Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova

Jangan Cintai Aku, Tuan Casanova
Bab 66


__ADS_3

Tut.....


Panggilan Video terhubung ke Ponsel Pelangi, wanita hamil yang masih lemah itu gegas menjawabnya.


"Halo"


"Pelangi, kau terlihat semakin pucat dan tirus, apa mual mu tidak berkurang?" Daffin yang kini berada di Singapura mengusap layar ponselnya penuh rasa khawatir.


"Aku baik baik saja Tuan, ia juga baik, " Ucap Pelangi yang kini mengarahkan kamera ponselnya ke perutnya yang sudah mulai menonjol.


Panggilan itu hanya berlangsung singkat seperti hari hari biasanya.


Yah 3 bulan sudah berlalu sejak kejadian Paula Menampar Pelangi.


Daffin juga sudah meminta maaf kepada Ibunya dan berharap agar Paula tidak mengganggu Pelangi lagi, ia berjanji akan meninggalkan Pelangi jika kenyataannya wanita itu memang seorang ****** sugar Daddy.


Sayangnya Daffin tidak benar benar mengorek informasi Mengenai Pelangi, ia hanya berpura pura, ia tak sanggup jika harus meninggalkan Pelangi dan Juga anak didalam kandungan istrinya. Namun Daffin masih berusaha menjaga jarak, ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling Asean dan beberapa kota di indonesia dimana terdapat Unit Hotelnya, sehingga ia hanya pulang sekali sebulan untuk menengok Pelangi, ia juga sudah tidak pernah menyentuh Istrinya karena menurut Dokter kandungan Pelangi sangat Lemah, Daffin memilih bersolo karir meski masih banyak gadis jala*g yang berusaha menggodanya.


Sikap Daffin yang seperti itu tidak lantas membuat Pelangi sedih, asal Daffin masih peduli dengan kandunganya saja Pelangi sudah merasa bahagia, lagi pula Pelangi sadar memang tak ada cinta diantara mereka.


Kesibukan Daffin juga memudahkan Pelangi untuk lebih ekstra melakukan pemeriksaan tanpa pengawasan Daffin Bahkan hampir setiap hari seorang supir suruhan Melvin menjemput Pelangi untuk selalu melakukan kontrol kesehatan, dan sesekali para dokter yang sudah dibayar mahal itu datang memeriksa di rumah Pelangi.


Daffin benar benar masih takut dengan kenyataan yang sebenarnya, ia melirik kalender meja yang terletak diatas meja kerjanya di Singapura, tidak terasa 3 bulan lagi perjanjian pernikahan yang ia buat dulu akan segera berakhir, sementara usia kandungan Pelangi kini sudah memasuki usia 4 bulan, Daffin takut jika pria yang ia curigai sebagai kekasih Pelangi itu datang dan hendak membawa wanitanya.


Bagaimana jika kekuasaan dan anak yang ia miliki tidak mampu mempertahankan Pelangi disisinya.


"Argh....." Daffin menyugar rambutnya dengan gusar, disinilah ia Singapura untuk melakukan kunjungan kerja rutinnya. Meski selalu berusaha menjaga jarak dari Pelangi namun tak pernah sedetikpun fikirannya lalai dari wanita itu, ia bahkan selalu melihat Pelangi menangis didalam mimpinya.


.


.

__ADS_1


.


Sementara Melvin masih di Bali, ia tengah sibuk mengurus even G21 yang sudah berjalan 5 hari, dua hari lagi penutupan dan ia masih memantau kelangsungannya, dari balik dinding kaca Melvin menatap Lekat Pria baya yang dengan lihai memyiapkan hidangan khusus untuk para kepala negara dan para stafnya, senyumnya terus saja tersinggung, ,melvin tahu itu pasti dikarenakan pencariannya selama 3 bulan ini mulai membuahkan hasil.


"Apa Daffin akan kembali Lusa?" Tanya Melvin sambil berjalan bersisian dengan Jhon.


"Sepertinya begitu Tuan, karena Tuan Daffin harus menghadiri acara ulang tahun Ibu Negara disana"


"Bagaimana dengan apa yang mereka suruhkan?" begitu masuk keruangannya Melvin mengajukan pertanyaan yang bersifat rahasia.


Kini Melvin sudah duduk di balik meja Kerjanya sementara Jhon mengambil sebuah Ipad dari dalam laci nakas lalu duduk didepan Melvin yang diantarai sebuah meja.


"Nyonya Paula masih berusaha mencari informasi, sementara Tuan Daffin menyuruhku agar memusnahkan semua informasi yang ku peroleh" Jelas Jhon, Seraya menyodorkan Ipadnya namun Melvin nampak acuh.


