffin setelah kepergiannya.
Mungkin Tuhan mendengar doanya yang terdahulu, karena ia sangat ingin menghukum Daffin atas perbuatannya dan kini Daffin tengah menjalani hukuman tersebut.
"Maafkan aku Tuan" Lirih Pelangi.
Kini ia sudah menapaki halaman panti, sebuah bangunan tua yang ternyata dihadiahkan Alexander Jaxton untuknya.
Ah...Pria itu ternyata sudah memgetahui segalanya sejak awal.
Sayup sayup Pelangi dapat mendengar bunyi ujing sapu lidi yang beradu dengan dengan dedaunan kering, sebuah aktifitas yang selalu ia lakuka bersama para anak panti lainnya.
"Dandi....." Panggil Pelangi.
Pemuda berkaos king size itu langsung menoleh dan berlari memeluk Pelangi setelah menjatuhkan sapu lidi yang sejak subuh menemaninya.
"Kak Pelangi....." Dandi memgeratkan Pelukannya, ia benar benar merindukan kakak pantinya itu, wanita yang hanya berusia 4 tahun diatasnya namun selalu memperlakukannya layaknya seorang anak.
Yah Pelangi memang dewasa dalam menghadapi setiap anak anak Panti. Ia laksana ibu dan kakak disaat bersamaan.
"Kakak dari mana saja hiks hiks......" Dandi mengurai pelukannya dan Pelangi segera menghapus air mata yang sudah jatuh dipipi Pemuda yang kini jauh lebih tinggi dari pada dirinya itu.
"Kamu sudah sangat tinggi Dek, kak Pelangi hampir tidak mengenalimu...."Pelangi kini harus jinjit untuk mengusap kepala adik kecilnya yang sudah tumbuh dewasa itu.
"Itu karena Dandi makan yang banyak kak" Dandi kembali memeluk Pelangi.
__ADS_1
cukup Lama mereka berdua melepas rindu sampai akhirnya Dandi mengantar Pelangi untuk menemui pria yang sudah sangat lama ia rindukan.
Di halaman belakang Panti pria itu duduk disebuah kursi persegi panjang yang terbuat dari semen, bukan hanya 1 tapi ada 3 kursi serupa disana dan semuanya dibuat oleh Satria dulu.
Tatapannya selalu terlihat sendu sambil sesekali meneguk bir kalengan yang senantiasa dikirim Jhon dari Jakarta.
Disamping Daffin sudah ada dua kaleng yang tandas sementara ia masih memegang kaleng dengan setengah isi.
Pelangi berjalan mendekat sembari sesekali mengusap air matanya melihat punggung Daffin yang tak lagi sebidang dulu, rambut gondrong sebahunya bahkan terlihat sangat berantakan.
Kehadiran Pelangi disamping pria itu bahkan tak mampu mengalihkan Atensi Daffin yang terus menatap jauh kedepan sambil terus menenggak birnya.
Pelangi tak bersuara, ia hanya terus terisak lirih seraya memegang Dadanya, Sepertinya kepergiannya selama setahun ini benar benar menyiksa batin dan Raga suaminya.
Daffin menoleh sejenak dan mengamati wajah sembap wanita yang kini duduk disampingnya dan tengah menatapnya.
"Katanya kadar alkoholnya sangat rendah tapi mengapa aku masih bisa berhalusinasi" lanjut Daffin lagi.
"Ini memuakkan!!!" Air mafa Daffin luruh seperti biasanya, ia memang akan menangis tatkala bayangan pelangi kembali muncul dikeplanya.
Namun wanita dengan wajah istrinya itu justru semakin terisak pilu.
"Tuan Mengapa kau menyiksa dirimu seperti ini"
"Tidak....Tidak...." dengan mata yang basah Daffin menggerakkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Pelangi yang kini lebih berisi.
Daffin bahkan bisa merasakan Kulit Pelangi dengan Jelas dan mengusap air matanya.
"Pelangi......" Daffin masih tidak percaya, biasanya ia tak pernah bisa merasakan halusinasinya, tapi kali ini terasa begitu nyata.
__ADS_1
"Tuan.....Maafkan Pelangi Hiks hiks..."
"Arghhhhh......" Tangis Daffin Pecah ia segera membawa tubuh Pelangi kedalam dekapannya dan merengkuhnya begitu erat serasa enggan melepasnya lagi, Daffin takut jika ia melepasnya maka Pelangi akan kembali pergi, atau justru menghilang, ia takun ini hanya bayangan semu semata mesti terasa nyata.
Dua insan itu saling merengkuh dan menangis pilu hingga membuat Dandi yang melihat dari kejauhan juga ikut marasakan kesedihan keduanya.
"Ini nyata ? Pelangi....kau benar benar disini kan?" Daffin masih meraba wajah sembap Pelangi dan mengecup bertubi tubi setiap bagian wajah Pelangi, lalu kembali mendekapnya.
Pelangi mengangguk "Iya Tuan, ini Pelangi....maaf karena sudah pergi terlalu lama"
Daffin menggeleng,"Jangan minta maaf kau tidak pantas melakukannya, aku...aku yang harusnya minta Maaf Pelangi, maafkan aku....Arghhhh kenapa ini begitu menyakitkan apa kau tau seberapa takutnya aku kehilanganmu, aku fikir tidak akan bisa melihatmu lagi hiks.....Tapi sekarang kau ada disini, Terima kasih Pelangi, Terima kasih Istriku masih memberikan kesempatan untuk suami bodohmu yang Jahat ini, lima tahun lalu....."
"Jangan dibahas Tuan, aku sudah melupakannya" Kini giliran Pelangi yang menangkup kedua pipi Daffin yang dipenuhi bulu halus, "Jangan ungkit hal itu lagi, kenangan itu tidaklah buruk aku melakukannya bersama pria yang kucintai" Pelangi masih terisak lalu mengecup kedua mata Daffin secara bergantian.
"Maafkan aku....."
"Maafkan Aku....."
Hanya racauan itu yang terus diulangi Daffin hingga ia kesadarannya benar benar pulih.
"Aku tidak akan melepasmu lagi Pelangi"
"Heem....Aku pun tak akan melepaskan genggaman Tuan lagi"
Cukup lama keduanya saling melepas rindu dengan pelukan, kecupan, hingga pagutan panas dibawah rindangnya pepohonan Mangga dengan buah Ranum yang asyik bergelantungan.
Hingga akhirnya Daffin sadar akan seseorang yang sangat membuatnya penasaran setengah Mati, yah ia belum pernah melihatnya.
"Dimana putri kita Pelangi??"
__ADS_1