Melvin memicingkan matanya, ia bisa menebak dengan mudah jika Daffin tidak ingin masalalu Pelangi menghancurkan rumah tangganya, meski sebenarnya Satria pria yang dimaksud Sugar Daddy oleh Paula adalah sosok Ayah dan Paman bagi Pelangi, yah Melvin sudah mengetahui segalanya ditambah lagi informasi dari Ayu, namun ia enggan mengatakan kebenarannya, ia justru beeharap hubungan Pelangi dan Daffin bisa segera berakhir karena ia akan membawa Pelangi Pergi jauh dari negara ini.


"Berikan apa yang diinginkan Tante Paula, dan provokasi ia agar bisa bertemu dengan istri Pak Satria" Sebuah smirk timbul dibibir tipis Melvin.


"Baik Tuan" Jhon mengangguk patuh tanpa pertanyaan, karena ia bisa melihat betapa Melvin sangat Peduli dengan Keselamatan istri sepupunya itu, ia yakin Melvin memiliki perasaan lebih kepada Pelangi.


Ia tidak mungkin membiarkan Pelangi hidup selamanya bersama pria yang pernah membuatnya Trauma berkepanjangan.


.


.


.


"Mama sudah mengirim Cleo ke Singapur untuk menjadi pasanganmu di Pesta ulang tahun ibu Negara, jangan lupa sampaikan salam dan permohonan maaf ibu karena tidak bisa menghadiri pestanya."


"Apa ibu gila?" Sentak Daffin melalui panggilan selulernya kepada Paula.

__ADS_1


Tak lama kemudian kamar Hotel super mewah yang memang ditujukan untuk Daffin setiap kali berkunjung terbuka lebar, memperlihatkan sosok wanita dengan tinggi semampai dengan rambut disanggul tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih, ia nampak cantik dengan dress lilac panjang semata kaki dan belahan panjang hingga paha.


"Mas Daffin...." Cleo merubah panggilannya menjadi lebih mesra, namun tak bisa mengubah tatapan datar Daffin.


Panggilan antara Daffin dan Paula berakhir dengan sendirinya.


"Apa yang kau lakukan disini Cleo" Meski berusaha menampilkan wajah datarnya namun Daffin tak bisa tahan dengan menelan salivanya.


Ia tahu dari beberapa bulan lalu jika Pelangi berhasil menyembuhkannya, Saat itu Daffin sadar setelah tidak sengaja melihat paha sekertarisnya dan miliknya sedikit bereaksi. Daffin memastikannya dengan melihat video Xxx dan miliknya tegang sempurna, namun Daffin telah berjanji jika ia hanya akan menyentuh Pelangi, Meski ia sudah normal namun keinginannya hanya lebih condong kepada Istrinya, baginya Wanita lain masih terasa hambar.


"Tante Paula Tidak bilang ya mas, aku akan menemanimu malam ini, mas tidak usah khawatir aku sudah tidak berharap apa apa dari kamu mas, aku sadar kau sudah menikah dan akan segera punya anak, aku tidak mau di cap sebagai pelakor mas" Bohong Cleo.


"Jangan memanggilku seperti itu" Daffin merasa bersalah pada Pelangi mendengar panggilan Cleo, ia selalu membiarkan wanita itu menyebutnya Tuan yang seakan mempertegas kedudukannya jika ia hanya sekedar pelayan ranjangnya.


"Mas Daf...."


"Cleo!!!" bentak Daffin, ia benar benar muak mendengarnya. Sial rasa bersalah benar benar membuat Daffin begitu merindukan Pelangi.


Cleo terdiam seraya memainkan tali tas jinjingnya yang mungil.


Daffin lalu kembali menelpon sang ibu.


"Ibu apa maksud ibu? Mengapa wanita ini bisa sampai masuk kekamarku!"


"Daffin....apa kau tahu apa yang bisa ibu lakukan dengan istrimu? Ibu sudah cukup bersabar , ibu tahu kau tidak berniat meninggalkan wanita itu, meskipun sudah mengetahui belangnya"


"Jangan coba coba menyentuh Pelangi Bu!Atau aku akan membuat Ibu menyesal karena kehilangan Jaxton hotel, jika ibu berbuat nekat aku bisa melakukan hal lebih"


Paula mendesah pasrah, ia tahu betapa kerasnya putra tunggalnya itu " Kalau begitu turuti keinginan Ibu kali ini, Jika kau tidak ingin Pelangi dan Hotel Jaxton hancur bersamaan."


"Sial!!" Rutuk Daffin mengakhiri panggilannya, sebenarnya ia tidak takut dengan ancaman sang ibu jika saja ia atau Melvin berada di Jakarta.

__ADS_1


"Jangan menyentuhku, dan dekat dekat denganku jika kau ingin ikut" Titah Daffin kesal.


Cleo yang mendengar itu hanya menyeringai.


__ADS_2